Share

Bab 6

Author: Wel
Arga menggendong Eila untuk membersihkan dan mengobati lukanya dengan saksama. Setelah itu, dia memandikan Eila, lalu mengantarkannya ke aula leluhur bersama selimut dan kotak makanan.

"Eila, kamu sudah bekerja keras. Tinggal menyalin sepuluh ribu kitab suci, semuanya akan selesai."

"Aku masih harus mengurus pembangunan kembali kuil. Beristirahatlah dengan tenang. Nanti aku datang lagi."

Nada bicara Arga tetap selembut biasanya, seolah-olah dia selalu mencintainya sepenuh hati.

Pada awalnya, Eila tidak mencintai Arga. Namun, pria itu perlahan meluluhkan hatinya dengan kesabaran dan ketulusannya.

Hanya karena dia batuk sekali, Arga sampai tidak bisa tidur karena khawatir. Bahkan buah pir yang dihadiahkan istana pun semuanya direbus menjadi air minum untuknya.

Siapa perempuan yang tidak akan luluh jika diperlakukan bak harta yang paling berharga?

Eila memandangi punggungnya yang menjauh. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum pahit. Tidak lama kemudian, terdengar percakapan pelan dari luar.

Hatinya terusik. Dia mendekati pintu dan memasang telinga.

Itu suara Raka.

"Bagaimana keadaannya?"

"Masih baik." Suara Arga terdengar lebih pelan. "Sebenarnya cukup menyuruhnya meminta maaf menggantikan Keira. Mengapa harus sampai diarak keliling kota dan menyalin kitab suci? Dia baru saja terluka. Setelah beberapa hari diarak, lukanya malah makin parah."

Terdengar suara tawa sinis, lalu Raka berkata.

"Saat itu, kamu tidak melindungi Eila. Sekarang, untuk apa berpura-pura begitu mencintainya?"

"Aku mengenalnya sejak kecil. Aku tahu sifatnya."

"Dia lebih memilih hancur daripada mengalah. Tidak mungkin dia mau meminta maaf menggantikan Keira. Karena itu, aku hanya bisa memakai cara ini."

Dia berhenti sejenak, lalu merendahkan suaranya.

"Lagi pula, hari ini adalah Festival Bunga. Kalau dia tidak diarak keliling kota, entah apakah dia akan datang membuat masalah. Beberapa hari ke depan masih ada prosesi lamaran dan penentuan hari baik. Urusan Keira sama sekali tidak boleh terganggu."

Arga mendengus dingin. Nada suaranya penuh ejekan.

"Kenapa? Pendeta Agung Raka khawatir istriku masih belum bisa melupakanmu dan akan merusak lentera milik Keira?"

Raka tidak langsung menjawab.

Beberapa saat kemudian, dia baru berkata dengan tenang, "Berjaga-jaga."

Suara Arga juga terdengar dingin, menyiratkan ketidakpuasan. "Besok, datanglah melamar. Setelah pertunangan kalian selesai, aku akan mengeluarkan Eila dari aula leluhur."

Ternyata, hanya demi Festival Bunga Keira, mereka berdua rela menuduhnya sebagai pembawa karma buruk, memaksanya diarak keliling kota, lalu mengurungnya di aula leluhur.

Betapa menggelikannya, Eila.

Sudut bibir Eila terangkat, tetapi matanya memerah.

Rasa amis memenuhi tenggorokannya. Kali ini, dia tidak mampu menahannya lagi. Seteguk darah menyembur ke lantai, lalu pandangannya menjadi gelap.

Saat sadar kembali, langit sudah gelap. Eila hendak menopang tubuhnya untuk duduk, tetapi telapak tangannya menyentuh sesuatu yang dingin.

Eila tersentak dan buru-buru menarik tangannya. Seekor lipan sedang merayap melewati sela-sela jarinya.

Bulu kuduknya langsung berdiri. Dia mundur dengan panik hingga punggungnya membentur kaki meja altar.

Saat mendongak, dia melihat lantai sudah dipenuhi ular dan serangga berbisa yang entah sejak kapan merayap masuk. Semuanya perlahan mendekatinya.

Entah masih ada berapa banyak lagi yang bersembunyi di dalam kegelapan.

Eila tidak berani melihat lebih lama. Dia bangkit dengan terhuyung-huyung dan menggedor pintu sekuat tenaga.

"Buka pintunya! Buka!"

Tidak ada jawaban.

Ular-ular itu mengangkat kepalanya, sementara lipan dan kalajengking makin dekat.

Suara gesekan dari segala penjuru terdengar makin dekat, mengepungnya dari semua sisi.

Tangan Eila gemetar hebat. Dia terus menarik pintu yang terkunci, sementara ular yang paling dekat sudah melengkungkan tubuhnya, bersiap menerkam.

Saat itulah terdengar langkah kaki dari luar. Pintu tiba-tiba didorong hingga terbuka.

"Nyonya!"

