Share

bab 10

Author: Ipak Munthe
last update publish date: 2026-07-10 11:34:35

"Apa yang kau pikirkan?" tanya Yusuf dingin.

"Eh?" Citra tersentak dan berkedip beberapa kali.

Ia menatap Yusuf yang masih duduk rapi di kursinya. Jasnya bersih. Rambutnya tetap tertata. Secangkir kopi di meja juga masih utuh.

Ternyata ia hanya melamun. Citra langsung mengalihkan pandangan. "Nggak... nggak mikirin apa-apa." katanya sambil menenangkan dirinya, 'Ck, kok aku nggak berani sih melakukan itu,' batinnya.

Yusuf menyipitkan mata. "Wajahmu terlihat seperti sedang merencanakan ses
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 71

    Citra benar-benar kesal setelah mendengar kekonyolan sang ayah dan ibu. Ia pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya. “Dasar Mama sama Papa! Aku sampai percaya kalau aku anak pungut!” gerutunya. Yusuf yang sedang duduk di sofa menatapnya bingung. “Anak pungut?” Citra langsung sadar kalau Yusuf mendengar semuanya. “Bukan urusan kamu!” Yusuf malah tersenyum tipis. “Jadi kamu tadi diusir dari kamar orang tuamu?” “Bukan diusir!” “Lalu?” “Mereka yang menyuruh aku tidur sama suamiku.” Yusuf terdiam. Citra juga terdiam. Lalu keduanya saling pandang. Citra langsung menunjuk ranjang. “Aku tidur di sana. Kamu di sofa!” “Kalau begitu, aku akan tidur di ranjang.” kata Yusuf. “Hey? Kenapa?” tanya Citra bingung. “Karena aku suamimu.” ucap Yusuf seakan menegaskan posisinya sebagai suami Citra. Citra langsung melotot. “Jangan pakai status suami terus!” geramnya sekaligus memberikan peringatan. “Bukannya tadi Mama dan Papamu yang menyuruh kamu tidur dengan suamimu?” tany

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 70

    Satu jam, dua jam, tiga jam. Waktu berlalu terasa begitu cepat, Yusuf menatap jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Rasanya jarum jam berpindah begitu lambat, kemudian ia pun meraih ponselnya dan menghubungi Tama. "Halo, Bos," jawab Tama dari seberang sana. "Katakan pada Pak Handoko untuk mengembalikan istriku!" perintah Yusuf. Bip. Panggilan berakhir. *** Tama yang duduk di kamarnya syok menatap layar ponselnya. Bagaimana mungkin ada perintah seperti ini? Apakah bosnya sudah gila? Apakah mungkin bosnya itu tidak berpikir sama sekali, dan Pak Handoko? Tama tau itu adalah nama Ayah Citra, "Susah sekali kalau orang sedang dimabuk asmara, ah...bahasa sekarang namanya bucin," gumam Tama. *** “Citra, ini sudah jam sepuluh. Kamu kok masih di sini?” tanya Miya. Citra yang sedang berbaring di ranjang sambil memeluk ibunya pun terlihat bingung. “Memangnya kenapa? Biasanya juga Citra boleh tidur sama Mama dan Papa.” “Citra, sekarang kamu sudah punya suami. N

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 69

    "Kamarku..." seru Citra saat ia membuka pintu kamarnya, lalu merentangkan kedua tangannya kemudian berlari masuk dan meloncat ke atas ranjang. Ia berguling-guling di atas ranjangnya, ia sangat bahagia karena sudah lama tak merasakan kenyamanan ranjangnya. "Akhirnya aku bisa tidur di ranjangku lagi," katanya. Kemudian ia pun turun dari ranjangnya dan berjalan ke arah sudut kamarnya dan menatap gitarnya yang diletakkan di atas meja. Ia menatapnya begitu lama, lalu tangannya terangkat dan menyentuhnya perlahan. "Kamu bisa main gitar?" tanya Yusuf. Citra pun menoleh, ia baru sadar ternyata Yusuf sudah masuk ke kamarnya, "Masih belajar, tapi susah banget," jawab Citra dengan perasaan sedih. Lalu Yusuf pun mengambilnya, kemudian membawanya duduk di sofa. Arah pandang Citra mengikuti Yusuf, ia tampaknya masih bingung apa yang hendak dilakukan oleh Yusuf. Apakah Yusuf bisa bermain gitar? Tapi kemudian Yusuf mulai memetik tali senar, terdengar suara yang begitu indah dan me

