INICIAR SESIÓN
Pada hari pemakaman, ibuku datang. Dia mengenakan pakaian serba hitam. Rambutnya sudah sepenuhnya memutih, tubuhnya begitu kurus hingga pakaiannya tampak kebesaran.Dia berdiri di depan makam, lalu menuangkan semangkuk mie di atas tanah depan batu nisan Nicholas. Saat uap panas mengepul dari mie itu, dia berkata, "Nicholas, Celin suka makan mie. Kalian makan bersama ya."Jasmine berdiri di sampingnya. Selama beberapa waktu terakhir, dia menggantikan Nicholas terus memantau perkembangan kasus Yanisa.Yanisa tidak datang. Dia masih berada di rumah tahanan, kasusnya terus diproses. Belakangan ini, terdengar kabar bahwa ayahnya telah meminta pengacara untuk menyampaikan permohonan agar Keluarga Kurniawan bersedia memberikan surat pernyataan pemaafan.Namun, Nicholas sudah meninggal. Keluarga Kurniawan pun melampiaskan seluruh kebencian mereka kepada Yanisa. Hukuman lima tahun penjara tidak bisa dihindari Yanisa.Jasmine menyampaikan kabar itu kepadaku di depan makamku.Angin berembus kenca
Nicholas mengurung diri di rumah. Dia berdiam di kamar kami dan sama sekali tidak mau keluar. Dia bersikeras menceraikan Yanisa. Dia menyerahkan perusahaan kepada seorang manajer profesional untuk dikelola.Setiap harinya, Nicholas hanya melakukan dua hal. Yang pertama adalah menulis. Dia mencatat segala sesuatu sejak hari aku didiagnosis hingga hari ketika dia akhirnya mengetahui kebenarannya. Dia mencatat apa saja yang dilakukannya setiap hari, apa yang dikatakannya kepadaku, serta bagaimana kondisi fisikku saat itu. Saat sampai di halaman ketiga, dia berhenti menulis.Sebab, pada hari aku didiagnosis menderita kanker, dia justru sedang mengajak Yanisa berlibur ke Sanmara. Tanggal pemesanan tiket pesawatnya ternyata sama dengan tanggal laporan biopsiku. Dia menuliskan kedua tanggal itu berdampingan, lalu menarik garis di bawahnya dan mencoret garis tersebut dengan tanda silang besar. Nicholas menutup buku catatannya. Malam itu, dia tidak tidur sama sekali. Dia duduk di sofa sambil
Sejak saat itu, ibuku menetap di kampung halaman. Dia kembali ke kamar kecil itu. Kamar tempat aku meringkuk sambil batuk darah untuk terakhir kalinya.Dia menghabiskan sehari penuh untuk membersihkan kamar itu, membuang tisu-tisu bernoda darah. Dia menambal bekas cakaran di dinding dengan dempul hingga permukaannya kembali rata. Pakaian-pakaian lamaku dilipat rapi, lalu disimpan ke dalam lemari.Setelah selesai bekerja, dia duduk di samping ranjang. Tatapannya tertuju lama pada noda kecokelatan di bawah bantal yang tetap tidak hilang meski sudah dicuci berkali-kali. Itu noda darah dari hidungku yang mengucur saat tengah malam selama menjalani kemoterapi. Aku tidak pernah menceritakan semua itu kepada siapa pun. Setelah beberapa saat, ibuku mulai memeriksa barang-barang yang kutinggalkan. Di bawah ranjang, ada sebuah kardus. Di dalamnya terdapat salinan rekam medis, kwitansi pembayaran, dan catatan instruksi dokter yang ditulis tangan.Ibuku membaca lembar demi lembar. Saat membaca l
Nicholas terpaku di tempatnya, telapak tangannya masih menempel di perut Yanisa yang sedikit menonjol.Kata-kata Yanisa seolah menyumbat pendengarannya. Dia bahkan tak mampu memahami apa yang baru saja dikatakan asistennya. Ucapan asistennya "berkaitan dengan Bu Yanisa" terus terngiang-ngiang di kepalanya."Apa maksudmu?" tanya Nicholas dengan suara serak.Asistennya melirik Yanisa sekilas, lalu kembali menunduk dan menyerahkan sebuah tablet kepada Nicholas. "Rekaman CCTV di koridor pada hari pernikahan telah dihapus sebagian. Tapi, kamera di depan apotek sebelah merekam kejadian itu dari sudut yang berbeda. Waktu itu, Bu Celina nggak mendorong siapa pun. Bu Yanisa yang mencengkeram tangan Bu Celina, lalu menjatuhkan diri ke belakang."Nicholas menerima tablet itu. Di dalam rekaman itu, aku mengenakan baju pasien yang kedodoran. Wajahku terlihat begitu pucat, sementara tubuhku tampak sempoyongan.Yanisa berjalan menghampiriku dengan perutnya yang membuncit. Tubuhku spontan sedikit mun
Beberapa hari ini, Nicholas selalu merasa gelisah tanpa alasan yang jelas. Dia terus merasa seolah-olah sedang kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Dulu, ketika ibuku memperkenalkan Yanisa kepadanya, Nicholas sama sekali tidak bersedia. Dia bahkan merasa serbasalah. "Bibi, kenapa Bibi malah menyuruhku mengkhianati putri Bibi sendiri?"Namun, ibuku hanya menghela napas. "Dengan kondisinya seperti itu, entah kapan dia bisa pulih. Nicholas, selama bertahun-tahun ini, aku melihat semua kebaikanmu kepada Keluarga Harianto. Aku sudah lama menganggapmu seperti putraku sendiri. Aku berharap kamu memiliki seorang istri yang normal."Nicholas tertegun sejenak. Saat itu, bekas gigitan yang pernah kuberikan hingga membuatnya berlumuran darah tiba-tiba terasa menyakitkan lagi. Entah bagaimana, dia akhirnya menyetujui untuk bertemu dengan Yanisa.Seperti yang dikatakan ibuku, Yanisa memang gadis ceria yang selalu tampak seperti matahari kecil. Saat bersamanya, Nicholas tidak perlu khawatir aka
"Bu Celina, bukankah aku sudah pernah beri tahu kamu? Kalau terus menyiksa diri seperti ini, kamu nggak akan mampu bertahan lebih dari sebulan. Kamu bahkan sudah hamil. Tapi dengan kondisi begini, kehamilan ini nggak bisa dipertahankan lagi ...."Aku terbangun karena bau disinfektan. Setelah tertegun sejenak, air mataku jatuh tanpa suara. Kenapa ada kehidupan kecil yang tumbuh dalam tubuhku di saat-saat seperti ini?Dokter menghela napas dan berujar, "Kamu benar-benar nggak mau beri tahu Pak Nicholas dan keluargamu? Mereka setidaknya harus tandatangani formulir persetujuan operasi.""Apa ada gunanya? Kalau benar-benar peduli, kenapa mereka nggak ada di sini sekarang?"Dokter tidak mengatakan apa-apa lagi, hanya menyuruhku beristirahat dengan baik agar bisa menjalani operasi.Nicholas mengirimiku pesan.[ Yanisa kasihan padamu dan takut penyakitmu kambuh di depan wartawan, jadi kamu nggak perlu hadiri konferensi pers lagi. Aku akan temani dia dulu sebagai bentuk permintaan maaf. Bisa ng







