แชร์

Mau nggak mau

ผู้เขียน: Rianievy
last update วันที่เผยแพร่: 2024-12-07 11:33:33

💐

Bulan yang ditunggu tiba, Daffa menghubungi Gendis jika Yasmin akan melahirkan. Mereka sudah di rumah sakit sejak siang hari.

"Bu, ayo ke sana," ajak Agung yang tampak tak sabaran.

"Iya, tunggu dong, Yah, masih rapihin rambut. Bagusan di jepit tengah apa di cepol terus kasih jepitan?" Gendis bersolek di depan cermin meja rias.

"Apa aja Ibu selalu cantik," puji Agung.

"Halah gombal." Gendis menahan senyum. Ia cepol rambutnya, lantas menyematkan jepitan rambut bentuk bunga. "Oke siap. Dressku bagus juga kan, Yah, nggak norak warnanya?"

"Nggak, ayo buruan. Kasihan Daffa pasti nungguin kita."

"Nungguin buat apa? Minta dibayarin biaya lahirannya? Mbel gedes, maaf ya, nggak, deh." Gendis lalu menenteng tas tangan yang berisi macam-macam, dari tisu kering, tisu basah, minyak angin, lengkap pokoknya.

Agung mendengkus, Gendis benar-benar akan memberi pelajaran sendiri untuk anaknya.

Nanda dijemput di tempat les, masih memakai seragam sekolah, remaja itu masuk ke dalam mobil. Ia menyapa kedua orang tuanya dengan menyalim tangan.

"Ayah pulang cepet, dong?!" seru Nanda.

"Iya. Nggak masalah. Eh kamu gimana tadi hasil final examnya? Kapan nilainya keluar?" Agung memang begitu perhatian dengan pendidikan anak-anaknya.

"Lancar. Besok katanya. Nanda ke tempat les sama temen, ya, Yah." Nanda menyandarkan kepala ke kaca sebelah kiri karena lelah menjalani hari itu.

"Temen? Siapa?" sambar Gendis.

"Kenzo, temen satu tempat les." Nanda mengutak ngutik ponselnya.

"Anak mana? Orang tuanya kerja apa?" cecar Gendis lagi.

"Anak Jakarta, lah, Bu ... Papanya kerja di kementrian luar negeri, staf kedutaan Indonesia di Swiss. Ibunya desainer kebaya sama baju yang biasa dipake Ibu-ibu pejabat." Nanda sangat santai menyampaikan jawaban.

Gendis tersenyum. Fix, keluarga baik-baik.

"Kenzo mau kuliah di mana? Kalian temen biasa atau--"

"Mulai deh, Ibu ... Kenzo itu temen, Bu, dia udah punya pacar, kok. Dia mau kuliah jurusan hubungan internasional apa komunikasi gitu, biar jadi diplomat."

"Lho, kok bisa ... punya pacar tapi perginya besok sama kamu, gimana maksudnya?" Nada bicara Gendis penuh keheranan.

"Pacarnya Kenzo itu temen sekelas Nanda di sekolah, Bu. Nggak bakal dia cemburu sama Nanda. Bu, udah deh introgasinya. Kita fokus ke Bang Daffa." Nanda menguap, ngantuk juga ternyata.

Di rumah sakit, hanya dua orang yang boleh masuk ke ruang bersalin itu pun bergantian. Kedua orang tua Yasmin mempersilakan Gendis dan Agung masuk.

Yasmin sedang meringis menahan sakit, Daffa mencoba menyemangati.

"Udah pembukaan berapa?" Gendis mengusap pinggang Yasmin.

"Empat, Bu," jawab Yasmin lirih. Ia meremas jemari tangan Daffa. "Nggak kuat, Daf," keluhnya lalu menangis.

Daffa terus menyemangati. Agung beradu tatap dengan Gendis yang mengelus perut Yasmin.

"Sabar ya, ayo semangat," bisik Agung ke Yasmin yang masih menangis memeluk Daffa.

