Share

Musim Semi Seindah Itu Tidak Akan Pernah Terulang Lagi
Musim Semi Seindah Itu Tidak Akan Pernah Terulang Lagi
Author: Wel

Bab 1

Author: Wel
Jenderal Muda Arga memiliki banyak jasa militer dan ditugaskan menjaga perbatasan. Dalam beberapa tahun lagi dia akan kembali ke ibu kota untuk dipromosikan. Masa depannya sangat cerah.

Pria seperti itu memperlakukan Eila Pradana dengan sangat baik.

Dia mengajari Eila membaca dan menulis, mengajaknya melihat peta dunia di luar pegunungan, bahkan saat ayah Eila jatuh sakit, dia menunggang kuda semalaman sejauh 50 kilometer demi membawa tabib.

Tahun lalu, banjir bandang menghancurkan lembah. Meskipun bukan wilayah yang berada di bawah tanggung jawab Arga Pradipta, demi Eila, dia mengerahkan pasukan pribadinya untuk membantu membangun kembali desa. Bahkan setiap batu bata dan genteng diperiksanya sendiri.

Semua orang berpikir, dengan kasih sayang sebesar itu, bahkan hati sekeras baja pun pasti akan luluh.

Namun, pada tahun kedua pernikahan mereka, Eila pulang ke lembah untuk menjenguk ibunya.

Sejak kepergiannya itu, dia dan Raka Wijaya menghilang selama tiga bulan penuh tanpa kabar.

Saat kembali, dia sudah mengandung.

Nyonya Besar Pradipta sangat murka hingga wajahnya pucat pasi. Dia memaki Eila sebagai perempuan tidak tahu malu, lalu memerintahkan orang-orang untuk mengikatnya dan memaksanya meminum ramuan penggugur kandungan.

Eila ditekan ke tanah oleh beberapa orang. Dia meronta mati-matian sambil berusaha menjelaskan, "Arga, anak ini ...."

"Cukup."

Arga memotong ucapannya dengan wajah muram. Dia melirik para prajurit di belakangnya dan berkata dengan suara berat.

"Apa kalian tidak dengar perintah ibu? Masih menunggu apa?"

Ucapan itu membuat Eila membeku. Dia menatap Arga dengan tatapan tidak percaya.

Para prajurit segera mencengkeram bahunya, memaksa mulutnya terbuka, lalu menuangkan semangkuk ramuan bunga kesumba ke dalam mulutnya.

Eila tersedak hebat hingga batuk tanpa henti. Pandangannya menggelap sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.

Saat terbangun lagi, hari sudah berganti.

Dia mengusap perutnya yang kini kosong. Dadanya terasa sesak.

Itu adalah anak pertama hasil cintanya dengan Arga.

Mereka sangat sulit mendapatkan keturunan. Setelah sekian lama menanti, kehamilan yang akhirnya datang justru digugurkan atas perintah Arga sendiri.

Padahal, saat pulang dari lembah, Eila tertimpa longsor. Demi melindunginya, kaki Raka tertimpa batu besar. Mereka pun terjebak di dalam gua selama tiga bulan sebelum berhasil keluar.

Eila tidak pernah menyangka Arga akan begitu tidak memercayainya, bahkan tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan.

Seorang pelayan datang membawa air hangat, tetapi Eila menyuruhnya keluar.

Dia harus menemui Arga dan menjelaskan semuanya.

Eila tiba di luar halaman utama. Sebelum sempat mendekat, dia sudah mendengar suara perkelahian.

Jantungnya berdegup kencang. Dia segera mempercepat langkahnya, lalu mengintip melalui celah pintu.

Ternyata yang sedang berkelahi adalah Arga dan Raka.

Wajah Raka yang biasanya dingin kini dipenuhi amarah. Tinjunya melayang ke arah Arga.

"Kamu tahu jelas anak yang dikandung Eila adalah darah dagingmu, tapi kamu tetap membiarkannya meminum ramuan bunga kesumba!"

Eila terpaku dan langsung mengangkat kepalanya.

Arga menghindar, tetapi tidak membalas. Dia hanya mengerutkan kening.

"Kalau tidak begitu, apa lagi yang harus kulakukan? Rumor di luar sudah sangat buruk. Kalau anak itu tetap dilahirkan, nama baiknya hanya akan makin hancur."

"Kalian berdua terjebak bersama selama tiga bulan, makan dan tinggal bersama. Raka, katakan padaku, kalau cerita itu tersebar, siapa yang akan percaya padanya?"

Raka mencibir dingin.

