Compartir

Musim Demi Musim Menantimu
Musim Demi Musim Menantimu
Autor: Raban

Bab 1

Autor: Raban
"Be ... benarkah?"

Ibuku menatapku dengan curiga.

Selama bertahun-tahun, aku nyaris tidak dapat meninggalkan sisi Nicholas. Hari ini, dia bisa pergi menikah juga karena telah menemaniku seminggu penuh dan memiliki sedikit waktu istirahat.

Aku tersenyum pahit. "Hatinya sudah berpaling. Buat apa aku mengganggunya lagi?"

Ibuku terlihat lega. Dia memelukku sambil menangis histeris. Setelah entah berapa lama, dia baru berkata dengan terbata-bata, "Kalau begitu, bisa nggak kamu tinggal di sini sendirian? Aku ... Nico mau aku jadi saksi pernikahannya ...."

Pada saat ini, aku baru tahu bahwa ibuku sendiri yang mengenalkan pengantin wanitanya kepada Nicholas.

Aku mengangguk dengan kaku. Aku bisa memahami ibuku. Semua kerabat keluargaku, baik yang tua maupun muda, bekerja di Grup Kurniawan. Baginya, Nicholas mungkin lebih penting daripada aku yang merupakan putrinya.

Ibuku pergi dengan lega.

Namun, aku dan Nicholas sudah berhubungan bertahun-tahun. Tanpa sadar, aku mengikuti ibuku ke lokasi pernikahan. Bunga balon putih, balon biru, semua desainnya sama persis dengan yang kurencanakan bersama Nicholas.

"Celina?"

Sahabatku menemukanku terlebih dahulu. Aku meraih ujung pakaianku dan tidak memiliki tempat untuk bersembunyi di depan semua orang.

Nicholas yang hendak mencium pengantin wanita tanpa sadar bergerak mundur. Dia berbalik dengan kaku, lalu mengucapkan beberapa patah kata dengan susah payah, "Sa ... Celin? Kok kamu ada di sini?"

Semua orang yang hadir memasang ekspresi dengan penuh penghinaan dan ejekan.

Nicholas berjalan dengan terhuyung-huyung ke arahku. Dia buru-buru menjelaskan dengan gugup, "Celin, dengar dulu penjelasanku. Ini cuma kecelakaan .... Aku ...."

Sebelum aku dapat mengatakan apa pun, ibuku menjerit dan bergegas mendekat. Dia mencubit lenganku dengan kuat. "Kamu sudah janji nggak akan datang! Kenapa?"

Aku mendesis kesakitan.

"Ibu ... Bibi, jangan tindas Celin."

Nicholas membelaku secara refleks.

Namun, sahabatku, Jasmine mengerutkan keningnya dan berujar, "Memangnya kamu masih nggak cukup terbebani olehnya? Selama tiga tahun ini, apa kamu pernah tidur nyenyak karena harus hadapi depresinya tiap hari?"

Dia berhenti sebentar, lalu menggumamkan sesuatu. "Orang yang pernah diperkosa juga berani datang untuk nodai pernikahan ini ...."

Ujung jariku seketika memutih.

Tiga tahun lalu, aku nekat mempertaruhkan nyawaku demi menyelamatkan Nicholas yang diculik oleh pesaingnya. Akhirnya, aku malah diperkosa.

Sejak saat itu, aku selalu dihantui mimpi buruk. Setiap kali, aku akan menggigit tangan Nicholas hingga berdarah. Setelah tersadar, aku merasa sangat sedih. Namun, dia hanya menggeleng dan berkata bahwa itu adalah utangnya padaku.

"Diam!" bentak Nicholas.

Namun, tiba-tiba terdengar suara lembut seseorang. Orang itu membuat Nicholas mengurungkan niatnya untuk terus membelaku.

"Ini Bu Celina? Selamat datang di pernikahanku dengan Nico."

Wanita itu memberiku segelas anggur pernikahan dengan sikap murah hati. Gaun pengantin yang indah menonjolkan lekuk tubuhnya yang anggun.

Membandingkannya dengan diriku yang kurus kerempeng akibat disiksa kanker, aku tanpa sadar mundur beberapa langkah.

Tangan Yanisa Anada membeku di udara. Dia secara refleks menatap ke arah Nicholas.

Nicholas mengerutkan kening, lalu menarikku ke samping.

"Kamu kembali dulu. Aku akan menjelaskannya nanti. Jangan buat semua orang malu."

"Oke."

Melihat aku setuju dengan mudah, Nicholas tertegun.

