LOGINSeluruh darah di tubuh Mili rasanya mendadak tersedot habis ke telapak kaki. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai serasa hendak melompat keluar dari dada, sementara kedua lututnya mendadak lembek seperti jeli. Seumur hidupnya, belum pernah ada pria yang mengajaknya melangkah sejauh ini!
"P-pesan... k-kamar?!" bisiknya gelagapan, matanya membelalak ngeri.
Jonathan mengangguk tipis tanpa mengalihkan pandangan.
"I-itu... nggak bisa," jawab Mili terbata sambil terkekeh canggung. Berusaha untuk tetap tampil tenang. "Aku... aku masih ada janji party sama teman-teman setelah ini."
"Oh?" Jonathan mengangguk pelan, seolah memahami. "Kamu bisa datang ke partymu setelah kita selesai.”
Mata Mili semakin membelalak lebar. "Hah?!"
"Gimana?" tantang Jonathan. Pria itu makin mengikis jarak hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan.
Jantung Mili serasa mau meledak. Karena panik setengah mati, ia refleks memejamkan mata rapat-rapat. Takut!
Dalam kegelapan yang dipaksakan itu, aroma parfum Jonathan langsung menyerbu indra penciumannya. Wanginya hangat dan maskulin dengan sentuhan aroma kayu yang begitu mewah. Jujur saja, ini wangi pria paling enak yang pernah ia hirup seumur hidupnya.
Tapi kesadarannya buru-buru menamparnya telak.
Tidak! Ia datang ke sana bukan untuk mengagumi wangi pria itu!
Seketika, kedua telapak tangan Mili mendorong kuat dada bidang Jonathan hingga pria itu terdorong mundur selangkah.
“Ugh... bau parfummu bikin pusing!” cetus Mili seraya mengibas-ngibaskan tangan di depan hidungnya, memasang wajah sebal paling maksimal.
Jonathan terpaku di tempat.
“Wanginya kayak bapak-bapak pejabat mau rapat, tahu gak? Menyengat banget, bikin eneg!” cerocos Mili tanpa dosa. “Aku cuma suka cowok yang bau badannya maskulin alami, bukan yang direndam minyak wangi lebay begini. Kalau begini, bagaimana aku mau menghabiskan malam penuh gairah sama kamu? Aroma kamu aja udah bikin aku gak bernafsu.”
Jonathan benar-benar terdiam. Mencerna hinaan barbar yang baru saja dijatuhkan pada parfum limited edition seharga puluhan juta miliknya.
Merasa di atas angin, Mili bersorak riang dalam hati. “Udah ah, dari gaya sampai bau aja kita gak cocok. Kencan ini selesai!”
Tanpa memberi Jonathan kesempatan menyela, Mili menyambar tasnya, melambaikan tangan singkat, lalu melesat keluar ruangan, mengambil langkah seribu.
“Gilaaa! Katanya impoten, gak suka perempuan, tapi kok mukanya mesum dan agresif begitu?!” Mili merinding seraya mengusap kedua tangannya.
Tiba di halaman luar, Mili menyandarkan tubuhnya yang lemas di tembok sambil mengatur napas yang terengah-engah.
Sesekali ia menengok ke arah pintu masuk. Memastikan Jonathan tak mengejarnya.
“Jul, misi selesai. Kayaknya dia ilfil berat. Sekarang dimana? Cepetan jemput sekarang!”
Mili menghubugi Julia. Sambil menunggu, ia rapikan rambut curly-nya. Menghapus lipstik tebal yang menyiksa bibirnya, juga mengusap eye shadow gonjreng agar tidak terlalu menyeramkan.
Meski begitu, penampilannya tetap saja masih jauh dari kata wajar.
“Gak lagi-lagi! Capek banget akting jadi cewek gatal. Ya Tuhan... pokoknya yang tadi harus berhasil!” gumamnya letih seraya memijat betisnya yang pegal karena harus terus menerus memakai sepatu berhak tinggi.
Mili berjalan setengah terpincang ke dekat area drop-off. Namun kemudian, ia mendengar suara gedebuk keras dari arah parkiran.
Gadis itu berbalik cepat. Di sana, seorang pria tua terjatuh hingga terduduk lemas di atas paving. Tongkat jalannya menggelinding sejauh dua meter. Tanpa pikir panjang, Mili berlari menghampiri.
"Kakek, nggak apa-apa? Mari saya bantu!"
