LOGINSeketika itu juga, taman indah itu runtuh. Lampion padam satu per satu, angin kencang berhembus.
Wajah gadis itu berubah. Senyumnya melebar tak wajar, matanya menajam bagai kaca retak. Tubuhnya tiba-tiba lenyap, berganti dengan kegelapan pekat. Adrian terhempas ke tanah. Ia merasa tubuhnya ditimpa sesuatu yang sangat berat seperti ada beban berton-ton menghancurkan dadanya. Nafasnya tersengal, matanya terbuka tapi tidak bisa melihat apapun. Ia ingin bergerak, tapi tubuhnya terkunci. Sleep paralysis. Mulutnya terbuka, ingin berteriak, tapi hanya suara tercekat yang keluar. “To…lo…ng…” Hanya gumaman lirih. Tubuhnya gemetar, keringat dingin mengalir deras. Sementara itu, di kamar sebelah, Raina menggeliat gelisah di atas ranjang. Ada suara aneh di luar, terdengar lirih, seperti orang mengerang. Ia membuka mata, menajamkan telinga. “Yan…?” panggilnya setengah sadar. Tidak ada jawaban. Hanya terdengar suara berat, seperti desahan tertahan. Raina bangkit, berjalan pelan ke pintu kamar. Ia mendapati Adrian di sofa. Tubuhnya kaku, matanya terbuka, wajahnya tegang. Mulutnya bergerak, tapi suaranya tak jelas. “Ya Allah… Adrian?” Raina buru-buru mendekat, panik. “Yan! Kamu kenapa?” Ia mengguncang bahu Adrian. Tidak ada respon. Tubuh pria itu tetap kaku, seolah terbelenggu. Nafasnya tersendat-sendat, matanya membelalak. “Yan! Bangun! Astaga, jangan bikin aku takut gini…” Raina hampir menangis. Ia mengguncang lebih keras. Tiba-tiba ... Adrian terlonjak. Tubuhnya duduk tegak mendadak, seolah dilepaskan dari jeratan tak kasat mata. Nafasnya terengah-engah, keringat membanjir wajahnya. Raina mundur setengah langkah, terkejut. Adrian, tanpa sempat berpikir, refleks menarik tubuh Raina. Kedua lengannya melingkar kuat di pinggang gadis itu, kepalanya menunduk ke dada Raina, seperti seseorang yang baru saja terselamatkan dari tenggelam. “Rai…” suaranya serak, lemah. “Jangan… jangan tinggalin aku…” Raina membeku di tempat. Jantungnya berdentum keras. Malam itu, jelang subuh yang masih gelap menyimpan rahasia baru bahwa wangi pandan bukan sekadar mimpi, dan mungkin, ada sesuatu yang kini telah melekat pada Adrian. Raina masih berdiri kaku, tubuhnya setengah dipeluk Adrian yang wajahnya basah oleh keringat dingin. Napas pria itu berat, seperti baru saja berenang dari lautan gelap yang dalam. “Rai…” suaranya lirih, nyaris patah. “Aku… aku nggak bisa gerak tadi. Rasanya ada sesuatu yang… menindih aku.” Raina menelan ludah, tangannya perlahan mengusap bahu Adrian, mencoba menenangkan. “Tuh kan, Yan. Kamu nggak percaya sama aku. Dari awal aku udah bilang, wangi pandan itu nggak pernah jauh dari kita. Cuma kita aja yang nggak sadar. Kamu baru ngerasain sendiri sekarang.” Adrian melepaskan pelukannya perlahan, duduk tegak, meski masih terengah. Ia menatap kosong ke arah jendela yang gelap, tirai tipis bergoyang tertiup angin malam. “Aku… aku nggak ngerti, Rai. Kenapa bisa sejelas ini. Mungkin cuma mimpi buruk” “Bukan mimpi, Yan.” suara Raina tegas, matanya tajam. “Itu nyata. Wangi Pandan itu selalu ada. Dari kantor, sampai ke kos aku. sekarang… sampai ke mimpimu.” Adrian terdiam. Dalam diamnya, ia mencoba mencerna. Bau pandan itu memang nyata ia hirup. Gadis yang muncul dalam mimpinya pun rasanya terlalu jelas, terlalu