LOGINLa viuda del mejor amigo de mi esposo subió una ecografía. «Gracias por tu esperma. Al fin voy a tener mi bebé.» Abrí la foto y me quedé en shock. En donde decía «padre del bebé», aparecía el nombre de mi esposo: Nelson Navarro. No dije nada. Solo dejé un comentario con un simple signo de interrogación. No pasó ni un minuto y Nelson ya me estaba llamando, furioso. —¡¿Qué te pasa?! —me gritó—. ¡Ella está sola, viuda! Solo quiere tener un hijo para no sentirse tan vacía. ¿Tan difícil es entenderlo? Eduardo fue mi mejor amigo, murió, y yo estoy cumpliendo con él. ¡Eso es lo que hace un hombre que tiene palabra! ¿O tú qué crees? Unos días después, la misma viuda subió otra foto. Esta vez, de un departamento nuevo, todo impecablemente decorado con muebles de lujo. «Menos mal que te tengo. Contigo volví a sentir el calor de un hogar.» En la imagen se veía a Nelson de espaldas, cocinando tranquilo, con el delantal puesto, concentrado frente a la estufa. «Ya está», pensé en ese momento. «Esta relación no da para más».
View MorePonsel di sebuah meja berukuran lebar terus bergetar. Sedikit menyita perhatian seorang pria yang duduk di balik meja tersebut. Hanya sebuah lirikan kecil tidak berarti dari sepasang iris cokelat itu, lantas dia cuek lagi.
Penanya terus bergoyang di atas berlembar-lembar kertas. Beberapa dokumen baru selesai ditandatangani, dan dia harus menyelesaikan setumpuk dokumen lainnya.
"Ponselnya nggak diangkat dulu aja, Pak?" tanya seorang wanita cantik yang berdiri di hadapan pria itu.
"Biarkan saja," sahut pria itu terlalu irit membuat si wanita sedikit mengerutkan bibir.
"Pak Gavin nggak lupa, kan kalau malam ini ada makan malam di Sarinah?" Wanita itu mengingatkan dan cukup membuat perhatian pria yang disebut Gavin itu teralihkan dari lembar kertas.
"Kamu jadi alarm ibu saya atau gimana?" tanya Gavin tak suka. "Saya sudah cukup pusing dapat pesan reminder dari ibu saya. Jadi, kamu nggak perlu memberi saya peringatan lagi. Ngerti?"
Wanita dengan setelan blazer di hadapan Gavin meringis. "Maaf, Pak. Sudah tugas saya sebagai sekretaris untuk—"
"Tidak untuk mengingatkan makan malam nggak penting yang diatur ibu saya. Masih belum paham, Vania?" potong Gavin tegas. Mata cokelatnya menyorot tajam sekretaris bernama Vania itu.
"Baik, Pak. Maaf."
Setelah menandatangani dokumen penting, Gavin keluar dari ruangan mewah itu. Dia bergerak cepat di koridor kantornya menuju lift. Hari ni dia akan menyibukkan diri meskipun jadwalnya tidak terlalu padat. Bahkan dia berniat melakukan kunjungan di departemen produksi jika memungkinkan.
Kembali Gavin merasakan getar ponsel di saku jasnya. Napas lelahnya berembus, dan dengan malas meraih ponsel itu. Dugaannya tepat, telepon dari mama. Dia yakin panggilan-panggilan sebelumnya juga dari wanita itu.
"Gavin, kamu ke mana aja, sih? Pasti sengaja nggak angkat telepon mama kan? Kebiasaan banget kamu ya. Mama kan cuma mau ingetin, takutnya kamu lupa. Sekarang sudah pukul empat sore. Kamu harus siap-siap biar nggak kena macet. Kasian kan kalau Talia nungguin lama."
Gavin belum sempat mengucapkan salam, tapi mamanya langsung nyerocos seperti petasan imlek.
"Kamu bawa hadiah ya buat Talia, bunga atau cokelat kek. Bikin kesan pertama yang istimewa."
Pria 33 tahun itu menghela napas. Harusnya memang tadi deringan ponsel itu dibiarkan saja.
"Gavin, kamu dengar mama ngomong, kan?"
"Iya, Ma. Aku dengar." Untuk pertama kalinya Gavin bersuara.
"Bagus, pokoknya kali ini harus berhasil."
"Oke. Kalau gitu aku tutup dulu, sebentar lagi aku harus keluar."
Di sana sang mama terdengar heboh. "Keluar ke mana lagi? Ini sudah pukul empat, kamu jangan ke mana-mana lagi, nanti—"
"Cari hadiah yang seperti mama bilang," sela Gavin sebelum sang ibu menyerocos panjang lebar lagi.
"Ooh, ya udah oke, Mama tutup ya. Selamat berkencan, Sayang."