Mili mengambil tongkat itu terlebih dahulu, lalu perlahan merangkul dan membantu pria lansia tersebut untuk duduk tegak.
"Aduh... terima kasih, Nak," ujar kakek itu pelan sambil mengelus kepalanya yang pusing.
"Ada yang sakit, Kek? Kakek sendirian atau sama keluarga? Mau saya panggilkan sopir atau ambulans?" cerocos Mili benar-benar khawatir.
Melihat perhatian spontan gadis itu, si kakek malah tertawa kecil.
"Kakek nggak apa-apa, kok." Ia menepuk pelan punggung tangan Mili. "Tadi kakek mau jemput cucu yang katanya lagi kencan di sini. Sekalian ingin tahu kencannya lancar atau tidak. Tapi dasar anak kurang ajar, ternyata pas ditelepon malah marah dan bilangnya sudah pulang."
Mili tersenyum kecil. Melihat betapa perhatian kakek itu, mendadak, ia jadi teringat neneknya di kampung. "Kakek sok sweet banget sama cucunya. Sampai bela-belain datang jemput?"
Pria tua itu menghela napas. "Kakek tadinya hanya ingin mastiin kalo kencan yang sekarang berhasil. Sudah puluhan kencan gak ada yang cocok aja.”
Mendengar itu, wajah Mili ikut melunak. "Semoga aja kencannya beneran berhasil ya, Kek."
Pria tua itu mengangguk sambil tersenyum.
"Tapi Kakek tadi datang ada yang nyetirin, kan?" tanya Mili lagi.
"Kakek nyetir sendiri. Biar badan tetap gerak. Eh, malah penyakit orang tua kambuh." Bukannya mengeluh, pria tua itu justru tertawa.
Sebaliknya, Mili malah meringis. “Kalau habis begini jangan nyetir sendiri lagi, ya, Kek. Bahaya."
Pria tua itu mengangguk pelan. "Nanti kakek telepon sopir.”
“Ya, udah. Tapi Kakek jangan nunggu di luar gini, nanti masuk angin. Mending duduk di lobi dalam aja, yuk. Ayo, saya bantu berdiri.”
Dengan telaten, Mili memasangkan tongkat ke tangan si Kakek, lalu memapah lengan pria tua itu perlahan masuk ke dalam restoran.
"Terima kasih banyak ya, Nak. Kamu ini baik banget. Jarang-jarang ada anak muda seperhatian ini sama orang tua," puji pria tua itu seraya tersenyum hangat.
Mili terkekeh canggung. "Ah, biasa aja, Kek. Udah kewajiban sesama manusia harus saling bantu."
Pria tua itu mengangguk-angguk. Matanya sempat menyapu penampilan Mili dari ujung kepala hingga kaki.
‘Unik sekali,’ batin si Kakek, heran sekaligus terhibur. Penampilan gadis itu mirip biduan dangdut yang mau manggung, tapi tutur kata dan hatinya begitu sopan dan tulus.
"Namamu siapa—"
Ucapan pria tua itu terpotong karena ponsel Mili tiba-tiba berdering.
“Kek, aku sudah dijemput,” ucap Mili setelah menerima panggilan telepon. Gadis itu pun buru-buru berpamitan.
“Hati-hati!” Pria tua itu berseru seraya melambai pada Mili yang berlari keluar restoran. Dan selang beberapa detik, Jonathan pun muncul keluar dari ruang privat. Alisnya mengernyit menatap sekelebat punggung Mili yang menjauh.
***
Beberapa hari pun berlalu dari malam kencan buta. Mili sempat dirundung was-was meski Julia yang sudah mendengar cerita keseluruhan selama kencan telah mengklaim bahwa misi berjalan sukses seratus persen.
Rasanya tidak mungkin pria sekelas Jonathan mau melanjutkan perjodohan dengan cewek menor ber-tanktop merah cabe dan ber-rok leopard yang lantang mengacak-acak egonya.
Belum lagi kabar Vanesha, pasangan asli kencan buta Jonathan itu memberitahu bahwa pihak Jonathan tak menghubungi keluarganya sama sekali. Begitu menguatkan dugaan bahwa perjodohan itu resmi batal. Komisi tiga puluh juta rupiah pun langsung ditransfer Vanesha untuk diteruskan ke rekening Mili sebagai upah kerja kerasnya.
