Mag-log in“Langit tidak pecah oleh guntur. Ia retak oleh sunyi yang disangkal terlalu lama.”
Langit Varethar tidak seperti langit dunia atas. Ia bukan biru atau kelabu, melainkan lapisan kristal hitam yang membentang seperti cangkang. Namun malam itu, sebuah retakan menyala di sana—seperti kilatan petir yang tak menghilang.
Rovan melihatnya dari balkon menara. Matanya menyipit, jantungnya berdegup lebih cepat. Itu bukan retakan biasa. Itu adalah simbol. Sinyal kuno. Peringatan dari masa sebelum kekuasaan Lux Hunter didirikan.
Flamma Vitae telah menyatu.
Dan hanya satu makhluk yang mampu melakukannya: keturunan Darah Dua—gelap dan terang.
Di ruang bawah tanah, Seraphine masih duduk di tengah nyala api yang meredup perlahan. Rambutnya basah oleh keringat, matanya belum sepenuhnya kembali dari perjalanan batin tadi.
Aetheria berlutut di hadapannya. Tak lagi seperti penjaga agung, melainkan seorang pelayan.
“Kau telah menyeberang,” bisiknya.
“Tidak lagi manusia. Tidak pula iblis. Kau kini... kunci.”
“Aku hanya ingin tahu siapa diriku.”
“Tapi ternyata... aku adalah bahaya bagi semuanya.”
“Atau penyelamat.”
“Apa bedanya? Kedua-duanya menuntut darah.”
Seraphine berdiri. Api mengikuti gerak tubuhnya seperti bayangan hidup. Ia tidak takut, tapi juga tidak bangga. Kekuatannya kini lebih nyata dari sebelumnya, tapi bersamanya datang rasa kehilangan. Seolah ia meninggalkan sesuatu di titik nyala—dirinya yang dulu, mungkin?
Di sisi lain dunia, dalam benteng putih Lux Hunter yang dikelilingi salju, para pemimpin berkumpul.
Peta besar diproyeksikan di atas altar kristal. Retakan hitam yang muncul di langit Varethar membuat semua siaga.
“Ini tidak bisa dibiarkan,” kata Pemimpin Tertinggi Lux Hunter, seorang pria dengan wajah seperti ukiran marmer.
“Flamma Vitae hanya bisa diaktifkan oleh satu darah—dan darah itu telah melampaui batas yang kita jaga selama berabad-abad.”
“Apa yang harus kita lakukan, Lord Kaen?”
“Dia hanya seorang perempuan.”
“Perempuan yang memegang kunci untuk menjungkirbalikkan dunia.”
Diam.
Semua tahu apa arti kata-kata itu: jika kunci itu tidak bisa dijaga... maka ia harus dimusnahkan.
“Kirim Rovan,” kata Lord Kaen pelan.
“Dia satu-satunya yang pernah masuk ke wilayah kegelapan dan kembali hidup-hidup. Dan dia satu-satunya yang belum kehilangan hatinya.”
Rovan mendengar keputusannya bahkan sebelum perintah disampaikan langsung. Ia tahu, cepat atau lambat, mereka akan memintanya memilih sisi.
Tapi bagaimana jika kau justru ditarik ke tengah?
Bagaimana jika sisi itu tak pernah benar-benar ada, dan yang nyata hanya luka—dan dia yang berdiri di tengahnya?
Dia mengenang tatapan Seraphine saat pertama kali mereka bertemu. Dingin, tapi tidak kosong. Ada permohonan diam di sana. Bukan permintaan maaf, tapi permintaan untuk dilihat… sebagai seseorang.
"Apakah aku hanya alat bagi mereka? Atau musuh bagi diriku sendiri?"
Pertanyaan itu menghantuinya seperti nyanyian api di dalam darah.
Sementara itu, Seraphine kembali ke ruangan pribadinya di Istana Dalam. Di sana, cermin tua menyambutnya. Tapi bayangan di dalamnya tak seperti biasa.
Dia melihat dirinya, tetapi versi lain: matanya lebih tajam, tubuhnya berdarah, dan senyumnya... dingin seperti logam.
