Share

Bab 11

Author: Dewgirl
last update publish date: 2026-10-30 16:00:44

Cengkeraman tangan hitam itu semakin kuat, menarik pergelangan kaki Panji ke arah lubang di bawah lantai. Panji segera menahan tubuhnya dengan kedua tangan. Kayu di sekeliling lubang berderit ketika sesuatu di bawah sana berusaha menyeretnya masuk.

“Panji!” seru Sekar.

Sekar mengayunkan tangannya. Seutas cahaya putih melesat, melilit pergelangan tangan makhluk itu. Namun, bukannya melepaskan Panji, tangan hitam tersebut justru menarik lilitan itu hingga cahaya pu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mereka Salah Memilih Mangsa   Bab 13

    Panji masih menggenggam kepingan logam hitam yang ditemukannya di ruang bawah tanah. Benda itu terasa dingin, bahkan setelah beberapa menit berada di tangannya. Ukiran aneh pada permukaannya sesekali memantulkan cahaya biru, seolah merespons energi yang mengalir di dalam tubuhnya. “Jangan terlalu lama memegangnya,” ujar Bramantara. Panji menoleh. “Kenapa?” “Kita belum tahu benda itu berasal dari mana. Bisa saja ada sesuatu yang tertinggal di dalamnya.” Panji mengamati kepingan tersebut sebelum memasukkannya ke dalam saku jaket. “Kita bawa saja. Saya ingin tahu siapa pemiliknya.” Bramantara tidak membantah. Ia kemudian membantu Sekar memapah salah satu korban, sementara Panji menopang korban lainnya. Kedua orang itu masih sangat lemah. Wajah mereka pucat, dan tubuh mereka dipenuhi bekas luka akibat ikatan yang terlalu kuat. Mereka akhirnya berhasil keluar dari rumah terbengkalai itu.

  • Mereka Salah Memilih Mangsa   Bab 12

    “Dia tidak pernah menceritakan semuanya kepadamu, bukan, Panji?” Suara dari balik pintu itu masih menggema ketika Panji menoleh kepada Bramantara. “Jawab pertanyaan saya, Pak. Apa yang sebenarnya terjadi pada ayah saya?” Bramantara terdiam sesaat. Tatapannya berpindah dari Panji menuju simbol hitam yang merayap di permukaan pintu. “Ayahmu meninggal ketika kau masih belum memahami dunia yang diwariskannya,” jawabnya akhirnya. “Ada hal-hal yang belum bisa kuceritakan sebelum kita mengetahui siapa yang sedang berbicara denganmu.” Panji mengatupkan rahang. “Kalau begitu, kita cari tahu langsung dari sumbernya.” Ia melangkah menuju pintu. “Panji, tunggu,” ujar Sekar. Panji mengangkat tangan, memberi isyarat agar Sekar tidak mendekat. Energi biru mulai menyelimuti jemarinya. Kali ini, ia tidak membiarkannya meledak liar seperti sebelumnya. Ia memusatkan napas, mengumpulkan energi itu perlahan, kemudian mengarahkannya ke telapak tangan. Cahaya biru membentuk lapisan tipis di sepanja

  • Mereka Salah Memilih Mangsa   Bab 11

    Cengkeraman tangan hitam itu semakin kuat, menarik pergelangan kaki Panji ke arah lubang di bawah lantai. Panji segera menahan tubuhnya dengan kedua tangan. Kayu di sekeliling lubang berderit ketika sesuatu di bawah sana berusaha menyeretnya masuk. “Panji!” seru Sekar. Sekar mengayunkan tangannya. Seutas cahaya putih melesat, melilit pergelangan tangan makhluk itu. Namun, bukannya melepaskan Panji, tangan hitam tersebut justru menarik lilitan itu hingga cahaya putihnya bergetar. Bramantara bergerak cepat. Ia mengangkat senjata spiritualnya dan menghantam lengan hitam tersebut. Terdengar suara seperti kayu patah. Cengkeraman itu terlepas. Panji segera menjauh dari lubang, lalu bangkit dengan napas memburu. Di pergelangan kakinya tertinggal bekas kehitaman menyerupai jari-jari yang mencengkeram kulitnya. “Jangan mendekati lubang itu lagi,” perintah Bramantara. Panji menatap bekas di kakinya. “Apa sebenarnya yan

