Share

Bab 5

Author: Auraz
Asher tidak bertanya lagi. Dia melepas mantelnya dengan santai dan meletakkannya di sofa. Dari sudut matanya, dia melihat kue di atas meja. Pandangannya kembali terhenti.

Setelah ragu sejenak, dia tetap tidak bisa menahan diri untuk bertanya, "Kemarin, keinginan ulang tahun yang kamu ucapkan itu ... apa ...."

Melihat sedikit rasa penasaran di matanya, Kathleen menjawab dengan nada bercanda, "Karena semua orang nggak tahu kalau itu ulang tahunku, aku jadi agak canggung. Aku cuma bercanda, nggak nyangka semua orang malah salah paham. Maaf."

Mendengar itu, Asher akhirnya menghela napas lega. "Kalau begitu, keinginanmu yang sebenarnya apa?"

"Semoga Papa dan Mama selalu sehat, semoga semua keinginan mereka bisa terwujud."

Sebuah harapan yang sederhana, tetapi sangat tulus. Hati Asher sedikit tergerak. Dia mengangkat tangannya dan mencubit ringan ujung hidung Kathleen, lalu tersenyum tipis.

"Kamu begitu berbakti. Keinginanmu pasti akan terwujud."

Kathleen juga berpikir begitu. Dia pasti bisa menjalani perjodohan dengan lancar dan menikah, lalu tinggal di sisi orang tuanya, merawat mereka sampai tua.

Beberapa hari berikutnya, Asher terus berada di rumah dan jarang keluar. Selama itu, dia juga menyadari banyak barang di rumah yang hilang dan beberapa kali bertanya.

"Kath, gelas pasangan yang dulu kamu beli ke mana?"

"Beberapa hari lalu pecah."

"Terus, dasi yang kamu kasih ke aku?"

"Aku juga nggak tahu. Mungkin saat dijemur tertiup angin."

Hanya barang-barang kecil yang tidak penting, jadi Asher juga tidak terlalu memikirkannya.

Kathleen membuat daftar panjang setiap kali dia memberi alasan kepada diri sendiri untuk diet. Jadi, sekarang dia berniat mencicipi semua restoran dan makanan terkenal di kota ini sebelum pergi.

Selama bertahun-tahun demi menjaga bentuk tubuh, dia menjalani diet dan makan sangat sedikit. Sudah lama sekali dia tidak makan dengan bebas dan puas.

Namun, kecantikan yang dia pertahankan dengan susah payah itu tidak memberinya cinta yang dia inginkan.

Asher tidak menyukainya. Tidak peduli dia cantik atau biasa saja, gemuk atau kurus, berdandan atau tidak. Kecantikan yang dia tukar dengan kesehatannya itu, di depan Samara, di mata Asher, tidak ada artinya sama sekali.

Beberapa potong kue ulang tahun itu membangkitkan kembali selera makan Kathleen yang lama terpendam, juga membuatnya menyadari bahwa hal-hal yang bisa membuatnya bahagia bukan hanya cinta.

Makanan enak, bunga, perhatian dari teman-teman, kerinduan dari keluarga .... Semua itu sebenarnya adalah bagian penting dalam hidup. Dia tidak seharusnya mengorbankan yang lain demi satu hal saja.

Kathleen mulai lebih sering keluar rumah. Asher juga menyadarinya, lalu memanggilnya, "Mau keluar lagi? Mau ke mana?"

"Ke barat kota, makan."

"Janjian sama orang? Mau aku antar?" Melihat hujan deras yang tak berhenti di luar jendela, Asher bertanya dengan santai.

Kathleen menggeleng, menunduk mengganti sepatu. "Sendiri saja. Aku ingin coba makanan di sana. Nggak perlu repot, aku naik taksi saja."

Mendengar itu, Asher menatapnya dengan agak heran. Dia ingat demi menjaga berat badan, Kathleen selalu makan sangat sedikit. Kenapa belakangan ini tiba-tiba jadi suka makan?

Namun, makan lebih banyak juga tidak buruk. Kathleen terlalu kurus. Asher bahkan khawatir angin di luar bisa saja menerbangkannya.

Memikirkan itu, Asher teringat bahwa sore ini tidak ada kegiatan. Dia berdiri, mengambil mantelnya, lalu berjalan ke samping Kathleen.

"Aku ikut. Di luar hujan, biar aku yang antar."

Kathleen tidak menyangka Asher ingin ikut. Dia sempat tertegun.

Hujan semakin deras. Di jalan hampir tidak ada mobil. Jalanan licin. Asher memegang setir dengan kedua tangan dan menyuruh Kathleen mengambil ponselnya untuk dipasangi pengisi daya.

