Início / Horor / Misteri Bus Setan / Bab 7. Hanya Mereka Yang Selamat

Compartilhar

Bab 7. Hanya Mereka Yang Selamat

last update Última atualização: 2026-01-02 14:28:01

Mereka berlima segera turun dari dalam bus. Berdiri tidak terlalu jauh dari jangkauan bus. Untung saja bulan bersinar terang, jadi mereka masih bisa melihat arah sekitar dengan remang. Di tambah lampu bus yang masih menyala.

Sherly sekarang sudah menangis tersedu-sedu mengingat keadaan teman-temannya. Dia sangat shock. Belum pernah dia mengalami kecelakaan seperti itu seumur hidupnya.

"Bagas, kamu tidak apa-apa? Lengan baju kamu sudah basah," tanya Wisnu khawatir melihat Bagas yang sesekali mengernyit alis menahan sakit.

Pertanyaan Wisnu membuat Sherly menoleh ke arah tangan Bagas. Lalu berjalan mendekat saat tahu tangan Bagas terluka.

"Aku masih kuat kok. Tidak apa argh," balas Bagas merintih sakit.

"Hiks ... hiks … Bagas, tangan kamu kenapa?" tanya Sherly di sela menangis.

"Tangan Bagas patah," lapor Wisnu.

Sherly, Karla dan Putri melihat ke arah tangan Bagas. Mereka baru menyadari jika baju Bagas telah basah dalam remang-remang. Basah karena ditetesi oleh darah. Mereka tadi tidak menyadarinya.

Sherly menahan isak tangisnya. Lalu dia memeriksa keadaan tangan Bagas. Tangan Bagas harus segera diberikan pertolongan pertama. Sebelum bertambah parah

"Bagas, ayo lepas jaket kamu," suruh Sherly setelah selesai memeriksa Bagas.

"Tidak apa-apa, kok," elak Bagas tidak mau membuat mereka khawatir.

"Tangan kamu harus dibalut biar darahnya tidak keluar lagi," kata Sherly tidak mau kalah.

"Aku tidak apa-apa. Lagian bukannya kamu takut sama darah?" tanya Bagas yang mengetahui phobia Sherly.

"Iya Sherly, kamu kan sangat takut sama darah kan. Kenapa kamu mau lihat lukanya Bagas," sambung Karla.

"Aku memang takut sama darah. Tapi aku lebih takut kalau aku kehilangan teman aku lagi. Aku tidak mau," ujar Sherly dengan mata berkaca-kaca.

Bagas akhirnya melepaskan jaket yang digunakan dengan pelan-pelan. Tidak tega melihat muka Sherly yang berniat membantunya. Dia sedikit kesulitan melepaskan jaket agar tangannya tidak kena atau bergerak sembarang.

Mereka berempat menatap tangan Bagas dengan ngeri setelah jaket dilepaskan. Bagian lengan bawah Bagas sudah remuk. Ada tulang yang bahkan sudah menembus kulit. Pantesan Bagas merintih kesakitan. Lukanya saja sangat parah.

"Ini pasti sangat sakit," ujar Sherly ngeri dan sedih.

Sherly segera mengeluarkan sapu tangannya dari dalam tas punggung. Tas yang tidak lepas dari tubuhnya. Dia menggunakan semua sapu tangan yang di dalam tas untuk membalut luka Bagas seadanya. Dia memang sering membawa banyak sapu tangan ke manapun karena takut kotor.

Sherly kali ini tidak terlalu takut sama darah. Fokusnya membantu Bagas. Jadi tidak terlalu fokus sama darah.

"Sherly, pakai ini," ujar Karla setelah Sherly selesai membalut tangan Bagas.

Karla melepaskan baju blazernya. Lalu menyerahkan kepada Sherly. Lumayan bisa menahan tangan kiri Bagas yang terluka.

"Baik," sahut Sherly.

Sherly menerima blazer milik Karla. Blazer itu bisa digunakan untuk menopang tangan Bagas. Tangannya dengan telaten mengikat blazer itu ke leher Bagas. Setelah itu dia meletakkan tangan Bagas di dalamnya dengan hati-hati.

"Apakah masih sakit?" tanya Sherly setelah selesai.

