แชร์

5. Hadiah Terakhir

ผู้เขียน: Day Lily
last update วันที่เผยแพร่: 2025-11-25 13:12:26

Tubuhku terdorong dan terhempas di atas kasur. Jantungku berdetak semakin kencang saat melihatnya ikut naik, merangkak perlahan mendekat. “M–mau ngapain, Mas?” tanyaku dengan suara bergetar, mataku penuh ketakutan.

Aku bergeser mundur, berusaha menjauh sebisa mungkin sampai punggungku menabrak dinding. Nafasku tersengal. “Mas… cukup! Jangan mendekat!” pekikku tanpa sadar, rasa panik menyelimuti seluruh tubuhku.

Mas Daren sama sekali tak menghiraukan teriakanku. Ia tetap mendekat dengan tatapan tajam yang terasa mengancam.

“Akh—!” aku terpekik ketika pergelangan kakiku ditarik, membuat tubuhku terjatuh dan terlentang di atas kasur tanpa sempat menahan diri.

Dalam hitungan detik, Mas Daren sudah berada tepat di atasku. Kedua tangannya bertumpu di sisi kepalaku, membuat tubuhnya membentuk bayangan besar yang menutup ruang gerakku.

Mas Daren menunduk sedikit, napasnya jatuh di wajahku, terasa panas, membuat seluruh tubuhku menegang dengan kedua lengan yang masih mengurungku.

“Mas… kamu bikin aku takut…” cicitku lirih, kedua tanganku berusaha mendorong dadanya agar ia menjauh dari atas tubuhku.

Tapi Mas Daren tidak bergerak. Tubuhnya tetap kokoh, seakan tak tergoyahkan. Ketakutanku makin mencengkeram ketika ia menunduk perlahan, mendekat hingga wajahnya berhenti tepat di lekuk leherku.

“Kenapa takut, sayang…?” suaranya merendah, nyaris seperti bisikan yang menyapu kulitku, membuatku menegang tanpa bisa menghindar.

Napasnya yang hangat menyentuh kulitku, membuatku menahan diri agar tidak gemetar. “Mas… tolong,” bisikku, suaraku pecah di ujung kalimat.

Mas Daren tetap tidak menghiraukan ucapanku. Gerakannya justru makin tak terkendali, semakin dekat dan menekan, seolah seluruh emosinya meledak sekaligus. Kurasakan bibirnya menyapu kulit leherku, memberikan kecupan-kecupan kecil di atas sana.

Rasa panik yang mencekik naik ke tenggorokanku saat aku mendorong dadanya lebih kuat. “Lepaskan, Mas Daren!” pekikku, suaraku meninggi dan bergetar karena emosi yang tertahan.

Entah dari mana datangnya kekuatan itu, aku berhasil membuatnya terhuyung dan jatuh ke belakang. Tanpa membuang waktu, aku melompat dari atas kasur dan hendak melarikan diri dari kamar itu.

Saat tanganku meraih gagang pintu, suara tawa keras terdengar dari belakangku.

“Silakan,” ujarnya dengan nada mengejek. “Coba saja kalau kamu memang bisa membukanya.”

Tanganku langsung memutar gagang pintu, tetapi pintunya tak bergerak. Aku mencoba lagi, lebih keras, tanganku bahkan sampai gemetar tapi tetap saja pintu itu tidak bisa terbuka. Mas Daren telah menguncinya setelah kami masuk dan aku tak menyadarinya sama sekali.

Suara langkah Mas Daren perlahan mendekat. Setiap hentakannya membuat darahku seolah berhenti mengalir.

“Ada yang salah?” suaranya kini lebih rendah dan tenang, tapi justru membuat bulu kudukku meremang. “Kenapa nggak kebuka, hm?”

Aku menelan ludah, panik mulai mencengkeram dadaku. “Mas… buka pintunya. Aku mau pergi.”

