Compartir

Bab 2

Autor: Raban
Aku pulang ke rumah dan mengemasi koper dengan linglung. Di dalam kamar, tergeletak sebuah dokumen rencana pernikahan. Setiap kali penyakitku kambuh, Nicholas akan menghiburku dengan rencana pernikahan ini.

Sebenarnya, aku juga pernah bertanya kepadanya kenapa kami baru bisa menikah setelah aku sembuh. Dia hanya menjawab bahwa itu adalah permintaan keluarga dan menyuruhku memahaminya.

Aku tahu Keluarga Kurniawan selalu meremehkanku. Demi bersamaku, Nicholas bahkan diusir dari rumah dan memulai bisnis sendiri. Putra orang kaya yang bermartabat sepertinya akhirnya tinggal di rumah kontrakan dan makan mie instan bersamaku.

Sekarang, Nicholas akhirnya meraih beberapa prestasi dan hubungannya dengan keluarganya juga telah membaik. Aku tidak ingin dia merasa terbelenggu lagi karena aku dan keluargaku. Jadi, aku hanya bisa menelan keluh kesahku.

Jika dipikir-pikir lagi, Nicholas tidak pernah ingin menikah denganku. Aku juga sebenarnya pernah bertemu dengan pengantinnya. Dia adalah murid ibuku dan bekerja di perusahaan Nicholas.

Suatu kali, aku pergi ke perusahaan untuk mengunjungi Nicholas dan melihatnya yang tidak pernah sabar dengan bawahannya sedang membimbing Yanisa membuat proposal secara pribadi. Naluri wanita membuatku menyadari bahwa hubungannya dengan Yanisa tidaklah biasa.

Aku dan Nicholas bahkan pernah bertengkar karena hal ini. Ibuku yang akhirnya keluar untuk menengahinya.

"Meski nggak percaya sama Nico, kamu bisa percaya sama Ibu, 'kan? Yanisa sudah punya pacar. Buat apa kamu ributkan hal ini? Malu-maluin saja!"

Jasmine juga mengirimkan pesan yang mengatakan bahwa dia pernah menghadiri acara kumpul-kumpul bersama teman Yanisa. Dia mengatakan Yanisa dan pacarnya sangat mesra.

Setelah dipaksa oleh ibuku, aku bahkan meminta maaf kepada Yanisa. Saat itu, Yanisa memalingkan wajahnya dan tidak berani menatap mataku. Sekarang, aku baru tahu bahwa dia takut kalau melihatku, dia tidak akan bisa menahan tawanya.

Demi menyembunyikan hubungan mereka, semua orang terdekatku memperlakukanku seperti orang bodoh.

Hingga larut malam, terdengar suara pintu kamar dibuka. Sesaat kemudian, seseorang memelukku dari belakang. Pelukan itu seketika membuatku merinding.

"Sa ... Celin, kamu mau pergi? Kamu benar-benar rela?"

Meskipun aku sudah sakit parah, pengkhianatan tetap membuatku merasa tersiksa. Aku mendorongnya.

"Cukup! Kamu masih mau berakting? Kenapa? Kamu mau aku jadi orang ketiga?"

Nicholas tercengang sejenak, lalu menghela napas dengan lelah dan duduk lemas di sofa.

"Celin, aku sudah merawatmu bertahun-tahun. Memangnya kamu nggak bisa pahami aku? Terkadang, aku benar-benar lelah hadapi kamu. Keluarga Kurniawan butuh seorang menantu yang terhormat, bukan ...."

Dia tidak melanjutkan kata-katanya.

Aku langsung mengepalkan tanganku. Aku tahu apa yang ingin dia katakan. Keluarga Kurniawan tidak membutuhkan menantu yang bisa menggila.

"Nicholas, kalau keberatan dengan keadaanku, kamu bisa putus denganku sejak awal. Kamu nggak perlu pakai cara seperti ini ...."

"Celin." Dia dengan lembut menyelaku dan mendekat dengan hati-hati. "Mana mungkin aku keberatan dengan keadaanmu? Aku cuma mau habiskan hidupku bersamamu. Jangan khawatir. Yanisa tahu tentang hubungan kita. Dia cuma bantu aku jaga citra di depan orang lain. Begitu kami punya anak, aku akan ceraikan dia baik-baik."

"Anak?"

"Iya. Dengan penyakitmu, aku juga nggak berdaya. Kalau penyakitmu menurun ke anak ...."

Aku memandang Nicholas dengan tidak percaya, seolah-olah baru mengenalnya. Dia memerlukan istri yang bisa menjaga citranya, sedangkan aku tidak layak menjadi ibu anaknya. Ternyata, dia sudah lama tidak melibatkanku dalam hidupnya.