"Ini sudah lumayan. Setidaknya darah sudah berhenti. Terima kasih," ucap Bagas lebih nyaman tangannya dibuat gendongan.

"Syukurlah," gumam Sherly.

Sherly kembali menangis setelah membantu Bagas. Dia menatap lagi ke arah bus. Berharap jika masih ada temannya yang masih selamat.

***

Mark, Davin dan Arga segera memeriksa kondisi teman yang lainnya. Mereka memeriksa satu persatu. Memastikan kalau tidak ada satupun yang terlewatkan. Mereka hanya bisa bersedih ketika tidak menemukan satupun yang selamat di antara mereka.

"Bagaimana?" tanya Mark berharap Arga dan Davin menemukan ada yang selamat.

Arga dan Davin menggeleng kepala dengan lemah. Hanya mereka saja yang selamat.

"Mark!" panggil Arga dengan menelan ludah.

"Ada apa?"

"Apa kalian lihat ke mana supir bus?" tanya Arga yang menyadari sopir bus tidak ada lagi di dalam bus.

Mark dan Davin segera berlari ke arah depan bus. Sopir bus beneran hilang.

"Sejak kapan dia tidak ada disini?" tanya Mark balik.

"Aku tidak tahu. Aku baru tadi melihatnya."

"Ah, sial," umpat Mark.

"Apa yang harus kita lakukan sekarang," gumam Davin dengan lesu.

"Sebaiknya kita keluar dulu. Kita harus diskusi sama teman-teman yang lain," saran Mark.

"Aku setuju," sahut Arga.

Mark, Davin dan Arga turun dari dalam bus. Menghampiri Sherly dan lainnya sudah menunggu dari tadi.

***

"Bagaimana keadaan teman-teman yang lain?" tanya Sherly memegang baju Mark.

Mark sulit untuk mengatakan yang sesungguhnya. Dia juga tidak bisa berbohong. Nanti akan ditanya lagi dimana mereka.

"Mereka tidak ada yang selamat," jawab Mark dengan berat.

"Tidak! Tidak mungkin!" teriak Sherly tidak terima.

"Sherly, sabar," kata Karla menepuk punggung Sherly.

"Kenapa ini semua terjadi sama kita. Apa salah kita," sambung Sherly.

"Sherly, kita harus tenang. Tidak ada yang mau seperti ini. Ini adalah musibah," bujuk Putri.

"Terus, sekarang kita bagaimana. Di sini sangat gelap?" tanya Wisnu.

"Kita sebaiknya mengambil barang seperlunya dari dalam bus. Kita harus pergi dari sini. Sopir bus itu menghilang tanpa jejak. Bisa saja dia kembali dan ingin mencelakai kita," ajak Mark.

"Menghilang tanpa jejak?" tanya Putri melirik ke Karla dan Sherly.

"Iya, oleh karena itu kita harus berhati-hati. Kita akan cari cara bagaimana keluar dari jurang ini," tambah Mark.

"Apa kita tidak menunggu bantuan saja?" tanya Sherly takut berjalan di tengah hutan.

"Kita harus ambil handphone dan minta pertolongan, Sher. Mereka tidak akan tahu kita di bawah sini kalau kita tidak ada yang menelepon mereka," ujar Davin.

"Iya, kita harus mencari bantuan. Ayo kita ambil barang seperlunya saja. Jika memang tidak ada sinyal seperti tadi, kita terpaksa harus jalan kaki ke atas. Percuma saja kita menunggu kalau tidak ada yang tahu kita di sini," sahut Mark setuju dengan Davin.

"Aku setuju," sahut Putri.

"Bagaimana Sher?"

"Aku juga setuju," sahut Sherly tidak ada pilihan.

"Ingat, ambil barang yang seperlunya saja. Kita juga harus menjauhi bus ini untuk berjaga-jaga. Bisa saja bus ini juga meledak kapan saja," tambah Mark.

***

Mereka naik kembali ke dalam bus. Mencari barang-barang yang sekiranya diperlukan. Yang bisa mereka gunakan.

Sherly segera mencari handphone miliknya yang berada di bawah tempat duduk. Handphone itu terjatuh dari tangan saat bus menggelinding.

