Share

Bab 6

Author: Auraz
Begitu mendengar suara yang panik dan terisak tanpa henti itu, wajah Asher langsung menjadi sangat muram.

Dia menginjak pedal gas, memutar setir dengan kasar, lalu berbalik arah dengan putaran tajam 180 derajat.

Karena tidak waspada, Kathleen terlempar menghantam pintu mobil. Dahinya tersayat hiasan yang terpental, meninggalkan luka sepanjang lima sentimeter.

Darah mengucur deras. Dia menahan rasa sakit sambil menutup lukanya, menatap Asher dengan wajah penuh kebingungan.

Namun, Asher sama sekali tidak menyadari bahwa dia terluka. Dia hanya fokus berbicara dengan orang di seberang telepon. Matanya hampir menyemburkan api, tetapi dia menahannya dan memaksakan diri berbicara dengan nada tenang.

"Jangan takut, kamu sekarang di mana? Jangan tutup teleponnya. Lima menit lagi aku pasti sampai."

Pertanyaan yang hampir keluar dari mulut Kathleen langsung terhenti oleh kalimat itu. Dia mengambil beberapa lembar tisu dari tasnya, mencoba menangani luka yang masih merembeskan darah.

Navigasi terus-menerus memperingatkan bahwa mobil melaju melebihi batas kecepatan, tetapi Asher seolah-olah tidak mendengarnya, bahkan menerobos tujuh atau delapan lampu merah berturut-turut.

Melihat kecepatan mobil yang hampir mencapai batas maksimum, Kathleen menyesuaikan sabuk pengamannya.

Lima menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah bar. Seolah-olah lupa masih ada seseorang di dalam mobil, Asher langsung membuka sabuk pengaman dan berlari pergi seperti orang kesetanan.

Melihat punggungnya yang menghilang secepat kilat, Kathleen ragu selama beberapa detik, tetapi akhirnya tetap mengikutinya.

Begitu masuk, dia melihat meja-meja di aula yang sudah hancur berantakan dan langsung menyadari ada sesuatu yang tidak beres.

Dari ruang privat di lantai dua terdengar suara ribut. Begitu naik, dia melihat dua kelompok orang yang sedang saling mendorong.

Di dekat pintu ruang privat adalah Asher yang baru saja tiba bersama empat atau lima sahabatnya.

Sedangkan di sisi lain, Kathleen juga mengenal orang-orang itu. Mereka dipimpin oleh musuh bebuyutan Asher di lingkaran pergaulan mereka, Nikolai.

Asher memiliki penampilan tampan dan kepribadian baik. Sejak kecil, dia selalu unggul dalam segala hal. Walaupun kehidupan cintanya sedikit berantakan, di keluarga kaya mana ada tuan muda yang tidak hidup bebas? Karena itu, dia tetap menjadi anak yang membuat semua keluarga kaya di lingkaran itu iri.

Sebaliknya, Nikolai adalah kebalikan dari dirinya. Dia suka bermain-main, hidup liar, dan dikenal sebagai parasit dalam lingkaran mereka.

Karena membenci keunggulan Asher, dia selalu mencari masalah dengannya. Namun, Asher tidak pernah menanggapinya, yang justru semakin memperbesar kebencian di hati Nikolai. Hari ini, cinta pertama Asher telah melukainya. Akhirnya dia mendapat kesempatan.

Dia membawa sekitar sepuluh orang untuk mengepung ruang privat itu. Tangan kanannya yang dibalut perban masih terus meneteskan darah dan matanya dipenuhi bayangan suram.

"Asher, rekaman CCTV jelas sekali. Kekasih kecilmu ini yang duluan main tangan. Kenapa? Kamu masih mau memutarbalikkan fakta demi melindunginya?"

Asher mencibir, melindungi Samara di pelukannya. "Mau ganti rugi gimana? Sebutkan saja harganya."

Melihat betapa pedulinya dia, Nikolai memperlihatkan senyuman meremehkan. Matanya penuh provokasi.

