Share

An Echo Across The Field

Penulis: Juno Bug
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-16 15:23:48

Jumat sore kembali menyapa dengan langit yang sedikit mendung, memberikan nuansa abu-abu yang tenang di atas lapangan baseball Mildford Hall.

Fraya sudah duduk lebih dulu di bangku kayu yang sama, namun kali ini tidak ada aksi melempar kamus. Ia hanya diam, menatap ujung sepatunya sambil sesekali menghela napas panjang.

​Langkah kaki yang teratur terdengar mendekat. Fraya mendongak, mendapati Damian berjalan ke arahnya. Cowok itu tidak memakai jas sekolahnya, hanya kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku, menampakkan jam tangan perak yang melingkar di pergelangan tangan kokohnya.

​"Kamu telat dua menit," gumam Fraya saat Damian duduk di hadapannya.

​"Tadi ada urusan kecil dengan tim Lacrosse," sahut Damian santai. Ia melirik meja yang kosong. "Mana sogokannya? Aku tidak melihat kotak makan biru hari ini."

​Fraya terdiam sejenak, lalu merogoh tasnya. Bukannya kotak makan, ia mengeluarkan cokelat batangan mahal yang diberikan Damian di perpustakaan Senin lalu. Cokelat itu masih utuh, namun kemasannya sedikit lecek.

​"Aku tidak suka berhutang budi," ujar Fraya sambil menyodorkan cokelat itu kembali. "Simpan saja. Dan terima kasih untuk... yang di koridor kemarin."

​Damian menatap cokelat itu, lalu menatap mata Fraya. Ia tidak mengambilnya. "Anggap saja itu bayaran karena kamu sudah mau repot-repot membuatkan cookies minggu lalu. Makanlah. Wajahmu terlihat seperti orang yang butuh gula karena terlalu banyak berpikir."

​Fraya akhirnya menyerah dan menyimpan kembali cokelat itu. Mereka mulai membuka buku, namun suasana sore ini terasa jauh lebih tenang. Tidak ada teriakan, tidak ada sindiran pedas. Hanya suara lembaran kertas yang dibalik dan penjelasan Damian yang mendalam tentang struktur kalimat.

​"Fraya," panggil Damian di sela-sela penjelasannya.

​"Hm?" Fraya mendongak dari catatannya.

​Damian menumpu dagunya dengan telapak tangan, matanya menatap Fraya dengan rasa ingin tahu yang lebih dalam dari biasanya.

"Kenapa Oxford? Maksudku, dengan otakmu yang katanya jenius itu, kamu bisa masuk ke mana saja. Kenapa harus bersusah payah mengincar Oxford, sampai rela berhadapan dengan bahasa Jerman dan... denganku?"

​Fraya terdiam sejenak, ia menatap hamparan rumput lapangan yang mulai menggelap di bawah sinar lampu yang baru menyala.

​"Aku ingin jadi dokter bedah, Damian. Sejak kecil, impianku cuma satu, memegang pisau bedah di ruang operasi terbaik di dunia. Dan bagiku, Oxford adalah tempat di mana semua itu berawal," jawab Fraya pelan, ada nada keteguhan dalam suaranya. "Yah, walaupun Mamaku sebenarnya lebih ingin aku masuk Harvard. Mama pikir aku akan lebih suka kalau tetap di Amerika. Tapi Mama juga tahu sejak dulu Oxford itu impian terbesarku. Jadi, aku di sini sekarang. Bertaruh segalanya."

​Damian tertegun. Ia tidak menyangka ada cita-cita sebesar itu di balik sosok gadis yang ia anggap "hanya anak baru yang pemberani". Menjadi dokter bedah bukan hanya soal kecerdasan, tapi soal ketahanan mental—sesuatu yang jelas-jelas dimiliki Fraya.

​"Dokter bedah, ya?" Damian mendadak menyeringai, sebuah senyum tipis yang entah kenapa terlihat sangat tulus. "Aku tidak bisa membayangkan pasienmu nanti. Bukannya sembuh karena operasi, mereka mungkin malah pingsan duluan karena dimarahi oleh dokter galak sepertimu."

​Fraya melotot, tangannya refleks memukul lengan Damian dengan pulpennya. "Screw you, Harding! You are looking at the future best surgeon doctor! You'd better not messing up with me."

​Damian tertawa, tawa renyah yang membuat dadanya terasa ringan. "Tapi jujur saja, Fraya. Setidaknya kalau nanti aku butuh operasi, aku tahu harus mencari dokter yang bisa meninju hidung orang sampai patah. Tangannya pasti sangat kuat."

​"Damian!" wajah Fraya memerah, setengah kesal setengah menahan tawa.