Tanpa berpikir dua kali, saat itu juga Mili kirimkan uang kepada neneknya di kampung. Bukan cuma buat melunasi seluruh utang-utang ke tetangga, tapi juga untuk membeli kambing baru sebagai pengganti yang lama.
Dari tiga puluh juta itu, Mili cuma menyisakan sekitar delapan juta di tabungannya. Angka yang menurut kalkulasinya cukup aman untuk bayar kosan murah dan bertahan hidup di ibu kota selama mencari pekerjaan baru.
Perasaannya mendadak plong luar biasa. Satu beban besar yang menggelayuti pikirannya akhirnya terangkat!
Keesokan paginya saat Mili sedang tekun memoles CV di laptopnya, pintu kamar menjeblak terbuka.
"Mil, jujur deh! Kamu beneran udah bikin si Jonathan ilfil parah, kan?!" Julia melangkah masuk dengan wajah panik seraya mencengkeram ponselnya erat-erat. Jauh dari ekspresi santainya yang biasa.
Jari Mili yang sedang lincah mengetik mendadak terhenti. Ia mendongak kaget. "Iya lah! Emang kenapa?"
"Vanesha barusan chat sambil ngamuk! Katanya Jonathan justru minta jadwal kencan kedua!" Vanesha minta kita ketemu sekarang juga. Katanya kalau sampai misi ini gagal, kita harus tanggung jawab... atau balikin uang tiga puluh juta itu detik ini juga!"
Mili seketika menganga.
"Hah?!"
***
Julia sudah pergi sejak pagi buta untuk urusan pekerjaan, lalu akan lanjut berpesta bersama Vanesha demi merayakan batalnya perjodohan. Pihak Jonathan memang sudah resmi mengonfirmasi tak akan melanjutkan kencan tersebut.Mili yang sempat diajak memilih menolak. Bukan tak mau ikut bersenang-senang, melainkan karena ia teringat janjinya dengan Jonathan. Pukul satu siang nanti, ia harus menghadap keluarga besar pria itu.Sungguh, sampai detik ini pun Mili masih tak percaya kalau dirinya resmi berstatus sebagai pacar Jonathan. Saking absurdnya kenyataan ini, ia bahkan belum berani membuka mulut pada Julia.“Ya Tuhan! Kapan penderitaan ini berakhir?” keluh Mili meremat rambutnya frustrasi seraya menatap tanktop merah dan rok leopard di dalam lemari.Dengan malas, Mili memaksakan diri bersiap. Pukul satu siang tinggal hitungan jam. Berbekal video tutorial di internet, ia mulai memoles riasan bold di wajahnya. Namun, begitu menatap cermin, hasilnya justru membuat ia menjerit ngeri.“Astaga!
“Dilarang ada sentuhan fisik?” Jonathan mengulang ucapan Mili dengan seringai lebar yang terkesan meremehkan.Mili mengangguk mantap. Ia harus membangun benteng keamanan tingkat tinggi. Setelah berkali-kali berhadapan langsung dengan Jonathan, Mili mulai meragukan rumor burung yang beredar. Ia malah meyakini jika gosip soal pria itu tak suka wanita atau mengalami disfungsi seksual jelas bohong belaka! Tatapan serta gerak-geriknya terlalu berbahaya untuk ukuran pria yang dikabarkan impoten dan ‘tidak bernafsu’.Mili merinding membayangkannya. Tak boleh! Ia tak akan membiarkan tangan pria sombong itu menjamah tubuhnya walau seinci pun!“Kamu sebelumnya selalu membicarakan ranjang. Bukankah itu artinya kamu suka sentuhan laki-laki?” tanya Jonathan seraya menaikkan satu alis.“Suka. Tapi bukan sama kamu!” jawab Mili asal.“Hmmm. Begitu?” Jonathan manggut-manggut. “Tapi … kalau gak sentuhan fisik, mana percaya orang-orang pada hubungan kita?”“Orang-orang?” Mili langsung menyela.“Kenapa o
Mili?Ruangan private itu mendadak seperti kehabisan oksigen. Mili tak bisa bernapas. Sesak! Matanya membeliak. Tubuhnya lemas seketika saat bisikan halus Jonathan menyebut namanya. Nama aslinya!Jonathan menegakkan tubuhnya dengan seringai tipis di bibir. Pria itu menunduk, menatap Mili yang sepucat mayat dengan raut penuh kemenangan.“Ternyata memang harus pakai cara begini supaya kamu bisa diam dan menurut,” ucap Jonathan mundur selangkah seraya perlahan melepaskan kungkungan tangannya dari tubuh Mili.“K-kamu...!” Lidah Mili mendadak kelu, kata-katanya tertahan di tenggorokan.“Ya, Mili.” Jonathan kembali mengeja nama itu dengan artikulasi yang begitu jelas.“Jadi... kamu sudah tahu kalau aku bukan Vanesha?!” tanya Mili. Suaranya dibuat setegas mungkin walaupun dalam hati sudah histeris setengah mati. Penyamarannya terbongkar total!Jonathan hanya mengangguk sekilas, lalu melangkah kembali ke kursinya. Pria itu duduk anggun, menyilangkan kakinya yang panjang dengan gerakan elegan.
