Share

Bab 6

Author: Naiynana
last update publish date: 2026-09-26 08:20:22

Mili?

Ruangan private itu mendadak seperti kehabisan oksigen. Mili tak bisa bernapas. Sesak! Matanya membeliak. Tubuhnya lemas seketika saat bisikan halus Jonathan menyebut namanya. Nama aslinya!

Jonathan menegakkan tubuhnya dengan seringai tipis di bibir. Pria itu menunduk, menatap Mili yang sepucat mayat dengan raut penuh kemenangan.

“Ternyata memang harus pakai cara begini supaya kamu bisa diam dan menurut,” ucap Jonathan mundur selangkah seraya perlahan melepaskan kungkungan tangannya dari tubuh Mili.

“K-kamu...!” Lidah Mili mendadak kelu, kata-katanya tertahan di tenggorokan.

“Ya, Mili.” Jonathan kembali mengeja nama itu dengan artikulasi yang begitu jelas.

“Jadi... kamu sudah tahu kalau aku bukan Vanesha?!” tanya Mili. Suaranya dibuat setegas mungkin walaupun dalam hati sudah histeris setengah mati. Penyamarannya terbongkar total!

Jonathan hanya mengangguk sekilas, lalu melangkah kembali ke kursinya. Pria itu duduk anggun, menyilangkan kakinya yang panjang dengan gerakan elegan.

“Dari mana kamu tahu?! Sejak kapan?!” Mili tak bisa untuk berpura-pura tak penasaran.

“Bukan hal sulit buatku untuk mencari tahu hal sekecil itu,” jawab Jonathan tenang.

“Lalu kenapa kamu malah minta kencan kedua?!” cecar Mili.

“Karena saya mau,” jawab Jonathan enteng.

“Kenapa mau?!” Mili tak habis pikir.

Jonathan terdiam sejenak. Tatapannya bergerak lambat, menyapu Mili dari ujung rambut sampai ujung sepatu. “Karena aku tertarik sama kamu,” jawabnya dengan satu sudut bibir terangkat, mengulas senyum yang tak bisa diartikan.

“Omong kosong!” Mili menggeleng. Sama sekali tak percaya.

“Aku serius. Aku tertarik sama kamu.”

“Kenapa bisa tertarik sama aku?!”

“Karena...” Lagi-lagi, Jonathan melemparkan tatapan intens yang seolah bisa menembus pakaian Mili. Mili refleks bergidik ngeri seraya membatin, ‘Dasar mata cabul!’

“Kalau kamu tertarik cuma gara-gara dandananku kemarin, aku minta maaf banget! Itu bukan aku yang sebenarnya!” cerocos Mili panik. “Itu cuma topeng! Aslinya aku gak kayak gitu, kamu pasti bakal kecewa!”

Jonathan mengangguk-angguk takzim. “Well, aku tetap suka. Mau seperti apa pun kamu.”

“HAAAAH?!” Mili menatap Jonathan tanpa kedip. Fix, otak pria ini sudah korslet separuh!

“Tapi aku gak suka sama kamu!” sembur Mili spontan.

“Tidak masalah,” sahut Jonathan tenang, lalu mulai meraih pisau dan garpunya untuk menyicipi hidangan pembuka di meja. “Ayo, sini. Kita makan bersama.”

Mili menggeleng cepat. “Gak mau! Aku mau pulang!”

Baru saja ia memutar tumitnya, suara berat Jonathan kembali memanggil namanya. “Mili, sudah aku bilang, urusan kita belum selesai.”

Langkah Mili terhenti kaku. Ia berbalik, menatap pria itu tajam. “Sebenarnya apa sih mau kamu?”

Jonathan menaikkan satu alisnya, lalu memberi isyarat dagu yang sopan ke arah kursi di hadapannya.

Mau tak mau, Mili menyeret kakinya dan kembali duduk. Matanya menatap sengit Jonathan yang malah asyik mengunyah dengan tenang.

“Cepat katakan! Kamu terus-menerus pura-pura padahal sudah tahu aku bukan Vanesha. Kamu mau apa dari aku?”

Jonathan meletakkan sendok dan garpunya. Ia menyapu sudut bibirnya dengan serbet kain mahal, lalu membalas tatapan membara gadis di depannya.

“Jadilah pacarku.”

GUBRAAKKK!

Mili kembali terjungkal dari kursinya.

***

“Kenapa aku harus jadi pacarmu?” Mili bertanya setelah berhasil memanjat kembali ke kursinya, menepuk-nepuk dan menggosok bokongnya yang ngilu karena sudah dua kali menghantam lantai.

“Karena saya mau,” sahut Jonathan santai.

Mili berdecak keras seraya memutar bola matanya malas. Jawaban-jawaban pria ini tak pernah ada yang bermutu!