Tiba-tiba, rasa mual yang hebat melandaku. Aku pun berpaling, lalu mengambil tempat sampah dan muntah-muntah.

"Kamu merasa aku menjijikkan?" Nicholas menatapku dengan ekspresi terluka. Dia mengangkat lengan yang dipenuhi bekas gigitanku dan berkata, "Celina, apa kamu belum cukup menyiksaku selama lima tahun terakhir? Entah sudah berapa banyak malam aku harus tahan digigitmu seperti ini. Memangnya salah aku mau istri dan anak yang normal?"

Dia menumpahkan keluhannya selama lima tahun dengan terengah-engah.

Aku tentu saja tahu. Selama malam-malam yang tak terhitung jumlahnya itu, sorot mata Nicholas saat menatapku perlahan berubah. Dari rasa sakit hati hingga tidak berdaya, lalu menjadi kelelahan dan kilasan muak.

Ucapan sahabat dan ibuku bagaikan makian yang membuat otakku hampir meledak. Perutku sangat sakit, tetapi tidak sesakit hatiku.

Aku tidak berani mengangkat kepalaku. Aku takut Nicholas akan melihat kotoran di tong sampah, lalu mengatakan bahwa aku hanya menginginkan simpati, seperti yang dikatakan Jasmine.

Entah berapa lama waktu telah berlalu, Nicholas memejamkan matanya. Kemudian, dia mengambil pakaiannya dan meninggalkan beberapa patah kata.

"Aku tahu kamu perlu waktu untuk menerimanya. Aku akan tunggu. Celin, setelah bertahun-tahun bersama, kita sudah nggak terpisahkan."

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Musim Demi Musim Menantimu   Bab 9

    Pada hari pemakaman, ibuku datang. Dia mengenakan pakaian serba hitam. Rambutnya sudah sepenuhnya memutih, tubuhnya begitu kurus hingga pakaiannya tampak kebesaran.Dia berdiri di depan makam, lalu menuangkan semangkuk mie di atas tanah depan batu nisan Nicholas. Saat uap panas mengepul dari mie itu, dia berkata, "Nicholas, Celin suka makan mie. Kalian makan bersama ya."Jasmine berdiri di sampingnya. Selama beberapa waktu terakhir, dia menggantikan Nicholas terus memantau perkembangan kasus Yanisa.Yanisa tidak datang. Dia masih berada di rumah tahanan, kasusnya terus diproses. Belakangan ini, terdengar kabar bahwa ayahnya telah meminta pengacara untuk menyampaikan permohonan agar Keluarga Kurniawan bersedia memberikan surat pernyataan pemaafan.Namun, Nicholas sudah meninggal. Keluarga Kurniawan pun melampiaskan seluruh kebencian mereka kepada Yanisa. Hukuman lima tahun penjara tidak bisa dihindari Yanisa.Jasmine menyampaikan kabar itu kepadaku di depan makamku.Angin berembus kenca

  • Musim Demi Musim Menantimu   Bab 8

    Nicholas mengurung diri di rumah. Dia berdiam di kamar kami dan sama sekali tidak mau keluar. Dia bersikeras menceraikan Yanisa. Dia menyerahkan perusahaan kepada seorang manajer profesional untuk dikelola.Setiap harinya, Nicholas hanya melakukan dua hal. Yang pertama adalah menulis. Dia mencatat segala sesuatu sejak hari aku didiagnosis hingga hari ketika dia akhirnya mengetahui kebenarannya. Dia mencatat apa saja yang dilakukannya setiap hari, apa yang dikatakannya kepadaku, serta bagaimana kondisi fisikku saat itu. Saat sampai di halaman ketiga, dia berhenti menulis.Sebab, pada hari aku didiagnosis menderita kanker, dia justru sedang mengajak Yanisa berlibur ke Sanmara. Tanggal pemesanan tiket pesawatnya ternyata sama dengan tanggal laporan biopsiku. Dia menuliskan kedua tanggal itu berdampingan, lalu menarik garis di bawahnya dan mencoret garis tersebut dengan tanda silang besar. Nicholas menutup buku catatannya. Malam itu, dia tidak tidur sama sekali. Dia duduk di sofa sambil