Agung dan Gendis keluar, kedua orang tua Yasmin tampak waswas.

"Bu Gendis, Pak Agung," sapa ayahnya Yasmin. Mereka bersalaman. Nanda berdiri bersandar pada dinding, diam memperhatikan.

"Dari kapan pembukaan empat?" tukas Gendis.

"Dari jam tiga sore, sekarang sudah jam tujuh malam, belum nambah pembukaannya. Anak saya ... sudah nggak kuat," isak ibunya Yasmin.

"Baju bayi sudah disiapkan? Terakhir saya sidak, masih belum dicuci semua," sindir Gendis.

"Udah, Bu, saya tiga hari ini di rumah mereka. Bu Gendis, apa Yasmin operasi aja, ya."

Gendis sudah bisa menebak.

"Ditanggung kantor Daffa, kan? Operasi aja," sahut Gendis santai.

"Ya kalau nggak ditanggung kantor, masa iya Bu Gendis dan Pak Agung diam saja. Nggak mungkin, kan."

Tanpa merasa terbeban, kalimat itu meluncur dari bibir sang besan. Nanda menggeleng pelan, ia sudah paham keluarga seperti apa yang dihadapi mereka.

Daffa keluar, ia tampak panik. "Yasmin terus kesakitan, Abang nggak tega," katanya.

"Yaudah! Operasi aja. Kantormu cover, kan?" tegas Gendis.

"Nggak, Bu. Asuransi dari kantor baru pindah perusahaannya, belum aktif jadi--"

Gendis mengarahkan telapak tangan ke depan wajah Daffa. Ia tak tega juga, apalagi ini tentang nyawa cucunya.

"Ayah, ayo," ajak Gendis berjalan ke meja perawat. Setelah mencari informasi dan bicara dengan dokter, maka operasi secar disetujui.

"Jadi ambil kelas berapa?" ujar perawat.

"Kelas satu aja. Deposit berapa?" Gendis mengeluarkan kartu debit. Agung menahan, ia berikan kartu debit miliknya.

"Ayah aja, ya." Agung tersenyum.

"Total biaya diluar obat, dua puluh juta lima ratus, ditambah obat sampai pulang nanti dua juta lima ratus, jadi semuanya dua puluh tiga juta. Deposit lima puluh persen." Perawat memberi arahan. Daffa yang berdiri di samping Gendis hanya diam saja setelah menandatangani surat persetujuan operasi.

"Lunas aja. Kami ke lantai berapa untuk pembayaran?" Gendis menggamit lengan Agung.

"Mari saya antar, Bu. Pak Daffa temani istrinya bersiap di kamar, ya."

Daffa paham, ia malu dengan kedua orang tuanya. Hanya bisa berjalan lemas kembali ke kamar.

"Tuh, Bang, ujung-ujungnya orang tua, kan? Bilangin Kak Yasmin, jangan cuek ke Ibu." Nanda berjalan menjauh, menyusul orang tuanya ke lantai satu.

***

Bayi laki-laki lahir dengan selamat, kamar kelas satu hanya ada Yasmin jadi seperti kamar VIP saja.

Senyum Yasmin merekah, melahirkan secara secar, lalu di kamar nyaman karena sebelumnya kelas tiga, sepertinya moodnya kembali membaik.

Gendis kembali datang di hari kedua Yasmin di rawat untuk pemulihan. Ia sendiri, mengemudikan mobilnya sendirian juga.

"Waduh, cucu Nini udah mandi," puji Gendis lalu menggendong cucunya.

"Nanti aja digendongnya, Bu, baru di taruh di box bayi, takut bau tangan," tegur Yasmin halus.

"Biarin. Bau tangan Nininya ini, bukan orang lain," sewot Gendis.

"Bukan gitu, Bu ... maksud Yasmin--"

Gendis membelakangi Yasmin, ia timang-timang cucunya. Daffa mendekat ke Yasmin, memberi kode supaya jangan tegur Gendis.