“Bisa-bisanya! Kalau aku gak mau, gimana?” balas Mili.

“Harus mau,” tukas Jonathan. Lagi-lagi dengan gaya santainya.

“Kenapa harus? Aku gak ada rasa sama kamu! Kenal juga enggak!” Mili mulai ngotot.

“Gak masalah,” balas Jonathan tenang. “Kamu gak butuh rasa suka atau kenal dekat untuk menjadi pacarku.”

“Ya gak logika, dong! Mana ada hubungan kayak gitu!”

“Ada. Hubungan kita contohnya.” Jonathan menukas.

Mili meremas ujung meja, gregetan setengah mati. “Gak mau! Pokoknya aku gak mau pacaran sama kamu!”

Jonathan menyunggingkan senyum tipis. Jenis senyuman formal yang sama sekali tak menyentuh matanya. “Kamu sedang tidak berada di posisi yang berhak untuk menolak, Mili.”

Dahi Mili berkerut. “Kenapa begitu?”

“Tentu saja harus begitu, atau...” Jonathan menggantung kalimatnya dengan tetap memasang senyum misterius.

“Atau apa?” tantang Mili.

“Atau aku akan menyeretmu ke ranah hukum atas tuduhan tindak pidana penipuan,” ucap Jonathan. Dalam hitungan detik, senyum di bibirnya menguap, berganti raut wajah yang luar biasa serius dan mengintimidasi.

“A-apa?!” Mili terperangah, matanya membelalak kaget. “P-pidana?! Kenapa jadi pidana?! Aku kan cuma gantiin Vanesha kencan doang! Apanya yang pidana?”

“Kamu tahu berapa nilai nominal per menit dari waktuku yang terbuang sia-sia untuk kencan penipuanmu kemarin?” tanya Jonathan. Suaranya begitu tenang, tetapi sanggup menekan napas Mili hingga sesak.

Jonathan menyandarkan tubuhnya, melipat kedua tangan di dada seraya menatap Mili yang mulai gelisah.

“Aku rugi materi dan immateri,” cetus Jonathan. “Waktu berhargaku terbuang untuk lelucon konyol yang kalian rencanakan. Kalian membuatku seperti badut bodoh, mengusik ranah privasi, dan merendahkan harga diriku.”

Mili berkedip cepat, kepalanya pening. “A-aku—”

Ucapan Mili terputus oleh dering ponsel Jonathan. Pria itu mengangkatnya tanpa mengalihkan pandangan dari Mili.

“Masuklah,” perintah Jonathan singkat.

Tak sampai dua detik, pintu ruang private itu terbuka. Seorang pria berkacamata dengan wajah kaku masuk dan menyerahkan sebuah map kepada Mili.

“Itu draf semua tuntutan yang akan aku layangkan kalau kamu memilih menolak,” ucap Jonathan seraya menyunggingkan senyum tipis.

Mili terkesiap, menatap bergantian antara map dan Jonathan. “K-kamu sudah menyiapkan semua ini?”

“Tentu. Aku gak pernah bersikap setengah-setengah. Silakan dibaca,” timpal Jonathan kembali tersenyum.

Mili menelan ludah. Dengan tangan gemetar, ia membuka lembaran map itu. Gadis itu membaca cepat tiap halaman dan sukses membuat napasnya tertahan.

“I-ini... kamu gak cuma nuntut aku?” tanya Mili, panik.

“Ya. Semua orang yang terlibat dalam aksi penipuan kencan itu akan aku seret ke pengadilan.”

Deg!

Wajah Julia seketika terbayang di benak Mili. Sahabatnya yang sedang menunggu di luar bisa ikut hancur gara-gara ini!

“Pilihannya sangat sederhana,” pungkas Jonathan tanpa memberi celah. “Kamu dan komplotanmu aku perkarakan, atau kamu bersedia jadi pacarku.”

Mili terdiam beberapa saat. Kedua tangannya terasa dingin.

“Kenapa harus jadi pacar? Sampai kapan? Kenapa harus aku?” Mili berkata setengah bergumam. Jantungnya masih didera syok.

“Jawab saja dulu. Ya atau tidak,” ujar Jonathan.

“K-kalau aku b-bersedia... apa kamu bakal cabut ancaman hukum ini? Kamu juga gak akan minta lanjut perjodohan sama Vanesha lagi?” tanya Mili, pertahanan dirinya mulai goyah di hadapan ancaman nyata.

Jonathan mengangguk meyakinkan. “Aku sama sekali gak tertarik sama Vanesha.”

Mili termenung beberapa saat. Kalut. Kepalanya terasa sangat penuh.

“Mmm, bolehkah aku pulang dulu untuk mempertimbangkan ini?” pinta Mili kemudian.

“Tidak! Aku butuh jawabannya sekarang,” jawab Jonathan tegas.

