แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Wel
Eila tiba di kantor pemerintah saat hari masih pagi.

Setelah menjelaskan maksud kedatangannya, panitera memeriksa berkas cukup lama. Kemudian, dia menatap Eila dengan raut wajah yang agak aneh.

"Nyonya, sepertinya pernikahan ini tidak perlu bercerai."

Eila tertegun.

"Maksudnya?"

Panitera membentangkan dokumen itu dan menunjuk bagian kosong di paling bawah.

"Menurut hukum Dinasti Buwana, surat nikah baru sah jika dibubuhi cap resmi pemerintah. Saat itu, Jenderal Arga tidak pernah mengurus cap resminya. Jadi, kalau mengikuti hukum, pernikahan ini sebenarnya tidak sah."

Seorang pelayan di belakangnya bergumam pelan.

"Hamba masih ingat. Waktu itu, jenderal datang mengurus berkas dan berkata, meski tidak bisa menikahi perempuan yang ingin dinikahinya, dia juga tidak ingin nama perempuan lain tercantum di surat nikah."

Suaranya pelan, tetapi setiap katanya terdengar jelas.

Eila terpaku di tempat.

Kemudian, dia tersenyum.

Sudut bibirnya sedikit terangkat, tetapi ada sesuatu di matanya yang benar-benar hancur.

Meskipun pernikahannya dengan Arga bermula karena Arga bersikeras menikahinya, setelah menikah pria itu selalu mengutamakannya dan selalu mengalah.

Semua yang dilakukannya nyaris tanpa cela. Bahkan sebelum Eila mengangguk, dia tidak pernah menyentuhnya.

Seiring berjalannya waktu, Eila pun menyerahkan seluruh hatinya kepada Arga.

Ternyata, sejak awal Arga sudah merencanakannya.

Baguslah.

Bahkan urusan perceraian pun tidak diperlukan lagi.

Eila melangkah keluar dari kantor pemerintah. Di belakangnya, Citra tampak beberapa kali ingin mengatakan sesuatu, tetapi selalu mengurungkannya.

Namun, Eila tidak menoleh. Dia langsung menuju dermaga di selatan kota, tempat singgah rombongan pedagang pencari mutiara yang hilir mudik ke laut selatan.

Dia menemui pemimpin rombongan itu dan langsung bertanya, "Bisakah aku ikut kapal dagang kalian?"

Pemimpin rombongan itu adalah pria paruh baya berkulit legam. Dia mengamati Eila dari atas sampai bawah.

"Nyonya, laut selatan bukan tempat yang mudah. Ombaknya besar dan perjalanannya jauh."

"Aku tahu. Turunkan saja aku di wilayah Larana. Aku ingin mencari keluargaku."

Pemimpin rombongan itu menatap wajahnya sejenak, lalu berkata.

"Baiklah. Tapi kami baru berangkat tujuh hari lagi. Kalau Nyonya benar-benar ingin ikut, datang saja ke dermaga saat itu."

Eila mengangguk dan membayar uang muka.

Dia tidak ingin terus berada di sisi Arga, tetapi juga tidak ingin kembali ke lembah dan bertemu Raka.

Kebetulan, belum lama ini orang tuanya bercerita bahwa bibinya berdagang di wilayah Larana. Karena itu, dia berniat mencari perlindungan ke sana.

Selama bukan berada di sisi mereka berdua, dunia ini begitu luas. Pasti ada tempat untuknya.

Saat tiba di gerbang kediaman jenderal, dia berpapasan dengan sekelompok orang.

Arga berjalan di depan sambil membawa berbagai kantong kertas dan bungkusan kain. Di sampingnya, Keira mendongak dan terus mengajaknya berbicara sambil tersenyum ceria.

Arga pun tersenyum sambil menundukkan kepala mendengarkan ucapannya.

Melihat pemandangan itu, Eila teringat ucapan pelayan di kantor pemerintah, tidak bisa menikahi perempuan yang ingin dinikahinya. Sudut bibir Eila pun terangkat tipis.

Dia tidak menghentikan langkahnya dan langsung melewati mereka.

"Eila."

Arga memanggilnya.

Dia segera menyusul dan menatap Eila dari atas ke bawah, lalu sedikit mengernyit.

"Keadaanmu belum pulih. Seharusnya kamu beristirahat. Kalau ada urusan, suruh saja seseorang memberi tahu. Aku yang akan mengurusnya."

Eila menjawab datar, "Aku bosan, jadi keluar jalan-jalan."

Arga tampaknya masih ingin mengatakan sesuatu. Namun, saat melihat wajah Eila yang pucat, nada suaranya pun melunak.