Vanesha duduk bersedekap di sudut kafe dengan muka ditekuk. Gadis cantik berambut panjang itu menatap marah pada Mili yang ada di seberang meja.“Gila! Sebenernya apa, sih, yang kamu lakuin ke dia sampai dia ngehubungin keluargaku buat komit lanjut perjodohan?” Vanesha berkata cepat, menahan geram.“Aku gak—"“Pokoknya, aku gak mau tahu!” Vanesha langsung memotong ucapan Mili dengan tak sabar. “Kalian harus bertanggung jawab! Balikin duit 30 juta itu sekarang atau kalian urus si Jonatahan itu!” ujarnya ketus.Mili gemetaran. Panik, takut, semua jadi satu. Ia tak mungkin meminta kembali uang yang sudah dikirimnya ke kampung.Gadis itu melirik Julia yang duduk di sampingnya. Kawannya tersebut duduk bersilang kaki sambil memijat dahi. “Aku gak ada juga duit segitu. Baru kemaren aku bayar sewa apartemen sama cicilan mobil.” Julia berbisik pada Mili.“Bereskan!” Vanesha melempar ponselnya yang menyala ke meja kafe. Di layar ponselnya tampak sebuah email yang rupanya dikirim pihak Jonat
Seluruh darah di tubuh Mili rasanya mendadak tersedot habis ke telapak kaki. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai serasa hendak melompat keluar dari dada, sementara kedua lututnya mendadak lembek seperti jeli. Seumur hidupnya, belum pernah ada pria yang mengajaknya melangkah sejauh ini!"P-pesan... k-kamar?!" bisiknya gelagapan, matanya membelalak ngeri.Jonathan mengangguk tipis tanpa mengalihkan pandangan. "I-itu... nggak bisa," jawab Mili terbata sambil terkekeh canggung. Berusaha untuk tetap tampil tenang. "Aku... aku masih ada janji party sama teman-teman setelah ini." "Oh?" Jonathan mengangguk pelan, seolah memahami. "Kamu bisa datang ke partymu setelah kita selesai.”Mata Mili semakin membelalak lebar. "Hah?!""Gimana?" tantang Jonathan. Pria itu makin mengikis jarak hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan.Jantung Mili serasa mau meledak. Karena panik setengah mati, ia refleks memejamkan mata rapat-rapat. Takut!Dalam kegelapan yang dipaksakan itu, aroma parfum
Pria yang membuat wawancaranya gagal juga pria yang ia siram di mall adalah pasangan kencan buta pura-puranya?!Apakah Jakarta tak punya penduduk laki-laki selain orang itu?!Mili terperangah tak percaya. Optimisme yang tadi membumbung mendadak menguap.‘Jangan-jangan dia masih ingat aku?’ batin Mili panik.Namun dugaan itu sedikit memudar ketika Jonathan justru mempersilahkannya duduk tanpa menunjukkan reaksi berarti."Tak masalah, silakan duduk," ujar Jonathan tenang, meski kilat terkejut sempat melintas di matanya saat melihat penampilan Mili."O–oke."Mili menghembuskan napas lega sambil duduk di kursinya. Mungkin karena riasannya terlalu menor dan penampilannya sekarang jauh berbeda dari saat mereka bertemu siang tadi.Rasa lega itu perlahan mengembalikan kepercayaan dirinya.Lagi pula, tujuan Mili datang ke sini hanya satu, yaitu membuat Jonathan membatalkan kencan buta ini dan membawa pulang 30 juta rupiah. Ia melirik Jonathan yang sedang meraih gelas mocktailnya.Mili, kamu pa







