LOGIN"I hate you, Asher. You ruined my life." "Well, you ruined mine. I can't think close to you because you have to look so damn attractive." "What?" "Have you looked in the freaking mirror? Pfft. Distracting me with your brown eyes." "Umm we have to get to work." "Do we? I have a much better plan." He says and plants his lips on mine. After the loss of her mother, eight-year-old Wendy’s world was altered for the rest of her life. Constantly being used by her father for his selfish goals, she seeks refuge in the human world, at City University where it seems like her only issue is the misogynistic treatment to women like her heralded by everyone’s favourite, Asher. She vows to have her revenge by messing with his dreams. Asher has always had everything going perfectly until his father, also his alpha, punishes him by sending him to human school. Everything seems to be going well until he meets his first challenge, the female that won’t leave his mind, Wendy. Would he overcome this challenge?
View More"Floryn Danika ini psikopat!"
"Benar! Bagaimana bisa anak berumur 15 tahun sepertinya, tak merasa bersalah setelah membunuh adik tirinya?""Meski tak ada hubungan darah, harusnya Floryn tak sekeji itu untuk meracuninya! Semoga, dia dapat hukuman seberat-beratnya!"
"Benar! Jangan lembek karena embel-embel masih di bawah umur. Kita harus kawal persidangan."
Bisikan di ruang persidangan terdengar terus-menerus. Tampak sekali, semua orang sangat menantikan keputusan akhir dari hakim hari ini.
Bahkan, kumpulan media dari berbagai stasiun TV juga berharap mendapat berita besar dari kasus Floryn yang merupakan calon atlet ice skating terbaik di negara ini dan juga anak dari salah satu petinggi kepolisian!
"Sidang akan dimulai kembali!"Bersamaan dengan ucapan Hakim Ketua, suasana pun kembali tenang, terutama saat Floryn Danika kembali hadir.
Penampilan gadis bermata hijau safir itu seketika mengalihkan perhatian.
Meski kesal, mereka mengakui bahwa Floryn begitu cantik. Sayangnya, dia jahat dan mampu memakan jiwa orang!
Maka dari itu, mereka menyebut Floryn sebagai Siren!Hanya saja amarah dan emosi membuat para hadirin tak sadar bahwa wajah Floryn kini sangat menderita, baik fisik maupun mental.
Wajah cantiknya kini memiliki cekungan tajam. Tubuhnya juga kurus kering sampai pembuluh darah dipunggung tangannya terlihat kontras karena kehilangan banyak berat badan.
Dalam waktu dua bulan ini, Floryn bahkan kedapatan pingsan beberapa kali karena tidak berhenti mendapatkan waktu istirahat dari tim interogasi.
Entah mengapa, gadis itu dipaksa untuk mengakui perbuatan yang tak pernah dilakukannya?
Tak hanya itu, jaksa penuntut umum dan pengacara pribadi ibu tirinya juga terus memframing dirinya seakan dialah yang meracuni adik tirinya dengan intensi membunuh.
Padahal, Floryn sudah mengatakan yang sejujurnya.
Mengapa dia harus berada di posisi ini semua?
Floryn merasa hidup di antara kematian. Setiap hari yang dia jalani seperti siksaan yang membuat dirinya nyaris bunuh diri.
“Nona Floryn, sebelum keputusan dibacakan, kami ingin bertanya sekali lagi. Apakah dalam perkara ini Anda merasa menyesal?” tanya hakim yang meminpin persidangan.Floryn bungkam, tidak menjawab.
Pertanyaan hakim jelas sudah memutuskan Floryn memang pelaku pembunuhan adiknya. Padahal, masa depan Florynlah yang hancur sejak fitnah keji itu dilayangkan padanya.“Nona Floryn, sekali lagi saya bertanya. Apakah Anda merasa menyesal?” ulang hakim dengan suara yang lebih keras penuh penegasan.
Kini wajah Floryn terangkat. Dalam satu tarikan napas panjangnya Floryn berkata, “Saya tidak pernah menyesal karena saya tidak pernah melakukannya.”Persidangan seketika riuh!
Orang-orang menahan umpatan mereka. “Silahkan berdiri nona Floryn,” perintah hakim.Dengan lemah, gadis cantik itu beranjak dari duduknya.
Ditatapnya sang hakim dengan tatapan kosong, menantikan hukuman apa yang akan dia dapatkan hari ini.
“Mengadili, menyatakan terdakwa atas nama Floryn Danika telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah telah melakukan tindak pidana pembunuhan berencana, dengan ini pengadilan menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan penjara lima tahun.”Tok tok tok!Suara ketukan palu mengakhiri persidangan, disambut oleh riuh suara orang-orang yang bereaksi atas keputusan hakim.