Ia tak mengatakan apapun. Aku bisa merasakan kehadirannya di belakangku, begitu dekat hingga kehangatannya menyentuh punggungku.

“Pergi ke mana?” tanyanya pelan, tapi nada suaranya tajam. “Kamu pikir aku bakal biarin kamu keluar dalam keadaan kayak gini?”

Tanganku melemah di gagang pintu. Napasku tersengal saat ia berhenti tepat di belakangku, menciptakan jarak yang hampir tidak ada.

“Balik sini, Alina.” Nada suaranya bukan permintaan, melainkan perintah yang ia tahan dengan sisa kesabaran.

Aku masih memegang gagang pintu, tapi tanganku sudah bergetar hebat. Tubuhku membeku ketika kudengar napasnya tepat di belakangku, penuh tekanan yang membuatku sulit bernapas.

“Alina.”

Hanya namaku. Tapi caranya mengucapkan membuat seluruh tubuhku merinding.

Aku menggeleng tanpa menoleh. “Aku mau pulang… Mas buka pintunya.”

Sunyi beberapa detik. Lalu kudengar hembusan nafas panjang, seperti ia berusaha menahan sesuatu yang meletup dalam dirinya.

“Tadi kamu bilang… putus.” Suaranya terdengar lebih berat. “Kamu kira aku bisa terima gitu aja?”

Aku memejamkan mata kuat-kuat. “Mas tolong… jangan begini.” lirihku sambil berbalik menatapnya. “Kamu tahu alasannya, Mas! Kamu akan bertunangan dengan Kakakku! Kita harus mengakhirinya sekarang juga!” Aku menatapnya dengan mata penuh air mata yang mendidih.

“Dan kau pikir aku menginginkan pertunangan itu?! Aku dipaksa! Tapi aku tidak peduli, kau milikku, dan itu tidak akan berubah!” Ia berteriak balik, wajahnya memerah, napasnya memburu.

“Aku bukan barang milikmu!” Aku memberontak sekuat tenaga, memukul dadanya dengan kepalan tangan. “Kita sudah selesai! Jangan sentuh aku!”

Ia mencengkeram daguku, memaksa mataku bertemu tatapannya yang penuh keputusasaan dan kemarahan. “Selesai? Setelah semua yang kita jalani? Kau pikir semudah itu pergi?”

“Lebih mudah daripada melihatmu menikah dengan Kakakku!” air mataku tumpah, mengalir deras membasahi pipi. “Tolong, Mas. Biarkan aku pergi!”

Mas Daren menggeleng keras. Ia menahan pergelangan tanganku, lalu kembali menarikku dan hempaskan tubuhku di atas kasur miliknya. Ia menindihku, berat tubuhnya membuatku tak berkutik. Tangannya mengunci kedua pergelangan tanganku di atas kepala.

“Aku tidak akan membiarkanmu pergi. Aku akan membuatmu lupa kenapa kau ingin putus.” Desisnya tajam, suaranya kini kembali merendah, tetapi terasa lebih mengancam.

“Jangan, Mas! Kumohon! Jangan lakukan ini!”

Aku meronta di bawah kunciannya, air mataku semakin deras. Aku berusaha memalingkan wajah, tapi ia menahan kepalaku dengan satu tangan. Kekuatannya tak tertandingi.

Mas Daren menunduk, napasnya yang panas menyentuh kulitku, tepat di bawah telinga. Ia berbisik, “Aku tahu kau marah. Aku tahu ini salah. Tapi kau tidak bisa menipu dirimu sendiri, Sayang. Katakan padaku kau tidak menginginkanku.”

Bisikan itu, ditambah kehangatan tubuhnya yang familier, tiba-tiba menghancurkan pertahananku. Perlawananku mulai melemah, tanganku yang terkunci di atas kepala berhenti menarik.