"Kembalilah beristirahat. Nanti kusuruh orang merebus sup ginseng untukmu."

Eila mengangguk sebagai jawaban, lalu kembali ke halaman kediamannya.

Saat langit di luar mulai gelap, pintu didorong terbuka. Arga masuk sambil membawa sebuah panci tanah liat.

Melihat Eila masih duduk di dekat jendela, dia meletakkan panci itu, lalu memapahnya ke meja.

"Keadaanmu belum pulih, tapi sudah kena angin lagi. Ayo, makan selagi masih hangat. Aku menyuruh dapur merebusnya sejak tadi."

Eila meliriknya. "Aku sudah makan malam."

Arga membuka tutup panci dan mengaduk isinya dengan sendok.

"Ini bukan makanan biasa, tapi makanan penambah stamina. Aku sudah bertanya kepada tabib. Kondisi tubuhmu sangat lemah, jadi harus dipulihkan dengan baik."

Nada bicara Arga penuh perhatian, tetapi matanya tidak berani menatap langsung ke arahnya.

Eila memandangi ekspresinya, dan hatinya terasa makin dingin.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Musim Semi Seindah Itu Tidak Akan Pernah Terulang Lagi   Bab 20

    Pemandangan di wilayah barat laut benar-benar berbeda dengan wilayah barat daya.Musim dingin di sini datang lebih awal. Memasuki bulan Oktober, salju sudah mulai turun.Di luar tenda, suara angin menderu lirih. Arga duduk di depan meja, memegang sepucuk surat resmi. Dia telah membacanya cukup lama, tetapi tidak satu kata pun yang benar-benar masuk ke pikirannya.Dia meletakkan surat itu, lalu mengeluarkan sesuatu dari balik pakaiannya.Itu tusuk rambut perak.Bunga kacapiring di kepala tusuk rambut itu sudah sedikit aus. Kilau di bagian tepinya telah menjadi kusam karena berulang kali disentuh.Setiap hari, Arga akan mengeluarkannya dan memandanginya sekali, lalu menyimpannya kembali di dekat dadanya.Seorang pengawal pribadi masuk untuk menambahkan arang. Ketika melihat tusuk rambut di tangan Arga, dia tidak berani bertanya banyak. Pengawal itu menundukkan kepala dan segera keluar.Semua orang di kemah militer tahu bahwa sang jenderal menyimpan seseorang di dalam hatinya. Orang itu t

  • Musim Semi Seindah Itu Tidak Akan Pernah Terulang Lagi   Bab 19

    Dia tidak membawa payung. Seluruh tubuhnya basah kuyup, pakaian hitamnya melekat di tubuh, membuatnya tampak seperti patung batu yang diguyur hujan.Dia adalah Arga.Tampaknya, dia terlalu banyak minum arak. Di balik tirai hujan, tatapannya terkunci pada Eila, matanya memerah.Arga melangkah maju dan berhenti, seolah takut jika dia mendekat, Eila akan terbang menjauh seperti burung yang terkejut."Eila." Suaranya serak. "Bisakah kamu ... menoleh dan melihatku sekali saja?"Eila berdiri di dalam ambang pintu, memandangnya dari balik tirai hujan.Eila mengambil sebuah payung dan berjalan ke tengah hujan, lalu menyerahkan gagang payung itu ke tangannya."Arga, aku tidak membencimu lagi. Tapi aku juga tidak akan mencintaimu lagi. Pulanglah."Arga menggenggam payung itu hingga buku-buku jarinya memutih. Air hujan terus menetes dari rahangnya.Dia membuka mulut, tetapi tidak mampu mengatakan apa-apa. Setelah sekian lama, barulah Arga berhasil mengucapkan sebuah kalimat."Aku tahu Yang Mulia

  • Musim Semi Seindah Itu Tidak Akan Pernah Terulang Lagi   Bab 18

    Arga menyeringai tipis, lalu duduk di hadapannya. Dia menuang secangkir arak untuk dirinya sendiri, tetapi tidak meminumnya. Arga hanya memutarnya di tangan."Yang Mulia Pangeran Ketiga belakangan ini sibuk dengan berbagai urusan, tetapi masih sempat mengadakan jamuan di sini. Justru Andalah yang benar-benar punya waktu luang."Dia berhenti sejenak, lalu pandangannya samar-samar menyapu ke arah Eila."Terlebih lagi, belakangan ini Yang Mulia cukup dekat dengan istri saya. Saya ingin tahu, apa maksud Yang Mulia?""Istrimu?"Dimas meletakkan cangkir araknya. Nada suaranya tenang dan tidak tergesa, tetapi setiap katanya terdengar jelas."Jenderal Arga tampaknya salah ingat. Nona Eila belum menikah. Dari mana muncul sebutan istrimu?"Wajah Arga sedikit berubah.Saat dia hendak membuka mulut, Raka yang berada di sampingnya tiba-tiba berkata dengan tenang."Pernikahan Eila dan Arga memang belum pernah disahkan. Yang Mulia tidak perlu marah."Kata-kata itu terdengar seperti hendak mendamaikan

