Home / Romansa / Misi Mencuri Hati PNS Ganteng / Bab 5 — Gengsi Tingkat Tinggi

Share

Bab 5 — Gengsi Tingkat Tinggi

Author: Chessecake
last update publish date: 2026-09-08 10:30:11

Beberapa hari berlalu tanpa kabar apa pun dari Evan.

Selama bekerja, Bella memang tidak punya banyak waktu untuk memikirkan laki-laki itu. Kesibukan di bank cukup ampuh mengalihkan perhatiannya, setidaknya sampai jam kerja berakhir dan ia kembali punya terlalu banyak waktu untuk dirinya sendiri. Perasaan aneh itu muncul lagi, seperti remaja yang baru punya gebetan ganteng.

Dan di Sabtu yang cerah ini, perasaan itu justru terasa menyebalkan.

Bella sudah mencoba mengisi paginya dengan bereksperimen di dapur, merapikan kamar, bahkan menonton drama yang sempat tertunda. Sayangnya, pikirannya selalu kembali pada satu orang yang berhari-hari tidak memberinya kabar.

Dua kali ia membuka kolom chat Evan, mengetik pesan, lalu menghapusnya lagi. Pesan terakhirnya masih menggantung tanpa balasan. Padahal, ia hanya ingin tahu apakah pria itu sudah kembali dari dinas atau belum. Tidak ada salahnya, kan, bertanya begitu?

Bella mendengus, kemudian melempar ponselnya ke sofa. Namun, tak sampai semenit, benda itu kembali diambilnya. Setelah menimbang-nimbang sebentar, ia membuka kontak Aca dan menekan tombol panggilan.

Aca adalah teman dekatnya sejak hari pertama mereka bekerja di bank. Selama bertahun-tahun, perempuan itu sudah menjadi tempat Bella mengeluhkan nasabah yang menyebalkan, rekan kerja yang bikin kesal, sampai masalah-masalah kecil yang sebenarnya tidak penting.

Panggilan tersambung setelah dering ketiga.

“Kenapa, Bel? Tumben banget telepon pagi-pagi. Kangen aku, ya?” sapa Aca begitu mengangkat panggilan.

“Geer banget. Aku cuma mau nanya sesuatu,” balas Bella sambil mengubah posisi duduknya di sofa.

“Tanya apa? Kok nadamu serius begitu?” Aca terdengar curiga. “Jangan bilang mau pinjam duit.”

“Ya ampun, Ca! Aku mau curhat, bukan ngutang!” Bella memutar bola mata.

“Wih, tumben.” Aca terkekeh. “Sini, cerita. Aku siap mendengarkan dengan penuh perhatian.” Ia sengaja memasang suara serius sebelum menambahkan, “Tentang siapa, nih? Jangan bilang Evan.”

Bella terdiam.

Di seberang sana, Aca langsung tertawa. “Lah, kok diam? Bener, kan?”

“Bukan begitu.” Bella buru-buru membela diri. “Aku cuma heran saja. Kenapa dia nggak ngabarin sama sekali setelah pulang dinas?”

“Lho, memang kalian sudah jadian?”

“Belum!”

“Terus, kenapa harus ngabarin kamu?” balas Aca cepat.

Bella terdiam lagi. Pertanyaan sederhana itu justru membuatnya kesulitan mencari jawaban. Ia menarik bantal ke pangkuan, lalu meremas ujung sarungnya.

“Nggak harus, sih. Aku cuma penasaran saja. Dia sudah pulang atau belum. Waktu itu katanya mau traktir aku setelah dinasnya selesai, tapi sampai sekarang nggak ada kabar.”

“Terus kamu sudah ngechat dia?”

“Belum. Gengsi, tahu!” Bella mengerucutkan bibir.

Aca tertawa mendengar jawaban itu. “Bella, Bella. Katanya dulu paling nggak mau dijodoh-jodohkan. Ketemu sekali saja sudah mengeluh karena orangnya jutek. Sekarang malah nungguin kabar.”

“Aku nggak nungguin!” sanggah Bella cepat.

“Iya, deh.” Aca sengaja menggantung jawabannya sejenak. “Terus kenapa dari tadi yang kamu pikirin dia?”

