เข้าสู่ระบบ"Davin!" teriak Mark.
"Aku masih berusaha menariknya," balas Davin mengerti maksud Mark. "Ah, sial," umpat Arga sangat panik. "Awas!" teriak Wisnu yang melihat di depan ada jurang. Mark dan Arga dengan kuat memutar setir kemudi. Mereka menghindari jurang agar tidak terjatuh ke sana. Di sekitar jalanan yang mereka lewati banyak jurang yang dalam. "Kalian semua pegangan yang erat. Kita bisa saja mengalami kecelakaan," teriak Mark dengan keras. "Apa!" teriak para siswa-siswi. Mereka dengan patuh mencari tempat pegangan yang cocok. Di antara terkejut dan masih syok mereka berusaha melindungi diri sendiri. Karla yang berbadan gemuk segera memeluk Sherly dan Putri. Dia ingin melindungi mereka berdua dengan tubuhnya. Tubuhnya yang berisi bisa melindungi orang. "Karla," ujar Putri kaget melihat Karla melindungi mereka. "Kalian jangan banyak bergerak," sahut Karla tersenyum. "Karla," ucap Sherly dengan mata sedih. "Aku hanya ingin melindungi sahabat aku." "Aku tidak akan mati kejepit kan," timpal Sherly menghilangkan rasa takutnya. "Sherly," tegur Putri. "Aku sangat takut," ujar Sherly memeluk Putri dan Karla dengan erat. "Kita pasti akan selamat," kata Karla dengan tidak yakin. Putri dan Sherly memeluk Karla dengan erat. Mereka sangat berharap akan baik-baik saja. Serta Karla yang membalas memeluk mereka. Mark dan Arga sangat kesusahan mengambil alih kendali. Tangan sang sopir bergerak sendiri secara tidak teratur dan mencengkram setir kemudi dengan kuat. Seperti sudah terlem mati di sana. "Davin, apa masih belum bisa?" tanya Bagas masih menahan tubuh sopir. "Aku tidak bisa menariknya. Kakinya sudah sangat kaku," sahut Davin menarik sekuat tenaga. Hal yang tidak diinginkan pun terjadi. Bus sudah tidak bisa dikendalikan lagi dan menabrak pembatas jalan setelah berliuk-liuk tidak karuan di jalan. Bus itu masuk ke dalam jurang. Bus tersebut berguling-guling beberapa kali di pinggir jurang sebelum terdampar di kaki jurang. "Aaaa …." Teriak mereka saat bus menabrak pembatas jalan. "Berlindung!" teriak Mark sebelum bus masuk ke jurang. Mark segera menarik Arga dan Davin. Mereka bertiga saling melindungi dan berpegangan yang kuat pada apapun. Wisnu dan Bagas melepaskan tubuh sang sopir. Mereka berdua segera berjongkok dan meletakkan kedua tangan di atas kepala untuk melindungi kepala dan tubuhnya. Sesekali tubuh Bagas berbenturan dengan dinding bus saat bus berguling Karla semakin mengeratkan pegangan. Kakinya juga dia taruh di bawah kursi agar mereka tidak terombang-ambing. Mengikuti bus yang berguling. Bu Guru setelah bisa mengendalikan diri mencoba berdiri. Dia ingin membantu Mark dan lainnya. Ketika Mark berteriak, dia linglung dan tidak sempat memegang apapun. Alhasil tubuhnya terlempar mengikuti gerakan bus yang bergelinding. Para siswa lain juga ikut memegang apa yang mereka bisa pegang. Tapi sayangnya banyak di antara mereka yang tidak kuat berpegangan. Tangan mereka terlepas. Sehingga tubuh mereka terlempar seperti Bu Guru. Bus itu berhenti saat menabrak sebuah pohon. Bagian yang menabrak pohon adalah bagian belakang bus. Sehingga keadaan bus bagian belakang sangat hancur. *** Sherly membuka mata dengan pelan ketika bus sudah berhenti bergelinding. Dia