Namun, pada saat ini, perutku tiba-tiba mulai terasa sakit. Wajahku memucat dan aku langsung membungkuk. Ekspresi Nicholas seketika berubah. Dia buru-buru menarikku ke sudut ruangan.

"Kumohon, jangan buat masalah di sini, ya? Kalau kamu buat masalah, Keluarga Kurniawan nggak akan izinkan kita bersama lagi."

Tak disangka, Jasmine melangkah mendekat dan menghalangi Nicholas di belakangnya. Dia menatapku dengan ekspresi tidak bersahabat.

"Bukannya kamu sudah janji nggak akan sandiwara lagi? Apa depresimu kambuh lagi?"

Aku tidak berani berbicara karena takut memuntahkan darah.

Ketika melihat ini, Jasmine mendorongku keluar dari aula perjamuan. "Kamu sudah janji padaku. Jangan gunakan depresi untuk dapatkan simpati lagi! Celina, aku benar-benar nyesal berteman denganmu."

Dengan bau darah yang memenuhi tenggorokan, aku hanya bisa menahan air mata dan buru-buru berbalik. Berhubung semua orang kecewa padaku, aku juga tidak perlu mengucapkan selamat tinggal lagi.

Aku membeli tiket pulang ke kampung halamanku. Di hari-hari terakhirku, aku tidak ingin menjadi beban bagi siapa pun.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Musim Demi Musim Menantimu   Bab 9

    Pada hari pemakaman, ibuku datang. Dia mengenakan pakaian serba hitam. Rambutnya sudah sepenuhnya memutih, tubuhnya begitu kurus hingga pakaiannya tampak kebesaran.Dia berdiri di depan makam, lalu menuangkan semangkuk mie di atas tanah depan batu nisan Nicholas. Saat uap panas mengepul dari mie itu, dia berkata, "Nicholas, Celin suka makan mie. Kalian makan bersama ya."Jasmine berdiri di sampingnya. Selama beberapa waktu terakhir, dia menggantikan Nicholas terus memantau perkembangan kasus Yanisa.Yanisa tidak datang. Dia masih berada di rumah tahanan, kasusnya terus diproses. Belakangan ini, terdengar kabar bahwa ayahnya telah meminta pengacara untuk menyampaikan permohonan agar Keluarga Kurniawan bersedia memberikan surat pernyataan pemaafan.Namun, Nicholas sudah meninggal. Keluarga Kurniawan pun melampiaskan seluruh kebencian mereka kepada Yanisa. Hukuman lima tahun penjara tidak bisa dihindari Yanisa.Jasmine menyampaikan kabar itu kepadaku di depan makamku.Angin berembus kenca

  • Musim Demi Musim Menantimu   Bab 8

    Nicholas mengurung diri di rumah. Dia berdiam di kamar kami dan sama sekali tidak mau keluar. Dia bersikeras menceraikan Yanisa. Dia menyerahkan perusahaan kepada seorang manajer profesional untuk dikelola.Setiap harinya, Nicholas hanya melakukan dua hal. Yang pertama adalah menulis. Dia mencatat segala sesuatu sejak hari aku didiagnosis hingga hari ketika dia akhirnya mengetahui kebenarannya. Dia mencatat apa saja yang dilakukannya setiap hari, apa yang dikatakannya kepadaku, serta bagaimana kondisi fisikku saat itu. Saat sampai di halaman ketiga, dia berhenti menulis.Sebab, pada hari aku didiagnosis menderita kanker, dia justru sedang mengajak Yanisa berlibur ke Sanmara. Tanggal pemesanan tiket pesawatnya ternyata sama dengan tanggal laporan biopsiku. Dia menuliskan kedua tanggal itu berdampingan, lalu menarik garis di bawahnya dan mencoret garis tersebut dengan tanda silang besar. Nicholas menutup buku catatannya. Malam itu, dia tidak tidur sama sekali. Dia duduk di sofa sambil

  • Musim Demi Musim Menantimu   Bab 7

    Sejak saat itu, ibuku menetap di kampung halaman. Dia kembali ke kamar kecil itu. Kamar tempat aku meringkuk sambil batuk darah untuk terakhir kalinya.Dia menghabiskan sehari penuh untuk membersihkan kamar itu, membuang tisu-tisu bernoda darah. Dia menambal bekas cakaran di dinding dengan dempul hingga permukaannya kembali rata. Pakaian-pakaian lamaku dilipat rapi, lalu disimpan ke dalam lemari.Setelah selesai bekerja, dia duduk di samping ranjang. Tatapannya tertuju lama pada noda kecokelatan di bawah bantal yang tetap tidak hilang meski sudah dicuci berkali-kali. Itu noda darah dari hidungku yang mengucur saat tengah malam selama menjalani kemoterapi. Aku tidak pernah menceritakan semua itu kepada siapa pun. Setelah beberapa saat, ibuku mulai memeriksa barang-barang yang kutinggalkan. Di bawah ranjang, ada sebuah kardus. Di dalamnya terdapat salinan rekam medis, kwitansi pembayaran, dan catatan instruksi dokter yang ditulis tangan.Ibuku membaca lembar demi lembar. Saat membaca l

