แชร์

Bab 9

ผู้เขียน: Ipak Munthe
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-10 11:26:58

Citra segera bergegas menuju lift. Sesekali ia melirik jam di ponselnya. Lima menit terasa begitu singkat.

Namun, saat pintu lift tertutup, pikirannya justru dipenuhi ucapan Yuda.

Benarkah Yusuf sekejam itu?

Benarkah dia bisa mem-blacklist diriku?

Jika ia dikeluarkan dari perusahaan ini, bagaimana nasibnya? Di mana lagi ia bisa magang? Bahkan di perusahaan milik ayahnya sendiri, pintunya sudah tertutup untuknya.

Memikirkan semua itu membuat dada Citra terasa sesak. Untuk kali ini, ia
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 62

    "Pulang!" perintah Yusuf. Citra pun menoleh pada yang lainnya, kemudian membaik tangan, "Aku pulang dulu ya," katanya dengan suara agak tinggi agar yang lain mendegar. "Citra, latihan belum selesai," kata Jo. "Hus," Ara langsung menutup mulut Jo karena mengerti situasi. "Apasih?!" kesal Jo. "Diem aja!" kata Ara lalu menendang kaki Jo, "Citra, tasmu!" Ara pun melemparkan pada Citra. Setelah menangkap tasnya ia pun masuk ke dalam mobil Yusuf. Dan pria itu sudah duduk dikursi kemudi menunggunya. *** Mobil pun memasuki basemen parkir. Sepanjang perjalanan pulang Yusuf tidak berbicara sama sekali, ia diam saja tak satu patahpun keluar dari mulutnya. Sedangkan Citra hanya memakan coklat yang diberikan oleh Gio barusan, apapun yang terjadi nantinya yang penting ia makan dulu. Tapi tiba-tiba coklat di tangannya di ambil Yusuf, lalu tanpa bicara Yusuf pun turun dari mobil. Dan, tanpa kata ia memasukkan ke dalam tempat sampah. "Mas?!" tanya Citra tak percaya. Lalu tanpa bicara ia ju

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 61

    Citra akhirnya berhasil keluar dari ruangan Yusuf. Ia kembali ke meja kerjanya, lalu duduk dengan wajah masih linglung. Dari tempat duduknya, Citra menatap pintu ruang kerja Yusuf dengan tatapan horor. Sebenarnya, ia sendiri masih bingung bagaimana dirinya bisa dipindahkan ke bagian sekretaris hingga akhirnya harus bekerja begitu dekat dengan Yusuf. "Heh." Maya tiba-tiba mendekatinya. Citra menoleh. Maya memperhatikan wajahnya beberapa saat, lalu matanya berhenti pada bibir Citra. "Eh... bibirmu kenapa? Kok kelihatan agak bengkak?" tanyanya curiga. Wajah Citra langsung memerah mendengar pertanyaan Maya. Namun, ia sama sekali tidak ingin membahas kejadian tadi. "May, nanti sore aku ada latihan. Lima hari lagi juga ada pertandingan balap. Kamu ikut nggak?" tanya Citra, sengaja mengalihkan pembicaraan. Mata Maya langsung berbinar. "Serius?" Citra mengangguk. Maya pun mengangguk cepat dengan penuh semangat. "Ini baru keren! Aku ikut!" serunya antusias. *** Sore har

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 60

    Citra berdiri di depan ruangan Yusuf. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk. Begitu pintu terbuka, Citra langsung melihat Yusuf yang tengah menatap ke arahnya. Citra tersenyum kecut. 'Citra, ayolah... bungkus malumu dan buang. Ah, sekarang aku memang sudah nggak punya malu,' batinnya. Ia kemudian berjalan mendekati meja Yusuf dan meletakkan cangkir kopi di atasnya. Namun, baru saja ia hendak mundur, Yusuf tiba-tiba menarik tangannya. "Eh—" Tubuh Citra langsung terduduk di pangkuan Yusuf. Deg! Citra membeku. Panik bukan main. Jantungnya bahkan berdetak begitu kencang sampai ia merasa Yusuf pasti bisa mendengarnya. "Kamu mau jadi istri yang baik nggak?" bisik Yusuf. Citra mulai berpikir. Benar juga. Kalau menjadi istri yang baik bisa membuatnya mendapatkan kemudahan dari Yusuf, kenapa tidak? "Mas, nanti malam ada acara makan malam sama teman-teman kantor," kata Citra. "Lalu?" tanya Yusuf datar. "Hehe..." Citra tersenyum manis. "Ak