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 68

    "Mas?" Mata Citra langsung berbinar ketika mobil Yusuf menepi di depan rumahnya, rumah orang tuanya tempatnya dibesarkan. Ia sangat merindukan rumah itu, sangat merindukan kedua orang tuanya. Tapi tiba-tiba saja senyum dibibirnya menghilang, ia menatap Yusuf dalam diam. "Ada apa?" tanya Yusuf menyadari perubahan ekpresi Citra yang tiba-tiba. "Tapi, Papakan lagi marah. Aku udah di coret dari Kartu Keluarga," katanya dengan lesu. Yusuf pun menyentil dahi Citra dengan gemas. "Mas, ih?!" protesnya sambil menggosok dahinya. "Nama kamu bukan di coret tapi dikeluarkan," ucap Yusuf. "Nahkan? Sama aja!" ucap Citra semakin kesal. "Kan kita sudah menikah, jadi kita berdua di dalam kartun keluarga yang sama," jelas Yusuf. Citra mengangguk sambil menatap Yusuf penuh arti. "Apa yang dipikirkan otak kosongmu ini?" tanya Yusuf sambil menunjuk kepada Citra. "Kalau otak kosong berarti nggak bisa mikir, gimana sih?" gerutunya. "Ayo turun," kata Yusuf lalu turun terlebih dahulu ba

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 67

    "Masih marah?" tanya Yusuf yang duduk disisi ranjang dan memperhatikan dada Citra yang setengahnya menyebul keluar. Citra yang menyadari hal itu segera menarik selimut dan menutupi dirinya dengan panik, "Kamu mesum banget sih? Mana nggak ada rasa bersalahnya lagi!" omel Citra. Yusuf hanya bisa tersenyum mendegar keluhan Citra, saat itu ponsel Citra pun berdering. Ia meraih ponselnya susah payah di atas meja nakas, tapi Yusuf tidak membiarkan begitu saja. Ia langsung meraihnya dan memberikan pada Citra. Tentunya Citra menerimanya dengan kesal, bahkan tatapan yang jelas ingin membunuh. Tapi berbeda dengan Yusuf yang hanya tersenyum gemes melihat wajah istrinya itu. "Halo," jawab Citra. "Citra, kok kamu membatalkan diri ikut balap sih?" tanya Ara dari seberang sana. "Siapa yang batalkan?" tanya Citra bingung, tapi kemudian ia menatap Yusuf penuh curiga, "nanti aku telpon lagi," katanya lalu mengakhiri penggilan telepon. Ia tau ada yang harus diurus dengan Yusuf, ia curi

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 66

    Citra juga kembali berbaring terlungkup dan keduanya pun benar-benar menikmati pijatan bersama. "Mbak, udah menikah belom?" tanya Citra pada petugas spa yang memijatnya. "Sudah, Nyonya," jawabnya. "Panggil Citra aja, risih banget pangilan kamu. Biar aktab juga," kata Citra, "kenapa kamu mau menikah? Terus gimana malam pertamanya?" tanya Citra penasaran. "Malam pertama agak perih, tapi," petugas spa itupun tersenyum malu. Citra meliriknya sesaat, "Ck, tapi apa?" tanya Citra makin penasaran. "Nona, bukannya setelah menikah keromantisan itu wajar," katanya lagi sambil melihat banyak tanda merah di tubuh Citra. "Wajar apanya? Remuk badan aku!" keluh Citra. "Memangnya, kamu nggak menikmati?" tanyanya lagi. "Apa yang dinikmati? Penderitaan?!" kesal Citra. "Citra, kamu jangan nakutin aku dong...makin kecil keinginan aku untuk menikah kalau begini," sela Maya. "Nggak usah nikah, May. Nggak enak!" keluh Citra. "Tapi masa iya aku mau jadi perawan tua?" tanya Maya dengan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status