Dia menurut. Saat colokan dipasang, layar ponsel menyala sebentar dan menampilkan satu pesan belum dibaca.

[ Asher, mau kumpul di bar nggak? Ada Samara juga lho! ]

Kathleen melirik sekilas. Dia hendak pura-pura tidak melihat, tetapi Asher justru menyuruhnya membalas pesan. "Tolak saja. Bilang aku mau makan sama kamu, nggak ada waktu."

Kathleen menoleh, tepat menangkap ekspresi rumit yang sekilas muncul di wajahnya. Ada kekesalan yang bercampur sedikit keengganan. Di balik sikap mencoba itu, tersimpan pula sedikit harapan.

Kathleen langsung mengerti. Setelah mengetik dan mengirim pesan itu, telepon tiba-tiba berdering.

Itu dari Samara. Ketika Asher melihatnya, sudut bibirnya tanpa sadar terangkat, tetapi dia tidak langsung berkata apakah akan mengangkatnya atau tidak.

Beberapa detik kemudian, dia berpura-pura baru mendengar deringnya, lalu menghentikan mobil di pinggir jalan dan mengambil ponselnya.

"Sudah kubilang ...."

"Asher, barusan ada sekelompok orang minta nomorku, bahkan menyentuhku sembarangan. Aku marah, lalu mukul mereka pakai botol. Sekarang mereka mengepungku di kelab. Cepat tolong aku."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Merelakan Cinta Pertama, Menerima Perjodohan yang Ditetapkan   Bab 25

    Pernikahan Kathleen dan Arthur dipilih pada akhir musim gugur. Katanya itu hari baik yang sangat membawa keberuntungan untuk segala hal.Sehari sebelumnya, Asher sudah terbang ke Kota Jayapa dan duduk sendirian di hotel sepanjang malam.Keesokan harinya pukul 10 pagi, dia mengenakan setelan jas dan pergi sendirian ke lokasi pernikahan.Orang yang menerima hadiah berasal dari pihak keluarga Kathleen dan tidak mengenalnya, lalu menanyakan namanya.Asher tidak menyebutkan namanya, hanya mengatakan bahwa itu adalah hadiah bersama dari teman sekelas dan cukup ditulis sebagai teman sekelas SMA.Setelah melihat kata-kata itu dituliskan, Asher mengeluarkan sebuah kartu dari sakunya. Di tengah tatapan heran orang-orang, dia berkata dengan tenang, "Kata sandinya Kathleen tahu. Tolong sampaikan padanya agar dia benar-benar menerimanya. Ini sedikit niat baik dari teman lama kami. Semoga dia bahagia."Pernikahan diadakan di hotel di lereng gunung. Aula dipenuhi lautan mawar merah muda. Di mana-mana

  • Merelakan Cinta Pertama, Menerima Perjodohan yang Ditetapkan   Bab 24

    Asher tidak mau mendengarkan nasihat dan bersikeras berdiri kehujanan di bawah gedung, menunggu Kathleen berubah pikiran.Namun, baru lewat pukul 12 malam, dia sudah tidak sanggup lagi bertahan dan pingsan.Bobby segera membawanya ke rumah sakit malam itu juga. Setelah diperiksa, dokter mengatakan lukanya sudah terinfeksi dan menyuruh mereka segera memindahkannya ke rumah sakit di ibu kota.Dia begitu ketakutan sampai hampir ikut pingsan. Dengan tangan gemetar, dia menelepon keluarga Asher dan menjelaskan situasinya.Pukul 3 dini hari, Asher yang demam tingginya tak kunjung turun pun dibawa naik pesawat kembali ke ibu kota.Keesokan harinya sebelum fajar, dia sudah masuk ruang operasi. Namun, baru satu jam setelah operasi dimulai, dokter sudah bergegas keluar dan membawa kabar buruk yang mengejutkan."Infeksi lukanya sangat parah. Dengan tingkat medis di dalam negeri saat ini, kalau ingin menyelamatkan nyawanya, satu-satunya cara adalah memotong tangan kanannya. Kalau memungkinkan, seg

