LOGINAkhirnya aku sampai di depan rumah orang tuaku.Saat ini aku masih duduk di dalam taksi, bersama Rafa yang tertidur pulas di pangkuanku. Kepalanya bersandar nyaman, napasnya teratur seolah perjalanan panjang ini sama sekali tidak melelahkannya.Aku menatap lurus ke depan. Rumah itu, masih berdiri kokoh di sana. Tidak ada yang berubah. Bentuknya masih sama seperti empat tahun lalu, sebelum aku pergi meninggalkan tempat ini dengan hati yang hancur.Dadaku tiba-tiba terasa sesak.Apakah semuanya benar-benar masih sama? Atau bukan hanya rumahnya saja yang tidak berubah, tapi orang-orang di dalamnya masih sama seperti dulu, terutama ibu.Apa sikapnya masih sama seperti dulu? Masih penuh amarah dan kebencian saat melihatku?“Mbak, ini benar rumahnya?” tanya sopir taksi dari kursi depan.Aku tersentak dari lamunanku, lalu segera mengangguk kecil.“Iya, Pak. Benar.”Aku menunduk menatap Rafa yang masih tertidur lelap, kepalanya bertumpu di pangkuanku. Wajahnya terlihat begitu tenang hingga ak
“Kamu yakin ingin pulang sekarang?”Aku mengangguk mantap. “Sudah empat tahun aku di sini. Sudah waktunya aku pulang. Kasihan Ayah, dia sudah terlalu lama menunggu kepulanganku.”“Tapi Nenek khawatir. Bagaimana kalau ibumu murka saat mengetahui kebenarannya? Nenek takut kamu kembali diusir olehnya.”Sorot mata Nenek begitu jelas menyiratkan kecemasan. Ia benar-benar takut kehilanganku lagi. Namun aku tak bisa terus merepotkannya. Selama ini ia sudah sangat banyak membantuku—merawat putraku dengan penuh kasih saat aku bekerja, memberiku tempat berlindung ketika ibuku sendiri menolakku dan membuangku ke siniSudah cukup aku bergantung padanya.Kini aku ingin hidup mandiri. Aku ingin membangun keluargaku sendiri, hanya aku dan putraku. Lagi pula, aku juga punya tujuan lain. Luka itu masih ada. Dendam itu belum padam. Aku tak akan pernah benar-benar memaafkan mereka yang telah menyakitiku sampai mereka merasakan balasan yang setimpal atau bahkan lebih dari yang kuterima.“Nenek tenang saj
Pov Daren“Mas...!” panggil Alda. Wanita yang kini resmi menyandang status sebagai istriku itu berdiri di sampingku, menyambut para tamu yang datang ke pernikahan kami.Sejak pagi, aku sama sekali tak menghiraukannya. Aku kesal padanya, dan lebih lagi pada diriku sendiri yang tak mampu menolak pernikahan ini. Tidak ada sedikit pun kebahagiaan di hatiku. Kalau saja bukan karena memikirkan keselamatan Ibu, mungkin aku sudah kabur, mengejar wanita yang benar-benar kucintai.Alina.Pikiranku hanya dipenuhi olehnya. Bagaimana kabarnya sekarang? Apa dia benar-benar ingin melupakanku, sampai memilih pergi tanpa penjelasan? Tanpa sadar, air mataku jatuh. Cepat-cepat kuseka sebelum ada tamu yang melihat.“Mas, kamu nangis?” tanya Alda pelan.Aku tak menjawab.“Kamu pasti terharu ya, karena akhirnya kita menikah?”Aku menoleh padanya dengan mata yang memerah. “Lihat wajahku. Apa aku terlihat bahagia?”Senyumnya langsung memudar. Tangannya yang semula melingkar di lenganku perlahan terlepas. Nam
Wajah Nenek langsung berubah. Ia tampak benar-benar terkejut, bahkan seperti tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.Aku jadi takut menatapnya. Berbagai pikiran buruk langsung bermunculan di kepalaku. Bagaimana kalau Nenek menyuruhku menggugurkannya? Aku takut… sangat takut.Walaupun, di sisi lain, aku sendiri belum siap menerima kenyataan ini. Aku bahkan tak menginginkan anak ini hadir di situasi seperti ini. Tapi tetap saja… menghilangkannya terasa seperti dosa besar. Bayi ini tidak punya salah apa-apa. Yang salah adalah kami-aku dan Mas Daren. Itu kesalahan kami berdua.“Apa Daren yang kamu maksud… suami kakakmu?” tanya Nenek pelan, suaranya terdengar berat.Aku hanya bisa mengangguk pelan, tanpa berani mengangkat wajah.Ruangan itu mendadak terasa makin sunyi. Hanya suara detak alat monitor yang terdengar pelan.Nenek menarik napas panjang, lalu melepaskannya perlahan. Tangannya yang tadi menggenggam tanganku kini terasa lebih dingin.“Sejak kapan?” tanyanya lirih.Aku
“Alina!” teriak Nenek dari luar, lalu ia membuka pintu kamar mandi dengan paksa. “Apa yang terjadi? Kenapa kamu seperti ini?” Aku hanya tersenyum tipis. Rasanya tak ada tenaga untuk bicara, apalagi menjawab semua pertanyaannya. Pandanganku mulai kabur, pelan-pelan semuanya berubah gelap. Namun sebelum benar-benar hilang, aku masih bisa mendengar suara Nenek yang terus memanggil namaku. Hal pertama yang kulihat saat bangun adalah cahaya lampu yang terang langsung menyilaukan mataku. Aku berkedip pelan, mencoba membiasakan diri dengan cahaya itu. Setelah pandanganku mulai jelas, kulihat Nenek sedang berbicara dengan dokter. Saat itulah aku sadar… aku berada di rumah sakit. Pasti Nenek membawaku ke sini karena panik. Aku heran dengan tubuhku sendiri. Sudah beberapa hari ini aku gampang sekali lelah dan mengantuk. Padahal dulu, waktu masih tinggal di Indonesia, aku sering melakukan aktivitas berat dan baik-baik saja. Tidak pernah sampai seperti ini. Apa mungkin aku punya penyakit seri
"Alina... bangun, Nak!"Suara Nenek terdengar dari balik pintu, memecah keheningan kamarku. Aku mengerjap, perlahan membuka mata yang masih terasa berat. Aku bertumpu pada sisi kasur, lalu duduk diam sebentar untuk mengumpulkan nyawa. Begitu tanganku meraih ponsel, layarnya menunjukkan sudah jam delapan pagi."Alina, kamu sudah bangun, kan?" panggil Nenek lagi, memastikan.Aku menoleh ke arah pintu. "Sudah, Nek..." sahutku dengan suara agak serak khas orang baru bangun tidur."Ya sudah, ayo sarapan. Nenek sudah masak di bawah.""Iya, Nek. Aku mandi dulu sebentar, Nenek duluan saja," ucapku sambil beranjak dari kasur dan mengambil handuk bersih di lemari."Nenek tunggu di bawah, ya."Kudengar langkah kaki Nenek menjauh dan menuruni tangga. Aku pun segera masuk ke kamar mandi. Tak terasa, sudah dua minggu aku tinggal di rumah Nenek. Suasana tenang di sini perlahan membantuku mulai melupakan sedikit demi sedikit masalah yang terjadi di rumah.Namun, saat aku bercermin, pikiranku mendadak







