INICIAR SESIÓN“Fui su obsesión, y ahora solo quedan dos cicatrices que aún sangran al recordarse”. Mía creyó haber escapado del infierno cuando firmó su divorcio con Adriel Salazar, el hombre que la amó con obsesión y la destruyó con la misma intensidad. Pero el destino no fue tan piadoso. Tras un accidente, Adriel despierta sin recordar su crueldad… solo el amor que una vez sintió por ella. Ahora, mientras Mía intenta rehacer su vida, él vuelve a amarla como si nada hubiera ocurrido. Lo que ninguno sabe es que detrás de su tragedia hay una traición mucho más oscura —una que podría volver a separarlos… o condenarlos para siempre.
Ver más[ Teruntuk putraku tersayang, Elang
Hai El sayang, mama tebak kamu pasti sudah menemukan satu dari sekian banyak surat yang sengaja mama tinggalkan untuk kamu. El nemuin surat yang mama simpan dimana? Di meja belajar El, tumpukan baju, lemari pakaian atau yang selalu ada di kantong baju mama?Jadi, gimana kabar El hari ini?El udah makan?Apa El sedang banyak kegiatan?Mama harap El bisa menjalani hari dengan lebih baik setiap saat, meskipun itu tanpa ada mama lagi di sisimu sekarang.Maafin mama ya El, maaf karena mama belum bisa menjadi orang tua terbaik untuk kamu!Maafin mama yang pada akhirnya membuat El kecewa!Maafin mama yang nggak pernah bisa berterus terang tentang kondisi yang sebenarnya!……..……..…….. ]Elang melipat kertas kusam yang sesekali masih dibacanya. Meski tidak membacanya sampai selesai, tapi Elang masih hafal tiap kata yang disampaikan sang mama dalam suratnya. Elang sudah ratusan kali membaca surat tersebut sejak ditemukannya pertama kali.Namun, hatinya masih saja sulit menerima, masih selalu merindukan sosok cantik yang melahirkannya itu hingga sekarang. Sosok yang tidak pernah terganti dan selalu menimbulkan nyeri saat dikenang. Sosok yang sudah hampir lima tahun menghilang dari pandangan Elang. Oleh sebab itu, laki-laki itu memutuskan untuk menyibukkan dirinya dengan banyak aktivitas, baik di kampus, alam, atau bahkan mendekati perempuan yang menarik hatinya!***Matahari terik di atas kepala, hujan deras yang mengguyur kampus pagi tadi sudah tidak menyisakan air genangan di depan gedung tempat Elang berada.Elang bergegas turun dari laboratorium kimia tempatnya melakukan penelitian. Mata kuliah paling sulit itu harus ditempuh sebagai syarat kelulusan di sekolah tinggi swasta tempatnya mencari ilmu."Kemana, El? Udah selesai penelitian hari ini?" tanya teman perempuan satu angkatan Elang yang juga sedang melakukan penelitian tugas akhir di lab yang sama dengannya."Ada perlu sebentar," jawab Elang singkat."Aku beli minum buat kamu!""Bawa ke atas aja May, aku ada rapat sama panitia makrab. Nanti aku balik lagi kok, sampai sore kayaknya nanti di lab!" Elang menepuk bahu Mayra yang berpapasan di tangga, lalu meninggalkannya tanpa menoleh lagi."Hm, iya!" Mayra hanya tersenyum masam, Elang selalu memperlakukannya dengan baik. Tapi tidak pernah menganggapnya lebih dari sekedar teman. Mayra bukannya tidak cantik, hanya saja dia seperti kurang beruntung karena bukan tipe gadis yang disukai Elang.Dengan senyum semakin kecut, Mayra meniti tangga menuju lab kimia yang satu jam lalu ditinggalkannya untuk istirahat makan. Memulai lagi aktivitasnya dengan beberapa gelas pyrex berisi sampel bahan dan seperangkat alat destilasi. Menyingkirkan Elang dari pikirannya.Elang masuk ruangan dimana teman-temannya sudah menunggu. Undangan rapat dari ketua Himpunan Mahasiswa (HM) tidak bisa diabaikan. Sebagai wakil ketua, Elang wajib hadir dalam rapat untuk membahas acara malam keakraban mahasiswa baru di jurusannya. Teknik