Bella mengembuskan napas panjang, lalu membenamkan wajah ke bantal sofa.

“Aku juga nggak tahu, Ca. Awalnya aku cuma mau balas budi karena dia pernah bantuin motorku. Tapi sekarang malah jadi kepikiran terus. Aneh banget, kan?”

“Menurutku, kamu mulai tertarik sama dia,” ujar Aca santai.

Bella langsung mengangkat kepala. “Apaan, sih! Aku aja belum kenal dia banget.”

“Ya, makanya kenalan dulu. Siapa tahu cocok.”

“Tapi masa aku duluan yang ngechat? Gengsi, tahu!” Bella kembali menjatuhkan kepalanya ke bantal.

“Ya ampun, Bella. Cuma ngechat, bukan ngelamar!”

“Beda, tahu!”

“Bedanya di mana coba?” Aca tertawa. “Udah, deh. Kalau emang penasaran, chat aja. Daripada tiap hari ngecek HP kayak orang nunggu pengumuman kelulusan.”

“Berisik!” Bella mendengus, meski sudut bibirnya ikut terangkat.

“Intinya, kamu nggak harus langsung suka sama dia. Kenalan aja dulu. Kalau ternyata kamu memang tertarik, ya, nggak perlu disangkal juga.”

Bella terdiam. Ia melirik ponselnya yang tergeletak di samping, lalu kembali memikirkan ucapan Aca. Bisa jadi sahabatnya itu benar. Mungkin ia memang mulai tertarik kepada Evan. Namun, mengakui kemungkinan itu saja rasanya sudah membuatnya salah tingkah.

Setelah mengobrol beberapa menit lagi, mereka pun mengakhiri panggilan.

Bella meraih ponselnya dan membuka kolom chat Evan. Pesan terakhir mereka masih sama, belum ada balasan baru. Jarinya sempat mengetik beberapa kata, tetapi ia menghapusnya lagi sebelum sempat mengirim pesan.

Akhirnya, Bella meletakkan ponsel itu dan memeluk bantal sofa.

Menyebalkan. Kenapa dia jadi peduli sekali pada kabar pria itu? Padahal, sebelum bertemu Evan, dia bahkan tidak tertarik sedikitpun dengan urusan perjodohan.

Mungkin Aca benar. Bisa jadi ia memang mulai tertarik kepada Evan.

Bella buru-buru menggeleng. Belum tentu! Ia hanya penasaran karena belum mengenal pria itu lebih jauh. Lagipula, mereka baru bertemu beberapa kali. Tidak ada alasan untuk buru-buru menyimpulkan apa pun.

Dengan rambut acak-acakan dan kaus kebesaran, Bella kembali menggeletak di sofa ruang tengah sambil menatap langit-langit seperti orang yang baru kehilangan arah hidup.

Sintia, yang lewat membawa keranjang berisi pakaian kering, berhenti di depannya. Anaknya tampak seperti tumbuhan layu yang minta disiram.

“Kamu kenapa, Bel?” tanya Sintia sambil mengamati putrinya.

“Nggak apa-apa,” jawab Bella dengan suara serak, seperti orang yang tidak makan seminggu.

Sintia mengangkat sebelah alis, lalu bertanya dengan iseng, “Ditolak Evan kamu, Bel?”

Bella tidak menanggapi. Ia hanya memindahkan bantal dari dada ke wajah, enggan meladeni ibunya.

“Makanya jadi perempuan tuh perawatan. Gembel kayak gini mana ada laki yang mau.” Sintia menaruh keranjang pakaian, lalu berkacak pinggang. “Syukur-syukur kamu masih ada Mama yang nyariin calon.”

Bella menurunkan bantal dan menatap ibunya dengan wajah tak terima. “Ma, aku nggak gembel.”

“Terus kalau bukan gembel, bentukan kayak gini disebut apa?” tanya Sintia sambil menilai penampilan anaknya dari atas ke bawah.

Bella melirik kaus kebesaran dan rambutnya yang berantakan. Ia memang merasa dirinya sedikit buluk, tetapi tidak bisa juga disandingkan dengan gembel. Dengan wajah cemberut, ia kembali menatap ibunya.

