Mag-log inPanji masih menggenggam kepingan logam hitam yang ditemukannya di ruang bawah tanah. Benda itu terasa dingin, bahkan setelah beberapa menit berada di tangannya. Ukiran aneh pada permukaannya sesekali memantulkan cahaya biru, seolah merespons energi yang mengalir di dalam tubuhnya.
“Jangan terlalu lama memegangnya,” ujar Bramantara. Panji menoleh. “Kenapa?” “Kita belum tahu benda itu berasal dari mana. Bisa saja ada sesuatu yang tertinggal di dalamnLambang merah di dada makhluk itu semakin terang. Getaran dari dalam gerbang membuat seluruh ruangan berderak. Debu berjatuhan dari langit-langit, sementara udara dipenuhi tekanan energi yang membuat napas terasa berat. Panji tidak mengalihkan pandangan dari lawannya. “Jadi, ada sesuatu yang mengendalikanmu?” gumamnya. Makhluk itu menggeram. “Aku tidak dikendalikan siapa pun! Aku adalah penjaga yang dipilih untuk menghancurkan keturunan Ardhana!” Ia kembali menerjang. Panji menghindar ke samping, tetapi serangan berikutnya datang begitu cepat hingga hampir mengenai wajahnya. Ia mengangkat lengan dan membentuk pelindung biru. Benturan keras membuat tubuhnya terdorong mundur. Panji mengertakkan gigi. Ia bisa merasakan kekuatan lawannya jauh lebih besar dibandingkan makhluk yang ditemuinya di hutan. Namun, kali ini ia tidak berniat mengandalkan kekuatan semata. Ia memperhatikan setiap gerakan lawan. Set
Panji masih berdiri di halaman belakang rumah singgah. Serpihan kepingan logam hitam berserakan di atas batu, sementara perkataan yang baru didengarnya terus terngiang di kepala. Pintu itu adalah tempat ayahmu mengakhiri hidupnya. Ia mengepalkan tangan. “Pak Bram, saya ingin tahu lokasi tempat itu.” Bramantara menatapnya. “Kita membutuhkan petunjuk yang lebih jelas. Keterangan korban tadi belum cukup untuk memastikan tempatnya.” “Kalau begitu, kita mulai dari menara tua dan sungai kecil yang dia lihat.” Sekar yang baru keluar dari rumah singgah ikut mendekat. “Aku bisa membantu mencari jejak energinya. Tapi kita perlu membawa benda yang tadi ditemukan sebagai petunjuk.” Panji menggeleng kecil. “Bendanya sudah hancur.” “Tidak seluruhnya.” Bramantara menunjuk salah satu serpihan yang masih tersisa. “Energinya mungkin masih melekat di sana.” Panji mengambil serpihan tersebut menggunakan kain. Begitu benda itu berada di tangannya, energi biru di tubuhnya berdenyut pelan. K
Panji masih menggenggam kepingan logam hitam yang ditemukannya di ruang bawah tanah. Benda itu terasa dingin, bahkan setelah beberapa menit berada di tangannya. Ukiran aneh pada permukaannya sesekali memantulkan cahaya biru, seolah merespons energi yang mengalir di dalam tubuhnya. “Jangan terlalu lama memegangnya,” ujar Bramantara. Panji menoleh. “Kenapa?” “Kita belum tahu benda itu berasal dari mana. Bisa saja ada sesuatu yang tertinggal di dalamnya.” Panji mengamati kepingan tersebut sebelum memasukkannya ke dalam saku jaket. “Kita bawa saja. Saya ingin tahu siapa pemiliknya.” Bramantara tidak membantah. Ia kemudian membantu Sekar memapah salah satu korban, sementara Panji menopang korban lainnya. Kedua orang itu masih sangat lemah. Wajah mereka pucat, dan tubuh mereka dipenuhi bekas luka akibat ikatan yang terlalu kuat. Mereka akhirnya berhasil keluar dari rumah terbengkalai itu.
“Dia tidak pernah menceritakan semuanya kepadamu, bukan, Panji?” Suara dari balik pintu itu masih menggema ketika Panji menoleh kepada Bramantara. “Jawab pertanyaan saya, Pak. Apa yang sebenarnya terjadi pada ayah saya?” Bramantara terdiam sesaat. Tatapannya berpindah dari Panji menuju simbol hitam yang merayap di permukaan pintu. “Ayahmu meninggal ketika kau masih belum memahami dunia yang diwariskannya,” jawabnya akhirnya. “Ada hal-hal yang belum bisa kuceritakan sebelum kita mengetahui siapa yang sedang berbicara denganmu.” Panji mengatupkan rahang. “Kalau begitu, kita cari tahu langsung dari sumbernya.” Ia melangkah menuju pintu. “Panji, tunggu,” ujar Sekar. Panji mengangkat tangan, memberi isyarat agar Sekar tidak mendekat. Energi biru mulai menyelimuti jemarinya. Kali ini, ia tidak membiarkannya meledak liar seperti sebelumnya. Ia memusatkan napas, mengumpulkan energi itu perlahan, kemudian mengarahkannya ke telapak tangan. Cahaya biru membentuk lapisan tipis di sepanja
Cengkeraman tangan hitam itu semakin kuat, menarik pergelangan kaki Panji ke arah lubang di bawah lantai. Panji segera menahan tubuhnya dengan kedua tangan. Kayu di sekeliling lubang berderit ketika sesuatu di bawah sana berusaha menyeretnya masuk. “Panji!” seru Sekar. Sekar mengayunkan tangannya. Seutas cahaya putih melesat, melilit pergelangan tangan makhluk itu. Namun, bukannya melepaskan Panji, tangan hitam tersebut justru menarik lilitan itu hingga cahaya putihnya bergetar. Bramantara bergerak cepat. Ia mengangkat senjata spiritualnya dan menghantam lengan hitam tersebut. Terdengar suara seperti kayu patah. Cengkeraman itu terlepas. Panji segera menjauh dari lubang, lalu bangkit dengan napas memburu. Di pergelangan kakinya tertinggal bekas kehitaman menyerupai jari-jari yang mencengkeram kulitnya. “Jangan mendekati lubang itu lagi,” perintah Bramantara. Panji menatap bekas di kakinya. “Apa sebenarnya yan
Panji masih menggenggam kertas kusut itu ketika Bramantara mengambilnya kembali. “Jangan sampai pesan ini membuatmu bertindak gegabah,” ujar Bram. Panji menatapnya tajam. “Mereka menyebut namaku. Mereka tahu aku sedang berlatih, bahkan tahu soal kekuatanku. Bagaimana aku bisa diam saja?” “Dengan menggunakan kepala, bukan hanya emosi.” Panji mengembuskan napas. Ia tidak menyukai jawaban itu, tetapi ia tahu Bramantara tidak sepenuhnya salah. Sekar berdiri di samping bangku, mengamati gambar rumah kosong pada kertas tersebut. “Simbolnya sama dengan yang pernah kita temukan sebelumnya,” katanya. “Kalau dua orang sudah hilang di sana, kemungkinan tempat itu bukan sekadar rumah kosong.” “Karena itulah kita akan memeriksanya,” jawab Bramantara. “Tapi kita berangkat dengan persiapan yang cukup. Tidak ada yang bertindak sendiri.” Panji mengangguk. “Aku mengerti.” Bramantara menatapnya beberapa saat, seolah memastikan Panji benar-benar memahami peringatannya. “Dan satu hal lag







