Home / Rumah Tangga / Mertuaku Adalah Maut / Bab 1 - Di Atas Ranjang

Share

Mertuaku Adalah Maut
Mertuaku Adalah Maut
Author: Siez

Bab 1 - Di Atas Ranjang

Author: Siez
last update publish date: 2025-01-04 09:18:07

"Mas ... jangan keluar di dalam, nanti aku bisa hamil!" tukas Laila sambil mendesah karena hampir sampai ke puncak kenikmatan bersama Dimas.

"Kamu ... ah ..." Dimas seperti sudah tak mendengarkan apa yang diminta oleh Laila, bahkan ia mengeluarkan cairan sp*manya di dalam rahim Laila. Pria itu pun luluh lantah di atas tubuh Laila.

"Ya elah, Mas. Kenapa dikeluarkan di dalam. Bagaimana kalau aku hamil?" protes Laila dengan nafasnya yang tersengal-sengal.

Pria itu menaikkan wajahnya dan menatap wajah cantik Laila yang sudah basah dengan keringat. Ia menatap lembut kepada wanita itu.

"Ya ... kalau kamu hamil gak apa dong. Kamu kan istri aku. Kita ini sudah menikah loh. Kita tuh halal banget," bujuk Dimas.

Pria itu pun turun dari tubuh indah Laila dan terlentang, di sebelahnya seolah puas dengan apa yang baru ia lakukan dengan Laila.

"Mas ..." Lalia memiringkan tubuhnya lalu memeluk erat Dimas yang berada di sebelahnya itu.

"Mas .. aku mau tanya dong"

"Apa itu, Sayang?" Dimas mencium lembut puncak kepala Laila.

"Kalau dibandingkan nih ... Antara aku sama Mbak Hesti, siapa yang paling memberikan kepuasaan saat melayani Mas?" tanya Laila genit. Wanita itu memainkan jarinya di atas dada kekar Dimas, membuat tubuh pria itu merinding karena perbuatan dari Laila.

"Kamu lah, Sayangku, cantikku. Hesti itu kalau di ranjang sudah seperti batang pohon. Sangat kaku. Begitu saja. Dia tak bisa memuaskan aku dan tak bisa mengeksplor apa yang seharusnya dilakukan agar kegiatan di ranjang itu menyenangkan." balas Dimas begitu merendahkan Hesti, istrinya sendiri. Wanita yang memulai segalanya dari nol bersama dengan Dimas dan juga merupakan wanita yang sangat mendukung Dimas hingga menjadi seperti sekarang ini.

Ya ...bisa dikatakan Dimas bisa sesukses ini juga berkat bantuan dari Hesti. Mereka berdua berjuang dari nol hingga sekarang memiliki jabatan di perusahaan dan juga memiliki aset berharga saat ini.

"Hihi ..." Laila terkekeh geli. Ia merasa menang atas istri pertama dari Dimas yang terlihat sangat berkuasa itu. Setidaknya, di mata Dimas, Laila lebih baik daripada Hesti di atas ranjang untuk memuaskan hasrat Dimas. Artinya, ia berhasil membuat Dimas bertekuk lutut di hadapannya dan Dimas akan menuruti apapun yang Laila inginkan.

"Kamu memang the best deh kalau melayani mas, dari atas sampai bawah. Mas tuh sampai ketagihan banget loh sama kamu. Pinter banget istri mas ini. Pinter masak, pinter dandan terus pinter di ranjang lagi." Dimas terus memuji Laila dan menciumi pipi Laila dengan mesra.

"Ih ... geli dong, Mas."

"Duh ... kamu buat mas turn on terus deh, Sayang."

"Ih... jangan dulu. Aku masih capek dong. Masa digempur terus sih, Mas."

"Hehe ... habisnya kamu membuat Mas seperti ini. Jadinya harus tanggung jawab dong sama Mas."

"Nanti dulu, Ah. Laila capek. Hmm ... kita bicara dulu saja ya."

"Bicara apa, Sayang?"

"Mas ..." panggil Laila yang manja.

"Kenapa, Sayang?"

