แชร์

3. Berpindah Hati?

ผู้เขียน: Day Lily
last update วันที่เผยแพร่: 2025-11-20 14:31:10

Setelah Ayah keluar dari kamarku, aku langsung mengurung diri. Aku tidak keluar sama sekali, bahkan ketika Ayah datang lagi mengetuk pintu, memanggilku untuk makan malam. Aku menolak dan bilang kalau aku sudah kenyang.

Di dalam kamar, aku hanya duduk melamun, menunggu pesan dari Mas Daren, menunggu penjelasan dari pria itu. Aku masih penasaran, masih tidak bisa menerima kenyataan kenapa Mas Daren tega melakukan ini padaku. Mengkhianatiku dengan melamar kakakku sendiri.

Kalaupun benar Mas Daren sudah berpindah hati, setidaknya ia harusnya memutusan hubungan kami lebih dulu. Bukan seperti ini dan malah menyakitku.

Pikiranku terus berputar, memutar ulang setiap momen kami. Kata-katanya, senyumnya, caranya menggenggam tanganku, semuanya terasa seperti kebohongan besar sekarang. Apa selama ini ia hanya berpura-pura? Atau ada sesuatu yang berubah tanpa aku sadari?

Aku meraih ponselku lagi. Layar itu kosong, tak ada satu pun pesan darinya. Setiap detik yang berlalu membuat dadaku semakin sesak. Aku ingin marah, ingin membencinya, tapi yang muncul justru rasa kecewa yang menyakitkan.

Air mataku kembali jatuh, tak terbendung. “Aku kurang apa, Mas…? Kenapa harus Kakak?” bisikku lirih.

Aku menutup wajah dengan kedua tangan dan menangis sejadi-jadinya, meluapkan semua perasaan yang sejak tadi menekan dadaku. Saat isakanku mulai memecah keheningan kamar, tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku tersentak, dengan cepat aku  menoleh dan melihat ada pesan dari Mas Daren.

[Mas Daren: Sayang… maaf aku baru bisa menghubungimu sekarang. Aku baru selesai bicara sama Ayah. Kamu pasti sedih ya setelah dengar kabar aku akan menikah dengan kakakmu. Aku bisa jelaskan semuanya, tapi bisakah kita bertemu mala mini di apartemenku? Aku akan menjelaskan semuanya di sana.]

Pesan itu berhenti sampai di sana, singkat, tanpa penjelasan tambahan. Aku menatap layarnya lama, hatiku diliputi keraguan. Menemuinya malam-malam begini, apalagi di apartemennya, bukan keputusan yang mudah. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Ayah pasti tidak akan mengizinkanku keluar.

Tapi… rasa penasaranku jauh lebih besar daripada ketakutanku. Aku ingin tahu alasannya. Aku ingin tahu kebenaran di balik semua ini. Dan yang paling penting, aku ingin tahu apa yang sebenarnya ada di hati Mas Daren.

Apa ia akan tetap mempertahankan perjodohan itu? Atau… ia akan memilih aku?

Ya, aku akan memberinya pilihan malam ini. Jika ia masih mencintaiku, ia pasti akan memperjuangkan hubungan kami. Tapi jika tidak… maka semuanya akan berakhir setelah aku mendengar jawabannya.

ku buru-buru bangkit dari kasur, menepis sisa air mata di pipiku. Dengan tangan gemetar, aku berganti pakaian, meraih jaket, dan mengambil kunci motorku. Tanpa banyak pikir, aku membuka pintu kamar perlahan lalu keluar, berusaha menahan suara langkahku.

Aku berjalan mengendap di sepanjang lorong menuju lantai bawah. Hampir semua lampu sudah padam, hanya dapur dan ruang tengah yang masih menyala redup. Sepertinya semua orang sudah tidur, termasuk Ayah.

Kesempatan ini tidak boleh aku sia-siakan.

Aku menahan napas saat melewati ruang keluarga, memastikan tak ada suara yang mencurigakan. Lalu, dengan hati berdebar, aku membuka pintu dan keluar dari rumah sebelum siapa pun sempat menyadari.

Begitu sampai di garasi, aku mengambil motorku. Aku memang memilih motor agar lebih cepat dan terutama agar Ayah tidak mendengar kepergianku. Kalau aku menyalakan mobil, suaranya pasti akan membuat Ayah terbangun.

Aku mendorong motor itu pelan-pelan sampai ke luar pagar. Setelah benar-benar berada di luar halaman, barulah aku menyalakan mesinnya. Suaranya langsung menyatu dengan keheningan malam.