"Aduh, dimana handphone aku. Kok nggak ada. Semoga saja handphone aku tidak rusak," gumam Sherly dengan berjongkok di bawah bangku.

Setelah dicari-cari, Sherly menemukan handphone itu di dekat jasad Bu Guru. Untung saja dia menggunakan aksesoris handphone yang bisa menyala di tempat yang gelap. Jadi bisa menemukan dengan mudah. Aksesoris yang menjadi favoritnya.

Bersambung ….

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Misteri Bus Setan   Bab 17. Keluar Dari Lobang

    Setelah berjuang akhirnya Sherly berhasil naik ke atas bahu Arga dan Wisnu. Dia berdiri dengan setengah tegak untuk mengintip ke luar lobang. Mengawasi ke arah sekitar apa aman atau. Mencari keberadaan hantu sopir agar bus tidak ada di sana. "Bagaimana Sherly?" tanya Putri paham kenapa Sherly tidak langsung naik ke atas tanah. "Apa hantu nya masih ada?" sambung Mark dengan kepala menunduk. Dia tidak bisa melihat ke atas. Air kotor mengalir dari arah kepala. "Aman, hantu itu tidak ada," lapor Sherly. "Cepat naik," suruh Davin. Sherly dengan perlahan menyingkirkan daun yang menutupi lobang. Supaya dia bisa keluar dari sana. Sesudah daun itu disingkirkan, dia sekuat tenaga berusaha untuk merangkak naik ke atas. Sherly memegang rumput agar bisa naik. Setelah pegangan kuat, satu kakinya dinaikan ke atas. Dengan satu kaki lagi dibantu dorong oleh Arga dan Wisnu. "Cepat!" teriak Wisnu. "Iya, aku sedang berusaha ini," sahut Sherly Sherly berhasil naik ke atas dengan selamat. Setelah

  • Misteri Bus Setan   Bab 16. Hujan Turun

    Mereka memikirkan perkataan Sherly tentang dendam. Hantu yang bergentayangan cenderung karena ada hal yang belum mereka selesaikan. Bisa jadi balas dendam atau hal yang mengganjal sebelum meninggal. "Tunggu dulu, aku sudah ingat sekarang. Apa kalian tahu tentang bus yang mengalami setahun yang lalu. Bus itu kecelakaan di tengah hutan dan masuk ke jurang juga. Para korban adalah siswa dan guru," ucap Arga baru teringat kasus yang dia lihat televisi. "Apa tempatnya juga di sini?" tanya Mark. "Aku tidak tahu tempat ini apa namanya. Yang jelas kecelakaan itu di pegunungan Tangse. Kecelakaan itu sangat aneh. Tidak ditemukan sopir bus. Hanya ada korban yang sudah meninggal semuanya. Tidak ada yang selamat satupun," sambung Arga. "Kamu yakin?' tanya Sherly takut sambil menelan ludah. "Aku juga ada dengar kabar itu. Kecelakaan itu disebut dengan misteri bus setan," bela Wisnu. "Untung kali ini kita bisa selamat," syukur Mark masih diberikan kesempatan hidup. "Ini pasti ada sangkut paut

  • Misteri Bus Setan   Bab 15. Istirahat

    "Mark, bagaimana kalau kita istirahat dulu di sini," saran Davin. Perjalanan yang mereka lewati dari tadi membuatnya sangat lelah. "Iya, aku setuju. Aku capek," sahut Karla cepat sebelum ada yang punya ide untuk berlari lagi. "Istirahat di sini?" tanya Mark. "Di sini mungkin lebih aman daripada kita luar di sana. Kita bisa saja ditemukan dan dikejar lagi," terang Davin. "Baiklah, kita istirahat dulu di sini," putus Mark melihat teman lain sudah capek semua. Mark tidak mau memaksa mereka. Mereka sudah berlari dan berjalan cukup jauh. Tubuh mereka butuh istirahat sejenak. Putri meraih handphone ingin menyalakan senter. Tempat itu terlalu gelap dan tidak bisa melihat dengan jelas. Tidak bisa melihat apa-apa. "Jangan Putri," larang Sherly menutupi cahaya yang dikeluarkan dari senter dengan tangannya. Menghalangi cahaya menerangi mereka. "Kenapa? Di sini sangat gelap," ujar Putri melihat ke arah Sherly. "Putri, jangan nyalakan senter, kalian juga. Kalau kita menyalakan senter, n