Aku membuka mata, menatap matanya yang memohon. Aku tahu ini adalah sesuatu hal yang salah. Pria ini akan menikah dengan kakakku sendiri, tapi aku tidak bisa menahan perasaanku sendiri, mungkin hanya di momen seperti inilah aku bisa merasakan dirinya sepenuhnya.

"Bodoh," bisikku getir, suaraku pecah karena emosi yang melanda, "Kau benar-benar bodoh, Mas Daren."

Mas Daren menyadari perubahan dalam diriku. Pergelangan tanganku dilepaskannya perlahan. Kedua tanganku kini bebas, dan alih-alih mendorongnya, aku melingkarkan lenganku dengan erat di lehernya.

"Aku membencimu karena membuatku menginginkanmu," kataku, sebelum menarik kepalanya ke bawah.

Sentuhan itu datang, bukan lagi karena paksaan, melainkan karena hasrat yang meledak-ledak. Ciuman kami panas, putus asa, dan sarat akan semua rasa sakit, amarah, dan cinta terlarang yang kami rasakan.

Napas kami menyatu. Tangan Mas Daren beralih, menyusuri punggungku perlahan, menghapus jarak terakhir yang tersisa di antara kami. Tubuh kami saling menempel erat, menari dalam ritme tergesa-gesa.

Ia melepaskan ciuman sejenak, wajahnya menyentuh lekuk leherku. Bibirnya bergerak lembut, meninggalkan jejak panas yang merambatkan sensasi geli ke seluruh tubuh.

Aku mendesah tertahan, melengkungkan punggungku, memberinya akses lebih dalam. Jemariku mencengkeram bahunya, menariknya lebih dekat, seolah ingin menyatu ke dalam kulitnya. Kehangatan yang kami ciptakan memabukkan, menenggelamkan semua alasan dan penolakan yang sempat ada.

Tangan Mas Daren bergerak perlahan, menyelusuri lenganku dari bahu hingga siku, meninggalkan jejak panas yang membuat kulitku merinding.

Ia menjauhkan diri sedikit, hanya untuk menatapku. Sorot matanya kini melembut. Dengan ibu jarinya, ia menghapus sisa air mata yang masih membasahi pipiku

“Jangan menangis lagi,” bisiknya, suaranya kini kembali tenang

Aku mengangguk pelan, tanpa mampu mengucapkan apapun. Seluruh perhatianku tersita pada gerak tubuhnya yang selanjutnya.

Ia membungkuk, dan kali ini, bibirnya menjelajahi area yang baru. Sentuhan lembut, basah, dan perlahan di sepanjang tulang selangka, kemudian turun ke cekungan leher. Setiap sentuhan terasa seperti gelombang listrik yang mengalir deras, menghapus sisa-sisa amarah dan rasa bersalah.

Tubuhku mulai rileks, merespons setiap kehangatan yang ia tawarkan. Jari-jariku yang semula mencengkeram bahunya kini melonggar, mulai menjelajahi punggungnya yang tegap, merasakan tekstur kemeja yang basah oleh keringat.

Mas Daren menyadari kepasrahanku. Gerakannya menjadi lebih berani. Ia menanggalkan penghalang di antara kulit kami dengan gerakan cepat namun tetap penuh perhatian.

Saat kulit kami bersentuhan tanpa sekat, napas kami tertahan. Sensasi kehangatan yang begitu kuat langsung menyeruak. Ia merangkum tubuhku, menenggelamkanku dalam pelukan erat, menyalurkan semua emosi yang tidak bisa diucapkan.

“Kau tahu, aku hanya milikmu,” bisiknya di antara napasnya yang berat.

"Aku tahu," jawabku pelan, memejamkan mata. Jemariku tanpa sadar menyusuri garis rahangnya yang tegas, membelai pelan sebelum menariknya lebih dekat.