nyata untuk disebut sekadar bunga tidur. Raina mencondongkan tubuh, suaranya lirih, hampir seperti berbisik. “Coba ingat-ingat lagi, Yan. Pasti ada sesuatu yang selama ini kita nggak pahami. Kamu inget wajah seseorang yang ada dalam mimpi itu dengan jelas kan?” Adrian menggeleng, perlahan. “Nggak. Baru kali ini aku liat dia. Tapi…” ia menarik napas panjang. “Rai, dia sangat cantik. Cantik banget. Seperti bidadari, dia seperti di film film chinesse, orang tionghua Rai” Kata-kata itu keluar begitu saja, tapi membuat hati Raina mencelos. Seperti ada jarum halus menusuk dadanya. Ia menggertakkan gigi pelan, menahan rasa tak nyaman. “Bidadari, Tionghua?” gumamnya sinis. “Serius kamu bilang begitu? Itu… hantu atau vampire china , Yan.” Adrian menoleh, kaget dengan nada suara Raina. “Lho, aku cuma bilang apa adanya. Wajahnya memang....” “Udah.” Raina cepat-cepat memotong, mengalihkan pandangan. Pipinya panas, bukan karena takut, tapi karena cemburu. "Astaga, apa-apaan sih aku? Masa aku cemburu sama hantu? " batinnya kacau. Ia menepuk kening pelan, berusaha menertawakan pikirannya sendiri. “Aduh, kenapa aku jadi kayak orang bego gini…” Adrian memperhatikan wajahnya. Ada sesuatu yang tidak ia mengerti dari perubahan ekspresi Raina. Tapi ia memilih diam. Beberapa menit terlewati dalam hening. Hanya detak jam dinding dan desiran kipas angin yang menemani. Akhirnya Adrian bersuara, pelan. “Rai, menurutmu… Apa ini kebetulan? Atau memang… ada sesuatu yang ngikutin?” Raina menatapnya lama. “Kamu masih bisa bilang ini kebetulan? Padahal kamu sendiri tadi hampir nggak bisa napas, nggak bisa gerak. Masih bilang cuma mimpi?” Adrian terdiam. Ia menggenggam tangan sendiri, merasakan dingin yang belum juga hilang dari ujung jari. Hatinya bimbang. Logika terus berkata pasti ada penjelasan ilmiah. Namun, sesuatu di dalam dirinya kini mulai goyah. Ia teringat jelas gadis itu. Senyumannya, suaranya, wangi pandannya. Semuanya begitu nyata. Ada perasaan aneh, bukan sekadar takut, tapi seolah dirinya memang sudah lama ditunggu. “Kalau memang ada yang seperti ngikutin…” Adrian mendesah berat, suaranya serak. “Kenapa aku? Kenapa bukan orang lain?” Raina menunduk, menatap lantai. Ada rasa sesak di dadanya. Ia ingin menjawab "Karena kamu berbeda, Yan. Karena dari dulu kamu selalu jadi pusat perhatian, bahkan mungkin bagi makhluk tak kasat mata sekalipun. " Tapi ia menahan diri. Yang keluar dari bibirnya hanya gumaman lirih. “Aku juga nggak tahu, Yan. aku yakin… ini bukan akhir.” Adrian mengangkat wajah, menatap Raina yang kini menatap balik dengan sorot penuh kecemasan. Ada sesuatu di sana yang tak ia pahami. Perasaan hangat, bercampur takut, bercampur peduli. Di tengah hening itu, tiba-tiba hembusan angin dingin menyapu ruang kos. Tirai bergoyang lebih kencang, lampu kamar berkedip sekali, dua kali. Keduanya saling berpandangan. Bau pandan itu kembali. Lebih pekat. Lebih menusuk. Raina menggenggam ujung kausnya erat, jantungnya berdegup tak karuan. Adrian spontan meraih lengannya, refleks, matanya menajam. Dan saat itulah suara lirih terdengar, samar, seperti bisikan dari ujung ruangan. “Aku sudah di sini sejak lama…” Mereka membeku di tempat. Di balik jendela kos sederhana itu, jelang subuh dengan gelap pekat