  • Misteri Bus Setan   Bab 14. Bersembunyi

    "Karla!" "Aaaa!" Namun langkah mereka terlambat. Tubuh Karla terus saja menggelinding dengan cepat. Tubuhnya baru berhenti setelah mengenai hantu sopir bus. Dia menabrak hantu sopir bus seperti main bowling. Tubuh hantu sopir bus terlempar beberapa meter jaraknya dari Karla. Kepala yang ada di tangan ikut terlempar ke atas pohon. Dengan badan yang nyungsep ke dalam semak-semak. "Bantu Karla, cepat!" perintah Sherly mumpung hantu sopir bus itu sedang kehilangan kepala dan nyungsep. Mark, Davin, Wisnu dan Arga dengan cepat membantu Karla untuk bangun. Karla masih telungkup tidak bisa bangun sendiri. Dengan kepalanya yang berkunang-kunang efek menggelinding. "Aaaa, kenapa dunia ini berputar," gumam Karla. Hantu sopir bus segera bangun dari semak. Dia berjalan meraba-raba tanpa kepala. Tidak bisa melihat arah jalan. Kakinya sempat tersandung akar pohon dan terjatuh kembali. Dia bangkit lagi mencari kepala yang tersangkut di atas dahan pohon. Kepala hantu sopir bus berkedip-kedip

  • Misteri Bus Setan   Bab 13. Mereka Ditemukan, Lari!

    "Kalian diamlah, jangan berteriak. Kita tidak tahu cara Bagas menghilang. Bisa saja yang membawa Bagas itu akan menargetkan kita juga," larang Mark demi keamanan mereka. "Apa ini perbuatan binatang buas?" tanya Sherly. "Ini tidak mungkin pelakunya binatang buas. Kalau binatang buas menemukan Bagas, setidaknya ada banyak darah yang berceceran," terang Mark. "Atau bisa jadi Bagas beneran dibawa oleh hantu bus tadi," tambah Putri. "Putri, kamu jangan takut-takutin kami," tegur Sherly tidak mau bertemu dengan hantu bus lagi. "Aku tidak mau nakut-nakutin kalian. Ini hanya prediksi aku saja. Kalau bukan dia siapa lagi. Memangnya ada orang lain selain kita di hutan ini?" sahut Putri. Sherly langsung merinding mendengar perkataan Putri. Tangannya reflek memeluk tubuh sendiri. "Mark, darahnya memang hanya sampai di sini saja. Tidak ada lagi darah di sekitar sini," ujar Arga sudah menerawang ke area sekitarnya lebih jauh. "Sekarang kita sama sekali tidak ada petunjuk lagi tentang kebera

  • Misteri Bus Setan   Bab 12. Bagas Menghilang

    Tidak ada satupun di antara mereka yang menyadari suara Bagas terjatuh. Jarak yang cukup jauh serta suara hewan di tengah malam membuat suara bercampur aduk. Bagas ingin berteriak sekeras mungkin. Tangan dia yang patah tertimpa oleh tubuhnya sendiri. Belum sempat dia melakukan pemberontakan lagi, tubuhnya tiba-tiba diseret ke arah semak-semak sampai menghilang. Hantu bus menarik kerah belakang baju Bagas dengan tangan yang satu lagi. Dengan kepala ditaruh di lengan yang telah kehilangan tangan. Dia berjalan dengan perlahan masuk ke dalam hutan. Menarik tubuh Bagas dengan tenang. *** Suara burung dan serangga dalam hutan saling bersahutan, memecahkan kesunyian hutan. Membuat Sherly, Karla dan Putri semakin merapat. Mereka belum pernah berada di tengah hutan saat malam hari seperti ini. Mereka hanya pernah mengunjungi Villa dengan hutan yang tidak terlalu lebat dan juga memiliki penerangan yang lebih memadai. Mereka bertiga saling menguatkan diri. Tangan mereka juga saling bergande

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status