MasukAwalnya ia hanya diam. Beberapa menit berlalu tanpa satu kata pun keluar dari mulutnya, hingga akhirnya aku mendengar suaranya yang bergetar.
“Aku… terpaksa, Sayang. Ayah mengancamku. Dia bilang akan memisahkan aku dari Ibu… bahkan akan melukai Ibu kalau aku menolak perjodohan ini.” Ia menunduk, kedua tangannya saling menggenggam erat. “Kamu tahu kan… Ibu adalah segalanya buat aku. Aku sudah pernah cerita, keluargaku nggak harmonis karena Ayah yang temperamental. Dia nggak akan segan-segan menyakiti Ibu kalau sedang marah.”
Aku terdiam, mencoba mencerna setiap kata yang baru saja ia ucapkan. Suaranya, ekspresinya, cara kedua bahunya sedikit bergetar, semuanya terlihat begitu menyedihkan. Tapi entah kenapa, hatiku tetap terasa perih.
“Lalu… kenapa Kakak?” tanyaku pelan, menahan getir yang hampir merayap ke suaraku. “Kenapa bukan orang lain? Kenapa harus kakakku sendiri?”
Mas Daren menghela napas panjang, terdengar seperti seseorang yang sudah lama menahan beban.
“Karena Ayah yang memilih,” jawabnya lirih. “Dia yang menentukan semuanya. Mas sama sekali nggak punya suara.” Ia memandangku, matanya kembali memerah. “Saat Ayah bilang dia sudah memilih Kakakmu… Mas nggak bisa apa-apa. Mas cuma… nurut.”
Aku menggigit bibir bawahku, mencoba menahan rasa marah yang mulai mengalir.
“Tapi kamu bisa bilang ke aku, Mas,” suaraku pecah. “Kamu bisa ngomong dulu ke aku sebelum semuanya terjadi. Kenapa kamu diam? Kenapa kamu biarin aku tahu dari orang lain?”
Ia menunduk lebih dalam, kedua tangannya terangkat menutupi wajahnya.
“Karena Mas takut… Kalau Mas cerita, kamu pasti akan memintaku memilih. Dan Mas takut kamu terluka kalau Mas nggak bisa melakukan apa-apa. Mas takut kehilangan kamu.”
Air mata kembali mengumpul di mataku, kali ini lebih panas… lebih berat.
“Terus kenapa kamu nggak bilang ke Ayah kamu,” tanyaku lirih namun penuh getaran, “kalau aku ini pacar kamu, Mas? Aku kan masih keluarga Kakak. Harusnya aku juga bisa jadi pilihan.”
Ia mengembuskan napas panjang, berat, seolah menelan sesuatu yang pahit. Perlahan ia menatapku, dengan mata yang begitu sedih.
“Aku sudah bilang, Sayang… bahkan sebelum kami datang ke rumah kamu. Ibu juga ikut membujuknya. Tapi Ayah nggak mau dengar. Dia tetap pada pendiriannya… karena semuanya sudah disepakati sama Ibu kamu.”
Dadaku mencelos mendengar itu.
“Tapi aku terluka, Mas…” bisikku, hampir tak terdengar.
Mas Daren menutup mata sejenak. Ia mengusap wajahnya pelan lalu menggeser tubuhnya mendekat, namun aku refleks menegakkan punggung, memberi jarak.
“Sayang… Mas tahu kamu terluka,” katanya pelan. “Mas juga hancur. Kamu pikir Mas senang? Kamu pikir Mas nggak tersiksa waktu Ayah ngomong kalau Kakakmu yang dipilih?”
Aku menatapnya, tapi pandanganku bergetar oleh air mata. “Kalau kamu hancur, kenapa kamu tetap datang? Kenapa kamu tetap berdiri di sana ketika Ayah kamu melamar Kakak di depan semua orang? Kenapa kamu nggak melakukan apa pun?”
Ia terdiam. Bukan karena tak punya jawaban-tapi karena jawaban itu terlalu menyakitkan untuk diucapkan.
Akhirnya ia membuka mulut, suaranya rendah dan parau. “Karena kalau Mas melawan… Ayah pasti akan menyakiti Ibu malam itu juga.”
Aku tertegun.
Ia melanjutkan, suaranya gemetar, “Mas cuma punya Ibu. Dia satu-satunya alasan Mas bertahan di rumah itu. Mas nggak bisa kehilangan dia, Sayang. Mas nggak bisa lihat dia dipukul lagi cuma karena Mas menolak.”
Aku memejamkan mata, menahan tangis yang semakin deras.
“Terus bagaimana dengan aku?” tanyaku pelan, getir. “Posisiku apa sekarang di hidup kamu, Mas?”
Mas Daren menatapku lama. Ada rasa bersalah, ada ketakutan, ada cinta yang tampak kacau di dalam matanya. “Kamu tetap segalanya buat Mas… tapi Mas nggak tahu harus gimana.”
Aku mengusap pipiku yang mulai basah. “Kalau kamu nggak tahu harus gimana… bagaimana dengan aku, Mas? Aku harus apa?”