Di sisi lain, kaki Floryn gemetar tidak bertenaga. Hatinya terkoyak hancur menghadapi kenyataan bahwa lima tahun ke depan, dirinya harus hidup di balik jeruji besi atas hal yang tak pernah dilakukannya.
Matanya berkabut, nyaris menangis. Namun, itu ditahannya. Bahkan, Floryn sampai menggigit bibirnya dengan keras agar isakannya tak terdengar.
Dia tak boleh lemah!
“Dia psikopat! Dia sangat menakutkan dan berbahaya! Lihatlah tidak ada penyesalan apapun didalam dirinya setelah membunuh adiknya sendiri. Mengapa harus lima tahun?”
Issabel, ibu tirinya berteriak histeris sembari menangis. Dia masih tidak terima dengan keputusan hakim.“Lima tahun tidak sebanding dengan kematian putraku! Seharusnya, dia dihukum seumur hidup atau mati, sama seperti putraku!”
Teriakan penuh amarah Issabel membuat orang-orang merapatkan barisan. Mereka menghalanginya agar tidak berlari ke arah Floryn.Sementara Rachel, putri pertama Issabel segera memeluk ibunya--tampak berusaha menenangkannya agar berhenti membuat keributan.
Suasana yang dramatis membuat Floryn mulai sulit menahan diri.
Bukankah harusnya dia adalah orang paling patut dikasihani hari ini?
Namun tanpa sengaja, pandangan mata Floryn langsung bertemu dengan Emier, ayah kandungnya, yang menatap tajam dirinya.
Deg!Pria itu jugalah yang telah melaporkan Floryn dan menjebloskannya ke dalam penjara tanpa mau mendengarkan sedikit pun permohonan Floryn.
Bahkan, Emier sampai mengeluarkan banyak uang untuk menyewa pengacara terbaik di negeri ini demi bisa membuat Floryn mendapatkan hukuman seberat mungkin.‘Aku sangat menyesal pernah memiliki seorang anak sepertimu! Kehadiranmu didunia ini adalah sebuah kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan. Mulai detik ini, kau bukan putriku lagi,aku tidak sudi memiliki anak pembunuh! Silahkan hidup semaumu jika kau berhasil keluar dari penjara dan mendapatkan hukuman dari tindakan biadabmu itu’
Ucapnya saat itu kala mencoret Flory dari daftar keluarga. Hanya Kjanet, seorang pengacara publik yang berbaik hati ingin mendampinginyalah yang menguatkan Floryn. Meski akhirnya mereka kalah juga....Kjanet akhirnya beranjak dari duduknya. "Berdirilah, Flo!" ucapnya sembari tersenyum sedih.Wanita itu menyadari tak ada yang bersedia mendekatinya sekadar untuk memberinya semangat.
Padahal, di balik ketenangan Floryn saat ini, jiwanya sudah hancur sejak dibuang keluarganya.
Entah mengapa Kjanet yakin Floryn memang bukanlah pelakunya dan dia hanya jadi korban sebuah tuduhan.
Sayangnya, tak ada barang bukti yang bisa membebaskan Floryn. Terlebih, media dan netizen seakan sudah final dalam asumsi mereka.Di sisi lain, Floryn pun berdiri sembari berpegangan pada sisi kursi agar tidak terjatuh.Kjanet langsung memeluk Floryn dengan erat dan menepuk-nepuk bahunya. “Maaf aku tidak bisa menolongmu lebih banyak lagi. Meski ini sangat berat, kuharap kau tidak berputus asa dengan apa yang terjadi. Tetaplah semangat Flo, ini bukan akhir dari segalanya,” hiburnya.
Mata Floryn berkaca-kaca menahan kuat air matanya agar tidak terjatuh.
Perih di dada kian terasa menusuk, menyadari bahwa harapan Floryn akan kembali datang lima tahun lagi setelah dirinya bebas.
Dengan tangan gemetar Floryn membalas pelukan Kjanet, “Justru saya yang harus berterima kasih, Anda sudah berdiri sampai sejauh untuk menolong saya. Saya tidak akan pernah melupakan semua jasa Anda, Kjanet.”
“Jangan pernah menyerah Flo, di manapun posisimu saat ini. Ingatlah satu hal, setiap mahluk hidup yang masih bernapas dimuka bumi ini, mereka memiliki hak yang sama yaitu kesempatan memperbaiki diri dan keadaan.”“Terima kasih,” jawab Floryn dengan senyuman getirnya.Tiba-tiba, beberapa anggota kepolisian mendatangi Floryn.Mereka kembali memborgol kedua tangan dan kakinya lagi karena Floryn harus segera dibawa pergi keluar dari ruang persidangan.