"Kita jadi sewa babysitter, kan, Daf?"

Kalimat Yasmin membuat Gendis gatal untuk berkomentar tapi ia memilih diam dulu.

"Nggak jadi, Yas, dananya nggak cukup," tukas Daffa.

"Hah? Terus aku sendirian? Aku nggak bisa, Daf ...," rengek Yasmin. "Kamu bayar biaya semua ini bisa, masa bayar gaji babysitter nggak bisa?" dumal Yasmin.

"Urus sendiri, dong. Seorang Ibu akan natural rawat anaknya. Lagian irit, kan? Kamu juga di rumah, nggak kerja." Gendis berbalik badan menghadap Yasmin.

"Bu, masalahnya--"

"Masalahnya anak Ibu, suamimu gajinya selalu habis di tengah bulan dan biaya semua ini, Ayah dan Ibu suamimu yang menanggung. Suamimu rejekinya seret. Sebabnya apa? Coba kalian renungi bersama." Gendis meletakkan cucunya perlahan ke box bayi lagi. Ia berdiri menatap anak dan menantunya dengan serius.

"Kamu boleh nggak senang sama Ibu, ya, Yasmin, tapi ... jangan kamu bikin anak Ibu susah karena maumu yang selangit. Kalian pacaran lama, masa iya nggak saling paham?!" Gendis diam sejenak.

"Ibu nggak mau campuri urusan kalian mau pake babysitter kek, pembantu sampe sepuluh, kek. Asal mampu bayar silakan. Bukan memaksakan juga. Yang ada kalian sengsara sendiri."

Yasmin memalingkan wajah, terlihat tak senang dengan komentar mertuanya.

"Kalau cara kalian berumah tangga seperti ini, jangan salahkan Ibu campuri karena kalian harus ditatar. Suka nggak suka, ini Ibu kalian. Mertuamu, Yasmin dan Ibu kandungmu, Bang Daffa. Paham?!" tegas Gendis. Suasana kamar rawat mendadak tegang, tapi Gendis tak peduli.

bersambung,

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Mertua Masa Gini?   Berproses

    Semua mata tertuju ke Gendis. Ruang aula itu tiba-tiba hening beberapa saat. Gendis tau, tidak mungkin ia teruskan untuk menegur si penggosip karena bisa saja menjadi ribut besar. Ia berdiri, tidak ada senyuman sama sekali. Ketegangan terasa intens bahkan sampai membuat salah satu anggota PKK memegang dadanya. "Saya tidak bangkrut apalagi miskin." Senyum Gendis mengembang. Dengan gaya berjalan yang anggun juga langkah tegas. Ia ambil spidol lalu berdiri di depan papan tulis putih. "Ok. Kita mau bahas piknik anggota PKK RW lima belas komplek kita. Siapa yang mau kasih ide tempat? Budgetnya nanti kita cari sponsor juga uang pribadi yang saya akan hitung dengan seksama supaya tidak mahal. Ok?!" Gendis menatap kesemua orang yang hadir. Ia kembali ke mood yang tenang dan pengatur. Tawa dan luncuran ide dari komentar sesama anggota PKK terdengar. Suasana mencair tak lama setelahnya. Gendis tau siapa orang yang bergosip tentangnya, ia akan kasih pelajaran suatu hari nanti. *** "Gini ama