kimia.Meski bukan panitia utama, kedudukan Elang sebagai pengurus HM tetap dinantikan kehadirannya setiap kali ada rapat. Dan terlambat datang bagi Elang adalah hal biasa dan bisa dimaklumi oleh rekan panitia. Elang termasuk orang yang sibuk dan padat acara.Hal itu karena Elang bukan hanya aktif dalam kegiatan himpunan mahasiswa jurusan, tapi juga aktif di unit kegiatan mahasiswa pecinta alam dan musik. Debutnya sebagai atlet panjat dinding membuat nama Elang semakin dikenal luas di kampus, bukan hanya di kalangan mahasiswa tapi juga kalangan dosen dan petinggi kampus.Menang dalam beberapa kali kejuaraan yang membawa nama institusi, membuat Elang ditunjuk sebagai duta kampus untuk menarik minat calon mahasiswa baru. Kegiatannya di luar kampus bersama institusi memang sudah tidak sepadat sebelumnya, tapi tetap ada karena ada target kampus untuk tahun berikutnya.Elang memimpin rapat hari ini karena ketua HM yang bernama Ryan sedang tidak bisa hadir. Mandatnya pada Elang agar langsung menyelesaikan persiapan acara malam keakraban mahasiswa baru jurusan hari ini juga. Rapat terakhir sebelum pemberangkatan.Sementara Ryan pergi meninjau lokasi bersama koordinator acara dan panitia lapangan. Laporan tiap bagian sudah masuk semua, dan Elang puas dengan persiapan terakhir dari panitia dari apa yang dibacanya.“Malam api unggun sebelum rafting fix bikin kambing guling ini ya?” tanya Elang memastikan."Yes," jawab bagian konsumsi mengacungkan ibu jari."Anak EO minta uang muka 50% dari total pembayaran." Elang melihat ke arah bendahara, menunggu persetujuan.“El … kamu yakin mau pakai temen-temen kamu yang anak Mapala itu?” tanya Sisil skeptis selaku sekretaris HMTK (Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia).“Yakin, standar mereka sama kalau dibandingkan dengan EO arung jeram umum. Bedanya … mapala ada di bawah naungan kampus. Kalau soal skill jangan diragukan, untuk urusan kegiatan outdoor sudah pada ahli semua. Alasan terakhir juga biayanya lebih murah, sesuai sama budget kita!” terang Elang tegas."Bukan karena mereka teman-teman kamu kan?" Sisil menatap Elang lembut, tidak berusaha menyinggung. Dia hanya ingin memastikan situasi ada dalam kendali."Silahkan kalau mau cari yang lain! Harusnya kamu bilang itu dari awal rapat, bukan di rapat terakhir begini," sahut Elang penuh tekanan."Sorry …!" Sisil menekuk wajah menyesal.Elang mengabaikan ucapan gadis yang meliriknya dengan rumit, dia memilih untuk membahas satu persatu laporan pekerjaan panitia yang lain yang sudah ada di tangannya.Rapat terus berlanjut hingga satu jam berikutnya. Setelah mengambil keputusan bersama, seluruh panitia bersiap menyelesaikan pekerjaan terakhir sebelum mereka berangkat ke tempat malam keakraban akan diadakan besok.Fix, malam keakraban untuk mahasiswa baru dengan konsep outdoor, rafting dan api unggun di pinggir sungai, akhirnya siap dilaksanakan. Elang menghembuskan nafas lega, langkahnya mantap saat menghampiri Arga, rekan panitia yang mewakili mapala sebagai EO kegiatan."Ga, pastikan besok tenda Vivian ada di sebelah tenda kita ya!" Elang menepuk bahu Arga seraya memamerkan tawa mesum.Arga yang udah paham hanya menyeringai iri. "Dasar sinting!"