  • Musim Semi Seindah Itu Tidak Akan Pernah Terulang Lagi   Bab 17

    Suaranya sangat serak, seolah setiap kata dipaksakan keluar dari tenggorokannya."Eila, sebenarnya aku sudah lama menyukaimu."Eila tidak menjawab."Bukan karena ingin memanfaatkanmu, bukan pula untuk memperdayamu."Arga mengangkat pandangannya, sudut matanya memerah."Sungguh."Arga mulai bercerita. Dia mengatakan bahwa pada awalnya dirinya mendekati Eila memang karena Keira.Kemudian, tanpa sadar, dia mulai menaruh hati, tetapi tidak berani mengakuinya.Arga takut di dalam hati Eila masih ada Raka, sehingga dia menyetujui keputusan untuk mengurung Eila di aula leluhur.Arga mengatakan dirinya tidak dapat menemukan Eila, sementara Raka tidak bersedia meramalkan keberadaan Eila untuknya. Dia pun mengutus orang untuk mengawasi Raka. Dari situlah dia mengetahui bahwa Eila telah pergi ke ibu kota, sehingga dirinya mengajukan permohonan ke istana untuk diperbolehkan kembali lebih awal.Menjelang akhir, suaranya mulai bergetar. "Aku tahu sekarang sudah terlambat untuk mengatakan semua ini.

  • Musim Semi Seindah Itu Tidak Akan Pernah Terulang Lagi   Bab 16

    Raka berdiri di tempatnya, memandangi wajah tenang Eila, dan merasa tenggorokannya tercekat.Dia membuka mulut, suaranya terdengar kering."Aku tidak pergi mengambil lenteramu hari itu." Raka menundukkan pandangannya, suaranya begitu pelan hingga hampir tidak terdengar. "Aku menyesal. Selama lebih dari setahun ini, setiap hari aku menyesal.""Aku tahu kamu baik-baik saja. Seharusnya aku tidak datang mengganggumu lagi. Tapi, makin lama waktu berlalu, makin kusadari bahwa aku tidak bisa melupakanmu. Aku tahu kamu datang ke ibu kota. Aku berpikir ... aku hanya ingin melihatmu sekali."Raka mengangkat pandangannya. Matanya memerah. "Eila, bisakah kamu memaafkanku?"Eila menatapnya sejenak."Raka, aku tidak pernah menyalahkanmu karena kamu jatuh cinta pada Keira dan tidak datang mengambil lenteraku.""Urusan perasaan tidak bisa dipaksakan. Aku mengerti."Secercah cahaya melintas di mata Raka."Tapi, kalau yang kamu maksud dengan memaafkan adalah ketika demi Keira, kamu memberiku cap sebagai

  • Musim Semi Seindah Itu Tidak Akan Pernah Terulang Lagi   Bab 15

    Eila membuka mulut, tetapi untuk sesaat tidak tahu harus berkata apa.Dia terdiam cukup lama sebelum berbalik dan menatap Dimas.Pria itu berdiri di sisi meja toko. Dia tidak mendesak, hanya menunggu dengan tenang.Matanya memancarkan senyum yang tulus dan terbuka, jernih tanpa sedikit pun kesan menggoda atau menyimpan maksud tersembunyi.Eila menundukkan pandangannya, lalu mengangkatnya kembali."Baik."Mereka berdua pergi ke utara bersama, dan Dimas juga menepati janjinya.Dia memperkenalkan Eila ke beberapa pengurus bagian pengadaan dari kediaman para bangsawan, lalu menjadi penghubung agar Eila bisa berbicara dengan kasim yang bertugas di Biro Urusan Dalam Istana.Toko rempah Eila yang awalnya hanya sebuah toko kecil, kini telah berkembang menjadi toko ternama yang dikenal di tiga kawasan.Salah satu campuran dupa yang dia kembangkan dipilih menjadi salah satu barang upeti untuk istana karena aromanya lembut dan tahan lama.Eila tidak lagi menjadi perempuan yang harus bergantung pa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status