Embusan napas kasar keluar dari mulut lelaki dengan tinggi 183 cm itu saat panggilan itu berakhir. Ocehan mama membuat kepalanya sedikit berdenyut. Entah dia harus melalui kencan buta berapa kali lagi setelah sebelum-sebelumnya tidak berhasil.
Gavin capek. Bukannya apa, semua wanita yang ikut kencan buta itu tidak ada satu pun yang bisa menggetarkan hati pria itu. Dia tidak merasa pilih-pilih, tapi terkadang ada saja hal yang tidak cocok, yang bisa membuat Gavin menolak pertemuan kedua dan seterusnya.
"Nggak cuma kamu yang capek, memangnya mama nggak capek milihin kamu calon istri," omel mama saat Gavin melayangkan protes terkait kencan buta itu.
"Kalau mama capek, kenapa masih aja terus lanjut? Mama nggak perlu repot-repot mencarikan aku jodoh. Kalau Tuhan udah nentuin waktunya, jodoh juga akan datang sendiri."
Ada tatap terkejut yang bisa Gavin tangkap dari wanita paruh baya itu. Bukan hanya itu wajah wanita yang sudah melahirkannya itu juga terlihat gelisah tiba-tiba. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan.
"Pokoknya tahun ini, mama ingin lihat kamu duduk di pelaminan," pungkas mama sebelum akhirnya meninggalkan sang anak.
Mengingat itu hanya membuat Gavin menghela napas. Siapa sih yang tidak ingin menikah dan memiliki keluarga bahagia? Gavin juga ingin. Namun, memang belum ketemu jodoh saja.
Matanya terpejam sesaat, kembali bayangan gadis cantik yang tersenyum malu-malu padanya berkelebat. Lalu tiba-tiba sebuah perasaan nyeri mencubit hatinya. Gavin menggeleng cepat, membuang bayangan itu. Lalu dirinya yang saat ini sudah berada di balik kemudi, menekan tombol start, menyalakan mesin mobil.
Mobil mewahnya keluar dari halaman kantor perusahaan, dan bergabung dengan pengendara lain di jalan raya. Gavin melajukan dengan kecepatan sedang. Jalan raya belum terlalu padat. Dia masih bisa berkendara dengan santai.
Melewati sebuah traffic light, mobilnya bergerak melambat, dan dengan pelan dia menginjak rem ketika menempati posisi yang pas. Lampu merah menyala, dan kesempatan itu digunakan para pedagang asongan menawarkan dagangan kepada para pengendara yang terjebak lampu merah.
Gavin tampak tak peduli. Dia sedang tidak ingin membeli apa pun. Tisu yang dia borong dari pedagang asongan masih banyak di bagasi belakang. Namun, saat tatapnya melihat seorang gadis penjual bunga tangkai, dia refleks menurunkan kaca jendela.
Gadis itu berjalan mendekat ke arah mobilnya. Dari balik kemudi Gavin terus memperhatikan gadis penjual bunga yang mengenakan topi terbalik. Awalnya dia memang berniat membeli bunganya saja. Namun, ketika gadis itu makin dekat, dia malah terpana. Wajah gadis itu terlihat familier, bahkan Gavin terkesima selama beberapa saat.
"Mau beli bunga, Om. Ini bisa buat hadiah istri atau pacar Om. Murah kok. Cuma 20 ribu."
Gavin terkesiap saat tahu-tahu gadis itu sudah berada di dekatnya. Dan entah bagaimana ceritanya, dia malah memborong bunga itu. Ada sekitar sepuluh bunga di keranjang milik gadis itu.
"Om serius mau memborong bunga saya?" tanya gadis itu dengan mata berbinar.
Pria berkulit pucat itu mengangguk dan tersenyum. Dia baru sadar ternyata gadis itu memiliki warna iris mata yang sama dengannya, cokelat terang.
"Iya, jadi berapa semuanya?" tanya Gavin, seraya mengambil dompet di dasbor.
"Jadi 200 ribu, Om."
"Oke." Gavin menyodorkan dua lembar uang seratus ribuan, dan ditukar dengan sepuluh tangkai bunga mawar yang terbungkus rapi dengan plastik bening.
"Makasih banyak, ya, Om. Kalau begini saya jadi bisa cepat pulang ke rumah." Deretan gigi mungil terlihat ketika gadis itu tersenyum lebar. "Mau buat istrinya, ya, Om?"
Gavin menggeleng seraya tersenyum.
"Oh, pasti pacar. Semoga pacarnya makin cinta sama Om ganteng."
Kekehan kecil meluncur dari bibir penuh Gavin. "Kamu bisa aja."
Keduanya berpisah ketika lampu lalu lintas kembali berwarna hijau. Mobilnya merambat pelan. Sempat dia memperhatikan gadis kecil penjual bunga yang sudah kembali ke trotoar dari kaca spion. Senyum gadis itu tak asing. Gavin merasa akrab dengan senyum itu.