"Benarkah kamu khawatir nama baiknya rusak? Atau sebenarnya kamu takut anak itu dianggap anakku dan adik angkatmu akan merasa tersakiti?"

Sorot mata Arga langsung berubah tajam.

"Raka, kamu tahu Keira jatuh cinta padamu sejak pandangan pertama."

"Kamu juga menyukai Keira. Hanya saja, karena hubungan masa kecilmu dengan Eila, kamu tidak berani mengatakannya. Hari itu, kamu sengaja menunda mengambil lentera sampai malam. Akulah yang merebut lentera itu agar kamu tidak lagi terjebak dan merasa serba salah."

"Tapi, sekarang ...." Arga melangkah mendekat, tatapannya dipenuhi amarah.

"Kamu dan Eila terjebak di gunung selama tiga bulan. Kamu tahu sendiri rumor di luar sudah seperti apa. Kalau anak itu tidak digugurkan, apa Keira harus seumur hidup mendengar orang berkata bahwa suaminya punya anak haram dengan perempuan lain?"

Dia berhenti sejenak, lalu berkata tegas.

"Anak ini, entah anakku atau bukan, tetap tidak boleh dilahirkan."

Setiap katanya bagaikan pisau yang mengoyak hati.

Eila berdiri terpaku. Dia hampir tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya.

Setelah lama terdiam, Raka akhirnya berkata.

"Lalu, bagaimana dengan Eila? Ramuan bunga kesumba sangat merusak tubuh. Bagaimanapun juga, kami tumbuh bersama. Aku tidak tega melihatnya menderita."

"Aku akan menebus semuanya." Arga memotong ucapannya, lalu berbalik menuju ruang kerja.

"Istriku bukan urusanmu, Pendeta Agung. Yang perlu kamu ingat, setengah bulan lagi adalah Festival Bunga. Tahun ini, Keira juga akan membuat lentera."

Eila menatap punggung Arga. Padahal dia berdiri di bawah hangatnya sinar matahari musim semi, tetapi tubuhnya terasa sedingin es.

Setiap kata yang diucapkan Arga menghancurkan seluruh ketulusan hatinya.

Jadi, ternyata seperti itu.

Hari itu, Arga menunggang kuda dan merebut lentera bukan karena jatuh cinta pada pandangan pertama.

Ternyata cinta selama dua tahun ini, lampu yang selalu menyala hingga larut malam, dan tangan yang membimbingnya menulis satu demi satu huruf ....

Setiap kebaikan, setiap senyuman, setiap janji, semuanya demi Keira Pradipta.

Agar adik angkatnya itu bisa menikah dengan pria yang dicintainya tanpa hambatan.

Demi itu, Arga bahkan rela mengorbankan pernikahannya sendiri dan menikahi perempuan yang sama sekali tidak dicintainya.

Eila mundur dua langkah dengan wajah tanpa ekspresi.

Ternyata, saat hati benar-benar hancur, seseorang bahkan tidak mampu lagi menangis.

Eila tidak tahu bagaimana dirinya kembali ke kamar, dan juga tidak tahu bagaimana dia kembali pingsan karena kehabisan tenaga.

Keesokan harinya, Eila perlahan membuka mata. Di samping ranjang, Arga telah duduk menunggunya.

Di tangannya ada semangkuk bubur kurma merah dan lengkeng. Melihat Eila terbangun, dia langsung tersenyum seperti biasanya.

"Sudah bangun? Aku sudah menunggumu hampir seharian."

Dia menyendok sesendok bubur dan menyuapkannya ke bibir Eila.

Namun, Eila tidak bergerak. Tangan Arga berhenti. Dia meletakkan mangkuk itu, lalu memeluknya sambil melembutkan suaranya.

"Aku tahu kamu merasa diperlakukan tidak adil. Bukan berarti aku tidak percaya padamu. Bahkan kalau anak itu benar-benar anak Raka, aku tetap akan mengakuinya. Selama itu anakmu, aku bisa menerimanya."

"Tapi, kita juga harus memikirkan masa depan anak itu. Eila, aku tidak ingin dia dicap sebagai anak haram sejak lahir."

"Kemarin, ibu hanya sedang terbawa emosi. Aku juga berpikir usia kandunganmu masih muda, jadi pengguguran ini tidak akan terlalu berdampak pada tubuhmu. Kamu masih muda, nanti kita masih bisa punya anak lagi."

"Aku berjanji, tahun ini aku pasti akan membuatmu mengandung lagi dan melahirkan anak yang sehat serta ceria. Bagaimana?"

Eila mengangkat pandangannya dan menatapnya tenang. "Baik."

Arga tercengang.