Citra berdiri di ambang pintu sambil membawa sebuah lampu minyak. Begitu melihat keadaan di dalam, wajahnya langsung pucat pasi.

Dia tertegun sesaat, lalu bergegas masuk sambil mengayunkan lampu minyak untuk mengusir ular dan serangga berbisa di lantai.

"Pergi! Semuanya pergi!"

Ular dan serangga berbisa takut pada cahaya. Begitu disinari cahaya api, mereka pun mulai mundur.

Citra memanfaatkan kesempatan itu untuk menarik Eila keluar.

Angin malam menerpa wajahnya. Kedua kaki Eila langsung lemas hingga hampir berlutut di tanah.

Citra mengeluarkan sebuah buntalan kecil dari balik pakaiannya, lalu menyodorkannya ke tangan Eila. Matanya memerah dan suaranya bergetar.

"Nyonya, saya tahu besok pagi Anda sudah berjanji bertemu rombongan pedagang. Pergilah."

Eila menerima buntalan itu dan menatap Citra. "Kamu tidak menghentikanku?"

"Tidak." Citra menyeka air matanya, lalu memaksakan sebuah senyum.

"Nyonya ... tidak, Nona Eila. Anda orang yang sangat baik. Jenderal Arga tidak pantas mendapatkan Anda."

Eila membuka mulut hendak mengatakan sesuatu, tetapi tenggorokannya terasa tercekat.

Citra mendorongnya pelan. "Pergilah. Sebentar lagi fajar menyingsing."

Eila menggenggam erat buntalan itu. Dia menatap Citra dalam-dalam untuk terakhir kalinya, lalu berbalik menuju tembok belakang.

Dia melangkah pergi dari kediaman jenderal dan pergi meninggalkan Kota Burama.

Kali ini, dia tidak pernah menoleh lagi.

Arga, seumur hidup ini kita tidak akan pernah bertemu lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Musim Semi Seindah Itu Tidak Akan Pernah Terulang Lagi   Bab 20

    Pemandangan di wilayah barat laut benar-benar berbeda dengan wilayah barat daya.Musim dingin di sini datang lebih awal. Memasuki bulan Oktober, salju sudah mulai turun.Di luar tenda, suara angin menderu lirih. Arga duduk di depan meja, memegang sepucuk surat resmi. Dia telah membacanya cukup lama, tetapi tidak satu kata pun yang benar-benar masuk ke pikirannya.Dia meletakkan surat itu, lalu mengeluarkan sesuatu dari balik pakaiannya.Itu tusuk rambut perak.Bunga kacapiring di kepala tusuk rambut itu sudah sedikit aus. Kilau di bagian tepinya telah menjadi kusam karena berulang kali disentuh.Setiap hari, Arga akan mengeluarkannya dan memandanginya sekali, lalu menyimpannya kembali di dekat dadanya.Seorang pengawal pribadi masuk untuk menambahkan arang. Ketika melihat tusuk rambut di tangan Arga, dia tidak berani bertanya banyak. Pengawal itu menundukkan kepala dan segera keluar.Semua orang di kemah militer tahu bahwa sang jenderal menyimpan seseorang di dalam hatinya. Orang itu t

  • Musim Semi Seindah Itu Tidak Akan Pernah Terulang Lagi   Bab 19

    Dia tidak membawa payung. Seluruh tubuhnya basah kuyup, pakaian hitamnya melekat di tubuh, membuatnya tampak seperti patung batu yang diguyur hujan.Dia adalah Arga.Tampaknya, dia terlalu banyak minum arak. Di balik tirai hujan, tatapannya terkunci pada Eila, matanya memerah.Arga melangkah maju dan berhenti, seolah takut jika dia mendekat, Eila akan terbang menjauh seperti burung yang terkejut."Eila." Suaranya serak. "Bisakah kamu ... menoleh dan melihatku sekali saja?"Eila berdiri di dalam ambang pintu, memandangnya dari balik tirai hujan.Eila mengambil sebuah payung dan berjalan ke tengah hujan, lalu menyerahkan gagang payung itu ke tangannya."Arga, aku tidak membencimu lagi. Tapi aku juga tidak akan mencintaimu lagi. Pulanglah."Arga menggenggam payung itu hingga buku-buku jarinya memutih. Air hujan terus menetes dari rahangnya.Dia membuka mulut, tetapi tidak mampu mengatakan apa-apa. Setelah sekian lama, barulah Arga berhasil mengucapkan sebuah kalimat."Aku tahu Yang Mulia

