Share

Bab 5

Author: Wel
Eila mengira dirinya salah dengar.

Dia menatap Arga. Di wajah pria itu tampak sedikit rasa bersalah, tetapi yang lebih jelas justru sikap seolah semua itu memang sudah seharusnya.

Tubuhnya baru saja dipaksa meminum ramuan bunga kesumba dan belum sempat pulih. Kemarin, dia bahkan tertimpa balok saat menyelamatkan adik perempuan Arga hingga bahunya masih dibalut perban.

Sekarang, Arga malah ingin dia menanggung kesalahan Keira.

Eila bahkan hampir tertawa karena marah. Dia menegakkan punggungnya dan menatap Arga.

"Kalau aku menolak?"

"Jenderal mau mengikatku dan memaksaku pergi?"

Arga tampak tidak menyangka dia akan menjawab seperti itu. Alisnya langsung berkerut.

"Eila, jangan berkata begitu karena emosi. Kamu adalah kakak iparnya. Melindungi adik sendiri bukankah memang seharusnya?"

"Hanya meminta maaf saja, bukan menyuruhmu menanggung kesalahan."

Sebelum Eila sempat menjawab, tiba-tiba terdengar keributan dari luar.

"Pendeta agung datang!"

"Tuan Raka!"

Suara gaduh warga seketika menghilang, seolah mereka sedang menghormati seseorang yang sangat disegani.

Arga menoleh ke arah gerbang, lalu memerintahkan, "Buka pintunya."

Pelayan segera mengangguk dan berlari membuka gerbang.

Di luar telah berkumpul banyak warga. Raka baru saja turun dari kudanya.

Dia masih mengenakan jubah putih bersih, dengan raut wajah dingin dan tenang.

Melewati kerumunan, dia berjalan ke depan. Tatapannya menyapu semua orang yang hadir, lalu berkata.

"Kebakaran di kuil itu bukan ulah manusia. Itu hanya kabar bohong. Tidak perlu dibahas lagi."

Warga saling berpandangan. Seseorang akhirnya memberanikan diri bertanya.

"Pendeta Agung, kalau bukan karena nona itu menjatuhkan lilin, mengapa kuil yang baik-baik saja bisa tiba-tiba terbakar?"

Ekspresi Raka tidak berubah sedikit pun. Tatapannya sekilas menyapu Keira yang sedang menyeka air mata, lalu berkata dengan tenang.

"Di antara para wanita yang datang bersembahyang hari itu, ada seseorang yang membawa karma buruk dan membuat Dewa Gunung murka. Karena itulah api dari langit diturunkan sebagai hukuman."

Begitu kata-kata itu keluar, seluruh tempat langsung gempar.

Jantung Eila berdegup kencang. Tanpa sadar dia mengangkat kepalanya menatap Raka.

Arga melangkah maju dan berdiri melindungi Keira di belakangnya. "Siapa orang itu?"

Tatapan Raka akhirnya bergerak.

Perlahan dia menoleh. Pandangannya melewati semua orang, lalu berhenti pada Eila.

"Dia. Istri sah Jenderal Arga, Eila."

Semua mata langsung tertuju kepada Eila.

Bahu Eila masih dibalut perban, sementara wajahnya pucat pasi.

Eila menatap Raka.

Mereka tumbuh bersama sejak kecil. Hubungan mereka begitu dekat.

Bahkan setelah mengetahui Raka menyukai Keira sehingga sengaja tidak mengambil lentera buatannya, Eila tidak pernah menyalahkannya.

Perasaan memang tidak bisa dipaksakan.

Namun, mengapa dia harus diperlakukan seperti ini?

Demi melindungi Keira, apakah Raka rela menjadikannya kambing hitam?

"Dengan segala hormat, Pendeta Agung, karma buruk apa yang kubawa hingga membuat dewa murka?"

Raka menundukkan pandangannya. Suaranya tetap datar.

"Rahasia langit tidak boleh diungkapkan. Kamu harus diarak keliling kota selama tiga hari untuk mengusir karma buruk itu. Setelah itu, salinlah kitab suci sebanyak sepuluh ribu kali agar bencana ini benar-benar sirna."

Eila tertawa karena marah. Baru saja hendak membalas, Arga sudah menggenggam pergelangan tangannya.

Nada suaranya berubah tegas.

"Eila, kamu berasal dari Lembah Arunika. Kamu seharusnya tahu bahwa keputusan pendeta agung tidak mungkin salah. Berhentilah mencari-cari alasan."

Mencari-cari alasan?

Eila membuka mulut, tetapi sebelum sempat berbicara, Arga sudah memberi isyarat kepada para pelayan di belakangnya.

"Bawa Nyonya pergi."

Dua orang pelayan wanita langsung mencengkeram kedua lengannya dan menyeretnya keluar. Luka di bahunya tertarik hingga rasa sakit membuat pandangannya menggelap.

Dia didorong ke jalan. Seseorang menyiramkan seember air ke tubuhnya. Air dingin meresap ke pakaiannya dan membasahi luka di bahunya.

Rasa sakitnya hampir membuatnya pingsan.

