Share

Bab 2

Penulis: Auraz
Setelah membakar semua barang itu, Kathleen tidak langsung pulang. Dia duduk di bangku panjang di luar untuk waktu yang sangat lama.

Ketika dia mendorong pintu dan masuk, Asher sudah beristirahat. Namun, ponselnya yang diletakkan di samping tempat tidur terus bergetar.

Dia berjalan mendekat untuk mematikannya, tetapi tanpa sengaja malah membuka WhatsApp-nya. Begitu dibuka, layar penuh dengan riwayat percakapannya dengan Samara.

[ Asher, kebetulan sekali. Nggak kusangka waktu aku pulang ke negara ini, aku malah naik penerbanganmu. Orang yang dulu begitu nggak peduli dengan dunia, ternyata bisa juga jadi kapten yang tetap tenang saat menghadapi keadaan darurat. ]

Asher terdiam lama sebelum membalas.

[ Kamu benar-benar nggak tahu, karena apa aku menjadi kapten? ]

Samara mengirim stiker wajah tersenyum.

[ Jangan-jangan karena aku? Karena aku pernah bilang aku suka laki-laki yang memakai seragam kapten? ]

Asher hanya membalas satu kata, tetapi kata itu cukup untuk menghancurkan segalanya bagi Kathleen.

[ Ya. ]

Mata Kathleen langsung memerah. Air mata tanpa sadar mengalir turun. Dia buru-buru menyekanya. Saat keluar dari jendela percakapan, dia melihat tanda yang sangat mencolok.

Percakapan Samara disematkan di bagian paling atas. Tepat di bawahnya adalah kotak percakapannya sendiri. Di atasnya juga ada sebuah tanda. Namun, itu adalah mode jangan ganggu.

Cinta dan tidak cinta hanya berbeda satu kata. Namun, ternyata perbedaannya sejauh langit dan bumi.

Namun, tidak masalah. Dia sudah melepaskan diri. Asher menunggu orang yang dia sukai kembali, sementara dia juga akan memulai hidup baru.

Masing-masing mendapatkan yang diinginkan. Semua berakhir dengan baik.

Keesokan harinya, ketika alarm yang sudah disetel membangunkan Kathleen, dia baru menyadari bahwa Asher sudah keluar rumah. Asher tidak mengatakan pergi ke mana. Namun, Kathleen tahu dia pergi menemui Samara.

Lagi pula, semalam Samara sempat berkata sambil lalu bahwa dia ingin makan dimsum di restoran dekat sekolah lamanya. Asher langsung memesan tempat di aplikasi.

Kathleen tidak memikirkan hal itu lagi. Dia masih memiliki urusannya sendiri. Setelah sarapan, dia berdandan ringan, membawa tas, lalu pergi ke perusahaan untuk menyelesaikan prosedur pengunduran dirinya.

Siang hari, dia mengajak beberapa teman sekamar semasa kuliah untuk makan bersama sebagai perpisahan.

Di meja makan, beberapa gadis itu semua tahu kisah cintanya selama sepuluh tahun. Ketika mendengar dia berencana putus dan pulang ke kampung halaman untuk ikut perjodohan, mereka semua sangat menyayangkannya, merasa dia telah menyia-nyiakan sepuluh tahun terbaik dalam hidupnya.

"Kathleen, kamu benaran mau pergi begitu saja tanpa bilang apa-apa? Kamu nggak merasa dirugikan? Kamu benaran nggak berencana memberitahu Asher tentang semua perasaan dan pengorbananmu selama bertahun-tahun sebelum kamu pergi?"

"Ya, kamu sangat menyukainya. Kamu benaran nggak mau mencoba sekali lagi? Kalau kamu mengatakannya, mungkin dia akan menahanmu. Sepuluh tahun lho. Bahkan hati yang terbuat dari besi pun nggak mungkin nggak tergerak."

"Memang yang dilakukan Asher ini sangat menyebalkan, tapi orang yang benar-benar bersamanya selama enam tahun adalah kamu. Gadis itu sudah lama ke luar negeri, 'kan? Mungkin bagi dia itu cuma obsesi masa muda saja."

Kathleen tahu mereka semua merasa kasihan padanya. Namun, dia sudah memutuskan untuk pergi dan tidak ingin melakukan hal-hal yang tidak berarti lagi. Dia hanya menggeleng pelan.

"Dia nggak menyukaiku. Mengatakannya nggak ada artinya. Lebih baik memutuskan semuanya sampai tuntas dan pergi dengan bermartabat."

Melihat sikapnya begitu tegas, mereka juga tidak bisa membujuknya lagi. Mereka hanya bisa menghela napas dan berharap dia menemukan pria yang lebih baik.

Mereka mengobrol lebih dari satu jam sebelum akhirnya bubar. Setelah minum gelas terakhir, Kathleen pulang ke rumah. Dia masih sangat bersemangat.

Memanfaatkan cuaca yang cerah, dia mengeluarkan semua barang yang dia beli selama bertahun-tahun. Baju dan cangkir pasangan, boneka yang memenuhi lemari dari hasil permainan selama bertahun-tahun, pisau cukur di kamar mandi, kosmetik yang memenuhi meja rias ....