  • Musim Semi Seindah Itu Tidak Akan Pernah Terulang Lagi   Bab 18

    Arga menyeringai tipis, lalu duduk di hadapannya. Dia menuang secangkir arak untuk dirinya sendiri, tetapi tidak meminumnya. Arga hanya memutarnya di tangan."Yang Mulia Pangeran Ketiga belakangan ini sibuk dengan berbagai urusan, tetapi masih sempat mengadakan jamuan di sini. Justru Andalah yang benar-benar punya waktu luang."Dia berhenti sejenak, lalu pandangannya samar-samar menyapu ke arah Eila."Terlebih lagi, belakangan ini Yang Mulia cukup dekat dengan istri saya. Saya ingin tahu, apa maksud Yang Mulia?""Istrimu?"Dimas meletakkan cangkir araknya. Nada suaranya tenang dan tidak tergesa, tetapi setiap katanya terdengar jelas."Jenderal Arga tampaknya salah ingat. Nona Eila belum menikah. Dari mana muncul sebutan istrimu?"Wajah Arga sedikit berubah.Saat dia hendak membuka mulut, Raka yang berada di sampingnya tiba-tiba berkata dengan tenang."Pernikahan Eila dan Arga memang belum pernah disahkan. Yang Mulia tidak perlu marah."Kata-kata itu terdengar seperti hendak mendamaikan

  • Musim Semi Seindah Itu Tidak Akan Pernah Terulang Lagi   Bab 17

    Suaranya sangat serak, seolah setiap kata dipaksakan keluar dari tenggorokannya."Eila, sebenarnya aku sudah lama menyukaimu."Eila tidak menjawab."Bukan karena ingin memanfaatkanmu, bukan pula untuk memperdayamu."Arga mengangkat pandangannya, sudut matanya memerah."Sungguh."Arga mulai bercerita. Dia mengatakan bahwa pada awalnya dirinya mendekati Eila memang karena Keira.Kemudian, tanpa sadar, dia mulai menaruh hati, tetapi tidak berani mengakuinya.Arga takut di dalam hati Eila masih ada Raka, sehingga dia menyetujui keputusan untuk mengurung Eila di aula leluhur.Arga mengatakan dirinya tidak dapat menemukan Eila, sementara Raka tidak bersedia meramalkan keberadaan Eila untuknya. Dia pun mengutus orang untuk mengawasi Raka. Dari situlah dia mengetahui bahwa Eila telah pergi ke ibu kota, sehingga dirinya mengajukan permohonan ke istana untuk diperbolehkan kembali lebih awal.Menjelang akhir, suaranya mulai bergetar. "Aku tahu sekarang sudah terlambat untuk mengatakan semua ini.

  • Musim Semi Seindah Itu Tidak Akan Pernah Terulang Lagi   Bab 16

    Raka berdiri di tempatnya, memandangi wajah tenang Eila, dan merasa tenggorokannya tercekat.Dia membuka mulut, suaranya terdengar kering."Aku tidak pergi mengambil lenteramu hari itu." Raka menundukkan pandangannya, suaranya begitu pelan hingga hampir tidak terdengar. "Aku menyesal. Selama lebih dari setahun ini, setiap hari aku menyesal.""Aku tahu kamu baik-baik saja. Seharusnya aku tidak datang mengganggumu lagi. Tapi, makin lama waktu berlalu, makin kusadari bahwa aku tidak bisa melupakanmu. Aku tahu kamu datang ke ibu kota. Aku berpikir ... aku hanya ingin melihatmu sekali."Raka mengangkat pandangannya. Matanya memerah. "Eila, bisakah kamu memaafkanku?"Eila menatapnya sejenak."Raka, aku tidak pernah menyalahkanmu karena kamu jatuh cinta pada Keira dan tidak datang mengambil lenteraku.""Urusan perasaan tidak bisa dipaksakan. Aku mengerti."Secercah cahaya melintas di mata Raka."Tapi, kalau yang kamu maksud dengan memaafkan adalah ketika demi Keira, kamu memberiku cap sebagai

  • Musim Semi Seindah Itu Tidak Akan Pernah Terulang Lagi   Bab 15

    Eila membuka mulut, tetapi untuk sesaat tidak tahu harus berkata apa.Dia terdiam cukup lama sebelum berbalik dan menatap Dimas.Pria itu berdiri di sisi meja toko. Dia tidak mendesak, hanya menunggu dengan tenang.Matanya memancarkan senyum yang tulus dan terbuka, jernih tanpa sedikit pun kesan menggoda atau menyimpan maksud tersembunyi.Eila menundukkan pandangannya, lalu mengangkatnya kembali."Baik."Mereka berdua pergi ke utara bersama, dan Dimas juga menepati janjinya.Dia memperkenalkan Eila ke beberapa pengurus bagian pengadaan dari kediaman para bangsawan, lalu menjadi penghubung agar Eila bisa berbicara dengan kasim yang bertugas di Biro Urusan Dalam Istana.Toko rempah Eila yang awalnya hanya sebuah toko kecil, kini telah berkembang menjadi toko ternama yang dikenal di tiga kawasan.Salah satu campuran dupa yang dia kembangkan dipilih menjadi salah satu barang upeti untuk istana karena aromanya lembut dan tahan lama.Eila tidak lagi menjadi perempuan yang harus bergantung pa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status