Tubuh Raina menegang, sementara Adrian masih setengah menunduk di sofa, keringat dingin belum benar-benar hilang dari wajahnya. Mereka berdua sama-sama terdiam, saling mendengarkan… hingga suara itu terdengar lagi. Samar, lirih, namun jelas menusuk hati. Seperti suara perempuan yang jauh tapi dekat, bergetar, penuh rasa putus asa. “...tolong aku…” Raina spontan menoleh ke Adrian. Begitu juga Adrian ke Raina. Tatapan mereka beradu, sama-sama penuh kebingungan dan rasa tak percaya. “Yan… kamu denger juga?” suara Raina nyaris berbisik, takut jika suaranya terlalu keras malah memanggil kembali suara itu. Adrian mengangguk perlahan, wajahnya pucat. “Iya, Rai… aku denger.” Keduanya terdiam lagi. Jantung Raina berdegup kencang, seolah ingin meledak. Adrian menelan ludah, mencoba menenangkan dirinya, meskipun ia sendiri merasa merinding sampai ke tulang. “Ya Allah…” Raina memeluk lututnya, menunduk. “Aku nggak tahan lagi kalau terus begini. Aku udah bilang, Yan, bau pandan ini selalu ngikutin kita. Dan sekarang… suara minta tolong? Itu artinya apa?” ***Senja di Taman Pandan Senja turun perlahan di atas Taman Pandan. Cahaya jingga menembus sela-sela dedaunan, menari di permukaan danau yang tenang. Angin berhembus lembut, menggoyangkan daun pandan yang tinggi, seolah menyambut kedatangan seorang pengunjung yang berjalan perlahan di jalan setapak. Lina Mei melangkah di antara rerumputan hijau, tangannya sesekali menyentuh daun pandan yang basah oleh embun sore. Setiap langkah terasa berat dan ringan sekaligus berat karena kenangan panjang dari masa lalu, ringan karena ketenangan yang kini mengisi hatinya. Ia tahu, setiap inci taman ini menyimpan sejarah yang panjang: cermin yang menghubungkan dunia, jiwa yang tersesat, pengorbanan Adrian dan Raina, dan semua roh yang akhirnya menemukan rumahnya. Suara air yang menetes dari pancuran kecil di danau menambah ketenangan. Burung-burung pulang ke sarang, menyanyi lembut, dan bunga m
Matahari pagi menyelimuti desa kecil itu dengan cahaya hangat, menembus sela-sela pepohonan yang rindang. Rumah-rumah kayu sederhana berjajar rapi, dan aroma tanah basah bercampur wangi bunga melati yang tumbuh di sepanjang jalan setapak. Adrian duduk di teras rumahnya, menatap lembah yang jauh, tempat matahari perlahan menyingkap kabut tipis.Di tangannya terdapat selembar kertas yang belum diisi. Pena itu siap bergerak, namun pikirannya melayang pada semua perjalanan panjang yang telah mereka lalui.Cermin-cermin yang mengubah hidup, roh-roh yang tersesat dan menemukan jalan kembali, serta jiwa Mei Lin yang kini hidup kembali dalam diri Lina Mei. Dan di tengah semua itu, ada Raina, sosok yang tak pernah meninggalkan sisi Adrian, yang selalu menjaga cinta dan ketenangan di tengah keajaiban yang tak bisa dijelaskan. Adrian menarik napas dalam-dalam, merasakan udara segar pagi itu. Ia tahu surat ini bukan sekadar kat