berusaha mengintip lewat bahu Karla. Karla masih memeluk mereka berdua dengan sangat erat. Banyak siswa yang tergeletak di atas kursi dan juga lantai. Apalagi bagian bus belakang yang sangat parah. Para siswa-siswi terjepit di sana. Tubuh Ibu Guru juga terletak di lantai dengan darah di sekujur tubuh. "Huhuhu," Sherly hanya bisa menangis ketakutan melihat semua itu. Karla yang yakin sudah aman melepaskan Sherly dan Putri. Dia juga terkejut melihat kondisi teman-teman yang lain. Untung dia bisa memegang dengan erat. Bersyukur pada kekuatan tubuhnya yang gemuk. Putri segera memeluk Sherly lagi. Dia harus kuat dan tidak boleh terlihat takut. Jika dia takut maka akan menambah masalah. "Sherly takut," ujar Sherly memeluk Putri balik. "Kamu yang tentang ya Sherly. Kita pasti akan baik-baik saja," bujuk Putri melirik ke arah Karla minta bantuan untuk membujuk Sherly. "Kita pasti akan baik-baik saja," sambung Karla menepuk bahu Sherly. "Teman-teman yang lain …," ucap Sherly tidak bisa meneruskan kata-katanya. "Mereka …." Mark membuka mata setelah bus berhenti. Dia bisa merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya. Kepalanya tadi terbentur dengan keras dan sedikit sobek di bagian dahi. Dia menggerakkan tangan ke arah kepala menahan darah agar tidak keluar lagi. Mark bangun dengan kepala yang berdenyut. Menggeleng kepala sebentar untuk mengurangi rasa sakit yang berdenyut. Lalu matanya beralih menatap keadaan teman-temannya yang sangat miris. Di sampingnya, Arga dan Davin juga ikut berdiri. Diikuti oleh Wisnu dan Bagas. "Ah, tangan aku," gumam Bagas memegang tangannya yang patah akibat berbenturan keras dengan besi. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Wisnu memeriksa tangan Bagas. "Tangan aku sepertinya patah. Ini sakit sekali," ngeluh Bagas memeluk tangan kirinya dengan tangan kanan yang tidak terluka. Bagas menahan tangan kiri dengan tangan kanan. Tangan kirinya terasa sangat sakit jika digantung dan dibiarkan begitu saja. "Bagas, kamu harus bersyukur tangan kamu hanya patah. Lihatlah keadaan teman-teman kita yang lainnya, lebih mengerikan," ujar Wisnu yang sudah melihat keadaan yang lain. Bagas segera mengalihkan mata ke arah teman-temannya. Dia belum melihat keadaan di sekitarnya. Hanya berfokus pada diri sendiri dan tangannya. Setelah mengetahui kondisi temannya yang lebih parah, dia sangat bersyukur tangannya hanya patah saja. Masih diberikan kesempatan untuk hidup. "Kalian tidak apa-apa?" tanya Mark mendekat. "Aku tidak apa-apa. Tapi tangan Bagas patah," jawab Wisnu menunjuk ke tangan Bagas. "Bagaimana tangan kamu Bagas?" tanya Mark lagi. "Aku sudah tidak apa," kata Bagas menguatkan diri dan menahan rintihan kesakitan. Tangannya langsung berdenyut ketika digerakkan. "Apa kalian baik-baik saja," ujar Davin kepada Sherly dan lainnya yang masih bergerak. "Kami baik-baik saja. Kami tidak ada yang terluka," sahut Putri. "Syukurlah," ujar Davin sedikit lega. "Ayo kita periksa teman yang lain. Siapa tahu masih ada yang selamat," ajak Mark. "Tunggu dulu, biarkan Putri, Sherly dan Karla turun dulu. Kasihan mereka jika terus berada di dalam bus," cegah Davin tidak mau mereka melihat darah yang berserakan. "Baiklah. Putri, kalian turun