"Tapi serius," Damian kembali menatapnya, kali ini dengan intensitas yang membuat napas Fraya sedikit tercekat. "Kamu pasti bisa. Dengan keras kepalamu itu, jangankan Oxford, kurasa Inggris dan seluruh isinya ini pun bisa kamu taklukkan."

​Fraya tertegun melihat binar di mata biru Damian. Tidak ada keangkuhan di sana, hanya dukungan yang terasa begitu nyata. Ia menyadari satu hal: Damian ternyata tidak seburuk yang ia bayangkan.

​"Terima kasih, Harding," bisik Fraya tulus.

​Damian tidak menjawab, ia hanya membolak-balik halaman buku Fraya dengan senyum yang masih tersisa di bibirnya. Dalam hatinya, ia mengakui sesuatu yang mulai menakutkan: ia sangat menikmati momen ini. Duduk di sini, di bawah lampu lapangan, berdebat dengan gadis dokter bedah masa depan yang menurutnya... benar-benar luar biasa cantik saat sedang serius.

​Ia memperhatikan bagaimana jemari Fraya yang sedang memainkan ujung pulpen.

Tanpa sadar, Damian menggerakkan tangannya ke atas meja, hampir menyentuh jemari gadis itu, sebelum ia teringat suara Axel yang menggema di kepalanya: '

Aku mau lihat dia hancur secepat mungkin.'

​Damian menarik tangannya kembali dengan cepat, menciptakan bunyi gesekan kursi yang canggung.

​"Sudah malam. Ayo pulang," ujar Damian tiba-tiba, suaranya kembali kaku karena ia harus menutupi debaran jantungnya yang tiba-tiba berpacu liar.

​Fraya mengernyit bingung melihat perubahan sikap Damian yang mendadak, namun ia hanya mengangguk dan mulai membereskan bukunya. Saat mereka berjalan beriringan menuju area parkir, Damian diam-diam melirik Fraya yang berjalan di sampingnya.

Ia merasa rencananya mulai retak.

Bagaimana mungkin ia bisa menghancurkan seseorang yang memiliki impian seindah itu?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   Pink Tape

    ​Siang itu angin berembus begitu sejuk. Pada musim gugur yang seolah tengah bersiap menyambut dekapan musim dingin di penghujung November ini, hembusannya mulai terasa menyengat, meninggalkan sensasi gigil di permukaan kulit.​Arnelia duduk—atau lebih tepatnya, setengah terbaring—di atas sofa empuk di halaman belakang rumahnya yang begitu luas. Mantel tebal yang dikenakannya membungkus tubuh dengan rapat, sebuah upaya untuk menghalau dingin yang sejak tadi mencoba menusuk hingga ke tulang.Ia merapatkan syalnya, hingga kain itu nyaris menutupi sebagian wajahnya yang tampak pucat.​Harley, pelayan setia yang berdiri mematung di sampingnya, melirik sekilas. Mungkin dalam hatinya ia sedang bertanya-tanya.Kalau memang sudah tahu kedinginan, kenapa Nyonya tetap memaksakan diri duduk di luar begini? Namun, ia tetap setia menunggu sang nyonya besar yang terkenal memiliki hati selembut malaikat itu.​Arnelia mengalihkan pandangannya sejenak dari kerumunan anak-anak yang asyik bermain, lalu

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   New Kind Of Obsession

    Ini sudah hari entah keberapa semenjak pertandingan Lacrosse kemarin yang menghebohkan sejagat raya Milford Hall. Lebih tepatnya, bukan pertandingannya yang terus dikunyah sebagai gosip panas, melainkan aksi gila bin nekat yang dilakukan sang diktator sekolah, Damian Harding.​Sudah berapa hari ini pula, Fraya Alexandrea praktis menjelma menjadi pusat dari segala poros gosip yang berputar liar di koridor sekolah. Setiap kali ia baru turun dari mobil setelah Papa mengantarnya, Fraya pasti akan dilempari tatapan menghakimi yang menilai dirinya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Seolah-olah semua pasang mata di sana tengah mencoba mencari tahu mantra apa yang digunakan gadis Indonesia itu sampai bisa membuat seorang Harding kehilangan akal sehat di tengah lapangan. Kalau saja dirinya lagi di Indonesia, pasti Fraya dicurigai sudah main dukun. Dengan kata lain, mengguna-guna Damian Harding.​Namun, di antara riuh tatapan sinis itu, terselip pula binar kekaguman dari beberapa siswi yang

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   Sweet As Poison, Strong As Addiction