Mas Daren menggenggam tanganku perlahan, takut aku menariknya pergi. “Kamu tetap sama Mas. Jangan tinggalin Mas… tolong.”
Aku kembali tertegun. Dadaku sesak, hatiku seperti diremas mendengar permintaannya barusan. Perlahan aku menggeleng, menahan air mata supaya tidak jatuh lagi.
“Maaf, Mas… tapi hubungan kita nggak bisa dilanjutkan. Kalau tetap diteruskan, itu berarti kamu egois. Kamu sudah memilih Kakak. Jadi biarkan aku mundur sekarang,” ucapku, lalu aku berdiri dan melangkah menuju pintu untuk meninggalkan apartemen itu.
Namun Mas Daren tiba-tiba mencekal tanganku. Genggamannya kuat, jauh lebih kuat dari biasanya. Aku menoleh, dan ia menatapku dengan rahang mengeras, ekspresinya datar, bukan lembut seperti tadi.
“Mas lepas…!” desisku, berusaha menarik tanganku. Tapi genggamannya tidak mengendur sedikit pun.
“Aku nggak akan lepasin kamu,” ucapnya rendah. Suaranya terdengar tenang, tapi ada sesuatu di balik nada itu, sesuatu yang membuat bulu kudukku meremang. “Kamu nggak bisa pergi gitu aja, Sayang. Kita belum selesai.”
Jantungku berdetak lebih cepat. “Mas… kamu menakutiku,” kataku pelan.
Ia tidak menjawab. Ia bangkit berdiri, masih menggenggam tanganku. Wajahnya semakin sulit dibaca, antara putus asa, marah, dan takut kehilangan bercampur jadi satu.
“Aku nggak bisa kehilangan kamu,” katanya sambil menggeleng. “Kamu bilang hubungan ini nggak bisa dilanjut? Kamu salah. Kamu salah besar.”
Aku menelan ludah, tubuhku menegang. “Mas, kamu nggak bisa maksa aku. Kita udah selesai.”
Tidak ada perubahan dalam ekspresinya. Justru genggamannya semakin menguat, membuatku meringis.
“Mas, sakit…!” seruku, mencoba melepaskan tanganku dari genggamannya.
Namun ia sama sekali tidak mendengar. Cengkeramannya justru semakin kuat, membuatku meringis. Tanpa berkata apa pun, ia menarikku menjauh dari ruang tamu.
“Mas… kamu bawa aku ke mana? Mas, lepas!” aku memberontak keras saat ia terus menarikku menuju kamarnya
"Alina... bangun, Nak!"Suara Nenek terdengar dari balik pintu, memecah keheningan kamarku. Aku mengerjap, perlahan membuka mata yang masih terasa berat. Aku bertumpu pada sisi kasur, lalu duduk diam sebentar untuk mengumpulkan nyawa. Begitu tanganku meraih ponsel, layarnya menunjukkan sudah jam delapan pagi."Alina, kamu sudah bangun, kan?" panggil Nenek lagi, memastikan.Aku menoleh ke arah pintu. "Sudah, Nek..." sahutku dengan suara agak serak khas orang baru bangun tidur."Ya sudah, ayo sarapan. Nenek sudah masak di bawah.""Iya, Nek. Aku mandi dulu sebentar, Nenek duluan saja," ucapku sambil beranjak dari kasur dan mengambil handuk bersih di lemari."Nenek tunggu di bawah, ya."Kudengar langkah kaki Nenek menjauh dan menuruni tangga. Aku pun segera masuk ke kamar mandi. Tak terasa, sudah dua minggu aku tinggal di rumah Nenek. Suasana tenang di sini perlahan membantuku mulai melupakan sedikit demi sedikit masalah yang terjadi di rumah.Namun, saat aku bercermin, pikiranku mendadak
Tepat saat aku melangkah keluar rumah bersama Ayah, sebuah mobil berhenti di depan gerbang. Itu Mas Daren. Ia keluar dari mobil sambil membawa sebuah tas pakaian besar, sepertinya seragam keluarga yang lupa ia ambil kemarin.Wajah Mas Daren terlihat bingung melihatku berdiri di samping dua koper besar. Ia tampak ingin bertanya, tetapi aku berusaha mengabaikannya. Ayah kemudian datang menghampiriku, ia mengambil kedua koper itu, lalu memasukkannya ke dalam bagasiAku berjalan cepat mengikuti ayah menuju mobil."Ayo, Yah," kataku buru-buru.Aku segera masuk ke dalam mobil. Aku memperhatikan Mas Daren dari jendela. Ia masih berdiri mematung di depan rumah, menatapku dengan tatapan heran.Tidak lama kemudian, mobil yang kunaiki meninggalkan rumah. Mas Daren masih berdiri di sana, melihat mobil kami menjauh.Perjalanan ke bandara terasa cepat. Setelah check-in, aku duduk menunggu pesawat. Sekitar tiga puluh menit kemudian, saat aku sudah berada di ruang tunggu yang cukup ramai, mataku menan