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 59

    Citra terus menatap tangannya. Rasanya ia masih belum bisa melupakan saat memegang senjata keramat milik Yusuf. Ia bahkan sampai menampar tangannya sendiri beberapa kali dengan tangan yang satunya. "Pokoknya aku benci kamu!" katanya pada tangannya sendiri. "Aaaa..." Citra pun menangis sendirian. "Citra, kamu kenapa?" tanya Maya yang baru saja duduk di kursinya. Keduanya memang duduk bersebelahan di kantor. Namun, tidak ada yang tahu bahwa Maya adalah adik Yusuf, kecuali beberapa petinggi perusahaan. Maya memang tidak suka ketenaran. Ia juga tidak suka jika orang-orang mendekatinya hanya karena dirinya merupakan bagian dari keluarga pemilik Adithama Group. Namun, pagi ini ia merasa heran melihat kakak iparnya itu. Citra terlihat sangat sedih. "Maya, aku dilecehkan," kata Citra sambil menangis. "Hah?" Maya langsung menatapnya bingung. "Hu'um." Citra langsung memeluk Maya dengan erat. Ia benar-benar merasa sedih sekaligus kesal. "Kurang ajar! Siapa yang berani melak

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 58

    "Tidur," perintah Yusuf. "Hhhmmm," Citra menurut lalu naik ke atas ranjang dan berbaring disana. Tak lama kemudian Yusuf juga berbaring di sampingnya. Ting. Ponsel Citra berbunyi. Ia pun membuka pesannya dan melihat siapa yang mengirim pesan. Mona: Kali ini kamu akan masuk penjara, masalahnya sedang dalam proses! Citra pun meletakkan ponselnya lalu melirik Yusuf yang berbaring di sampingnya, ia pun mencondongkan tubuhnya dan memperhatikan apakah mata Yusuf sudah tertutup atau belum. Sudah tidur atau belum, ia pun semakin mendekatkan wajahnya lalu tiba-tiba mata Yusuf pun terbuka. "Hehe..." Citra pun cengengesan. Tatapan Yusuf turun ke bibir Citra, ia meneguk saliva melihat bibir itu. "Mas," panggil Citra dengan suara manja. Yusuf seketika menegang dibuatnya, suara Citra seperti mengandung obat hingga membuatnya terbius. "Mas, tolongin aku...Mona bakal penjarain aku," rengeknya. Yusuf masih diam, tangannya masih menatap bibir Citra dalam lampu temaram. "Ma

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 57

    Citra segera masuk ke kamar. Ia bersandar pada daun pintu sambil memegangi dadanya yang masih berdebar tak karuan. "Kalau aja nikahnya beneran dan nggak ada yang namanya cerai..." gumamnya pelan. "Huh, udah siap lahir batin aku." Ia berdecak kesal. Namun beberapa detik kemudian, senyum jahil mulai menghiasi bibirnya. "Besok aku kasih aja obat tidur di kopinya, terus..." Bibir Citra semakin mengembang. Khayalannya pun mulai berjalan liar. "Citra, buatkan kopi untuk Pak Presdir!" perintah Bu Vina seperti biasa. "Siap, Bu!" Dalam lamunannya, Citra segera menuju pantry, meracik secangkir kopi, lalu diam-diam mencampurkan obat tidur ke dalamnya. Tak lama kemudian, ia membawa kopi itu ke ruang kerja Yusuf. Yusuf meminum kopi tersebut tanpa curiga. Beberapa saat kemudian, pria itu menyandarkan tubuhnya di kursi dan tertidur pulas. "Yes..." bisik Citra sambil mengepalkan tangan kecilnya. Lalu ia mengendap-endap menghampiri Yusuf layaknya pencuri. Mungkin benar pencuri,

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status