"Kapan Mas akan beritahu Mbak Hesti kalau Mas itu sebenarnya sudah nikah siri dengan aku?" tanya Laila manja sekaligus merajuk manja kepada Dimas.

"Nanti ya, Sayang."

Mood Dimas jadi berubah tegang kalau membicarakan Hesti atau pun rencana cerainya dengan sang istri pertama. Resiko terlalu besar.

"Aku sudah bertahan satu bulan loh, Mas di sini. Aku sebal sekali diperkenalkan sebagai adik sepupu dari mas loh oleh ibu. Mas juga tidak menyanggahnya sama sekali. Aku kan istri sahnya mas Dimas juga. Masa aku harus sembunyi-sembunyi begitu sih? Mau mesra-mesraan sama Mas Dimas saja harus tunggu Mbak Hesti pergi. Duh gak bebas banget. Gak tahan aku tuh." gerutu Laila.

"Sabar ya, Sayang. Orang sabar disayang Tuhan." Dimas mencoba menenangkan istri yang baru ia nikahi selama satu bulan ini.

"Sabar terus aku ini sih. Lama-lama pantat bisa lebar kalau disuruh sabar, Mas." cebik Laila karena sang suami tidak juga mengatakan kepada istri pertamanya kalau mereka itu sudah menikah secara siri.

"Hehe ... kamu bisa saja sih humornya. Mas tambah gemas deh sama kamu." goda Dimas.

"Mas ... "

"Hum ... kenapa istriku yang cantik dan menggoda ini?" tanya Dimas.

"Mas itu lebih cinta aku atau sama Mbak Hesti sih?" Laila seolah meminta kepastian dari Dimas. Sebuah afirmasi kepada dirinya sendiri atas jawaban dari Dimas, suaminya yang baru ia nikahi selama satu bulan ini.

"Tentu sama kamu, Sayang. Kamu segalanya loh buat, Mas. Bisa mati mas tuh kalau kamu gak ada. Gak bisa makan, gak bisa tidur ... gak bisa segalanya deh kalau kamu gak ada. Mas ketergantungan banget sama kamu," rayu Dimas agar Laila tidak marah kepadanya.

"Kalau begitu, belikan aku rumah baru dong, Mas. Biar kita tuh bisa santai kalau mau mesra-mesraan. Gak seperti ini terus. Masa sembunyi-sembunyi terus di hadapan mba Hesti," bujuk Laila.

"Sabar ya, Sayang." Hanya kata sabar saja yang bisa diucapkan oleh Dimas. Dia sendiri bingung kalau disuruh beli rumah baru. Memangnya membeli rumah bisa semudah dan semurah bicara saja? Tentu saja Dimas harus mengumpulkan uang yang banyak untuk memenuhi kemauan dari Laila.

"Ih ... Mas tuh suruh aku sabar terus. Bosan aku tuh untuk sabar." protes Laila.

"Ya mas harus bagaimana lagi? Beli rumah kan gak semudah dan semurah itu, Cintaku. Uangnya mas kamu ini belum terlalu banyak untuk membeli rumah baru buat kita berdua."

"Ih ... sebal sekali sih. Mas tidak mengerti rasanya menjadi kedua dan sembunyi-sembunyi di depan Mbak Hesti sih."

"Mas minta maaf ya, Sayang. Benar-benar minta maaf atas ketidaknyamanan yang kamu rasakan. Tapi, Mas janji akan cari jalan secepatnya agar kamu nyaman hidup bersama dengan Mas."

"Ok.  Kalau belum bisa beli rumah lagi, minimal kita mengontrak rumahlah supaya aku bisa menjadi nyonyadi rumah sendiri. Aku malas berada di rumah ini."

"Kontrak rumah?"

"Iya ... lebih baik kontrak dulu supaya bisa mandiri, jangan terus sama Mbak Hesti." rengek Laila.

Dimas terdiam. Mengontrak rumah juga bukan perkara mudah. Apalagi uangnya kini juga dipegang oleh Hesti. Tak terlalu bebas untuk mengeluarkan uang begitu banyak dari tabungan.