Kalau mengikuti sifat Eila yang biasanya, di saat seperti ini dia pasti sudah membanting mangkuk dan mengusirnya. Mengapa kali ini justru setenang ini?

Arga sedikit mengernyit. Baru saja hendak bertanya lagi, seorang pelayan wanita di luar pintu melapor.

"Jenderal, nona berkata ingin keluar jalan-jalan."

Arga menoleh dan menjawab, "Suruh dia tunggu sebentar. Aku akan menemaninya."

Setelah mengatakan itu, barulah dia teringat sesuatu. Arga kembali menatap ke arah Eila. Namun, sebelum sempat membuka mulut, Eila sudah memotongnya dengan suara pelan.

"Pergilah." Eila tersenyum tipis. "Aku tidak apa-apa."

Arga ragu sejenak, tetapi pada akhirnya dia tetap bangkit dan pergi.

Setelah pintu tertutup, Eila perlahan duduk dan memanggil pelayan, "Citra."

Pelayan wanita itu segera masuk. "Nyonya?"

"Bantu aku berdandan."

"Nyonya hendak keluar? Mau ke mana?"

Eila menyibakkan rambut panjangnya yang berantakan ke belakang telinga. Suaranya sangat pelan.

"Ke kantor pemerintah. Aku ingin bercerai."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Musim Semi Seindah Itu Tidak Akan Pernah Terulang Lagi   Bab 20

    Pemandangan di wilayah barat laut benar-benar berbeda dengan wilayah barat daya.Musim dingin di sini datang lebih awal. Memasuki bulan Oktober, salju sudah mulai turun.Di luar tenda, suara angin menderu lirih. Arga duduk di depan meja, memegang sepucuk surat resmi. Dia telah membacanya cukup lama, tetapi tidak satu kata pun yang benar-benar masuk ke pikirannya.Dia meletakkan surat itu, lalu mengeluarkan sesuatu dari balik pakaiannya.Itu tusuk rambut perak.Bunga kacapiring di kepala tusuk rambut itu sudah sedikit aus. Kilau di bagian tepinya telah menjadi kusam karena berulang kali disentuh.Setiap hari, Arga akan mengeluarkannya dan memandanginya sekali, lalu menyimpannya kembali di dekat dadanya.Seorang pengawal pribadi masuk untuk menambahkan arang. Ketika melihat tusuk rambut di tangan Arga, dia tidak berani bertanya banyak. Pengawal itu menundukkan kepala dan segera keluar.Semua orang di kemah militer tahu bahwa sang jenderal menyimpan seseorang di dalam hatinya. Orang itu t

  • Musim Semi Seindah Itu Tidak Akan Pernah Terulang Lagi   Bab 19

    Dia tidak membawa payung. Seluruh tubuhnya basah kuyup, pakaian hitamnya melekat di tubuh, membuatnya tampak seperti patung batu yang diguyur hujan.Dia adalah Arga.Tampaknya, dia terlalu banyak minum arak. Di balik tirai hujan, tatapannya terkunci pada Eila, matanya memerah.Arga melangkah maju dan berhenti, seolah takut jika dia mendekat, Eila akan terbang menjauh seperti burung yang terkejut."Eila." Suaranya serak. "Bisakah kamu ... menoleh dan melihatku sekali saja?"Eila berdiri di dalam ambang pintu, memandangnya dari balik tirai hujan.Eila mengambil sebuah payung dan berjalan ke tengah hujan, lalu menyerahkan gagang payung itu ke tangannya."Arga, aku tidak membencimu lagi. Tapi aku juga tidak akan mencintaimu lagi. Pulanglah."Arga menggenggam payung itu hingga buku-buku jarinya memutih. Air hujan terus menetes dari rahangnya.Dia membuka mulut, tetapi tidak mampu mengatakan apa-apa. Setelah sekian lama, barulah Arga berhasil mengucapkan sebuah kalimat."Aku tahu Yang Mulia

  • Musim Semi Seindah Itu Tidak Akan Pernah Terulang Lagi   Bab 18

    Arga menyeringai tipis, lalu duduk di hadapannya. Dia menuang secangkir arak untuk dirinya sendiri, tetapi tidak meminumnya. Arga hanya memutarnya di tangan."Yang Mulia Pangeran Ketiga belakangan ini sibuk dengan berbagai urusan, tetapi masih sempat mengadakan jamuan di sini. Justru Andalah yang benar-benar punya waktu luang."Dia berhenti sejenak, lalu pandangannya samar-samar menyapu ke arah Eila."Terlebih lagi, belakangan ini Yang Mulia cukup dekat dengan istri saya. Saya ingin tahu, apa maksud Yang Mulia?""Istrimu?"Dimas meletakkan cangkir araknya. Nada suaranya tenang dan tidak tergesa, tetapi setiap katanya terdengar jelas."Jenderal Arga tampaknya salah ingat. Nona Eila belum menikah. Dari mana muncul sebutan istrimu?"Wajah Arga sedikit berubah.Saat dia hendak membuka mulut, Raka yang berada di sampingnya tiba-tiba berkata dengan tenang."Pernikahan Eila dan Arga memang belum pernah disahkan. Yang Mulia tidak perlu marah."Kata-kata itu terdengar seperti hendak mendamaikan