"Revita, ada kamu di wajah gadis itu," gumam Gavin, lalu menggeleng. Dia berusaha tak peduli dan terus melajukan kendaraannya menuju apartemen.
***
Quizá movido por la culpa, Nelson me entregó una buena suma en la separación, y yo la acepté sin poner objeciones.Ese dinero me permitió vivir cómoda y empezar a viajar por todo el mundo.En cada lugar enviaba postales a mis padres y escribía sobre mis experiencias en un blog. Poco a poco, fui ganando seguidores que admiraban mi valentía al viajar sola.En esos viajes descubrí la belleza del mundo y recuperé el rumbo de mi vida.Los cinco años casada con Nelson ya parecían de otra vida.Cuando regresé de ese largo viaje alrededor del mundo, mis padres me pusieron al día con las últimas noticias sobre Nelson.Después del divorcio, Elsa aprovechó su embarazo para intentar obligar a Nelson a casarse con ella.Él se negó al principio, diciendo que no la amaba, que solo sentía lástima porque había perdido a su esposo.Pero Elsa no era la misma inocente de antes; todo con Nelson era calculado, buscando escalar socialmente y asegurarse un lugar junto a un hombre con dinero.Ahora que finalme
Miré a Elsa sentada frente a mí, tomando su café despacio. Su actitud ahora era totalmente diferente a la que mostraba con Nelson.Dejó la taza con cuidado y me lanzó una mirada cargada de desprecio.—Nelson me ama a mí, así que apúrate y firma el divorcio.Frente a la verdadera cara que Elsa por fin mostraba, mantuve la calma y di un sorbo tranquilo a mi café.—¿Y quién te dijo que soy yo la que no quiere divorciarse?—Nelson es el que está rogando que no nos separemos.Elsa se quedó desconcertada un instante, pero pronto reaccionó con furia.—¡Eso no puede ser! Estoy esperando un hijo suyo, ¿cómo puede no querer casarse conmigo? ¡Eres tú la que no lo deja en paz!Luego, con una sonrisa maliciosa, agregó:—Ah, seguro no lo sabes, ¿verdad? Este hijo que llevo no es por inseminación artificial, como Nelson te hizo creer. ¡Hace tiempo que él y yo dormimos juntos!Por un segundo me quedé paralizada.Nunca creí que la traición de Nelson fuera más que emocional, jamás pensé que llegaría a e
Nelson se veía muy distinto al hombre enérgico que yo había conocido; ahora tenía una barba descuidada y el rostro demacrado.Al verme, sus ojos brillaron de inmediato y se acercó rápido.—Ivana, ¿cómo te sientes? ¿Estás mejor?Asentí, manteniéndome distante y sin mostrar ninguna emoción.—Estoy mejor. Si no necesitas nada más, me voy.Rápido extendió el brazo para detenerme y, algo nervioso, me entregó una cajita pequeña. Al abrirla, vi un par de anillos.—Ivana, llegaron los nuevos anillos de matrimonio que encargué.Los primeros anillos los habíamos diseñado juntos Nelson y yo. Tenían un significado muy especial para los dos y prometimos no quitárnoslos nunca.Pero un día me di cuenta de que Nelson ya no llevaba el suyo.Cuando le pregunté, me dijo que Elsa se entristecía al verlo porque le recordaba a Eduardo, así que decidió quitárselo por un tiempo.Eso me dolió mucho y terminamos peleando fuerte. No entendía cómo, si solo ayudaba a Elsa por respeto a Eduardo, tenía que llegar a
Al oírme, Nelson se alteró y empezó a explicarse con una voz cargada de nervios.—Ivana, por favor, no quiero divorciarme. No sabía que estabas embarazada, ¿por qué nunca me lo dijiste?Me parecía irónico que se quejara de eso. En pocos días ya había olvidado todo lo que pasó en el hospital, justo cuando le hice una pregunta que para mí fue la última esperanza, la última oportunidad para salvar nuestro matrimonio. Pero me decepcionó. Eligió a Elsa sin dudarlo.—¿Recuerdas lo que te pregunté ese día en el hospital, justo cuando te ibas con Elsa?Nelson me lanzó una mirada confundida y luego su cara mostró dolor e incredulidad. Su voz temblaba al contestar:—¿Entonces... ese día no estabas enferma? ¿Fuiste al hospital para... abortar?Asentí con calma.—Así es.Él recordó claramente esa respuesta y entendió que él mismo había renunciado a nuestro hijo.Pero aún así insistió:—Ivana, podemos tener más hijos. Cuando te recuperes, lo intentamos de nuevo, ¿sí?Lo miré con incredulidad. ¿De v












Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.
Ratings
reviewsMore