“Kau pikir bisa berjalan di antara dua sisi tanpa membayar?” tanya bayangan itu.
“Semua yang menyentuh kebenaran akan kehilangan sesuatu.”
“Apa yang akan hilang dariku?”
“Dia.”
“Siapa?”
Bayangan tersenyum.
“Dia yang kau harap tidak akan berubah saat kau berubah.”
Kilatan api muncul dari cermin. Seraphine mundur, napasnya tercekat. Apakah itu peringatan? Atau bayang-bayang masa depan?
Di tengah malam, suara ketukan datang ke pintunya.
Bukan pelayan. Bukan penjaga.
Rovan berdiri di sana.
“Kita harus bicara,” katanya pelan.
“Sebelum semua memilihkan nasib untuk kita.”
Mata mereka bertemu.
Dua jiwa yang mulai merasa... dunia tidak punya tempat untuk mereka, kecuali satu sama lain.
Dunia tidak lagi terasa seperti dunia.Udara menjadi tipis—not secara fisik, tetapi secara makna. Setiap tarikan napas yang dilakukan Kael terasa seperti napas yang tidak semestinya ada di paragraf ini. Rynor merasakan hal sama; setiap gerakannya seperti kalimat yang dicurigai sebagai salah ketik.Entitas itu tidak terburu-buru.Ia menilai.Ia mengukur.Ia mengamati mereka seperti seorang editor yang memeriksa naskah usang, mencari bagian mana yang tidak sesuai visi.Dan Kael tahu persis apa artinya itu.“Kau dengar itu?” bisik Kael, suaranya getir namun terkontrol.Rynor menggeram. “Aku tidak mendengar apa pun kecuali… kekosongan yang berbicara.”“Itu.” Kael memejam sebentar. “Makhluk itu tidak butuh suara. Ia menyampaikan penilaiannya lewat struktur ruang.”Entitas itu melangkah—atau sesuatu yang serupa dengan tindakan itu, meskipun ia tidak benar-benar berjalan. Langkah itu seperti pergantian paragraf: garis bawah realitas bergetar, dan pola baru terbentuk setiap kali entitas itu b
Ada perubahan halus pada udara—seperti tarikan napas pertama seseorang yang baru memutuskan untuk hidup. Bukan keras. Bukan dramatis. Justru itu yang membuatnya jauh lebih menakutkan.Kael merasakannya sebelum siapapun menangkap tanda apa pun. Sensasi itu datang seperti benang dingin yang ditarik dari pusat tulang punggungnya. Ia menajamkan pandang, namun dunia di hadapannya telah kehilangan gurat konsistensinya. Seolah-olah semesta—yang sudah retak sejak spiral runtuh—baru sekarang sadar bahwa ia tidak punya alasan lagi untuk mempertahankan bentuk lamanya.Retakan baru merambat.Perlahan.Panjang.Tak berujung.Bukan retakan fisik. Retakan naratif. Retakan eksistensial. Yang mencabik makna, bukan permukaan.Dan dari celah itu, sesuatu mulai merayap keluar.Bukan suara. Bukan cahaya. Bukan bayangan.Melainkan intensi—sebuah maksud primordial yang mendahului bentuk apa pun.Kael merunduk secara naluriah, tak peduli betapapun kuatnya ia sekarang. Rynor yang berdiri tidak jauh darinya—be
Semesta baru itu lahir dengan cara yang ganjil—bukan dengan cahaya, bukan dengan suara, tetapi dengan tulisan yang belum selesai.Huruf-huruf berjatuhan seperti hujan, menancap di tanah yang belum memutuskan ingin menjadi tanah atau hanya halaman kosong.Gunung menulis dirinya menjadi tinggi, pohon menulis dirinya menjadi rimbun, sungai menulis dirinya menjadi aliran yang sedang mencari arah.Namun ada satu hal yang tidak disadari oleh Rynor, Kael, atau bahkan Penulis Sah yang telah runtuh:> Ketika dunia diberi kemampuan menulis, maka dunia juga diberi kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang tidak pernah diminta.Itulah awal bencana.Bukan bencana seperti ledakan atau gempa, tapi bencana konseptual.Bencana yang lahir dari makna yang tidak seharusnya bertemu, dari kata-kata yang tidak seharusnya bersinggungan.Bencana yang bentuknya… belum punya bentuk.---Pada hari keempat setelah Kalimat Ketiga mulai menggeliat, Rynor merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.Buk