“Sekarang?”

Jonathan mengangguk mantap.

Otak Mili buntu. Ia menunduk lama, lalu perlahan bangkit untuk izin ke toilet. Ia butuh pasokan udara segar.

“Kenapa jadi rumit begini, sih?!” gumam Mili frustrasi seraya menatap pantulan dirinya di cermin besar toilet.

“Kenapa dia ingin aku jadi pacarnya? Mustahil orang sekelas dia beneran suka sama aku! Ini bukan sinetron CEO vs upik abu!” Pikiran-pikiran buruk penuh kecurigaan mulai menggerogoti kepalanya. Namun, dipikir berulang kali pun, ia tak menemukan celah untuk kabur.

Dada Mili terasa sesak bagai tertindih batu besar. Bayangan dirinya dan Julia diseret petugas hukum membuat bulu kuduknya merinding. Dan perlahan, rasa lelah luar biasa menghantam jiwanya. Mengapa kemalangan seolah tak pernah absen dari takdir hidupnya?

“Tuhan, aku gak pernah meminta banyak. Aku cuma ingin kehidupan yang lebih baik. Aku cuma mau bahagiain Nenek,” ratapnya pelan dengan mata memanas.

Gadis itu memejam erat-erat. Realitas menamparnya telak. Kini, ia paham betul peribahasa kejam itu: orang miskin jangan pernah melawan orang kaya, dan orang kaya jangan pernah bertentangan dengan orang berkuasa. Sementara Jonathan punya kedua-duanya dan ia sendiri tak punya apa-apa.

Dengan langkah berat, Mili kembali ke ruangan itu. Ia menatap map, lalu menatap lurus ke mata Jonathan.

“Baiklah. Aku mau jadi pacarmu,” ucap Mili pasrah.

Jonathan mengangguk puas.

“Tapi aku punya syarat!” tukas Mili cepat.

“Apa itu?”

“Dilarang keras ada sentuhan fisik!”

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Merayu Mr. Impotent   bab 8

    Julia sudah pergi sejak pagi buta untuk urusan pekerjaan, lalu akan lanjut berpesta bersama Vanesha demi merayakan batalnya perjodohan. Pihak Jonathan memang sudah resmi mengonfirmasi tak akan melanjutkan kencan tersebut.Mili yang sempat diajak memilih menolak. Bukan tak mau ikut bersenang-senang, melainkan karena ia teringat janjinya dengan Jonathan. Pukul satu siang nanti, ia harus menghadap keluarga besar pria itu.Sungguh, sampai detik ini pun Mili masih tak percaya kalau dirinya resmi berstatus sebagai pacar Jonathan. Saking absurdnya kenyataan ini, ia bahkan belum berani membuka mulut pada Julia.“Ya Tuhan! Kapan penderitaan ini berakhir?” keluh Mili meremat rambutnya frustrasi seraya menatap tanktop merah dan rok leopard di dalam lemari.Dengan malas, Mili memaksakan diri bersiap. Pukul satu siang tinggal hitungan jam. Berbekal video tutorial di internet, ia mulai memoles riasan bold di wajahnya. Namun, begitu menatap cermin, hasilnya justru membuat ia menjerit ngeri.“Astaga!

  • Merayu Mr. Impotent   Bab 7

    “Dilarang ada sentuhan fisik?” Jonathan mengulang ucapan Mili dengan seringai lebar yang terkesan meremehkan.Mili mengangguk mantap. Ia harus membangun benteng keamanan tingkat tinggi. Setelah berkali-kali berhadapan langsung dengan Jonathan, Mili mulai meragukan rumor burung yang beredar. Ia malah meyakini jika gosip soal pria itu tak suka wanita atau mengalami disfungsi seksual jelas bohong belaka! Tatapan serta gerak-geriknya terlalu berbahaya untuk ukuran pria yang dikabarkan impoten dan ‘tidak bernafsu’.Mili merinding membayangkannya. Tak boleh! Ia tak akan membiarkan tangan pria sombong itu menjamah tubuhnya walau seinci pun!“Kamu sebelumnya selalu membicarakan ranjang. Bukankah itu artinya kamu suka sentuhan laki-laki?” tanya Jonathan seraya menaikkan satu alis.“Suka. Tapi bukan sama kamu!” jawab Mili asal.“Hmmm. Begitu?” Jonathan manggut-manggut. “Tapi … kalau gak sentuhan fisik, mana percaya orang-orang pada hubungan kita?”“Orang-orang?” Mili langsung menyela.“Kenapa o

