LOGINCengkeraman tangan hitam itu semakin kuat, menarik pergelangan kaki Panji ke arah lubang di bawah lantai. Panji segera menahan tubuhnya dengan kedua tangan. Kayu di sekeliling lubang berderit ketika sesuatu di bawah sana berusaha menyeretnya masuk. “Panji!” seru Sekar. Sekar mengayunkan tangannya. Seutas cahaya putih melesat, melilit pergelangan tangan makhluk itu. Namun, bukannya melepaskan Panji, tangan hitam tersebut justru menarik lilitan itu hingga cahaya putihnya bergetar. Bramantara bergerak cepat. Ia mengangkat senjata spiritualnya dan menghantam lengan hitam tersebut. Terdengar suara seperti kayu patah. Cengkeraman itu terlepas. Panji segera menjauh dari lubang, lalu bangkit dengan napas memburu. Di pergelangan kakinya tertinggal bekas kehitaman menyerupai jari-jari yang mencengkeram kulitnya. “Jangan mendekati lubang itu lagi,” perintah Bramantara. Panji menatap bekas di kakinya. “Apa sebenarnya yan
Panji masih menggenggam kertas kusut itu ketika Bramantara mengambilnya kembali. “Jangan sampai pesan ini membuatmu bertindak gegabah,” ujar Bram. Panji menatapnya tajam. “Mereka menyebut namaku. Mereka tahu aku sedang berlatih, bahkan tahu soal kekuatanku. Bagaimana aku bisa diam saja?” “Dengan menggunakan kepala, bukan hanya emosi.” Panji mengembuskan napas. Ia tidak menyukai jawaban itu, tetapi ia tahu Bramantara tidak sepenuhnya salah. Sekar berdiri di samping bangku, mengamati gambar rumah kosong pada kertas tersebut. “Simbolnya sama dengan yang pernah kita temukan sebelumnya,” katanya. “Kalau dua orang sudah hilang di sana, kemungkinan tempat itu bukan sekadar rumah kosong.” “Karena itulah kita akan memeriksanya,” jawab Bramantara. “Tapi kita berangkat dengan persiapan yang cukup. Tidak ada yang bertindak sendiri.” Panji mengangguk. “Aku mengerti.” Bramantara menatapnya beberapa saat, seolah memastikan Panji benar-benar memahami peringatannya. “Dan satu hal lag
Jatmika berdiri di tengah halaman latihan dengan kedua tangan terangkat dalam posisi bertarung. Wajahnya santai, seolah menghadapi Panji bukanlah sesuatu yang perlu dianggap serius. Panji berdiri beberapa langkah di depannya sambil mengatur napas. Tubuhnya masih pegal akibat latihan sejak pagi, tetapi ia tidak berniat mundur. “Sudah siap?” tanya Jatmika. “Kalau aku bilang belum, kamu bakal menunggu sampai besok?” Jatmika menyeringai. “Mulutmu lumayan berani.” “Sayangnya, kemampuanmu belum tentu sebanding dengan mulutmu.” Sekar yang duduk di bangku kayu menahan tawa. Bramantara justru menatap mereka dengan datar. “Kalau sudah selesai saling menyindir, mulailah,” perintah Bram. Jatmika bergerak lebih dahulu. Pukulannya meluncur ke arah wajah Panji. Panji menangkis, tetapi lengannya bergetar akibat benturan. Sebelum sempat membalas, Jatmika menyapu kakinya. Panji jatuh ke tanah. “Bangun,” kata Bram. “Aku bahkan belum sempat menyerang.” “Lawanmu tidak wajib memberimu
Panji tiba di rumah Bram sebelum matahari terbit. Udara masih dingin ketika ia mengetuk pintu. Tidak sampai satu menit, pintu terbuka dan Bram muncul dengan pakaian latihan sederhana. “Kamu terlambat tiga menit.” Panji melirik jam tangannya. “Bukannya kita janji sebelum matahari terbit?” “Dan kamu datang tiga menit setelah waktu yang kutentukan.” Panji menghela napas. Ia baru sadar bahwa berdebat dengan pria itu hanya akan membuang waktu. “Jadi, kita mulai dari mana?” Bram menunjuk halaman belakang. “Lari.” Panji mengernyit. “Lari?” “Sepuluh putaran mengelilingi halaman.” Panji menatap halaman yang luasnya cukup membuat kakinya pegal sebelum selesai. “Bukannya saya datang untuk belajar energi spiritual?” “Kalau tubuhmu tidak mampu bertahan dalam latihan dasar, energi spiritual hanya akan mempercepat kehancuranmu.” Bram melipat tangan. “Mulai sekarang.” Panji terpaksa berlari. Pada putaran ketiga, napasnya mulai tidak teratur. Pada putaran keenam, kakinya terasa berat. K
Rumah yang ditunjukkan Sekar berada di pinggir kota, jauh dari keramaian. Bangunannya sederhana, dikelilingi pepohonan tua dan pagar bambu yang sebagian sudah lapuk. Panji mengamati tempat itu dengan alis berkerut. “Jangan bilang orang yang kamu maksud tinggal di sini.” “Memangnya kenapa? Kamu berharap rumah mewah?” “Aku hanya berharap tempatnya tidak terlihat seperti lokasi terakhir orang menghilang.” Sekar mendengus. “Kalau terus mengoceh, kita bisa pulang sekarang.” Panji memilih diam. Sekar mengetuk pintu tiga kali. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi, kali ini lebih keras. “Bram! Aku tahu kamu ada di dalam!” Pintu terbuka mendadak. Seorang pria berusia sekitar empat puluh lima tahun berdiri di ambang pintu. Rambutnya sedikit beruban, wajahnya dipenuhi garis tegas, dan tatapannya tajam seperti sedang menilai setiap gerakan orang di hadapannya. “Sekar,” katanya datar. “Aku pernah bilang jangan datang tanpa kabar.” “Aku juga pernah bilang berhenti mengunci pintu seolah-olah
Panji baru berjalan beberapa langkah ketika Sekar mendadak berhenti. “Ada apa?” tanyanya. Sekar mengangkat tangan, memberi isyarat agar Panji diam. Matanya mengamati jalan sempit di depan mereka. “Kita diikuti.” Panji menoleh ke belakang. Gang itu tampak kosong, tetapi ia merasakan sesuatu yang ganjil. Udara mendadak dingin, dan suara kendaraan dari jalan raya perlahan menghilang. Tiga sosok muncul dari balik bangunan tua. Mereka mengenakan pakaian hitam dengan lambang yang sama seperti milik para pemburu sebelumnya. Salah seorang membawa dua bilah pisau pendek, sementara dua lainnya menggenggam tongkat berukir. “Sepertinya kalian belum puas,” ujar Panji. Pria berpisau menyeringai. “Kami berbeda dari kelompok tadi. Kami tidak diperintahkan untuk memberimu kesempatan melawan.” Sekar segera berdiri di depan Panji. “Jangan terpancing. Mereka sengaja ingin membuatmu menggunakan energi.” “Kalau tidak menggunakannya, aku bisa mati.” “Kalau menggunakannya sembarangan, kamu juga bi