Hanya saja, kala pintu besar di depan terbuka lebar, cahaya kamera yang berusaha mendapatkan potret wajahnya.
Gerombolan pertanyaan dari wartawan terdengar.Tubuh Floryn terhimpit dari segala sisi. Namun, dia masih mendengar caci mereka, bahkan sampai ke dalam sebuah mobil khusus yang sejak tadi menantinya.Untuk terakhir kalinya, dia memandangi Emier yang berada dalam ketegangan tengah memeluk Issabel yang masih menangis di depan ruangan persidangan.
Dan juga, Rachel.....
Sudut bibir anak pertama Isabel itu terangkat membentuk senyuman sinis. 'Rasakan itu!' ucapnya tanpa suara.
Rahang Floryn mengetat.
Air mata yang ditahannya sedari tadi akhirnya menetes. “Aku tahu, kau yang telah membunuhnya. Kaulah pelaku sebenarnya, Rachel.”
“Meski hari ini, aku tak bisa. Tapi, Tuhan akan membalas setiap detik penderitaan yang aku jalani mulai hari ini,” ucapnya sembari menatap langit yang tak akan dilihatnya 5 tahun ke depan.
Chapter 7Wendy’s POVThe look on Asher’s face is one of pure shock and disbelief. He definitely underestimated me too much. I know I went out of my way to get that exact thing done but I had to teach him a lesson. I was dealing with a lot of idiot boys already and I shouldn’t have to get the same ass behavior from my so called mentor. I can’t help but smirk evilly at the success of a well executed plan. Asher is livid and the rest 9f the mentees are just staring in wide eyed shock. They may have worked out that it was me and I could sense that they knew of the tension between us already from the way I interrupted his lessons and now this. “Well, you have no evidence that it was me, do you? Besides why would my supposed mentor have porn videos on his laptop? I mean I totally respect the need for you to… and I respect sex workers but it isn’t appropriate is it?” I say rising up and the guys laugh at the joke. For the first time their derogatory nature was useful. Asher looks absolu
Chapter 6Asher’s POVThe girl was cute. She really thought I was going to apologize. I mean, I would have apologized eventually and I didn’t actually do it on purpose. She just took it too personal and deep. Thinking of it though, I felt bad that she had to change her outfit. I walk into my dorm room, exhausted from tutoring and mentoring younger students I honestly don’t give a shit about. My neighbor, as usual, was blasting music at an unholy volume. Great. The throbbing in my head was already matching the beat of the song she was playing currently. I arrange my things. Guess I’m going back to my bachelor’s pad all the way in the city. I didn’t care. I just need to sleep. Maybe I might start coming from there because this place is not healthy at all. I love partying but I can’t deal with it so constant. I throw a few things into a bag and I take it downstairs to my car. “Whoa. Where are you going?” My roommate, whose name I had honestly forgotten, stops me as I go down the
Chapter 5. Wendy. I had moved into the dorms yesterday. If you’re still confused, let me rewind. I got the admission to study quantum physics and so, here I am. I woke up really early to prepare for school. I was so excited. This was my first physical class. How would it be like?I got into a bus to campus. I hadn’t gotten my car yet but I planned on doing so. I got a text from. Chloe wishing me good luck and a picture of Isis I couldn’t stop looking at. I was lucky I left the dorms early because the bus I was on got held up at a point. It was getting late but I couldn’t sprout out my wings and fly away. Instead, I booked an Uber and left the bus. I managed to get in school in enough time to hear the first bell. As I made my way across the parking lot to school, a car sped in, splashing me water. My whole outfit of a leather jacket, jeans and boots was ruined. I am so not letting this slide. I stomp my way to the car and I see the car owner’s retreating back. “Hey, fuck you,
Chapter 4. Asher. There was no negotiating with my father. He was adamant and he threatened to use his alpha dominion over me. It was a special power the moon goddess gave alphas to make it easier for them to subdue their pack members. On the giving end it sounds like a really good thing but on the receiving end, it was extremely painful. The one time I received it was when I was making a fuss at his wedding with my crush and babysitter, Andrea. That was the coldest thing ever. She is cunning and fucked me to get with my dad. Who does that? On his wedding, I was still heartbroken and sore from all the pain and I took it out on my father. I was his best man and was meant to give a speech. All I can say is, I royally fucked up. I said the truth but I didn’t consider how it would affect my dad. My speech was something along the lines of, dad I want you to be happy so I’m telling you you’re making a big mistake marrying Andrea. I listed all the things she did but he wouldn’t have












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.