Tanpa menoleh lagi ke belakang, aku melaju meninggalkan rumah menuju apartemen Mas Daren. Aku sudah tahu alamatnya, aku sudah sering ke sana setiap akhir pekan.

Angin malam menerpa wajahku sepanjang perjalanan. Jalanan sudah lengang, hanya ada lampu-lampu kota yang berkelip di kejauhan. Meski aku memacu motor cukup cepat, rasanya waktu berjalan terlalu lambat. Setiap detik membuatku semakin gelisah, semakin takut dengan apa yang akan kutemui nanti.

Setibanya di gedung apartemen Mas Daren, aku memarkir motor di tempat biasa. Tempat itu sepi, hanya suara hembusan angin yang terdengar. Aku menelan ludah, mencoba menenangkan diriku sebelum melangkah masuk.

Lift terbuka. Aku masuk, menekan lantai tempat Daren tinggal, dan berdiri diam sambil memeluk kedua tanganku sendiri. Jantungku berdetak kencang

Saat pintu lift terbuka, lorong itu terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Lampu-lampu putih di langit-langit terlihat pucat, membuat suasana semakin menegangkan. Aku melangkah perlahan menuju pintu apartemennya.

Sampai di depan pintu, aku berhenti. Mengambil napas dengan dalam. Tanganku terangkat, ragu sejenak… lalu mengetuk pelan.

Tok. Tok. Tok.

Tak butuh waktu lama pintu itu terbuka dari dalam. Dan Mas Daren muncul, mengenakan kaos gelap dan wajah lelah yang seperti baru saja melewati hari panjang.

Matanya langsung tertuju padaku dan aku bisa melihat sesuatu di sana. Entah rasa bersalah, entah keraguan, atau mungkin keduanya.

“Sayang…” suaranya pelan, hampir seperti bisikan. “Mas senang kamu datang.”

Aku hanya diam, menunduk, mencoba menahan emosi yang hampir meluap lagi.

“Ayo masuk dulu,” katanya, membuka pintu lebih lebar.

Dengan langkah ragu, aku masuk ke apartemen yang begitu kukenal… namun sebelum aku sempat melangkah lebih jauh, tiba-tiba Mas Daren memelukku dari belakang. Pelukannya erat, seolah takut aku menghilang.

Beberapa detik kemudian, kudengar suara isakan kecil tertahan, bergetar, tepat di belakang telingaku.

“Mas…” panggilku lirih, berusaha menahan sesak di dadaku dan air mata yang hampir kembali jatuh.

Aku ingin sekali membalas pelukannya, ingin menangis di bahunya seperti biasanya. Tapi rasa kecewa itu masih terlalu besar. Aku masih belum bisa menerima kenyataan bahwa pria yang kupeluk sebagai kekasih… adalah orang yang hari ini resmi menjadi tunangan kakakku.

“Biarkan seperti ini dulu… aku merindukanmu,” bisiknya dengan suara parau.

Kami diam di sana selama beberapa menit, hingga kakiku mulai terasa pegal. Aku akhirnya memaksa melepas pelukannya.

“Mas… kakiku pegal, lepas dulu,” ucapku pelan sambil menarik diri. Setelah bebas, aku berbalik menatapnya.

Matanya tampak bengkak, entah karena lelah atau menangis dan tanganku hampir terulur untuk mengusapnya. Namun gerakan itu berhenti di tengah udara ketika pikiranku kembali pada perjodohan itu. Seketika aku mengalihkan pandangan dan berjalan meninggalkannya menuju ruang tamu.

Aku duduk di sofa, menunggu ia menyusul. Tak lama kemudian, ia datang dengan ekspresi memelas, lalu duduk di sampingku dan mencoba memelukku dengan manja.

“Mas, lepas!” seruku, memberontak dan melepaskan pelukannya.

Ia tampak kecewa, tapi aku berusaha mengabaikannya. Aku datang ke sini bukan untuk dimanjakan, tapi untuk mendapatkan jawaban.