terlebih dahulu. Kalian tunggu kami di bawah sana," suruh Mark. "Tapi di luar sana sangat gelap. Kami takut. Kami ini cewek," sahut Karla melirik takut-takut ke arah luar bus. "Wisnu, Bagas, kalian berdua temani mereka bertiga. Biar aku, Davin dan Arga yang akan memeriksa mereka," suruh Mark lagi. Mark tidak mungkin membiarkan Bagas memeriksa yang lain. Tangan Bagas dari tadi meneteskan darah tanpa henti. "Ayo Sherly," ajak Putri memeluk punggung Sherly. Bersambung ….Setelah berjuang akhirnya Sherly berhasil naik ke atas bahu Arga dan Wisnu. Dia berdiri dengan setengah tegak untuk mengintip ke luar lobang. Mengawasi ke arah sekitar apa aman atau. Mencari keberadaan hantu sopir agar bus tidak ada di sana. "Bagaimana Sherly?" tanya Putri paham kenapa Sherly tidak langsung naik ke atas tanah. "Apa hantu nya masih ada?" sambung Mark dengan kepala menunduk. Dia tidak bisa melihat ke atas. Air kotor mengalir dari arah kepala. "Aman, hantu itu tidak ada," lapor Sherly. "Cepat naik," suruh Davin. Sherly dengan perlahan menyingkirkan daun yang menutupi lobang. Supaya dia bisa keluar dari sana. Sesudah daun itu disingkirkan, dia sekuat tenaga berusaha untuk merangkak naik ke atas. Sherly memegang rumput agar bisa naik. Setelah pegangan kuat, satu kakinya dinaikan ke atas. Dengan satu kaki lagi dibantu dorong oleh Arga dan Wisnu. "Cepat!" teriak Wisnu. "Iya, aku sedang berusaha ini," sahut Sherly Sherly berhasil naik ke atas dengan selamat. Setelah
Mereka memikirkan perkataan Sherly tentang dendam. Hantu yang bergentayangan cenderung karena ada hal yang belum mereka selesaikan. Bisa jadi balas dendam atau hal yang mengganjal sebelum meninggal. "Tunggu dulu, aku sudah ingat sekarang. Apa kalian tahu tentang bus yang mengalami setahun yang lalu. Bus itu kecelakaan di tengah hutan dan masuk ke jurang juga. Para korban adalah siswa dan guru," ucap Arga baru teringat kasus yang dia lihat televisi. "Apa tempatnya juga di sini?" tanya Mark. "Aku tidak tahu tempat ini apa namanya. Yang jelas kecelakaan itu di pegunungan Tangse. Kecelakaan itu sangat aneh. Tidak ditemukan sopir bus. Hanya ada korban yang sudah meninggal semuanya. Tidak ada yang selamat satupun," sambung Arga. "Kamu yakin?' tanya Sherly takut sambil menelan ludah. "Aku juga ada dengar kabar itu. Kecelakaan itu disebut dengan misteri bus setan," bela Wisnu. "Untung kali ini kita bisa selamat," syukur Mark masih diberikan kesempatan hidup. "Ini pasti ada sangkut paut
"Mark, bagaimana kalau kita istirahat dulu di sini," saran Davin. Perjalanan yang mereka lewati dari tadi membuatnya sangat lelah. "Iya, aku setuju. Aku capek," sahut Karla cepat sebelum ada yang punya ide untuk berlari lagi. "Istirahat di sini?" tanya Mark. "Di sini mungkin lebih aman daripada kita luar di sana. Kita bisa saja ditemukan dan dikejar lagi," terang Davin. "Baiklah, kita istirahat dulu di sini," putus Mark melihat teman lain sudah capek semua. Mark tidak mau memaksa mereka. Mereka sudah berlari dan berjalan cukup jauh. Tubuh mereka butuh istirahat sejenak. Putri meraih handphone ingin menyalakan senter. Tempat itu terlalu gelap dan tidak bisa melihat dengan jelas. Tidak bisa melihat apa-apa. "Jangan Putri," larang Sherly menutupi cahaya yang dikeluarkan dari senter dengan tangannya. Menghalangi cahaya menerangi mereka. "Kenapa? Di sini sangat gelap," ujar Putri melihat ke arah Sherly. "Putri, jangan nyalakan senter, kalian juga. Kalau kita menyalakan senter, n