Mendengar keputusan Ibu, tubuhku menegang. Aku diusir dan dianggap sebagai pengacau di rumah sendiri."Bu, itu tidak adil!" protes Ayah, terkejut. "Alina tidak melakukan kesalahan apa-apa!""Ini demi kebaikan semua, Yah," balas Ibu, tak ingin dibantah. "Jika dia tetap di sini, dia hanya akan menjadi gangguan. Biarkan dia menenangkan diri sampai pernikahannya selesai."Aku mendongak, menatap ibu. Menatapnya dengan tatapan nanar. "Baik, Bu," kataku, suaraku rendah. Aku menatap Kak Alda sejenak, yang kini tampak puas. "Aku akan pergi ke rumah Nenek."Ayah menoleh padaku dengan ekspresi kecewa dan marah pada Ibu. "Alina, kamu tidak perlu...""Tidak apa-apa, Yah," potongku. "Aku akan pergi." Aku berbalik tanpa menunggu persetujuan lain, meninggalkan ruang tengah dan berjalan cepat menuju kamar.Aku berbalik, meninggalkan ruang tengah yang panas. Yang kubutuhkan hanya tempat untuk sendiri. Aku berjalan cepat ke kamar, mengunci pintu, lalu menjatuhkan tubuhku di atas kasur.Tangis yang kutaha
Setelah selesai diobati di klinik terdekat dan sikuku diperban, Mas Daren membawaku ke mobil. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak meninggalkan Kak Alda di restoran. Suasana di dalam mobil kini terasa sangat canggung dan tegang. Hanya suara deru mobil yang mendominasi keheningan.Aku menyandarkan kepala di jendela, berusaha terlihat santai, meskipun aku tahu Mas Daren beberapa kali melirik ke arahku. Aku bisa merasakan tatapannya.Mas Daren menyalakan lampu sein, bersiap berbelok, lalu ia memecah keheningan."Aku tidak suka suasana ini, Lin," katanya, suaranya pelan dan berat. "Kenapa kamu kabur setelah malam itu? Setelah malam terakhir kita."Jantungku berdebar kencang. Aku menoleh. "Mas Daren, jangan bahas itu.""Aku harus bahas. Kenapa kamu tidak membalas pesanku? Kenapa kamu memblokir nomor teleponku? Aku bahkan tidak bisa menghubungimu lagi," desaknya, suaranya sedikit meninggi.Aku menelan ludah, berusaha menjaga ketenangan. "Hubungan kita sudah selesai, Mas Daren. Jelas,
Suasana di meja makan sangat tidak enak. Mas Daren, yang sepertinya sadar betapa panasnya suasana di sana, segera berdiri."Aku ke kamar kecil sebentar," katanya cepat, meninggalkan kami berdua.Saat Mas Daren menghilang, Kak Alda langsung mendekat ke arahku, matanya tajam dan penuh tuduhan."Kamu sengaja, kan, Alina?" desisnya pelan. "Kamu mau menunjukkan ke Daren kalau kamu masih mengharapkannya?"Aku balik menatapnya tanpa gentar. "Aku cuma bersikap biasa, Kak. Tapi kalau Mas Daren jadi segitu perhatiannya padaku, mungkin Kakak harus bertanya kenapa."Wajah Kak Alda memerah. "Jangan memutarbalikkan fakta! Kamu mau merebutnya? Beberapa hari lagi dia akan jadi suamiku jadi stop bertingkah seolah kamu masih pacarnya yang harus diberi perhatian!""Merebut?" Aku tertawa getir. "Kami pacaran, Kak. Kakak yang merebutnya dengan cara licik. Dengan memanfaatkan perjodohan dari ibu, padahal kakak tau kalau dia itu pacarku.""Perjodohan itu murni dari Ibu!" bantah Kak Alda keras. "Ibu yang memi
Kami tiba di butik milik Tante Rima. Tempat itu penuh gaun dan kebaya. Kak Alda langsung menarik tanganku."Ayo, Lin. Bantu aku lihat, seragamnya pas atau tidak di badan Ibu," ajak Kak Alda."Iya, Kak," jawabku singkat.Saat Kak Alda sedang bicara dengan Tante Rima, ponselnya tiba-tiba berdering."Mas Daren?" Kak Alda tersenyum lebar saat melihat nama di layar.Aku pura-pura sibuk melihat deretan manik-manik, tapi aku mendengarkan setiap obrolan mereka"Iya, Sayang. Kita sudah di sini. Oh, kamu mau menyusul? Kirain masih sibuk sekali," kata Kak Alda, tertawa. "Oke, kami tunggu."Aku menarik napas dalam. Mas Daren akan datang. Perutku langsung terasa kaku.Tidak lama kemudian, pintu butik terbuka. Mas Daren masuk."Alda!" panggilnya.Kak Alda tidak menunggu. Ia berjalan cepat menghampiri Mas Daren, lalu langsung mengaitkan lengannya di lengan pria itu. "Tuh kan, aku tahu Mas pasti tidak betah berlama-lama tanpaku," goda Kak Alda, menyandarkan sedikit tubuhnya ke Mas Daren.Mas Daren tam