“Sekarang jelaskan,” kataku menatapnya serius. “Apa maksud dari semuanya, Mas? Kenapa tiba-tiba orang tua kamu datang ke rumah dan melamar kakakku? Kenapa bukan aku?”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Merebut Suami Kakakku   33. Pengecut

    Aku hanya bisa menghela napas panjang, enggan berdebat lebih lama di halaman depan yang sepi ini. Dengan melangkah dingin, aku membuka pintu pagar yang tidak dikunci lalu menuntunnya menuju pintu utama rumah.Setibanya di dalam, aku menyalakan lampu ruang tamu dan menunjukkan jalan menuju kamar tidur Rafa. Mas Daren melangkah sangat pelan, seolah setiap pijakannya takut membangunkan anak dalam pelukannya. Pria itu menunduk sebentar, menyesap aroma tubuh Rafa yang khas anak-anak sebelum mendudukkan dan membaringkan tubuh mungil itu di atas kasur dengan amat perlahan.Dengan kelembutan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya dari seorang pria dingin seperti Daren, ia melepas sepatu kecil Rafa satu per satu. Ia menarik selimut tebal hingga menutupi dada anak itu, lalu mengelus rambut Rafa dengan jemarinya yang agak bergetar."Maafkan Om... maafkan Ayah, Sayang," bisiknya sangat lirih, hampir tak terdengar jika aku tidak berdiri tepat di ambang pintu kamar.Dadaku berdesir hebat mendenga

  • Merebut Suami Kakakku   32. Pulang Bersama

    Mas Daren tidak langsung menjawab sapaan Rafa. Pria itu perlahan berlutut di atas lantai marmer, menyamakan tingginya dengan putraku. Tatapannya begitu lekat."Iya, ini Om yang tadi," jawab Mas Daren dengan suara yang terdengar sedikit serak. Dia memaksakan sebuah senyuman, meski matanya tampak berkaca-kaca. "Kuenya enak, Rafa?""Enak banget, Om! Om mau?" Rafa dengan polosnya menyodorkan piring kecilnya, membuat Mas Daren tertegun menahan gejolak emosi di dadanya.Ayah yang menyadari kehadiran menantunya itu langsung menepuk pundak Mas Daren. "Eh, Daren. Kamu dari mana saja? Itu sudut bibirmu kenapa? Kok agak merah begitu?" tanya Ayah dengan nada menyelidik, menatap memar kecil di wajah Mas Daren.Pertanyaan Ayah membuat suasana mendadak tegang. Mas Daren sempat melirikku sekilas sebelum kembali menatap mertuanya itu dengan tenang. "Ah, ini tidak apa-apa, Yah. Tagi di luar agak gelap, Daren kurang hati-hati dan sempat terserempet ranting pohon yang agak rendah."Aku hanya bisa mencibi

  • Merebut Suami Kakakku   31. Ciuman Paksa

    "Aku tidak percaya!"Suara Mas Daren menggelegar di keheningan taman sepi itu. Sebelum aku sempat melangkah lebih jauh, dia kembali memburu langkahku. Dengan satu sentakan kasar, dia memutar tubuhku hingga punggungku membentur batang pohon besar di belakangku.Kedua tangannya mengunci pergerakanku di sisi kiri dan kanan kepalaku. Napasnya memburu, matanya merah menyala oleh amarah dan frustrasi yang sudah mencapai ubun-ubun."Jangan bohongi aku, Alina! Aku bukan orang bodoh!" bentaknya, napasnya yang panas menerpa wajahku. "Kamu bisa menyangkalnya sekeras apa pun, tapi mata anak itu, senyumnya, bahkan caranya menatapku tadi... itu darah dagingku! Katakan yang sebenarnya! Mengaku, Alina!""Bukan!" teriakku tepat di depan wajahnya, mataku balas menatapnya dengan penuh kebencian yang dipaksakan. "Dia bukan anakmu! Sampai mati pun dia bukan anakmu, Daren!""Alina!!"Kemarahannya pecah. Kehilangan kendali atas penolakanku yang begitu keras, Mas Daren tiba-tiba menundukkan kepalanya. Sebelu

  • Merebut Suami Kakakku   30. Rafa Anakku?

    Tanpa memedulikan tatapan beberapa pasang mata yang mungkin menyadari pergerakan kami, Mas Daren tiba-tiba melangkah maju. Tangannya yang besar dan kokoh langsung menyambar pergelangan tanganku, mencengkeramnya erat, lalu menarikku paksa membelah kerumunan tamu menuju pintu keluar darurat di sudut ballroom."Mas! Lepas! Apa-apaan sih?!" desisku tertahan, mencoba menahan langkah kakiku di atas lantai marmer.Aku tidak bisa berteriak kencang karena tidak ingin membuat keributan di pesta kolega Ayah, namun aku terus memberontak, berusaha menyentak tanganku dari genggamannya.Mas Daren sama sekali tidak bergeming. Dia terus menarikku menyusuri lorong sepi yang menuju ke arah taman samping hotel yang pencahayaannya cukup temaram.Begitu kami tiba di area taman yang sepi, aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk menyentak tanganku kembali. "Lepas, Mas Daren! Kamu gila, ya?!" bentakku dengan suara tertahan, napas daku memburu karena emosi.Aku melangkah mundur satu pijakan, memegangi pergelang

  • Merebut Suami Kakakku   29. Kenapa Menatapku?