Aku tahu bahwa ini terakhir kalinya aku bisa menyentuhmu Mas. Anggap saja ini hadiah terakhir dariku, sebelum kamu jadi milik orang lain, bisikku dalam hati

Ada rasa perih, sakit saat mengatkannya tapi aku tidak bisa melakukan apapun. Melawan ibu sama saja dengan menghapus diri dari keluarga. Aku masih menyayangi ayahku, tidak mungkin aku meninggalkannya

Ciuman itu kembali hadir, namun kini lebih tenang, penuh pemujaan, seolah ia sedang meminta maaf sekaligus menegaskan kepemilikannya. Aku membalasnya dengan intensitas yang sama, membiarkan kehangatan tubuhnya menjadi jangkar bagiku.

Mas Daren mencondongkan tubuhnya, menempatkan dirinya di antara kedua kakiku, membuat jantungku berdesir hebat. Kehangatan kami berpadu, menciptakan suhu yang terus membakar.

Tangannya kini berpindah, menelusuri lekukan pinggangku dengan kelembutan yang menyesakkan, sebelum bergerak ke atas. Aku mendesah, merasakan getaran halus yang menjalar dari titik sentuhan itu ke seluruh tubuhku. Di bawah tatapan matanya yang gelap, aku membiarkan diriku sepenuhnya diselimuti oleh sentuhannya, tanpa ada perlawanan sedikit pun.

Ketika kami menyatu sepenuhnya, aku memejamkan mata, memekik tertahan. Ada perpaduan rasa sakit dan lega yang tak bisa terlukiskan. Seluruh tubuhku menegang, sebelum akhirnya menyerah pada ritme yang ia ciptakan.

Kami hanyut dalam gerakan. Kecepatan napasnya, desahan tertahan yang keluar dari bibirnya, dan kencangnya pelukan di pinggangku, semuanya menjadi penanda bahwa kami berdua berada di ambang batas.

Puncaknya datang seperti gelombang besar, meninggalkan kami berdua terengah-engah, dengan dahi saling menempel, dan jantung yang berdetak dengan irama yang sama cepatnya.

“Terima kasih, sayang… aku mencintaimu.”

Kurasakan bibirnya menyentuh dahiku, hangat, lembut, namun justru membuat dadaku semakin sesak. Air mataku jatuh tanpa suara. Aku menangis dalam diam, sementara suaraku tercekat dan tak sanggup membalas apa pun.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Merebut Suami Kakakku   33. Pengecut

    Aku hanya bisa menghela napas panjang, enggan berdebat lebih lama di halaman depan yang sepi ini. Dengan melangkah dingin, aku membuka pintu pagar yang tidak dikunci lalu menuntunnya menuju pintu utama rumah.Setibanya di dalam, aku menyalakan lampu ruang tamu dan menunjukkan jalan menuju kamar tidur Rafa. Mas Daren melangkah sangat pelan, seolah setiap pijakannya takut membangunkan anak dalam pelukannya. Pria itu menunduk sebentar, menyesap aroma tubuh Rafa yang khas anak-anak sebelum mendudukkan dan membaringkan tubuh mungil itu di atas kasur dengan amat perlahan.Dengan kelembutan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya dari seorang pria dingin seperti Daren, ia melepas sepatu kecil Rafa satu per satu. Ia menarik selimut tebal hingga menutupi dada anak itu, lalu mengelus rambut Rafa dengan jemarinya yang agak bergetar."Maafkan Om... maafkan Ayah, Sayang," bisiknya sangat lirih, hampir tak terdengar jika aku tidak berdiri tepat di ambang pintu kamar.Dadaku berdesir hebat mendenga