***Notas finales de la autora ¡Muchísimas gracias a todas por acompañarme hasta la última página de esta historia! (◕ᴗ◕✿) Aprovecho para pedirles una disculpa enorme por haber dejado la novela en pausa durante un tiempo. Lo que pasó fue que me encontraba en plena actualización de otro proyecto de fantasía y hombres lobo, ¡y se me cruzaron los cables feo! De verdad, entre tanta trama, personajes y entregas, estuve a nada de dar el Britney moment y afeitarme la cabeza del estrés. Pero volví para cumplirles, y este es el gran final. ¿Habrá un libro sobre Azel e Izel en el futuro? Aún no lo sé con certeza, pero no descarto la idea de ver en qué problemas se meten esos dos cuando crezcan. Nuevamente, mil gracias por su paciencia, su apoyo y por acompañar a Mía y a Adriel hasta el final. Si quieren seguir leyendo, las invito a pasarse por mi otro libro, «Embarazada del CEO mujeriego», ¡que también está a solo dos capítulos de llegar a su fin! Nos leemos muy pronto (´ω`)
El funeral fue discreto: asistieron únicamente la familia directa y los socios más cercanos a la compañía.Mía lloró durante la ceremonia, pero sin un solo rastro de hipocresía. Comprendía la tragedia de esa mujer que intentó hacerle daño de tantas maneras y que, al final del camino, terminó destruida por sus propios demonios. Ana Salazar pasó sus últimos años de vida aferrada a la idea delirante de que Mía le había robado a Adriel. Quizá ahora, en el mundo de los muertos, su alma encontraría la paz que le fue ajena en la tierra.Izel derramó varias lágrimas en silencio y depositó una rosa blanca sobre la madera antes de que el ataúd fuera cerrado de forma definitiva. Azel realizó el mismo gesto con rostro serio.Y como nunca falta el espectáculo en esa clase de eventos, la enfermera personal de Ana interrumpió el respeto del momento. La mujer comenzó a gritar fuera de sí, alegando que resultaba una absoluta falta de respeto la presencia de Juliana, a quien tachaba como la hermana del
Azel se acomodó la corbata por tercera ocasión; el nudo continuaba torcido y sin forma.—Qué aburrido ir a ese estúpido cementerio —exclamó mientras ponía los ojos en blanco con fastidio.Izel, a su lado, también observaba su propio reflejo en el enorme espejo del tocador en la habitación de su madre.—Es la hermana de papá, tonto —le recordó ella con serenidad, mientras sujetaba su cabello lacio y castaño en una coleta alta.—¿Y eso qué? —respondió su hermano con un tono antipático.—Si yo muriera, ¿te gustaría que los demás digan que ir a verme es aburrido?Azel detuvo la mano sobre la corbata mal hecha. Una fugaz mueca de desconcierto le cruzó las facciones, pero se recompuso al segundo siguiente para no mostrar flaqueza.—No digas tonterías —replicó, al tiempo que le propinaba un ligero golpecito con la palma abierta en la cabeza.—¡Oye, tonto! —se quejó Izel; el gesto no le dolió, pero bastó para despeinarla.—Pues no digas idioteces entonces —sentenció Azel. Por fin logró sujeta
Un año después, la tranquilidad al fin reinaba en el hogar.Los niños corrían de un lado a otro en la sala, llenando cada rincón con risas infantiles. Mía, acomodada en el sofá, disfrutaba de aquella hermosa vista con el corazón repleto de paz.Ese día en específico, la atmósfera en la casa se sentía distinta debido a un visitante inesperado: habían acomodado a su suegra en una de las habitaciones de la planta alta. En el centro de salud donde permaneció internada la última semana, el equipo médico le recomendó a Adriel pasar más tiempo con ella.«Existen lapsos extensos donde recupera la lucidez», le había explicado la enfermera personal de su madre. «El problema es que, en esos momentos, el recuerdo de su hija fallecida la invade y, al chocar contra la realidad de su muerte, comienzan los episodios de agresividad».Adriel accedió al traslado porque, a pesar de todo, se trataba de la mujer que le dio la vida y lo cuidó de niño. No le quedaba más alternativa que velar por su bienesta






Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.
Calificaciones
reseñasMás