    Gemerlap lampu diskotek berpendaran dengan begitu liar, seolah-olah cahaya itu sedang berpesta pora di tengah kegelapan yang pekat. Lagu yang diracik sang DJ menyentakkan lantai dansa dengan dentuman bass yang mampu menggetarkan setiap inci fondasi gedung, menciptakan gelombang energi yang nyaris magis. Ruangan itu tampak begitu hidup, kombinasi antara denyut musik yang sanggup merontokkan dinding, kerumunan manusia yang berdansa dalam euforia tanpa batas, serta dentingan botol-botol minuman mahal yang diacungkan tinggi-tinggi ke udara—seolah-olah setiap orang di sana baru saja berhasil menggenggam dunia dalam telapak tangan mereka.​Di tengah hiruk-pikuk yang memekakkan telinga itu, Damian Harding menengadah. Kepalanya tersandar lesu pada sandaran sofa kulit, membiarkan matanya bermandikan cahaya lampu yang berkerlap-kerlip dan berputar gila di langit-langit. Ia tertegun, seolah sedang menghitung bintang di tengah buaian alkohol yang entah sudah botol keberapa yang berhasil ia tanda

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   A Broken Pieces

    ​"Nick... Nicholas! Awas perhatikan bolanya!"​Suara lantang yang menggelar bak membelah hamparan hijau lapangan itu menyabet udara sore yang mulai mendingin. Bocah laki-laki yang sedang sibuk menggiring bola denga kedua kakinya sejak tadi berpacu cepat seperti gulungan angin tornado tidak juga mau berhenti meskipun hanya untuk sejenak. Namun, Nicholas kecil telanjur kehilangan kendali atas kakinya sendiri. Di usia sembilan tahun, ambisinya sering kali lebih besar dari kekuatan fisiknya. Ia tersungkur hebat. Tubuh mungilnya terpelanting ke depan, mencium rumput sintetis dengan bunyi debum yang menyesakkan, hingga beberapa helai rumput tercabut paksa dari akarnya.​Nicholas—bocah berambut emas dengan sepasang mata biru sedalam samudra—meringis. Rasa panas merayap di lutut dan sikunya, namun ada satu titik yang berdenyut jauh lebih menyakitkan: dagunya.​Bocah itu tertegun saat melihat setetes warna merah pekat jatuh, mengotori hijaunya rumput. Disusul tetesan kedua, lalu ketiga. Bau

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   The Unspoken Waiting

    Hari yang dinanti-nantikan oleh seluruh penghuni sekolah pun akhirnya tiba. Hari pertama babak final pertandingan Lacrosse antara Milford Hall dan Easwood High. Pertandingan babak final ini rencananya akan diselenggarakan dua hari berturut-turut dengan Milford Hall sebagai tuan rumah.Atmosfer di Milford Hall mendadak berubah menjadi medan energi yang meluap-luap. Seluruh jajaran murid dan guru sepakat menghentikan aktivitas belajar-mengajar lebih awal, memberikan ruang bagi semangat yang membuncah untuk mengalir menuju lapangan hijau. Semua bergerak serentak, berbondong-bondong memenuhi setiap sudut tribun panjang dan besar yang telah disediakan. Teriakan membahana mulai memenuhi cakrawala lapangan Lacrosse, menciptakan keriuhan yang sanggup menggetarkan dada siapa pun yang mendengarnya. Antusiasme yang berada di titik didih ini membuat setiap jengkal kursi penonton mustahil untuk menyisakan ruang kosong.Warna-warna kebanggaan sekolah berkibar di mana-mana, menyambut partai final y

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   The Calling Ovation

    Pelajaran Bahasa Jerman bagi Fraya tak ubahnya sebuah labirin tanpa ujung yang dipenuhi kerikil tajam. Meskipun sesi tutor bersama Damian mulai menunjukkan progres meningkat, Fraya belum bisa sepenuhnya bernapas lega. Nilai sempurna yang ia incar-tiket emas menuju Oxford-masih terasa seperti cakrawala; tampak begitu indah namun seolah terus menjauh setiap kali ia mencoba melangkah mendekat.​Jika sebelumnya Fraya sudah mulai menguasai tata bahasa Jerman yang rumitnya bikin sakit kepala, kali ini Fraya harus berhadapan dengan tembok besar bernama Hörverstehen atau metode mendengar dalam test Bahasa Jerman. Bagi Fraya, tahap ini yang masih sulit ia kuasai. Tahap ini merupakan momok paling sulit untuk Fraya. Setiap kali masuk ke sesi kuis dadakan berbasis audio, ia rasanya lebih ingin menghantamkan kepalanya saja ke tembok daripada harus menghadapi kegagalan lagi. Telinganya seolah kehilangan ketajaman. Kosakata yang ia tangkap lebih sering salah berakhir meleset jauh dari maksud asli y

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status