"Mas ... koq diam saja sih. Mas mendengarkan aku bicara gak sih?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mertuaku Adalah Maut   Bab 99 - Happy Ending

    *2 Bulan Setelah Erika Divonis Penjara*Langit Jakarta tampak jingga. Angin pantai berembus pelan ke Restoran Sunset Deck yang sengaja dipesan Arga khusus malam itu.Hesti belum menaruh curiga. Katanya hanya “makan malam biasa untuk merayakan Raka naik kelas”.“Ar, tempatnya bagus sekali. Pasti mahal, ya?” ucap Hesti sambil merapikan gaun putih selututnya dengan gugup.Arga hanya tersenyum lalu menggandeng tangan Hesti. “Sekali-sekali, Hes. Kamu sudah bekerja keras. Raka juga juara satu.”Mereka duduk di meja paling ujung, tepat menghadap ke laut. Lilin-lilin kecil menyala di setiap meja.Hesti baru hendak membuka menu, tiba-tiba alunan keroncong Kemayoran versi akustik mulai dimainkan.“Eh? Ada live music?” Hesti menoleh.Dari ujung dek, Raka muncul. Ia mengenakan kemeja batik biru, rambut tersisir rapi, dan membawa kotak beludru kecil. Di belakangnya tampak Mama dan Papa Arga. Hesti langsung berdiri. “Lho... Om? Tante? Kok bisa ada di sini semua?” Matanya seketika berkaca-kaca.Arga

  • Mertuaku Adalah Maut   bab 98 - Persidangan Erika

    Hesti menendang tangan Erika sekuat tenaga. Suntikan itu jatuh, menggelinding.Di luar, suara sirine polisi udah kedengeran. Tetangga unit 1709 denger ribut-ribut dari tadi dan nelpon security.Erika panik. Dia ngeliat ke Hesti yang berdiri gemeter di pojokan, ke Arga yang nadanya napas berat, ke darah di tangannya sendiri.Terus dia tersenyum aneh."Kamu menang, Hesti," bisiknya. "Kamu mendapetkan Arga. Kamu mendapatkan Raka. Tapi ingat..." matanya nyalang natap Hesti, "...aku tak akan pernah berhenti. Di penjara sekalipun, aku akan keluar. Dan aku akan mencari kamu lagi."BRAK!Pintu kebanting kebuka. 4 polisi sama security masuk, senjata udah dikeluarin."TANGAN DI ATAS! JANGAN BERGERAK!"Arga langsung angkat tangan, memberikan jalan. Dua polisi cepet-cepet borgol Erika dan bodyguard yang terluka itu. Erika malah masih ketawa-ketiwi di lantai."Arga! Hesti! Selamat yaaa! Selamat berbahagia di atas penderitaanku! Karma pasti berlaku. Tuhan tidak tidur!" Erika teriak-teriak sambil di

  • Mertuaku Adalah Maut   bab 97 - Penyusup

    Ternyata seorang pria tidak dikenal. "House Keeping!""Maaf, Pak. Saya tidak pesan.""Tapi tadi ada pesanan atas nama unit ini, Pak." jawab house keeping itu."Tidak ada, Pak. Tolong tidak perlu masuk." tolak Arga. Pria itu tak mau mengambil resiko sama sekali dengan kedatangan orang asing ke unit apartemennya. "Baiklah, Pak."Arga dan Hesti bisa bernafas lega sebentar. Setidaknya, tidak ada yang masuk ke dalam unit apartemen mereka. "Ar." panggil Hesti perlahan.Dua hari mereka di dalam apartemen dan tidak keluar sama sekali. Tentu saja bahan makanan sudah habis. "Kita belanja dulu untuk kebutuhan sehari-hari?" ajak Hesti. Kulkas sudah kosong. Tak mungkin juga mereka hanya makan angin bukan?"Ok. Kita ke supermarket terdekat saja. Jangan lupa masker, kacamata dan topi." Arga mengingatkan.Mereka berdua pun keluar dari unit apartemen kemudian mulai berbelanja. Terburu-buru. Tepatnya seperti itu. Setelah selesai, mereka pun kembali ke apartemen. Tapi baru saja akan menutup pintu