  • Mertua Masa Gini?   Nasehat

    Selamat kembali membaca. __________Total kerugian tidak bisa dianggap sepele. Pihak asuransi bahkan menginformasikan jika tidak semua kerugian bisa diklaim. Bukan tebak-tebakkan asal bunyi, tapi semua sudah dianalisa Daffa. "Kita jual cepat, aja. Biar semua selesai." Ketok palu keputusan sudah ia ambil. Gendis diminta fokus merawat Agung atas rembukan bersama anak-anak. Marah? Kesal? BT? Jelas pasti. Merengut sudah menjadi sarapan sampai makan malam keseharian di rumah itu mulai saat ini. Ah, bagi Raffa dan Kirana ini kejutan seru. Melihat ibunya tak bisa berkutik soal resiko musibah kebakaran yang terjadi dan melahap semua kerugian juga. "Pemilik ruko juga punya asuransi kebakaran ternyata. Ya walaupun sedikit tapi seenggaknya mereka juga gak mau lepas tangan. Lumayan, lah," tukas Daffa. Ia bersiap ke kantor, Aisyah duduk di tepi ranjang memandangi suaminya dengan wajah sendu. "Terus, soal aset yang Ibu punya?" sambung Aisyah. "Harus dijual semua sesuai daftar yang udah dica

  • Mertua Masa Gini?   Ego dan masa lalu

    Selamat membaca kembali. ------Keajaiban datangnya bisa lewat apa saja atas izinNYA. Hal ini juga yang terjadi pada keluarga Gendis. Setelah menunggu satu malam lagi di ICU barulah Agung dipindahkan ke kamar rawat. Tetap saja Gendis ambil yang paling mahal. Super VVIP dengan fasilitas ternyaman. Keempat anak kandungnya tak bisa berkata-kata, apalagi Gendis tidak mau repot dengan klaim asuransi. "Ayah, orang kantor mau datang. Kamu yakin sama keputusan kemarin?" kata Gendis sembari membantu suaminya meminum teh hangat dengan sedotan. "Mau nggak mau. Anak-anak kamu udah kasih tau?" Gendis menggeleng. "Nggak perlu. Ini urusan kita."Kursi di seret Gendis mendekat ke ranjang. Ia tatap suaminya yang mulai keriput, wajar namanya juga sudah kepala enam. "Jangan begini terus," jeda Agung. "Anak-anak punya cara sendiri buat selesaikan masalah. Kamu cukup lihatin aja. Mereka dewasa, mereka harus mandiri dengan jalannya." Pelan tapi mampu membuat Gendis menatap lekat ke suaminya. "Kita u

  • Mertua Masa Gini?   Jangan atur-atur

    Selamat membaca. ______Gendis terlihat sembab. Tangannya terus menggenggam jemari Agung. Sudah hari ketiga di ruang ICU, tapi suaminya belum sadar pasca operasi. Bunyi monitor dari benda kecil yang dipasang pada tubuh suaminya, membuat Gendis risih. Rasanya ia ingin cabut semua kabel yang terpasang sebagai monitor perkembangan fungsi tubuh Agung, apa daya tak akan mungkin bisa. Kini ia hanya bisa menahan rasa itu tanpa bisa protes seperti biasanya jika ada yang tidak sesuai harapannya. "Ibu, maaf. Jam besuknya habis. Ibu bisa kembali lagi besok pagi, ya." Perawat berdiri di samping Gendis, ia langsung bangun dari duduknya perlahan. Enggan tapi mau tak mau. "Suster, kalau ada apa-apa langsung hubungi saya, ya." Gendis menatap bergantian ke perawat lalu suaminya. Ia menghela napas panjang begitu pelan, tatapannya tak bisa dibohongi ia sedih dengan keadaan ini. Gendis pulang naik taksi. Dipandangi jalanan yang ramai kendaraan dengan perasaan kosong. Bukan karena Agung yang sakit, m