Beberapa tahun berlalu sejak malam ketika debu cermin terakhir menyatu di danau taman pandan. Kota kecil itu telah kembali hidup, taman pandan tetap menjadi tempat favorit penduduk untuk berjalan-jalan dan mengingat sejarahnya, meski kisah di baliknya tetap menjadi rahasia bagi kebanyakan orang.Lina Mei kini tumbuh menjadi wanita dewasa dengan keanggunan yang tenang, wajahnya sering tersenyum lembut, dan matanya memancarkan ketenangan yang tak tergoyahkan.Ia tidak hanya menjadi sosok yang dikenal oleh Adrian dan Raina sebagai anak yang mereka didik, tetapi juga mulai dikenal oleh publik karena karyanya yang tulus dan mendalam.Di rumah kayu sederhana dekat danau, Lina duduk di depan meja kerja, menatap tumpukan naskah yang belum selesai. Pena di tangannya bergerak perlahan, mencatat setiap peristiwa, setiap ingatan, dan setiap pelajaran yang ia dapatkan dari perjalanan panjangnya dari masa hidupnya sebagai Lina Mei, hingga masa ketik
Pesawat mendarat dengan lembut di landasan Bandara Soekarno-Hatta. Udara tropis menyambut mereka dengan hembusan lembap yang membawa aroma hujan. Setelah berminggu-minggu di Beijing, melewati badai spiritual dan ritual penebusan, kini mereka kembali ke Indonesia ke tempat di mana semua kisah ini pertama kali ditulis oleh waktu.Adrian menatap keluar jendela mobil yang membawa mereka menuju kota kecil di pesisir, tempat taman pandan berada. Langit berwarna jingga keemasan, sama seperti sore pertama kali ia melihat cermin terkutuk itu bertahun-tahun lalu. Bedanya, kali ini ia tidak membawa beban.Di kursi belakang, Lina duduk diam, memeluk kain merah yang dulu menutupi cermin terakhir. Di dalamnya tersimpan debu kaca, sisa-sisa benda yang telah menjadi saksi ratusan tahun luka dan penebusan.Raina menoleh dari kursi depan. “Kau yakin ingin menaburkannya di taman pandan?” tanyanya lembut.Li
Pagi itu, embun menetes lembut di ujung daun pandan. Sinar matahari pertama menembus kabut tipis yang masih menggantung di atas desa. Tidak ada lagi hawa berat, tidak ada lagi bisikan atau bayangan gelap yang mengintai di antara pepohonan. Yang tersisa hanyalah keheningan yang damai keheningan yang tidak menakutkan, melainkan menenangkan.Burung-burung mulai berkicau, seolah menyambut dunia yang baru saja dilahirkan kembali. Dari kejauhan, terdengar suara ayam berkokok dan riuh tawa anak-anak kecil yang berlarian di jalan tanah merah, mengejar layang-layang kertas buatan mereka sendiri.Desa yang selama puluhan tahun terbelenggu kini bernafas lega.“Semalam... aku melihat langit bercahaya seperti fajar,” kata seorang kakek dengan mata berbinar, tangannya masih gemetar saat memegang cangkir teh. Ia duduk di depan rumahnya, dikelilingi beberapa tetangga yang masih membicarakan kejadian aneh malam tadi.
Langit pagi itu tidak seperti biasanya. Setelah malam panjang yang penuh dengan doa dan badai, awan di atas desa tua tampak berlapis keemasan bukan dari matahari semata, tapi dari cahaya yang memancar perlahan dari tanah itu sendiri. Desa yang dulu diselimuti kutukan kini seperti sedang bernafas untuk pertama kalinya. Di tengah lapangan yang semalam menjadi tempat ritual, Lina berdiri diam. Ustaz Rahmad dan Adrian berdiri di belakangnya, menatap tanpa berani bersuara. Sekujur tubuh Lina tampak berpendar lembut, seperti sedang menyatu dengan cahaya di sekitarnya. Angin berhembus lembut, membawa aroma melati dan dupa. Suara gemericik air dari sungai kecil di dekat sana terdengar seperti irama alam yang mengiringi momen suci itu. Ustaz Rahmad berbisik pelan, “Ini... bukan cahaya biasa. Ini cahaya pemurnian.” Adrian mengangguk, matanya tak lepas dar