"Ganti rugi? Dia hampir membuat tanganku patah! Tentu saja kita ke kantor polisi! Harus digugat, harus masuk penjara!"

Mendengar itu, wajah Asher dan beberapa sahabat di sekitarnya langsung berubah. Urat di kening Asher menonjol, tetapi dia hanya bisa menekan amarah di hatinya dan berkata dengan suara yang dipaksakan keluar dari sela gigi.

"Masalah sekecil ini perlu dibesar-besarkan seperti ini? Menindas perempuan itu menyenangkan? Kalau mau cari masalah, hadapi saja aku!"

Itulah kalimat yang memang ditunggu Nikolai. Bola matanya berputar beberapa kali. Dia menyuruh anak buahnya mengambil pisau buah di atas meja, lalu berkata dengan nada sangat kejam.

"Baiklah, aku juga nggak akan mempersulitmu. Dia menghancurkan tanganku, kamu juga tinggalkan satu tanganmu. Kita anggap impas."

Begitu kata-kata itu dilontarkan, pisau buah yang tajam langsung tertancap di pintu.

Beberapa saudara Asher segera melindunginya di belakang, memandang Nikolai dengan amarah meluap.

"Nikolai! Kita semua dari lingkaran yang sama! Jangan keterlaluan!"

Meskipun begitu, tidak ada yang lebih tahu daripada Asher betapa seriusnya kejadian hari ini.

Tangan Nikolai terluka. Sekalipun dia bisa menenangkan situasi untuk sementara, dengan kebencian sebesar itu, Nikolai pasti akan mencari kesempatan untuk membalas di masa depan.

Jika Nikolai tidak bisa membalas dendam pada dirinya, dia hanya bisa menyerang kelemahan Asher. Samara adalah kelemahannya.

Memang dia bisa melindungi Samara, tetapi dunia ini terlalu luas. Pasti ada tempat yang tidak bisa dia awasi. Dia tidak ingin Samara menghadapi bahaya di masa depan. Cara terbaik adalah menyelesaikan semuanya hari ini.

Setelah memikirkan untung ruginya dengan jelas, Asher tidak ragu lagi dan mendorong orang-orang di sekitarnya.

Beberapa saudara langsung panik, menerjang untuk menarik tangannya agar dia tidak melakukan hal bodoh.

"Asher! Sialan, kamu sudah gila? Kamu pilot! Kalau tanganmu rusak, kariermu tamat!"

"Hanya demi seorang wanita, apa itu pantas?"

Namun, Asher memperlihatkan tatapan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Dengan dingin, dia memandang Nikolai.

"Kamu akan menepati kata-katamu?"

"Tentu saja!"

Setelah mendapat jawaban pasti, Asher mencabut pisau yang tertancap di pintu.

Melihat gerakannya, jantung Kathleen seakan-akan melonjak ke tenggorokan. Sebelum sempat menghentikannya, Asher sudah melindungi Samara yang ketakutan hingga hampir pingsan sambil menangis di pelukannya. Dia menutupi pandangan Samara dengan pakaian, lalu menenangkannya dengan suara lembut.

"Jangan takut, ini akan segera selesai." Setelah berkata begitu, di bawah tatapan terkejut banyak orang, Asher mengangkat pisau itu dan tanpa ragu menusukkannya ke telapak tangan kanannya.

Darah menyembur seperti mata air, memercik ke segala arah, terlihat sangat mengerikan.

Wajahnya seketika menjadi lebih pucat daripada kertas, tetapi dia menggigit bibirnya erat-erat, hanya mengerang pelan. Dia takut orang di pelukannya ketakutan.