  • Musim Semi Seindah Itu Tidak Akan Pernah Terulang Lagi   Bab 17

    Suaranya sangat serak, seolah setiap kata dipaksakan keluar dari tenggorokannya."Eila, sebenarnya aku sudah lama menyukaimu."Eila tidak menjawab."Bukan karena ingin memanfaatkanmu, bukan pula untuk memperdayamu."Arga mengangkat pandangannya, sudut matanya memerah."Sungguh."Arga mulai bercerita. Dia mengatakan bahwa pada awalnya dirinya mendekati Eila memang karena Keira.Kemudian, tanpa sadar, dia mulai menaruh hati, tetapi tidak berani mengakuinya.Arga takut di dalam hati Eila masih ada Raka, sehingga dia menyetujui keputusan untuk mengurung Eila di aula leluhur.Arga mengatakan dirinya tidak dapat menemukan Eila, sementara Raka tidak bersedia meramalkan keberadaan Eila untuknya. Dia pun mengutus orang untuk mengawasi Raka. Dari situlah dia mengetahui bahwa Eila telah pergi ke ibu kota, sehingga dirinya mengajukan permohonan ke istana untuk diperbolehkan kembali lebih awal.Menjelang akhir, suaranya mulai bergetar. "Aku tahu sekarang sudah terlambat untuk mengatakan semua ini.

  • Musim Semi Seindah Itu Tidak Akan Pernah Terulang Lagi   Bab 16

    Raka berdiri di tempatnya, memandangi wajah tenang Eila, dan merasa tenggorokannya tercekat.Dia membuka mulut, suaranya terdengar kering."Aku tidak pergi mengambil lenteramu hari itu." Raka menundukkan pandangannya, suaranya begitu pelan hingga hampir tidak terdengar. "Aku menyesal. Selama lebih dari setahun ini, setiap hari aku menyesal.""Aku tahu kamu baik-baik saja. Seharusnya aku tidak datang mengganggumu lagi. Tapi, makin lama waktu berlalu, makin kusadari bahwa aku tidak bisa melupakanmu. Aku tahu kamu datang ke ibu kota. Aku berpikir ... aku hanya ingin melihatmu sekali."Raka mengangkat pandangannya. Matanya memerah. "Eila, bisakah kamu memaafkanku?"Eila menatapnya sejenak."Raka, aku tidak pernah menyalahkanmu karena kamu jatuh cinta pada Keira dan tidak datang mengambil lenteraku.""Urusan perasaan tidak bisa dipaksakan. Aku mengerti."Secercah cahaya melintas di mata Raka."Tapi, kalau yang kamu maksud dengan memaafkan adalah ketika demi Keira, kamu memberiku cap sebagai

  • Musim Semi Seindah Itu Tidak Akan Pernah Terulang Lagi   Bab 15

    Eila membuka mulut, tetapi untuk sesaat tidak tahu harus berkata apa.Dia terdiam cukup lama sebelum berbalik dan menatap Dimas.Pria itu berdiri di sisi meja toko. Dia tidak mendesak, hanya menunggu dengan tenang.Matanya memancarkan senyum yang tulus dan terbuka, jernih tanpa sedikit pun kesan menggoda atau menyimpan maksud tersembunyi.Eila menundukkan pandangannya, lalu mengangkatnya kembali."Baik."Mereka berdua pergi ke utara bersama, dan Dimas juga menepati janjinya.Dia memperkenalkan Eila ke beberapa pengurus bagian pengadaan dari kediaman para bangsawan, lalu menjadi penghubung agar Eila bisa berbicara dengan kasim yang bertugas di Biro Urusan Dalam Istana.Toko rempah Eila yang awalnya hanya sebuah toko kecil, kini telah berkembang menjadi toko ternama yang dikenal di tiga kawasan.Salah satu campuran dupa yang dia kembangkan dipilih menjadi salah satu barang upeti untuk istana karena aromanya lembut dan tahan lama.Eila tidak lagi menjadi perempuan yang harus bergantung pa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status