  • Musim Demi Musim Menantimu   Bab 6

    Nicholas terpaku di tempatnya, telapak tangannya masih menempel di perut Yanisa yang sedikit menonjol.Kata-kata Yanisa seolah menyumbat pendengarannya. Dia bahkan tak mampu memahami apa yang baru saja dikatakan asistennya. Ucapan asistennya "berkaitan dengan Bu Yanisa" terus terngiang-ngiang di kepalanya."Apa maksudmu?" tanya Nicholas dengan suara serak.Asistennya melirik Yanisa sekilas, lalu kembali menunduk dan menyerahkan sebuah tablet kepada Nicholas. "Rekaman CCTV di koridor pada hari pernikahan telah dihapus sebagian. Tapi, kamera di depan apotek sebelah merekam kejadian itu dari sudut yang berbeda. Waktu itu, Bu Celina nggak mendorong siapa pun. Bu Yanisa yang mencengkeram tangan Bu Celina, lalu menjatuhkan diri ke belakang."Nicholas menerima tablet itu. Di dalam rekaman itu, aku mengenakan baju pasien yang kedodoran. Wajahku terlihat begitu pucat, sementara tubuhku tampak sempoyongan.Yanisa berjalan menghampiriku dengan perutnya yang membuncit. Tubuhku spontan sedikit mun

  • Musim Demi Musim Menantimu   Bab 5

    Beberapa hari ini, Nicholas selalu merasa gelisah tanpa alasan yang jelas. Dia terus merasa seolah-olah sedang kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Dulu, ketika ibuku memperkenalkan Yanisa kepadanya, Nicholas sama sekali tidak bersedia. Dia bahkan merasa serbasalah. "Bibi, kenapa Bibi malah menyuruhku mengkhianati putri Bibi sendiri?"Namun, ibuku hanya menghela napas. "Dengan kondisinya seperti itu, entah kapan dia bisa pulih. Nicholas, selama bertahun-tahun ini, aku melihat semua kebaikanmu kepada Keluarga Harianto. Aku sudah lama menganggapmu seperti putraku sendiri. Aku berharap kamu memiliki seorang istri yang normal."Nicholas tertegun sejenak. Saat itu, bekas gigitan yang pernah kuberikan hingga membuatnya berlumuran darah tiba-tiba terasa menyakitkan lagi. Entah bagaimana, dia akhirnya menyetujui untuk bertemu dengan Yanisa.Seperti yang dikatakan ibuku, Yanisa memang gadis ceria yang selalu tampak seperti matahari kecil. Saat bersamanya, Nicholas tidak perlu khawatir aka

  • Musim Demi Musim Menantimu   Bab 4

    "Bu Celina, bukankah aku sudah pernah beri tahu kamu? Kalau terus menyiksa diri seperti ini, kamu nggak akan mampu bertahan lebih dari sebulan. Kamu bahkan sudah hamil. Tapi dengan kondisi begini, kehamilan ini nggak bisa dipertahankan lagi ...."Aku terbangun karena bau disinfektan. Setelah tertegun sejenak, air mataku jatuh tanpa suara. Kenapa ada kehidupan kecil yang tumbuh dalam tubuhku di saat-saat seperti ini?Dokter menghela napas dan berujar, "Kamu benar-benar nggak mau beri tahu Pak Nicholas dan keluargamu? Mereka setidaknya harus tandatangani formulir persetujuan operasi.""Apa ada gunanya? Kalau benar-benar peduli, kenapa mereka nggak ada di sini sekarang?"Dokter tidak mengatakan apa-apa lagi, hanya menyuruhku beristirahat dengan baik agar bisa menjalani operasi.Nicholas mengirimiku pesan.[ Yanisa kasihan padamu dan takut penyakitmu kambuh di depan wartawan, jadi kamu nggak perlu hadiri konferensi pers lagi. Aku akan temani dia dulu sebagai bentuk permintaan maaf. Bisa ng

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status