  • Merebut Suami Kakakku   32. Pulang Bersama

    Mas Daren tidak langsung menjawab sapaan Rafa. Pria itu perlahan berlutut di atas lantai marmer, menyamakan tingginya dengan putraku. Tatapannya begitu lekat."Iya, ini Om yang tadi," jawab Mas Daren dengan suara yang terdengar sedikit serak. Dia memaksakan sebuah senyuman, meski matanya tampak berkaca-kaca. "Kuenya enak, Rafa?""Enak banget, Om! Om mau?" Rafa dengan polosnya menyodorkan piring kecilnya, membuat Mas Daren tertegun menahan gejolak emosi di dadanya.Ayah yang menyadari kehadiran menantunya itu langsung menepuk pundak Mas Daren. "Eh, Daren. Kamu dari mana saja? Itu sudut bibirmu kenapa? Kok agak merah begitu?" tanya Ayah dengan nada menyelidik, menatap memar kecil di wajah Mas Daren.Pertanyaan Ayah membuat suasana mendadak tegang. Mas Daren sempat melirikku sekilas sebelum kembali menatap mertuanya itu dengan tenang. "Ah, ini tidak apa-apa, Yah. Tagi di luar agak gelap, Daren kurang hati-hati dan sempat terserempet ranting pohon yang agak rendah."Aku hanya bisa mencibi

  • Merebut Suami Kakakku   31. Ciuman Paksa

    "Aku tidak percaya!"Suara Mas Daren menggelegar di keheningan taman sepi itu. Sebelum aku sempat melangkah lebih jauh, dia kembali memburu langkahku. Dengan satu sentakan kasar, dia memutar tubuhku hingga punggungku membentur batang pohon besar di belakangku.Kedua tangannya mengunci pergerakanku di sisi kiri dan kanan kepalaku. Napasnya memburu, matanya merah menyala oleh amarah dan frustrasi yang sudah mencapai ubun-ubun."Jangan bohongi aku, Alina! Aku bukan orang bodoh!" bentaknya, napasnya yang panas menerpa wajahku. "Kamu bisa menyangkalnya sekeras apa pun, tapi mata anak itu, senyumnya, bahkan caranya menatapku tadi... itu darah dagingku! Katakan yang sebenarnya! Mengaku, Alina!""Bukan!" teriakku tepat di depan wajahnya, mataku balas menatapnya dengan penuh kebencian yang dipaksakan. "Dia bukan anakmu! Sampai mati pun dia bukan anakmu, Daren!""Alina!!"Kemarahannya pecah. Kehilangan kendali atas penolakanku yang begitu keras, Mas Daren tiba-tiba menundukkan kepalanya. Sebelu

  • Merebut Suami Kakakku   30. Rafa Anakku?

    Tanpa memedulikan tatapan beberapa pasang mata yang mungkin menyadari pergerakan kami, Mas Daren tiba-tiba melangkah maju. Tangannya yang besar dan kokoh langsung menyambar pergelangan tanganku, mencengkeramnya erat, lalu menarikku paksa membelah kerumunan tamu menuju pintu keluar darurat di sudut ballroom."Mas! Lepas! Apa-apaan sih?!" desisku tertahan, mencoba menahan langkah kakiku di atas lantai marmer.Aku tidak bisa berteriak kencang karena tidak ingin membuat keributan di pesta kolega Ayah, namun aku terus memberontak, berusaha menyentak tanganku dari genggamannya.Mas Daren sama sekali tidak bergeming. Dia terus menarikku menyusuri lorong sepi yang menuju ke arah taman samping hotel yang pencahayaannya cukup temaram.Begitu kami tiba di area taman yang sepi, aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk menyentak tanganku kembali. "Lepas, Mas Daren! Kamu gila, ya?!" bentakku dengan suara tertahan, napas daku memburu karena emosi.Aku melangkah mundur satu pijakan, memegangi pergelang

  • Merebut Suami Kakakku   29. Kenapa Menatapku?