  • Mertuaku Adalah Maut   Bab 96 - Safe House

    Akhirnya Arga turun dari pesawat dengan napas ngos-ngosan. Jasnya lepas, dasinya kendor. Tidak ada sopan-santun pengacara top. Yang ada cuma panik.HP-nya tidak berhenti menghubungi Hesti setiap 5 menit."Hes, aku sudah landing. Kamu di mana? Apa masih di kantor?""I-iya, Ar. Aku di lobby, sama security," suara Hesti gemeter di telepon. "Dari tadi ada wartawan menunggu di depan. Aku takut keluar.""Jangan keluar. 15 menit lagi aku sampai."Arga membanting pintu taksi. "Pak, cepetan bisa? Saya tambah 500 ribu."*Di kamar kos kumuh, Surabaya.Erika udah ganti penampilan. Wig hitam sebahu, kacamata tebel, pake seragam kemeja biru muda kayak pegawai bank. KTP palsunya tertulis: Dewi Lestari.Dia menatap foto Hesti yang dia print segede A4. Di foto itu ada alamat kantor Hesti yang tersebar di Twitter.Wanita itu tersenyum miring. "Security, ya? Wartawan juga ada? Bagus. Makin rame, makin gampang nyelip."Dia masukin cutter kecil, suntikan kosong, sama botol air mineral ke tas selempang."

  • Mertuaku Adalah Maut   Bab 95 - Viral

    Satu minggu setelah ketemuan di restoran pertama kali ketemu Raka. Hesti akhirnya luluh. Bukan balikan dengan Arga, tapi dia nggak nolak waktu Arga bilang, "Besok aku ke Surabaya lagi. Raka ikut. Dia pengen ketemu 'Tante Hesti'. Boleh ya?"Hesti nggak tega nolak. Raka masih kecil. Nggak ada salah apa-apa kepadanya. Lagipula Raka juga anak yang menyenangkan, sangat berbeda dari Erika.Sabtu pagi, Kebun Binatang Surabaya."Raka! Jangan lari-lari!" Hesti ketawa sambil ngejar anak kecil yang pake topi polo itu.Raka nengok, nyengir lebar. "Tante Hesti cepetan! Jerapahnya mau makan!"Di belakang mereka, Arga jalan pelan sambil nenteng tas ransel Raka dan dua botol minum. Matanya nggak lepas dari Hesti sama Raka.Anak itu narik tangan Hesti, nunjuk-nunjuk kandang jerapah. "Tante, lehernya panjang banget ya? Kayak leher Papa kalau lagi nyari Tante!"Hesti tersedak. Arga di belakang langsung batuk pura-pura nggak denger."Raka pinter ya," Hesti nyubit pipi Raka gemes. "Udah, sekarang foto ya.

  • Mertuaku Adalah Maut   Bab 94 - Hidup Arga Kembali Berwarna

    Arga menelan ludah. Tangannya bergetar seperti mau menyentuh tangan Hesti di atas meja, tapi nggak jadi."Aku nggak mau apa-apa, Hes," jawabnya lirih. "Aku cuma... kangen. Kangen ngobrol sama kamu kayak gini. Tanpa teriak-teriak. Tanpa piring pecah. Tanpa ada yang harus pura-pura."Hesti ketawa kecil, pahit. "Kita dulu cuma pacaran sebentar, Ar.""Iya," Arga ngangguk. "Kita dulu cuma pacaran sebentar. Tapi kita sudah kenal sangat lama dan aku mencintai kamu juga sejak lama. Hatiku kosong."Angin sore masuk lewat pintu restoran yang terbuka. Membawa rasa dingin di tubuh Hesti setelah mendengar perkataan Arga."Raka gimana?" Hesti tiba-tiba nanya. Mengalihkan topik pembicaraan.Arga tersenyum, akhirnya. Tulus. "Dia baik. Sama Oma Opanya sekarang. Tiap malem video call.""Arga," panggilnya. Suaranya bergetar. "Kamu yang kuat ya."Arga mengangguk pelan. "Bisakah kita bersama lagi, Hes?"Hesti terdiam."Aku nggak akan maksa kalau kamu gak mau. Paling tidak, tolong kaasih aku kesempatan tem

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status