“Ya udah, terus aku harus gimana?”

“Mandi saja. Dandan yang cantik.” Sintia mengambil ponselnya dari meja dan mengecek layar. “Mama mau ke rumah Diana. Dia ngajak Mama masak bareng.”

“Ikuuut!” Bella langsung bangkit dari sofa.

Sintia menoleh, lalu menyipitkan mata penuh selidik. “Lho, katanya nggak naksir?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Misi Mencuri Hati PNS Ganteng   Bab 7 — Sandal Jepit Hitam

    Gerakan Evan terhenti. Ia akhirnya menegakkan badan dan menatap Bella beberapa detik. Untuk pertama kalinya, Bella melihat sesuatu yang mirip rasa bersalah di wajahnya. “Saya lupa.” “Lupa?” Bella mengerutkan kening, memastikan dirinya tidak salah dengar. “Chat kamu tenggelam. Saya juga banyak kerjaan.” Evan melepas sarung tangan mekaniknya. “Sorry.” Bella melongo. Jawaban itu begitu jujur sampai terasa menyebalkan. Ia sudah menyiapkan berbagai alasan yang mungkin dipakai Evan, mulai dari sibuk sampai pesannya memang tidak penting. Namun, ia tidak menyangka pria itu akan mengaku lupa dengan wajah sedatar itu. “Jangan bilang Mas juga lupa soal janji Mas?” “Janji apa?” tanya Evan tanpa ekspresi. Hati Bella terasa tercubit. Ternyata hanya dirinya yang menantikan janji tersebut. Tanpa menjawab, ia berbalik dan melangkah pergi dengan kesal. Namun, baru beberapa langkah, heels setinggi tujuh sentimeter yang dikenakannya menginjak genangan oli di dekat pintu garasi. Kaki kirinya terge

  • Misi Mencuri Hati PNS Ganteng    Bab 6 — Kalo Jodoh Nggak kemana

    “Siapa bilang aku naksir? Aku cuma bosan di rumah.” Bella segera berdiri dan berlari ke kamarnya sebelum ibunya sempat bertanya lebih jauh.“Tunggu ya, Ma! Sepuluh menit!” serunya dari lorong.Sintia menggeleng sambil tersenyum geli. “Jangan sepuluh menit, kamu itu kalau dandan satu jam!”Delapan menit kemudian, Bella sudah berdiri di depan lemari dalam keadaan setengah basah, memegang dua baju sekaligus dengan wajah panik.Blouse putih atau dress biru? Rok plisket atau celana kulot? Apa yang pantas dipakai perempuan yang pura-pura tidak peduli, tetapi ingin terlihat cantik di depan ibu laki-laki yang bahkan tidak membalas pesannya?“Bel, sudah belum?” teriak Sintia dari luar kamar.“Belum, Ma! Dua menit!”Bella buru-buru memilih maxi dress biru navy tanpa lengan dengan potongan leher bulat yang sederhana. Ia menata rambut hazelnya dengan cepat, membiarkan gelombang alaminya jatuh di bahu. Sedikit foundation, blush on, dan lipstik peach melengkapi penampilannya. Ia juga mengenakan sep

  • Misi Mencuri Hati PNS Ganteng    Bab 5 — Gengsi Tingkat Tinggi

    Beberapa hari berlalu tanpa kabar apa pun dari Evan.Selama bekerja, Bella memang tidak punya banyak waktu untuk memikirkan laki-laki itu. Kesibukan di bank cukup ampuh mengalihkan perhatiannya, setidaknya sampai jam kerja berakhir dan ia kembali punya terlalu banyak waktu untuk dirinya sendiri. Perasaan aneh itu muncul lagi, seperti remaja yang baru punya gebetan ganteng.Dan di Sabtu yang cerah ini, perasaan itu justru terasa menyebalkan.Bella sudah mencoba mengisi paginya dengan bereksperimen di dapur, merapikan kamar, bahkan menonton drama yang sempat tertunda. Sayangnya, pikirannya selalu kembali pada satu orang yang berhari-hari tidak memberinya kabar.Dua kali ia membuka kolom chat Evan, mengetik pesan, lalu menghapusnya lagi. Pesan terakhirnya masih menggantung tanpa balasan. Padahal, ia hanya ingin tahu apakah pria itu sudah kembali dari dinas atau belum. Tidak ada salahnya, kan, bertanya begitu?Bella mendengus, kemudian melempar ponselnya ke sofa. Namun, tak sampai semenit