    Mas Daren menatap uluran tanganku seolah-olah tangan itu adalah sesuatu yang tidak nyata. Tangannya yang besar perlahan terangkat, bergetar sedikit saat telapak tangan kami akhirnya bersentuhan. Genggamannya begitu erat, seolah-olah ia takut jika dia melepaskannya sedikit saja, aku akan kembali menghilang bagai asap."Alina... ini benar-benar kamu?" bisiknya lirih, mengabaikan kebisingan suara denting gelas dan obrolan para pengusaha di sekitar kami. Suaranya serak, sarat akan emosi yang tertahan selama bertahun-tahun."Iya, Mas. Ini aku," jawabku tenang, tetap mempertahankan senyum anggun di bibirku. Aku dengan sengaja menarik tanganku perlahan dari genggamannya sebelum ada orang lain yang menyadari keintiman yang janggal ini.Sengaja ingin menyiksanya dengan rasa penasaran, aku langsung memutar tubuh, mengabaikan Mas Daren yang masih terpaku. Aku beralih pada kolega Ayah yang berdiri di sebelah kami, melempar senyum manis dan mulai menanggapi obrolan mereka tentang bisnis dan kabark

  • Merebut Suami Kakakku   28. First Meet

    Malam pun tiba, membawa udara dingin sisa hujan sore tadi. Setelah memastikan Rafa makan malam dan kembali terlelap di kamarnya, aku berjalan menuju balkon lantai dua. Aku sengaja tidak menyalakan lampu balkon, membiarkan diriku melebur dalam kegelapan malam sambil memandangi rumah di ujung sana.Benar saja dugaan dugaanku. Mas Daren masih belum tenang.Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat siluetnya di balik jendela kaca ruang kerjanya yang terang di lantai dua rumahnya. Dia berjalan mondar-mandir, sesekali menyibakkan gorden dan menatap ke arah rumahku. Dia tampak seperti pria yang kehilangan arah, tersiksa oleh teka-teki yang sengaja kubiarkan menggantung.Sementara itu, di lantai bawah rumah mereka, lampu ruang tengah tampak temaram. Aku bisa membayangkan bagaimana dinginnya atmosfer di dalam sana. Kak Alda pasti sedang kebingungan menghadapi sikap suaminya yang mendadak jauh lebih berubah menjadi lebih sekat dan melamun sejak pulang dari minimarket tadi pagi.Aku menyilangkan d

  • Merebut Suami Kakakku   6. Pesan Selamat Tinggal

    Aku tersentak bangun, merasakan seluruh tubuhku terasa remuk. Entah berapa kali Mas Daren melakukannya semalam, aku sama sekali tak ingat. Yang kuingat hanyalah, aku menyuruh Mas Daren untuk berhenti, karena kelelahan setelahnya, semuanya gelap.Saat menoleh ke samping, ku lihat Mas Daren masih tert

  • Merebut Suami Kakakku   4. Akhir Hubungan?

    Awalnya ia hanya diam. Beberapa menit berlalu tanpa satu kata pun keluar dari mulutnya, hingga akhirnya aku mendengar suaranya yang bergetar.“Aku… terpaksa, Sayang. Ayah mengancamku. Dia bilang akan memisahkan aku dari Ibu… bahkan akan melukai Ibu kalau aku menolak perjodohan ini.” Ia menunduk, ke

  • Merebut Suami Kakakku   3. Berpindah Hati?

    Setelah Ayah keluar dari kamarku, aku langsung mengurung diri. Aku tidak keluar sama sekali, bahkan ketika Ayah datang lagi mengetuk pintu, memanggilku untuk makan malam. Aku menolak dan bilang kalau aku sudah kenyang.Di dalam kamar, aku hanya duduk melamun, menunggu pesan dari Mas Daren, menunggu

  • Merebut Suami Kakakku   2. Keegoisan Seorang Kakak

    Kudengar ketukan pelan dari luar pintu kamarku. Dengan cepat kuhapus air mata yang masih menempel di pipi, lalu menoleh ke arah pintu.“Siapa?” tanyaku, suaraku terdengar parau setelah terlalu lama menangis.“Ini, Kakak…”Begitu mendengar suaranya, aku segera bangun dari tempat tidur. Tatapanku dat

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status