Dari awal sampai akhir, dia bahkan tidak pernah sekali pun menoleh kepada pacar resminya, Kathleen, yang berdiri tidak jauh dengan wajah pucat pasi.
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Merelakan Cinta Pertama, Menerima Perjodohan yang Ditetapkan   Bab 25

    Pernikahan Kathleen dan Arthur dipilih pada akhir musim gugur. Katanya itu hari baik yang sangat membawa keberuntungan untuk segala hal.Sehari sebelumnya, Asher sudah terbang ke Kota Jayapa dan duduk sendirian di hotel sepanjang malam.Keesokan harinya pukul 10 pagi, dia mengenakan setelan jas dan pergi sendirian ke lokasi pernikahan.Orang yang menerima hadiah berasal dari pihak keluarga Kathleen dan tidak mengenalnya, lalu menanyakan namanya.Asher tidak menyebutkan namanya, hanya mengatakan bahwa itu adalah hadiah bersama dari teman sekelas dan cukup ditulis sebagai teman sekelas SMA.Setelah melihat kata-kata itu dituliskan, Asher mengeluarkan sebuah kartu dari sakunya. Di tengah tatapan heran orang-orang, dia berkata dengan tenang, "Kata sandinya Kathleen tahu. Tolong sampaikan padanya agar dia benar-benar menerimanya. Ini sedikit niat baik dari teman lama kami. Semoga dia bahagia."Pernikahan diadakan di hotel di lereng gunung. Aula dipenuhi lautan mawar merah muda. Di mana-mana

  • Merelakan Cinta Pertama, Menerima Perjodohan yang Ditetapkan   Bab 24

    Asher tidak mau mendengarkan nasihat dan bersikeras berdiri kehujanan di bawah gedung, menunggu Kathleen berubah pikiran.Namun, baru lewat pukul 12 malam, dia sudah tidak sanggup lagi bertahan dan pingsan.Bobby segera membawanya ke rumah sakit malam itu juga. Setelah diperiksa, dokter mengatakan lukanya sudah terinfeksi dan menyuruh mereka segera memindahkannya ke rumah sakit di ibu kota.Dia begitu ketakutan sampai hampir ikut pingsan. Dengan tangan gemetar, dia menelepon keluarga Asher dan menjelaskan situasinya.Pukul 3 dini hari, Asher yang demam tingginya tak kunjung turun pun dibawa naik pesawat kembali ke ibu kota.Keesokan harinya sebelum fajar, dia sudah masuk ruang operasi. Namun, baru satu jam setelah operasi dimulai, dokter sudah bergegas keluar dan membawa kabar buruk yang mengejutkan."Infeksi lukanya sangat parah. Dengan tingkat medis di dalam negeri saat ini, kalau ingin menyelamatkan nyawanya, satu-satunya cara adalah memotong tangan kanannya. Kalau memungkinkan, seg

  • Merelakan Cinta Pertama, Menerima Perjodohan yang Ditetapkan   Bab 23

    Asher mengerti. Namun, dia hanya ingin berpura-pura tidak mengerti.Dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Kathleen sudah melepaskan segalanya. Dia terus menggeleng dengan putus asa, wajahnya dipenuhi rasa sakit."Aku nggak ngerti. Kath, tolong jangan mengatakan hal seperti itu, boleh?"Untuk kedua kalinya, Kathleen melihat ekspresi rapuh dan tak berdaya seperti itu di wajahnya. Dia ingat terakhir kali adalah pada hari ketika dia mengetahui kebenaran. Saat itu, dia dengan setengah sadar menopang Asher yang mabuk dan membawanya pulang.Asher memeluknya sambil memanggil nama Samara sepanjang malam. Saat fajar tiba, Asher tertidur dan hati Kathleen juga benar-benar mati saat itu.Jelas baru lebih dari sebulan yang lalu, tetapi sekarang ketika dia mengingatnya kembali, semuanya terasa begitu jauh, seolah-olah itu terjadi di kehidupan sebelumnya.Waktu memang obat terbaik untuk menyembuhkan luka. Menghadapi permohonannya yang seperti merajuk tanpa alasan, hati Kathleen tetap tidak bergejol

