تسجيل الدخولAmber Reign Acosta embodies all of the characteristics of a true playgirl: she is gorgeous, brazen, wild, and aggressive. Any man would do anything, even beg on their knees, to be with her, but there is always going to be an exception. As she chases and fulfills her one and only goal, which is to capture the billionaire’s heart, she will find herself in a contract marriage with him. Just as carefree as she’s always been, a single mistake altered the course of her romantic life. How will she adapt to something she has never experienced before? Will she give in to the voice in her head that won’t stop shouting Flavian Smith’s name? Or should she give herself the freedom to search for another man who can become the focus of her attention?
عرض المزيدSikat gigi di kantong dan handuk yang tersampir di bahu hampir terjatuh begitu saja kala Dinara bersitatap singkat dengan lelaki yang pagi- pagi telah berdiri di depan pagar rumahnya.
Jemari panjangnya dengan cekatan membuka kunci gerbang. Mata yang belum terbuka sepenuhnya itu sedikit menyipit saat menemukan sosok tinggi mengenakan kaos tanpa lengan dan sepatu olahraga berdiri dihadapannya. Orang itu jelas baru selesai olahraga pagi. Tidak seperti Dinara yang baru saja beranjak dari ranjang kesayangannya. Kalau bukan karena suara baritone orang dihadapannya ini, Dinara mungkin masih sibuk berkelana dalam mimpi.
Memang apa yang diharapkan dari hari minggu Dinara? Setelah setiap hari bekerja sambil kuliah, setidaknya dia ingin minggu menjadi hari santainya.
Dinara masih mengenakan kaos kebesaran ditambah rambutnya super acak- acakan. Bahkan dia tak repot- repot mengenakan alas kaki untuk keluar rumah.
"Cari siapa, ya?" tanyanya sembari masih berusaha mengumpulkan nyawa.
Lelaki yang memegang kotak bening itu mematung sebentar. Beberapa detik kemudian senyumnya tercetak jelas meskipun wajahnya ditutupi masker berwarna hitam. Untuk beberapa saat Dinara sempat terpana karena garis dahi lelaki itu menurutnya sangat menawan.
Dia bahkan sudah kelihatan tampan saat masih menggunakan masker. Selain itu, postur fisiknya lumayan. Tinggi semampai, rambut sedikit panjang yang basah ditambah dengan otot bisep dan dada yang sepertinya cukup terlatih.
Dinara hampir saja menganga karena menurutnya laki-laki tersebut bahkan ada diatas rata- rata tampan. Kapan lagi dia bisa mendapat pemandangan gratis se-menyenangkan ini?
"Maaf mengganggu pagi- pagi, saya tetangga baru disebelah." Lelaki itu membuyarkan lamunan Dinara sebentar. Dia menunjuk rumah yang berada tepat disebelahnya. Dinara ikut melirik kesamping dan baru menyadari bahwa rumah kosong disebelahnya ternyata kini telah berpenghuni.
Oh tetangga baru, ya? Dalam hati saja Dinara sudah jingkrak-jingkrak tak karuan. Mimpi apa dia semalam tiba- tiba punya tetangga ganteng begini?
Dinara fokus pada hazel gelap dan bulu mata tebal yang mengerjap kearahnya. Laki- laki itu jelas punya jenis tatapan yang mempesona.
Meskipun Dinara cukup lama menjomblo dan memang sedang tak punya secuil pun ketertarikan untuk menjalin hubungan sekarang ini, melihat lelaki tampan tetap saja merupakan bagian dari cuci mata yang sah-sah saja.
"Ini dari mama saya, sebagai perkenalan dengan tetangga," lanjut lelaki itu.
Dinara perlahan menerima uluran dua kotak kue dengan senang hati. Kalau tadi dia sempat terpesona dengan si lelaki, kali ini fokusnya dicuri oleh dua kotak coklat cookies yang dia pegang. Memang pesona makanan gratis amat bisa mengalahkan apapun baginya.
"Terimakasih," Dinara berujar tulus nan riang. Senyumnya mengembang cerah, hampir mengalahkan binar matahari pagi ini. Ada keheningan sebentar sebelum suara lelaki itu kembali mengalun lembut.
"Dinara.."
"Ya?" Dinara refleks menyahut dengan senyuman.
Tapi sebentar...