  • Mertua Masa Gini?   Serangan

    "Ibu nggak bisa terus-terusan begini! Kirana nggak enak sama Mas Henggar, Bu. Kirana tau Ibu mampu atasin semua hal. Apapun! Cuma tolong lah, Bu, berhenti dulu campurin urusan anak dan menantunya." Kirana memohon. Ia bukan tipe anak yang membantah, hanya saja memang Gendis kembali diluar batas. "Salah! Ibu salah!" Tunjuknya ke diri sendiri. Kedua matanya melotot tajam ke arah putri yang dari wajah pun, mirip dengannya. Sedangkan Nanda lebih mirip Agung. "Kamu bukannya bersyukur masih ada orang tua yang mau bantu kesusahannya malah marah-marah. Pantes nggak kamu begini, hah?!" Keributan justru terjadi di kamar itu. Agung menerobos masuk. Ia menarik tangan Gendis supaya keluar dari sana, menjauh sejenak menenangkan hati. Henggar duduk di tepi ranjang bersama Kirana yang terlibat menahan kekesalan. "Ibu tuh kebangetan tau nggak, Mas?!" toleh Kirana ke arah suaminya di sisi kanan. "Jengkel lama-lama aku sama Ibu," imbuhnya lagi. Henggar merangkul bahu Kirana. Menenangkan dengan bersi

  • Mertua Masa Gini?   Ketegasan

    Selamat membaca, _____Gendis, wanita keras kepala itu bahkan tak mendengarkan saran dan tiga teman dekatnya. Ia yakin dirinya tak salah karena tujuannya baik, mau kehidupan anak-anaknya selalu mulus. Siapa yang bisa menyangka jika pada akhirnya rencana yang sudah disusun tak bisa berjalan sesuai harapan. Pertama, Nanda ngambek karena Gendis membeli mobil untuknya dan meminta itu dikembalikan ke penjual tanpa Nanda peduli ribetnya seperti apa. Tak sampai disitu. Anak yang selama ini penurut, perlahan membangkang karena ulah Gendis sendiri. Sepulang dari Semarang, Nanda pindah kosan tanpa izin dengannya juga Agung. Satu minggu tidak membalas telpon atau whatssapp Gendis juga ketiga kakaknya. Semua panik. Apalagi saat tau sedang marak penipuan yang pelakunya mahasiswa. "Nanda kemana kamu?" Gendis tak bisa tidur nyenyak, ia butuh tau anak gadisnya kemana. Di kampus juga tak ada. Gendis sudah bertanya ke teman kuliah Nanda. Suara sepeda motor berhenti di depan pagar rumah. Gendis be

  • Mertua Masa Gini?   Sidak

    💐6 bulan setelah Daffa menikah, putra sulungnya itu jarang ke rumah Gendis. Hanya dua kali dan itu membuat Gendis mulai gemas."Yah, aku mau ke rumah Daffa," pamitnya saat Agung hendak berangkat kerja."Mau ngapain?" Agung sudah berjalan ke teras rumah diikuti Gendis yang tampak rapi."Pingin aja

  • Mertua Masa Gini?   Bahan gosip

    💐"Makanya, saya juga kaget. Kok mendadak banget tau-tau siraman si Daffa." Bu Sukun, warga di ujung jalan yang memang doyan ghibahin tetangga berbisik-bisik dengan temannya saat berjalan kaki hendak menuju ke rumah Gendis.Kurang dari satu bulan persiapan selesai. Tentu saja buru-buru sebelum per

  • Mertua Masa Gini?   Kacamata orang lain

    💐"Siapa yang belum masukin baju ke mesin cuciii!" teriak Gendis dari belakang rumah, tepatnya tempat jemuran dan cuci baju.Nanda lompat dari atas kasur, ia buka keranjang baju kotor. Sudah kosong. Aman .... Ia lantas membuka pintu kamar, masuk tanpa mengetuk ke kamar Raffa."Bang Raffa! Baju lo!

  • Mertua Masa Gini?   Syukuran = berbagi

    💐"BURUAAANNN!" teriak Gendis, wanita berusia lima puluh tahun berdiri berkacak pinggang di ruang tamu rumah dengan empat kamar."Ya ampun, Bu ... sabarrrr!" balas Nanda, anak keempatnya yang masih SMA kelas dua.Grabak grubuk heboh di dalam rumah pasti terdengar setiap harinya. Tanpa terkecuali!

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status