  • Merayu Mr. Impotent   Bab 6

    Mili?Ruangan private itu mendadak seperti kehabisan oksigen. Mili tak bisa bernapas. Sesak! Matanya membeliak. Tubuhnya lemas seketika saat bisikan halus Jonathan menyebut namanya. Nama aslinya!Jonathan menegakkan tubuhnya dengan seringai tipis di bibir. Pria itu menunduk, menatap Mili yang sepucat mayat dengan raut penuh kemenangan.“Ternyata memang harus pakai cara begini supaya kamu bisa diam dan menurut,” ucap Jonathan mundur selangkah seraya perlahan melepaskan kungkungan tangannya dari tubuh Mili.“K-kamu...!” Lidah Mili mendadak kelu, kata-katanya tertahan di tenggorokan.“Ya, Mili.” Jonathan kembali mengeja nama itu dengan artikulasi yang begitu jelas.“Jadi... kamu sudah tahu kalau aku bukan Vanesha?!” tanya Mili. Suaranya dibuat setegas mungkin walaupun dalam hati sudah histeris setengah mati. Penyamarannya terbongkar total!Jonathan hanya mengangguk sekilas, lalu melangkah kembali ke kursinya. Pria itu duduk anggun, menyilangkan kakinya yang panjang dengan gerakan elegan.

  • Merayu Mr. Impotent   Bab 5

    Vanesha duduk bersedekap di sudut kafe dengan muka ditekuk. Gadis cantik berambut panjang itu menatap marah pada Mili yang ada di seberang meja.“Gila! Sebenernya apa, sih, yang kamu lakuin ke dia sampai dia ngehubungin keluargaku buat komit lanjut perjodohan?” Vanesha berkata cepat, menahan geram.“Aku gak—"“Pokoknya, aku gak mau tahu!” Vanesha langsung memotong ucapan Mili dengan tak sabar. “Kalian harus bertanggung jawab! Balikin duit 30 juta itu sekarang atau kalian urus si Jonatahan itu!” ujarnya ketus.Mili gemetaran. Panik, takut, semua jadi satu. Ia tak mungkin meminta kembali uang yang sudah dikirimnya ke kampung.Gadis itu melirik Julia yang duduk di sampingnya. Kawannya tersebut duduk bersilang kaki sambil memijat dahi. “Aku gak ada juga duit segitu. Baru kemaren aku bayar sewa apartemen sama cicilan mobil.” Julia berbisik pada Mili.“Bereskan!” Vanesha melempar ponselnya yang menyala ke meja kafe. Di layar ponselnya tampak sebuah email yang rupanya dikirim pihak Jonat

  • Merayu Mr. Impotent   Bab 4

    Seluruh darah di tubuh Mili rasanya mendadak tersedot habis ke telapak kaki. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai serasa hendak melompat keluar dari dada, sementara kedua lututnya mendadak lembek seperti jeli. Seumur hidupnya, belum pernah ada pria yang mengajaknya melangkah sejauh ini!"P-pesan... k-kamar?!" bisiknya gelagapan, matanya membelalak ngeri.Jonathan mengangguk tipis tanpa mengalihkan pandangan. "I-itu... nggak bisa," jawab Mili terbata sambil terkekeh canggung. Berusaha untuk tetap tampil tenang. "Aku... aku masih ada janji party sama teman-teman setelah ini." "Oh?" Jonathan mengangguk pelan, seolah memahami. "Kamu bisa datang ke partymu setelah kita selesai.”Mata Mili semakin membelalak lebar. "Hah?!""Gimana?" tantang Jonathan. Pria itu makin mengikis jarak hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan.Jantung Mili serasa mau meledak. Karena panik setengah mati, ia refleks memejamkan mata rapat-rapat. Takut!Dalam kegelapan yang dipaksakan itu, aroma parfum

  • Merayu Mr. Impotent   Bab 3

    Pria yang membuat wawancaranya gagal juga pria yang ia siram di mall adalah pasangan kencan buta pura-puranya?!Apakah Jakarta tak punya penduduk laki-laki selain orang itu?!Mili terperangah tak percaya. Optimisme yang tadi membumbung mendadak menguap.‘Jangan-jangan dia masih ingat aku?’ batin Mili panik.Namun dugaan itu sedikit memudar ketika Jonathan justru mempersilahkannya duduk tanpa menunjukkan reaksi berarti."Tak masalah, silakan duduk," ujar Jonathan tenang, meski kilat terkejut sempat melintas di matanya saat melihat penampilan Mili."O–oke."Mili menghembuskan napas lega sambil duduk di kursinya. Mungkin karena riasannya terlalu menor dan penampilannya sekarang jauh berbeda dari saat mereka bertemu siang tadi.Rasa lega itu perlahan mengembalikan kepercayaan dirinya.Lagi pula, tujuan Mili datang ke sini hanya satu, yaitu membuat Jonathan membatalkan kencan buta ini dan membawa pulang 30 juta rupiah. Ia melirik Jonathan yang sedang meraih gelas mocktailnya.Mili, kamu pa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status