Mereka baru bertemu pagi ini, kan? Bagaimana bisa laki- laki dihadapannya itu langsung tahu namanya?
Senyum di wajah Dinara perlahan memudar. Dia menatap lelaki asing tersebut dengan was-was. Apa jangan- jangan orang itu adalah penguntit?
"Remember me?"
Dahi Dinara makin berkerut. Dia tiba- tiba saja merasa bulu kuduknya merinding. Ditambah lagi, suara baritone yang dalam dan serak itu tiba- tiba terdengar familiar bagi indra pendengarannya.
Dengan tinggi 168 senti, Dinara masuk golongan perempuan yang cukup tinggi. Tapi laki- laki dihadapannya memang sepertinya punya tinggi yang menjulang juga sehingga Dinara masih harus mendongak untuk menatapnya. Ditengah terpaan kebingungan, Dinara refleks melangkah mundur ketika lelaki asing itu justru mendekat kearahnya.
"K-kamu mau apa?"
Jarak ini terlalu dekat, apalagi untuk lelaki asing yang pertama kali bertemu dengannya. Wangi alami tubuh sang lelaki menyeruak memenuhi indra penciuman Dinara membuatnya sedikit pusing. Bukan karena bercampur keringat, namun karena terlalu maskulin dan sepertinya bisa membuat lututnya lemas, hehehe.
Dengan gerakan pelan, tangan besarnya membuka masker perlahan. Saat itu, Dinara sempat terpana karena seperti dugaannya, lelaki dihadapannya memang diatas kata tampan.
Tapi tunggu dulu, kenapa wajah ini terlihat familiar?
Dinara melotot sekaligus melongo. Dia hampir saja terjerambab ke belakang jika saja tangan besar itu tidak menahan pinggangnya. Kini deru nafas lelaki dihadapannya terasa makin dekat berhembus di kulit wajahnya.
Sebuah senyuman iblis terpatri disana, menggantikan segala kelembutan yang sempat Dinara bayangkan. Laki- laki dihadapannya sekarang bukanlah malaikat, melainkan iblis yang menyamar di bumi.
"N-ngapain disini?!" Dinara akhirnya berhasil menjaga keseimbangan dan mendorong keras tubuh besar itu untuk memberi jarak. Dia tak bisa lengah apalagi ketika menyadari tatapan yang berusaha keras dia lupakan sejak lima tahun lalu itu.
Kedua alis laki- laki tersebut naik dibarengi bibirnya yang menyeringai, "udah jelas, kan?"
Dinara merutuk, bagaimana bisa laki- laki ini menjadi tetangganya sekarang? Bagaimana nasib hari-hari temaram Dinara selanjutnya?
"Apa kabar, Dinara?"
Hampir saja jantungnya mencelos kebawah karena sebuah pertanyaan sederhana. Gadis itu berusaha mengumpulkan kembali kesadaran dan rasionalitas yang telah dia rangkai bertahun- tahun. Dia tak akan terjebak lagi akan pertanyaan klise yang disampaikan iblis dihadapannya itu.
Pandangannya kini berubah dingin nan menajam. Dinara mengeraskan rahangnya tak gentar.
"Lo lihatnya gimana?" dia menjawab ketus.
Lelaki itu tertawa kecil, dia menatap Dinara dari atas ke bawah yang membuat Dinara benar- benar risih.
"Tentu, lo masih kelihatan luar biasa. Masih sama cantiknya seperti dulu," ujarnya santai sembari memasukkan kedua tangannya di kantong celana pendek yang dia kenakan.
Tidak ada pipi merona atau debaran menyenangkan yang Dinara rasakan. Saat ini dia justru terus meningkatkan genderang kewaspadaan.
"Baru bangun tidur, ya?"
Pertanyaan semakin sok akrab dan Dinara sangat benci itu.
"Bukan urusan lo!"
Lelaki itu kembali tertawa kecil, "anyway.."
Dia menjeda kalimat sembari menggaruk kepalanya yang sepertinya tidak gatal. Lalu berdehem, "enggak sebesar itu tapi laki- laki manapun bisa saja tergoda."
Dahi Dinara makin mengerut, lelaki dihadapannya menjeda dengan berdehem lagi untuk kesekian kali.
"Sebaiknya jangan dipamerin."