  • Merelakan Cinta Pertama, Menerima Perjodohan yang Ditetapkan   Bab 22

    Kathleen tidak ingin terus-menerus diganggu oleh Asher. Perlahan, muncul niat di hatinya untuk berbicara dengan jelas dengannya.Dia mencari alasan agar orang tuanya pulang lebih dulu, lalu di bawah tatapan panas itu, dia berjalan ke hadapan Asher dan berbicara lebih dulu."Kalau ada yang ingin kamu katakan, katakan sekarang dengan jelas. Aku kasih waktu sepuluh menit. Setelah selesai, kamu pulanglah. Mulai sekarang jangan muncul lagi di depanku."Saat mendengar kalimat pertama, Asher mengira dirinya telah menangkap secercah harapan. Hanya saja, setelah mendengar kalimat berikutnya, barulah dia tahu bahwa yang dia tangkap bukanlah harapan, melainkan sehelai jerami yang setipis benang.Namun, entah apa pun itu, sekarang dia hanya ingin menggenggamnya erat-erat dan tidak akan melepaskannya lagi. Karena itu, dia tidak menyia-nyiakan satu detik pun dan mengatakan semua yang telah lama dia pikirkan."Kath, pada hari ulang tahunmu itu, bukannya kamu bilang ingin nikah? Aku tahu kamu mengatak

  • Merelakan Cinta Pertama, Menerima Perjodohan yang Ditetapkan   Bab 21

    Pukul 8 malam, langit dipenuhi awan gelap. Di udara tercium bau debu yang pengap, seolah-olah hujan akan segera turun.Dengan lingkaran hitam tebal di bawah mata, Bobby melihat ramalan cuaca, lalu berkata dengan lemas."Asher, tadi siang dokter sudah bilang kamu perlu istirahat. Malam ini juga akan hujan. Ikut aku kembali ke hotel saja, besok baru datang lagi menemui Kathleen, gimana?"Mata Asher terus menatap pintu masuk. Dengan suara serak, dia menjawab, "Kalau kamu capek, pergi saja istirahat. Nggak perlu mengurusku. Aku tahu batas."Ini masih disebut tahu batas? Bobby mengeluh dalam hati. Dia tahu dirinya tidak akan bisa membujuk, jadi hanya bisa pasrah pergi ke toko di samping untuk membeli makanan dan perlengkapan hujan.Baru saja dia masuk, Asher melihat mobil yang familier muncul dalam pandangannya.Mengingat pria yang dilihatnya hari itu, sarafnya langsung menegang, seluruh tubuhnya memancarkan aura agresif yang kuat.Benar saja, tidak lama kemudian Kathleen turun dari mobil.

  • Merelakan Cinta Pertama, Menerima Perjodohan yang Ditetapkan   Bab 20

    Setelah wawancara kedua selesai, Kathleen tidak melihat dua orang itu di bawah gedung. Dia pun menghela napas lega.Dia memandang matahari terbenam di barat, ragu-ragu apakah akan makan di luar atau pulang untuk makan. Tiba-tiba, ponselnya berbunyi.[ Wawancaranya sudah selesai? Gimana? ]Itu dari Arthur.Mengingat proses percakapan yang cukup menyenangkan tadi, Kathleen merasa hasilnya seharusnya hampir pasti. Dia pun mengirim stiker anjing kecil yang memberi tanda "OK" dengan sangat lucu.Tak lama kemudian, pesan balasan datang.[ Kalau begitu lancar, ayo kita rayakan. Aku traktir kamu makan malam. ]Secara refleks, Kathleen ingin menolak. Namun, ketika teringat bahwa wawancara kedua itu adalah rekomendasi internal dari Arthur, dia merasa tidak enak. Kalimat "terlalu merepotkan" yang sudah dia ketik dihapus, diganti dengan "seharusnya aku yang traktir", lalu dikirim.[ Kalau begitu, aku nggak akan nolak. Kamu di mana? Biar aku jemput. Kirim alamatmu. Sambil nunggu, bantu pikirkan kit

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status