Hening.Bukan keheningan yang biasa—melainkan keheningan yang penuh gema.Setiap molekul udara membawa sisa bunyi dari ribuan kata yang belum sempat selesai diucapkan.Langit, kini abu-abu kusam, tampak seperti halaman yang setengah terhapus.Di tengahnya, berdiri Rynor—dengan pena patah di tangan kanan, dan pedang yang nyaris lenyap di tangan kiri.Ia menatap langit yang bergelombang pelan, seolah semesta sedang berpikir.Bukan lagi dunia yang tunduk pada satu penulis, tapi dunia yang mulai menulis dirinya sendiri.> “Pilihan,” bisiknya lirih.“Satu kata kecil… tapi beratnya melebihi seluruh kalimat.”Dari ujung pena hitam yang patah itu, cahaya lembut merembes keluar—bukan putih, bukan hitam, tapi warna di antara keduanya.Warna transisi.Warna yang belum punya nama.---Suara dari Huruf yang HidupRynor mendengar bisikan halus.Bukan dari bumi, bukan dari langit, tapi dari udara itu sendiri.Huruf-huruf yang dulu melayang kini membentuk bayangan samar, menyusun diri menjadi suara-s
Langit telah berubah.Putih sempurna, tanpa bayangan, tanpa batas.Tak ada lagi bintang, tak ada lagi arah—hanya halaman raksasa yang menunggu.Rynor berlutut di atas tanah yang kini menyerupai lembaran kertas.Setiap napasnya menimbulkan guratan samar, seolah tubuhnya sendiri sedang menulis tanpa izin.Sementara di hadapannya, Penulis Sah berdiri tegak, pena hitamnya terangkat tinggi.> “Kalimat kedua,” ujarnya—dengan nada yang seperti bunyi tinta menetes di ruang kosong.“Akan menjadi fondasi semesta baru.Segala yang tak layak, akan dihapus.”---Rynor: Antara Keyakinan dan KetakutanRynor menatap Kael yang tergeletak tak jauh dari situ.Bara di tubuh Kael sudah padam, tapi matanya masih terbuka—hidup, meski samar.Ia masih bernapas. Dan itu cukup bagi Rynor untuk berdiri lagi.“Kalau kau benar-benar penulis,” gumamnya, suara parau tapi jelas,“maka aku—huruf yang menolak dibaca.”Ia menancapkan pedangnya di tanah, dan seketika guratan cahaya menyala dari bilahnya.Setiap cahaya it
Semesta baru bagai naskah mentah yang dirobek paksa.Setiap inci udara penuh huruf yang berjatuhan, setiap tanah retak seperti baris kalimat yang gagal dirangkai.Titik—yang kini menjelma seperti matahari—memuntahkan denyut cahaya, dan dari dalamnya, para penulis bayangan berhamburan, masing-masing membawa ambisi yang sama: menulis kalimat kedua.---Rynor: Antara Pedang dan PenaPedang di tangan Rynor bukan lagi sekadar senjata.Ia kini melihatnya sebagai pena yang kasar, satu-satunya alat yang bisa menorehkan garis di tengah halaman semesta.Namun semakin ia tebas, semakin banyak tangan yang tumbuh, semakin banyak wajah-wajah tanpa identitas yang merangkak keluar.“Setiap tebasanku cuma melahirkan lebih banyak kata liar,” desisnya.Tulang tangannya retak, peluh bercampur darah menetes, tapi matanya tetap tajam.Ia tahu—yang ia lawan bukan sekadar tubuh, melainkan gairah menulis yang tak pernah selesai.---Kael: Api yang Ingin Menjadi KataKael memekik, tubuhnya retak seperti cermin