  • Musim Demi Musim Menantimu   Bab 7

    Sejak saat itu, ibuku menetap di kampung halaman. Dia kembali ke kamar kecil itu. Kamar tempat aku meringkuk sambil batuk darah untuk terakhir kalinya.Dia menghabiskan sehari penuh untuk membersihkan kamar itu, membuang tisu-tisu bernoda darah. Dia menambal bekas cakaran di dinding dengan dempul hingga permukaannya kembali rata. Pakaian-pakaian lamaku dilipat rapi, lalu disimpan ke dalam lemari.Setelah selesai bekerja, dia duduk di samping ranjang. Tatapannya tertuju lama pada noda kecokelatan di bawah bantal yang tetap tidak hilang meski sudah dicuci berkali-kali. Itu noda darah dari hidungku yang mengucur saat tengah malam selama menjalani kemoterapi. Aku tidak pernah menceritakan semua itu kepada siapa pun. Setelah beberapa saat, ibuku mulai memeriksa barang-barang yang kutinggalkan. Di bawah ranjang, ada sebuah kardus. Di dalamnya terdapat salinan rekam medis, kwitansi pembayaran, dan catatan instruksi dokter yang ditulis tangan.Ibuku membaca lembar demi lembar. Saat membaca l

  • Musim Demi Musim Menantimu   Bab 6

    Nicholas terpaku di tempatnya, telapak tangannya masih menempel di perut Yanisa yang sedikit menonjol.Kata-kata Yanisa seolah menyumbat pendengarannya. Dia bahkan tak mampu memahami apa yang baru saja dikatakan asistennya. Ucapan asistennya "berkaitan dengan Bu Yanisa" terus terngiang-ngiang di kepalanya."Apa maksudmu?" tanya Nicholas dengan suara serak.Asistennya melirik Yanisa sekilas, lalu kembali menunduk dan menyerahkan sebuah tablet kepada Nicholas. "Rekaman CCTV di koridor pada hari pernikahan telah dihapus sebagian. Tapi, kamera di depan apotek sebelah merekam kejadian itu dari sudut yang berbeda. Waktu itu, Bu Celina nggak mendorong siapa pun. Bu Yanisa yang mencengkeram tangan Bu Celina, lalu menjatuhkan diri ke belakang."Nicholas menerima tablet itu. Di dalam rekaman itu, aku mengenakan baju pasien yang kedodoran. Wajahku terlihat begitu pucat, sementara tubuhku tampak sempoyongan.Yanisa berjalan menghampiriku dengan perutnya yang membuncit. Tubuhku spontan sedikit mun

  • Musim Demi Musim Menantimu   Bab 5

    Beberapa hari ini, Nicholas selalu merasa gelisah tanpa alasan yang jelas. Dia terus merasa seolah-olah sedang kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Dulu, ketika ibuku memperkenalkan Yanisa kepadanya, Nicholas sama sekali tidak bersedia. Dia bahkan merasa serbasalah. "Bibi, kenapa Bibi malah menyuruhku mengkhianati putri Bibi sendiri?"Namun, ibuku hanya menghela napas. "Dengan kondisinya seperti itu, entah kapan dia bisa pulih. Nicholas, selama bertahun-tahun ini, aku melihat semua kebaikanmu kepada Keluarga Harianto. Aku sudah lama menganggapmu seperti putraku sendiri. Aku berharap kamu memiliki seorang istri yang normal."Nicholas tertegun sejenak. Saat itu, bekas gigitan yang pernah kuberikan hingga membuatnya berlumuran darah tiba-tiba terasa menyakitkan lagi. Entah bagaimana, dia akhirnya menyetujui untuk bertemu dengan Yanisa.Seperti yang dikatakan ibuku, Yanisa memang gadis ceria yang selalu tampak seperti matahari kecil. Saat bersamanya, Nicholas tidak perlu khawatir aka

  • Musim Demi Musim Menantimu   Bab 4

    "Bu Celina, bukankah aku sudah pernah beri tahu kamu? Kalau terus menyiksa diri seperti ini, kamu nggak akan mampu bertahan lebih dari sebulan. Kamu bahkan sudah hamil. Tapi dengan kondisi begini, kehamilan ini nggak bisa dipertahankan lagi ...."Aku terbangun karena bau disinfektan. Setelah tertegun sejenak, air mataku jatuh tanpa suara. Kenapa ada kehidupan kecil yang tumbuh dalam tubuhku di saat-saat seperti ini?Dokter menghela napas dan berujar, "Kamu benar-benar nggak mau beri tahu Pak Nicholas dan keluargamu? Mereka setidaknya harus tandatangani formulir persetujuan operasi.""Apa ada gunanya? Kalau benar-benar peduli, kenapa mereka nggak ada di sini sekarang?"Dokter tidak mengatakan apa-apa lagi, hanya menyuruhku beristirahat dengan baik agar bisa menjalani operasi.Nicholas mengirimiku pesan.[ Yanisa kasihan padamu dan takut penyakitmu kambuh di depan wartawan, jadi kamu nggak perlu hadiri konferensi pers lagi. Aku akan temani dia dulu sebagai bentuk permintaan maaf. Bisa ng

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status