"Karla!" "Aaaa!" Namun langkah mereka terlambat. Tubuh Karla terus saja menggelinding dengan cepat. Tubuhnya baru berhenti setelah mengenai hantu sopir bus. Dia menabrak hantu sopir bus seperti main bowling. Tubuh hantu sopir bus terlempar beberapa meter jaraknya dari Karla. Kepala yang ada di tangan ikut terlempar ke atas pohon. Dengan badan yang nyungsep ke dalam semak-semak. "Bantu Karla, cepat!" perintah Sherly mumpung hantu sopir bus itu sedang kehilangan kepala dan nyungsep. Mark, Davin, Wisnu dan Arga dengan cepat membantu Karla untuk bangun. Karla masih telungkup tidak bisa bangun sendiri. Dengan kepalanya yang berkunang-kunang efek menggelinding. "Aaaa, kenapa dunia ini berputar," gumam Karla. Hantu sopir bus segera bangun dari semak. Dia berjalan meraba-raba tanpa kepala. Tidak bisa melihat arah jalan. Kakinya sempat tersandung akar pohon dan terjatuh kembali. Dia bangkit lagi mencari kepala yang tersangkut di atas dahan pohon. Kepala hantu sopir bus berkedip-kedip
"Kalian diamlah, jangan berteriak. Kita tidak tahu cara Bagas menghilang. Bisa saja yang membawa Bagas itu akan menargetkan kita juga," larang Mark demi keamanan mereka. "Apa ini perbuatan binatang buas?" tanya Sherly. "Ini tidak mungkin pelakunya binatang buas. Kalau binatang buas menemukan Bagas, setidaknya ada banyak darah yang berceceran," terang Mark. "Atau bisa jadi Bagas beneran dibawa oleh hantu bus tadi," tambah Putri. "Putri, kamu jangan takut-takutin kami," tegur Sherly tidak mau bertemu dengan hantu bus lagi. "Aku tidak mau nakut-nakutin kalian. Ini hanya prediksi aku saja. Kalau bukan dia siapa lagi. Memangnya ada orang lain selain kita di hutan ini?" sahut Putri. Sherly langsung merinding mendengar perkataan Putri. Tangannya reflek memeluk tubuh sendiri. "Mark, darahnya memang hanya sampai di sini saja. Tidak ada lagi darah di sekitar sini," ujar Arga sudah menerawang ke area sekitarnya lebih jauh. "Sekarang kita sama sekali tidak ada petunjuk lagi tentang kebera
Tidak ada satupun di antara mereka yang menyadari suara Bagas terjatuh. Jarak yang cukup jauh serta suara hewan di tengah malam membuat suara bercampur aduk. Bagas ingin berteriak sekeras mungkin. Tangan dia yang patah tertimpa oleh tubuhnya sendiri. Belum sempat dia melakukan pemberontakan lagi, tubuhnya tiba-tiba diseret ke arah semak-semak sampai menghilang. Hantu bus menarik kerah belakang baju Bagas dengan tangan yang satu lagi. Dengan kepala ditaruh di lengan yang telah kehilangan tangan. Dia berjalan dengan perlahan masuk ke dalam hutan. Menarik tubuh Bagas dengan tenang. *** Suara burung dan serangga dalam hutan saling bersahutan, memecahkan kesunyian hutan. Membuat Sherly, Karla dan Putri semakin merapat. Mereka belum pernah berada di tengah hutan saat malam hari seperti ini. Mereka hanya pernah mengunjungi Villa dengan hutan yang tidak terlalu lebat dan juga memiliki penerangan yang lebih memadai. Mereka bertiga saling menguatkan diri. Tangan mereka juga saling bergande