  • Mereka Salah Memilih Mangsa   Bab 10

    Panji masih menggenggam kertas kusut itu ketika Bramantara mengambilnya kembali. “Jangan sampai pesan ini membuatmu bertindak gegabah,” ujar Bram. Panji menatapnya tajam. “Mereka menyebut namaku. Mereka tahu aku sedang berlatih, bahkan tahu soal kekuatanku. Bagaimana aku bisa diam saja?” “Dengan menggunakan kepala, bukan hanya emosi.” Panji mengembuskan napas. Ia tidak menyukai jawaban itu, tetapi ia tahu Bramantara tidak sepenuhnya salah. Sekar berdiri di samping bangku, mengamati gambar rumah kosong pada kertas tersebut. “Simbolnya sama dengan yang pernah kita temukan sebelumnya,” katanya. “Kalau dua orang sudah hilang di sana, kemungkinan tempat itu bukan sekadar rumah kosong.” “Karena itulah kita akan memeriksanya,” jawab Bramantara. “Tapi kita berangkat dengan persiapan yang cukup. Tidak ada yang bertindak sendiri.” Panji mengangguk. “Aku mengerti.” Bramantara menatapnya beberapa saat, seolah memastikan Panji benar-benar memahami peringatannya. “Dan satu hal lag

  • Mereka Salah Memilih Mangsa   Bab 9

    Jatmika berdiri di tengah halaman latihan dengan kedua tangan terangkat dalam posisi bertarung. Wajahnya santai, seolah menghadapi Panji bukanlah sesuatu yang perlu dianggap serius. Panji berdiri beberapa langkah di depannya sambil mengatur napas. Tubuhnya masih pegal akibat latihan sejak pagi, tetapi ia tidak berniat mundur. “Sudah siap?” tanya Jatmika. “Kalau aku bilang belum, kamu bakal menunggu sampai besok?” Jatmika menyeringai. “Mulutmu lumayan berani.” “Sayangnya, kemampuanmu belum tentu sebanding dengan mulutmu.” Sekar yang duduk di bangku kayu menahan tawa. Bramantara justru menatap mereka dengan datar. “Kalau sudah selesai saling menyindir, mulailah,” perintah Bram. Jatmika bergerak lebih dahulu. Pukulannya meluncur ke arah wajah Panji. Panji menangkis, tetapi lengannya bergetar akibat benturan. Sebelum sempat membalas, Jatmika menyapu kakinya. Panji jatuh ke tanah. “Bangun,” kata Bram. “Aku bahkan belum sempat menyerang.” “Lawanmu tidak wajib memberimu

  • Mereka Salah Memilih Mangsa   Bab 8

    Panji tiba di rumah Bram sebelum matahari terbit. Udara masih dingin ketika ia mengetuk pintu. Tidak sampai satu menit, pintu terbuka dan Bram muncul dengan pakaian latihan sederhana. “Kamu terlambat tiga menit.” Panji melirik jam tangannya. “Bukannya kita janji sebelum matahari terbit?” “Dan kamu datang tiga menit setelah waktu yang kutentukan.” Panji menghela napas. Ia baru sadar bahwa berdebat dengan pria itu hanya akan membuang waktu. “Jadi, kita mulai dari mana?” Bram menunjuk halaman belakang. “Lari.” Panji mengernyit. “Lari?” “Sepuluh putaran mengelilingi halaman.” Panji menatap halaman yang luasnya cukup membuat kakinya pegal sebelum selesai. “Bukannya saya datang untuk belajar energi spiritual?” “Kalau tubuhmu tidak mampu bertahan dalam latihan dasar, energi spiritual hanya akan mempercepat kehancuranmu.” Bram melipat tangan. “Mulai sekarang.” Panji terpaksa berlari. Pada putaran ketiga, napasnya mulai tidak teratur. Pada putaran keenam, kakinya terasa berat. K

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status