Satu per satu, semuanya dia pilih dengan hati-hati saat membelinya. Sekarang, semuanya masuk ke tempat sampah.

Kamar tidur, dapur, dan ruang tamu yang dulu hangat kini menjadi kosong dan sunyi. Namun, Kathleen tahu setelah dia pergi, tempat-tempat kosong itu akan segera dipenuhi barang-barang baru.

Semuanya tentu memiliki pemilik baru yang sama, yaitu Samara.

Selama tiga atau empat hari berikutnya, Asher tidak pulang ke rumah dan tidak mengirim satu pesan pun. Kathleen tidak peduli ke mana dia pergi. Dia hanya perlahan membereskan barang-barangnya.

Hari Jumat adalah hari ulang tahun Kathleen. Dia keluar untuk memesan kue, lalu membeli satu buket bunga untuk dirinya sendiri. Baru saja dia memasukkan bunga ke vas, ponselnya berdering. Itu panggilan dari Asher.

"Kathleen, aku di bawah kantormu. Rekan kerjamu bilang kamu sudah resign. Ada apa?"

Mendengar itu, sedikit keterkejutan muncul di wajah Kathleen. Selama mereka bersama, Asher belum pernah sekali pun menjemputnya di kantor.

Meskipun tidak tahu mengapa Asher tiba-tiba punya ide seperti ini, dia tidak bisa mengatakan alasan sebenarnya dia mengundurkan diri. Dia pun mencari alasan.

"Akhir-akhir ini terlalu lelah. Aku ingin istirahat di rumah sebentar."

Asher tidak bertanya lebih jauh, hanya menanyakan alamatnya dan berkata ingin menjemputnya untuk pergi ke suatu tempat.

Setengah jam kemudian, mereka bertemu di depan rumah. Kathleen naik ke mobil. Dia tidak bertanya ke mana mereka akan pergi, juga tidak bertanya mengapa Asher tidak pulang selama beberapa hari ini.

Dia hanya memandang pemandangan di luar jendela dengan tenang, sepanjang perjalanan tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Merelakan Cinta Pertama, Menerima Perjodohan yang Ditetapkan   Bab 25

    Pernikahan Kathleen dan Arthur dipilih pada akhir musim gugur. Katanya itu hari baik yang sangat membawa keberuntungan untuk segala hal.Sehari sebelumnya, Asher sudah terbang ke Kota Jayapa dan duduk sendirian di hotel sepanjang malam.Keesokan harinya pukul 10 pagi, dia mengenakan setelan jas dan pergi sendirian ke lokasi pernikahan.Orang yang menerima hadiah berasal dari pihak keluarga Kathleen dan tidak mengenalnya, lalu menanyakan namanya.Asher tidak menyebutkan namanya, hanya mengatakan bahwa itu adalah hadiah bersama dari teman sekelas dan cukup ditulis sebagai teman sekelas SMA.Setelah melihat kata-kata itu dituliskan, Asher mengeluarkan sebuah kartu dari sakunya. Di tengah tatapan heran orang-orang, dia berkata dengan tenang, "Kata sandinya Kathleen tahu. Tolong sampaikan padanya agar dia benar-benar menerimanya. Ini sedikit niat baik dari teman lama kami. Semoga dia bahagia."Pernikahan diadakan di hotel di lereng gunung. Aula dipenuhi lautan mawar merah muda. Di mana-mana

  • Merelakan Cinta Pertama, Menerima Perjodohan yang Ditetapkan   Bab 24

    Asher tidak mau mendengarkan nasihat dan bersikeras berdiri kehujanan di bawah gedung, menunggu Kathleen berubah pikiran.Namun, baru lewat pukul 12 malam, dia sudah tidak sanggup lagi bertahan dan pingsan.Bobby segera membawanya ke rumah sakit malam itu juga. Setelah diperiksa, dokter mengatakan lukanya sudah terinfeksi dan menyuruh mereka segera memindahkannya ke rumah sakit di ibu kota.Dia begitu ketakutan sampai hampir ikut pingsan. Dengan tangan gemetar, dia menelepon keluarga Asher dan menjelaskan situasinya.Pukul 3 dini hari, Asher yang demam tingginya tak kunjung turun pun dibawa naik pesawat kembali ke ibu kota.Keesokan harinya sebelum fajar, dia sudah masuk ruang operasi. Namun, baru satu jam setelah operasi dimulai, dokter sudah bergegas keluar dan membawa kabar buruk yang mengejutkan."Infeksi lukanya sangat parah. Dengan tingkat medis di dalam negeri saat ini, kalau ingin menyelamatkan nyawanya, satu-satunya cara adalah memotong tangan kanannya. Kalau memungkinkan, seg