  • Misi Mencuri Hati PNS Ganteng   Bab 4 — Makan Siang Bersama

    Besoknya, Bella sengaja tampil lebih rapi dari biasanya. Rambut hazel panjangnya disanggul dengan beberapa helai dibiarkan membingkai wajah. Riasan tipis dengan blush merah muda dan lipstik pink peach membuat wajahnya tampak segar. Dipadukan dengan seragam teller dan stiletto heels, penampilannya terlihat jauh lebih memukau.“Selamat pagi, Bapak. Ada yang bisa saya bantu?” sapanya ramah kepada nasabah, lengkap dengan senyum profesional yang tak pernah luntur.“Mbak Bella hari ini cantik banget,” puji seorang bapak sambil menyerahkan slip setoran. “Sudah punya pacar belum, Mbak?”Senyum Bella tetap terjaga. “Setoran tunai, ya, Pak? Totalnya dua juta lima ratus ribu rupiah.”Bella sendiri sudah terbiasa menghadapi pertanyaan semacam itu. Namun, hari ini ada alasan lain di balik penampilannya yang lebih ekstra, meski ia sendiri enggan mengakuinya.Pukul dua belas kurang lima menit, Bella sudah duduk di warung soto Betawi seberang gedung Bappeda. Ia bahkan rela menukar jadwal istirahatnya

  • Misi Mencuri Hati PNS Ganteng   Bab 3 — Utang Budi

    Bella hampir tersedak. Jadi, tiga puluh menit tadi termasuk rekor bagi Evan? Ia tidak tahu harus merasa bangga atau malah tersinggung.“Terus, dia ganteng, kan?” desak Sintia, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.“Lumayan,” jawab Bella santai sambil menggigit pisang gorengnya.“Lumayan?!” Sintia menatapnya tak percaya, lalu terkekeh. “Tapi, rambutnya masih ada, kan?”“Ada, Ma. Lengkap.” Bella memutar bola mata, kemudian buru-buru bangkit sebelum ibunya melancarkan pertanyaan berikutnya. “Aku masuk kamar dulu, ya!”Begitu pintu kamar tertutup, Bella menjatuhkan diri ke kasur dan menatap langit-langit.Ini tidak masuk akal. Evan bicara seperti sedang membaca laporan keuangan, terang-terangan mengaku datang hanya untuk memenuhi permintaan ibunya, lalu pergi tanpa menoleh.Namun, yang terus terbayang di kepala Bella justru jam tangan Seiko di pergelangannya, urat di punggung tangannya, dan senyum tipis yang sempat muncul.“Aku cuma penasaran,” gumamnya, menutupi wajah dengan bantal. “P

  • Misi Mencuri Hati PNS Ganteng   Bab 2 — Pertemuan

    Hari Minggu akhirnya tiba. Karena sejak awal tidak berminat dengan perjodohan ini, Bella hanya mengenakan kaos putih oversize, jeans, dan heels kesayangannya. Rambutnya dikuncir seadanya, sementara wajahnya dibiarkan tanpa riasan. Sintia sempat memelototinya dari depan kamar, tetapi Bella pura-pura tidak melihat.Setibanya di kafe, Bella langsung mencari meja dekat jendela, sesuai petunjuk yang diberikan Evan. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat seorang laki-laki berkemeja hitam tengah sibuk dengan laptopnya.Laki-laki itu tampan, dengan rahang tegas, hidung mancung, dan alis tebal. Tubuhnya tegap, sementara lengan kemejanya yang pendek memperlihatkan otot lengannya yang terbentuk jelas. Rambutnya pun tebal dan tertata rapi.Bukan, pasti bukan dia. Evan kan botak!Bella kembali memeriksa pesan di ponselnya. Namun, sebelum sempat memastikan, laki-laki itu sudah lebih dulu mendongak.“Bella?” panggilnya sambil menatap perempuan yang berdiri tak jauh dari mejanya.Bella tertegun. S

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status