Telunjuknya mengarah dengan kurang ajar. Dinara tanpa sadar mengikuti kemana arah telunjuk itu berlabuh.
"Nyeplak," tandas lelaki itu akhirnya. Dia tersenyum miring saat Dinara akhirnya menyadari kemana arah pembicaraan ini.
Gadis itu jelas melotot kaget. Dia menutup gerbang secara cepat lalu berlari masuk dan segera membanting pintu utama keras- keras. Cookies dia letakkan di meja dan tangannya kini reflek menyilang di depan dada.
Dinara menghentakkan kedua kakinya keras, rasanya dia ingin menghilang dan pindah ke Planet Mars sekarang.
"SANDI ARSENA BRENGSEK!"
“Did he really say that?!” Freesia exclaimed, her face crimson, as she was trying to suppress her laughter.My smile faded as I remembered what happened the night before.“Yes! It caught me off guard as well. Did I look bad last night?” I asked in astonishment.Freesia and I are currently in a coffee shop, where we decided to have a cup of coffee. It was already afternoon when we decided to stop by because we also woke up late due to a hangover.Desiree couldn’t join us because she had plans with her family, and Hailey is probably still sleeping because of all the alcohol she drank last night.“Well, Flavian has been like that ever since. Intimidating and aloof. And last night wasn’t the best time for you to be interested in him.” She replied.My brow furrowed in perplexity, “Why?”“Well, I just found out he broke up with his girlfriend.” She said as she sipped her coffee.“He’s got a girlfriend?” I asked in disbelief. I mean, he’s got good looks, but I didn’t think he could be in a r
The girls and I settle into the couch, making ourselves comfortable. I couldn’t stop glancing around the bar, hoping to catch sight of that guy from earlier…the one who made me feel things I wasn’t sure I wanted to feel.But he had vanished after our little conversation. Disappeared into the crowd without a trace.“I heard Free’s cousins are coming tonight,” Desiree says casually as she picks at an appetizer from our table.I raise an eyebrow, trying to focus on the conversation and not on my wandering thoughts. “Really? I didn’t know she was close with her paternal side,” I comment, taking a sip of my drink. “I always see her with her cousins from Aunt Fatima’s side, like Natasha.”“Well, apparently, they’re more focused on business. You know, the serious, no-nonsense types.”“Oh, so they’re boys?” Hailey chimes in.“If they are, I bet they’re middle-aged with wrinkles from sitting in an office all day,” I joke, making the girls laugh.But before I can continue with another joke, I h
“Hmm…” I make a fake moan as Cade—no, wait, maybe it was Wade—keeps kissing my neck. His warm breath fans against my skin, and I grab the back of his head, pressing him harder against me, like I’m encouraging him to take full advantage of the opportunity I’ve so generously provided.But the truth is, I’m already getting bored.This is supposed to be fun, right? A distraction? Yet, the excitement I’d hoped to find in this fleeting moment is fizzling out.His kisses are growing more eager, heading somewhere that I’m not planning to let him go. I gently pull away, slipping out of his embrace. His breathing is heavy, his hair disheveled, and I can see the lustful glint in his eyes. He thinks this is going somewhere.“Shall we continue this at my place?” he offers, a cocky smirk spreading across his lips.I chuckle. “I have plans tonight—”Before I can finish, my phone rings. Freesia’s name lights up the screen. Perfect timing.“Amber, where are you?!” Freesia’s voice is sharp on the othe
The café buzzes around me—laughter, the clinking of plates, whispers that are just loud enough to be heard. Eyes are on me, like always, but I’ve mastered the art of pretending not to notice. They watch, they whisper, but none of them know me.I look at the expensive watch on my wrist. That Marcus is already five minutes late. How dare he make me wait!“If he doesn’t show up in a minute, I’ll leave.” I whispered to myself. If it wasn’t just my father wanting me to try to date that guy who is his business partner’s son, I wouldn’t be here.The door chimes, and I glance up just in time to see Marcus approaching. He’s handsome, I’ll give him that. Tall, sharp features, and dressed in a formal attire. He looks like he’s stepped out of a high-end magazine, exactly the type my parents would approve of.But as soon as he sits down, I can feel the weight of his arrogance pressing on me. His smile is too easy, too practiced, and I already know how this is going to go.“Amber, right?” Marcus


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.