  • Merelakan Cinta Pertama, Menerima Perjodohan yang Ditetapkan   Bab 23

    Asher mengerti. Namun, dia hanya ingin berpura-pura tidak mengerti.Dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Kathleen sudah melepaskan segalanya. Dia terus menggeleng dengan putus asa, wajahnya dipenuhi rasa sakit."Aku nggak ngerti. Kath, tolong jangan mengatakan hal seperti itu, boleh?"Untuk kedua kalinya, Kathleen melihat ekspresi rapuh dan tak berdaya seperti itu di wajahnya. Dia ingat terakhir kali adalah pada hari ketika dia mengetahui kebenaran. Saat itu, dia dengan setengah sadar menopang Asher yang mabuk dan membawanya pulang.Asher memeluknya sambil memanggil nama Samara sepanjang malam. Saat fajar tiba, Asher tertidur dan hati Kathleen juga benar-benar mati saat itu.Jelas baru lebih dari sebulan yang lalu, tetapi sekarang ketika dia mengingatnya kembali, semuanya terasa begitu jauh, seolah-olah itu terjadi di kehidupan sebelumnya.Waktu memang obat terbaik untuk menyembuhkan luka. Menghadapi permohonannya yang seperti merajuk tanpa alasan, hati Kathleen tetap tidak bergejol

  • Merelakan Cinta Pertama, Menerima Perjodohan yang Ditetapkan   Bab 22

    Kathleen tidak ingin terus-menerus diganggu oleh Asher. Perlahan, muncul niat di hatinya untuk berbicara dengan jelas dengannya.Dia mencari alasan agar orang tuanya pulang lebih dulu, lalu di bawah tatapan panas itu, dia berjalan ke hadapan Asher dan berbicara lebih dulu."Kalau ada yang ingin kamu katakan, katakan sekarang dengan jelas. Aku kasih waktu sepuluh menit. Setelah selesai, kamu pulanglah. Mulai sekarang jangan muncul lagi di depanku."Saat mendengar kalimat pertama, Asher mengira dirinya telah menangkap secercah harapan. Hanya saja, setelah mendengar kalimat berikutnya, barulah dia tahu bahwa yang dia tangkap bukanlah harapan, melainkan sehelai jerami yang setipis benang.Namun, entah apa pun itu, sekarang dia hanya ingin menggenggamnya erat-erat dan tidak akan melepaskannya lagi. Karena itu, dia tidak menyia-nyiakan satu detik pun dan mengatakan semua yang telah lama dia pikirkan."Kath, pada hari ulang tahunmu itu, bukannya kamu bilang ingin nikah? Aku tahu kamu mengatak

  • Merelakan Cinta Pertama, Menerima Perjodohan yang Ditetapkan   Bab 21

    Pukul 8 malam, langit dipenuhi awan gelap. Di udara tercium bau debu yang pengap, seolah-olah hujan akan segera turun.Dengan lingkaran hitam tebal di bawah mata, Bobby melihat ramalan cuaca, lalu berkata dengan lemas."Asher, tadi siang dokter sudah bilang kamu perlu istirahat. Malam ini juga akan hujan. Ikut aku kembali ke hotel saja, besok baru datang lagi menemui Kathleen, gimana?"Mata Asher terus menatap pintu masuk. Dengan suara serak, dia menjawab, "Kalau kamu capek, pergi saja istirahat. Nggak perlu mengurusku. Aku tahu batas."Ini masih disebut tahu batas? Bobby mengeluh dalam hati. Dia tahu dirinya tidak akan bisa membujuk, jadi hanya bisa pasrah pergi ke toko di samping untuk membeli makanan dan perlengkapan hujan.Baru saja dia masuk, Asher melihat mobil yang familier muncul dalam pandangannya.Mengingat pria yang dilihatnya hari itu, sarafnya langsung menegang, seluruh tubuhnya memancarkan aura agresif yang kuat.Benar saja, tidak lama kemudian Kathleen turun dari mobil.

  • Merelakan Cinta Pertama, Menerima Perjodohan yang Ditetapkan   Bab 20

    Setelah wawancara kedua selesai, Kathleen tidak melihat dua orang itu di bawah gedung. Dia pun menghela napas lega.Dia memandang matahari terbenam di barat, ragu-ragu apakah akan makan di luar atau pulang untuk makan. Tiba-tiba, ponselnya berbunyi.[ Wawancaranya sudah selesai? Gimana? ]Itu dari Arthur.Mengingat proses percakapan yang cukup menyenangkan tadi, Kathleen merasa hasilnya seharusnya hampir pasti. Dia pun mengirim stiker anjing kecil yang memberi tanda "OK" dengan sangat lucu.Tak lama kemudian, pesan balasan datang.[ Kalau begitu lancar, ayo kita rayakan. Aku traktir kamu makan malam. ]Secara refleks, Kathleen ingin menolak. Namun, ketika teringat bahwa wawancara kedua itu adalah rekomendasi internal dari Arthur, dia merasa tidak enak. Kalimat "terlalu merepotkan" yang sudah dia ketik dihapus, diganti dengan "seharusnya aku yang traktir", lalu dikirim.[ Kalau begitu, aku nggak akan nolak. Kamu di mana? Biar aku jemput. Kirim alamatmu. Sambil nunggu, bantu pikirkan kit

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status