  • Merelakan Cinta Pertama, Menerima Perjodohan yang Ditetapkan   Bab 23

    Asher mengerti. Namun, dia hanya ingin berpura-pura tidak mengerti.Dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Kathleen sudah melepaskan segalanya. Dia terus menggeleng dengan putus asa, wajahnya dipenuhi rasa sakit."Aku nggak ngerti. Kath, tolong jangan mengatakan hal seperti itu, boleh?"Untuk kedua kalinya, Kathleen melihat ekspresi rapuh dan tak berdaya seperti itu di wajahnya. Dia ingat terakhir kali adalah pada hari ketika dia mengetahui kebenaran. Saat itu, dia dengan setengah sadar menopang Asher yang mabuk dan membawanya pulang.Asher memeluknya sambil memanggil nama Samara sepanjang malam. Saat fajar tiba, Asher tertidur dan hati Kathleen juga benar-benar mati saat itu.Jelas baru lebih dari sebulan yang lalu, tetapi sekarang ketika dia mengingatnya kembali, semuanya terasa begitu jauh, seolah-olah itu terjadi di kehidupan sebelumnya.Waktu memang obat terbaik untuk menyembuhkan luka. Menghadapi permohonannya yang seperti merajuk tanpa alasan, hati Kathleen tetap tidak bergejol

  • Merelakan Cinta Pertama, Menerima Perjodohan yang Ditetapkan   Bab 22

    Kathleen tidak ingin terus-menerus diganggu oleh Asher. Perlahan, muncul niat di hatinya untuk berbicara dengan jelas dengannya.Dia mencari alasan agar orang tuanya pulang lebih dulu, lalu di bawah tatapan panas itu, dia berjalan ke hadapan Asher dan berbicara lebih dulu."Kalau ada yang ingin kamu katakan, katakan sekarang dengan jelas. Aku kasih waktu sepuluh menit. Setelah selesai, kamu pulanglah. Mulai sekarang jangan muncul lagi di depanku."Saat mendengar kalimat pertama, Asher mengira dirinya telah menangkap secercah harapan. Hanya saja, setelah mendengar kalimat berikutnya, barulah dia tahu bahwa yang dia tangkap bukanlah harapan, melainkan sehelai jerami yang setipis benang.Namun, entah apa pun itu, sekarang dia hanya ingin menggenggamnya erat-erat dan tidak akan melepaskannya lagi. Karena itu, dia tidak menyia-nyiakan satu detik pun dan mengatakan semua yang telah lama dia pikirkan."Kath, pada hari ulang tahunmu itu, bukannya kamu bilang ingin nikah? Aku tahu kamu mengatak

  • Merelakan Cinta Pertama, Menerima Perjodohan yang Ditetapkan   Bab 21

    Pukul 8 malam, langit dipenuhi awan gelap. Di udara tercium bau debu yang pengap, seolah-olah hujan akan segera turun.Dengan lingkaran hitam tebal di bawah mata, Bobby melihat ramalan cuaca, lalu berkata dengan lemas."Asher, tadi siang dokter sudah bilang kamu perlu istirahat. Malam ini juga akan hujan. Ikut aku kembali ke hotel saja, besok baru datang lagi menemui Kathleen, gimana?"Mata Asher terus menatap pintu masuk. Dengan suara serak, dia menjawab, "Kalau kamu capek, pergi saja istirahat. Nggak perlu mengurusku. Aku tahu batas."Ini masih disebut tahu batas? Bobby mengeluh dalam hati. Dia tahu dirinya tidak akan bisa membujuk, jadi hanya bisa pasrah pergi ke toko di samping untuk membeli makanan dan perlengkapan hujan.Baru saja dia masuk, Asher melihat mobil yang familier muncul dalam pandangannya.Mengingat pria yang dilihatnya hari itu, sarafnya langsung menegang, seluruh tubuhnya memancarkan aura agresif yang kuat.Benar saja, tidak lama kemudian Kathleen turun dari mobil.

  • Merelakan Cinta Pertama, Menerima Perjodohan yang Ditetapkan   Bab 20

    Setelah wawancara kedua selesai, Kathleen tidak melihat dua orang itu di bawah gedung. Dia pun menghela napas lega.Dia memandang matahari terbenam di barat, ragu-ragu apakah akan makan di luar atau pulang untuk makan. Tiba-tiba, ponselnya berbunyi.[ Wawancaranya sudah selesai? Gimana? ]Itu dari Arthur.Mengingat proses percakapan yang cukup menyenangkan tadi, Kathleen merasa hasilnya seharusnya hampir pasti. Dia pun mengirim stiker anjing kecil yang memberi tanda "OK" dengan sangat lucu.Tak lama kemudian, pesan balasan datang.[ Kalau begitu lancar, ayo kita rayakan. Aku traktir kamu makan malam. ]Secara refleks, Kathleen ingin menolak. Namun, ketika teringat bahwa wawancara kedua itu adalah rekomendasi internal dari Arthur, dia merasa tidak enak. Kalimat "terlalu merepotkan" yang sudah dia ketik dihapus, diganti dengan "seharusnya aku yang traktir", lalu dikirim.[ Kalau begitu, aku nggak akan nolak. Kamu di mana? Biar aku jemput. Kirim alamatmu. Sambil nunggu, bantu pikirkan kit

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status