    Mas Daren menatap uluran tanganku seolah-olah tangan itu adalah sesuatu yang tidak nyata. Tangannya yang besar perlahan terangkat, bergetar sedikit saat telapak tangan kami akhirnya bersentuhan. Genggamannya begitu erat, seolah-olah ia takut jika dia melepaskannya sedikit saja, aku akan kembali menghilang bagai asap."Alina... ini benar-benar kamu?" bisiknya lirih, mengabaikan kebisingan suara denting gelas dan obrolan para pengusaha di sekitar kami. Suaranya serak, sarat akan emosi yang tertahan selama bertahun-tahun."Iya, Mas. Ini aku," jawabku tenang, tetap mempertahankan senyum anggun di bibirku. Aku dengan sengaja menarik tanganku perlahan dari genggamannya sebelum ada orang lain yang menyadari keintiman yang janggal ini.Sengaja ingin menyiksanya dengan rasa penasaran, aku langsung memutar tubuh, mengabaikan Mas Daren yang masih terpaku. Aku beralih pada kolega Ayah yang berdiri di sebelah kami, melempar senyum manis dan mulai menanggapi obrolan mereka tentang bisnis dan kabark

  • Merebut Suami Kakakku   28. First Meet

    Malam pun tiba, membawa udara dingin sisa hujan sore tadi. Setelah memastikan Rafa makan malam dan kembali terlelap di kamarnya, aku berjalan menuju balkon lantai dua. Aku sengaja tidak menyalakan lampu balkon, membiarkan diriku melebur dalam kegelapan malam sambil memandangi rumah di ujung sana.Benar saja dugaan dugaanku. Mas Daren masih belum tenang.Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat siluetnya di balik jendela kaca ruang kerjanya yang terang di lantai dua rumahnya. Dia berjalan mondar-mandir, sesekali menyibakkan gorden dan menatap ke arah rumahku. Dia tampak seperti pria yang kehilangan arah, tersiksa oleh teka-teki yang sengaja kubiarkan menggantung.Sementara itu, di lantai bawah rumah mereka, lampu ruang tengah tampak temaram. Aku bisa membayangkan bagaimana dinginnya atmosfer di dalam sana. Kak Alda pasti sedang kebingungan menghadapi sikap suaminya yang mendadak jauh lebih berubah menjadi lebih sekat dan melamun sejak pulang dari minimarket tadi pagi.Aku menyilangkan d

  • Merebut Suami Kakakku   6. Pesan Selamat Tinggal

    Aku tersentak bangun, merasakan seluruh tubuhku terasa remuk. Entah berapa kali Mas Daren melakukannya semalam, aku sama sekali tak ingat. Yang kuingat hanyalah, aku menyuruh Mas Daren untuk berhenti, karena kelelahan setelahnya, semuanya gelap.Saat menoleh ke samping, ku lihat Mas Daren masih tert

  • Merebut Suami Kakakku   5. Hadiah Terakhir

    Tubuhku terdorong dan terhempas di atas kasur. Jantungku berdetak semakin kencang saat melihatnya ikut naik, merangkak perlahan mendekat. “M–mau ngapain, Mas?” tanyaku dengan suara bergetar, mataku penuh ketakutan.Aku bergeser mundur, berusaha menjauh sebisa mungkin sampai punggungku menabrak dind

  • Merebut Suami Kakakku   4. Akhir Hubungan?

    Awalnya ia hanya diam. Beberapa menit berlalu tanpa satu kata pun keluar dari mulutnya, hingga akhirnya aku mendengar suaranya yang bergetar.“Aku… terpaksa, Sayang. Ayah mengancamku. Dia bilang akan memisahkan aku dari Ibu… bahkan akan melukai Ibu kalau aku menolak perjodohan ini.” Ia menunduk, ke

  • Merebut Suami Kakakku   2. Keegoisan Seorang Kakak

    Kudengar ketukan pelan dari luar pintu kamarku. Dengan cepat kuhapus air mata yang masih menempel di pipi, lalu menoleh ke arah pintu.“Siapa?” tanyaku, suaraku terdengar parau setelah terlalu lama menangis.“Ini, Kakak…”Begitu mendengar suaranya, aku segera bangun dari tempat tidur. Tatapanku dat

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status