"Karma buruk merasukinya! Harus diusir!"

Ada yang melempari Eila dengan sayuran busuk. Ada pula yang meludahinya.

Sehelai sayuran busuk menghantam dahinya, lalu menggantung lemas di wajahnya.

Eila hanya menundukkan kepala. Dia tidak menghindar, juga sudah tidak punya tenaga untuk menghindar. Dia hanya bisa terus diseret.

Tubuhnya dikawal begitu ketat hingga tidak memiliki sedikit pun tenaga untuk melawan. Setiap hari, dia diarak keliling kota selama enam jam.

Barulah pada hari Festival Bunga, setelah arak-arakan itu berakhir, Arga akhirnya muncul.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Musim Semi Seindah Itu Tidak Akan Pernah Terulang Lagi   Bab 20

    Pemandangan di wilayah barat laut benar-benar berbeda dengan wilayah barat daya.Musim dingin di sini datang lebih awal. Memasuki bulan Oktober, salju sudah mulai turun.Di luar tenda, suara angin menderu lirih. Arga duduk di depan meja, memegang sepucuk surat resmi. Dia telah membacanya cukup lama, tetapi tidak satu kata pun yang benar-benar masuk ke pikirannya.Dia meletakkan surat itu, lalu mengeluarkan sesuatu dari balik pakaiannya.Itu tusuk rambut perak.Bunga kacapiring di kepala tusuk rambut itu sudah sedikit aus. Kilau di bagian tepinya telah menjadi kusam karena berulang kali disentuh.Setiap hari, Arga akan mengeluarkannya dan memandanginya sekali, lalu menyimpannya kembali di dekat dadanya.Seorang pengawal pribadi masuk untuk menambahkan arang. Ketika melihat tusuk rambut di tangan Arga, dia tidak berani bertanya banyak. Pengawal itu menundukkan kepala dan segera keluar.Semua orang di kemah militer tahu bahwa sang jenderal menyimpan seseorang di dalam hatinya. Orang itu t

  • Musim Semi Seindah Itu Tidak Akan Pernah Terulang Lagi   Bab 19

    Dia tidak membawa payung. Seluruh tubuhnya basah kuyup, pakaian hitamnya melekat di tubuh, membuatnya tampak seperti patung batu yang diguyur hujan.Dia adalah Arga.Tampaknya, dia terlalu banyak minum arak. Di balik tirai hujan, tatapannya terkunci pada Eila, matanya memerah.Arga melangkah maju dan berhenti, seolah takut jika dia mendekat, Eila akan terbang menjauh seperti burung yang terkejut."Eila." Suaranya serak. "Bisakah kamu ... menoleh dan melihatku sekali saja?"Eila berdiri di dalam ambang pintu, memandangnya dari balik tirai hujan.Eila mengambil sebuah payung dan berjalan ke tengah hujan, lalu menyerahkan gagang payung itu ke tangannya."Arga, aku tidak membencimu lagi. Tapi aku juga tidak akan mencintaimu lagi. Pulanglah."Arga menggenggam payung itu hingga buku-buku jarinya memutih. Air hujan terus menetes dari rahangnya.Dia membuka mulut, tetapi tidak mampu mengatakan apa-apa. Setelah sekian lama, barulah Arga berhasil mengucapkan sebuah kalimat."Aku tahu Yang Mulia

  • Musim Semi Seindah Itu Tidak Akan Pernah Terulang Lagi   Bab 18

    Arga menyeringai tipis, lalu duduk di hadapannya. Dia menuang secangkir arak untuk dirinya sendiri, tetapi tidak meminumnya. Arga hanya memutarnya di tangan."Yang Mulia Pangeran Ketiga belakangan ini sibuk dengan berbagai urusan, tetapi masih sempat mengadakan jamuan di sini. Justru Andalah yang benar-benar punya waktu luang."Dia berhenti sejenak, lalu pandangannya samar-samar menyapu ke arah Eila."Terlebih lagi, belakangan ini Yang Mulia cukup dekat dengan istri saya. Saya ingin tahu, apa maksud Yang Mulia?""Istrimu?"Dimas meletakkan cangkir araknya. Nada suaranya tenang dan tidak tergesa, tetapi setiap katanya terdengar jelas."Jenderal Arga tampaknya salah ingat. Nona Eila belum menikah. Dari mana muncul sebutan istrimu?"Wajah Arga sedikit berubah.Saat dia hendak membuka mulut, Raka yang berada di sampingnya tiba-tiba berkata dengan tenang."Pernikahan Eila dan Arga memang belum pernah disahkan. Yang Mulia tidak perlu marah."Kata-kata itu terdengar seperti hendak mendamaikan

  • Musim Semi Seindah Itu Tidak Akan Pernah Terulang Lagi   Bab 17

    Suaranya sangat serak, seolah setiap kata dipaksakan keluar dari tenggorokannya."Eila, sebenarnya aku sudah lama menyukaimu."Eila tidak menjawab."Bukan karena ingin memanfaatkanmu, bukan pula untuk memperdayamu."Arga mengangkat pandangannya, sudut matanya memerah."Sungguh."Arga mulai bercerita. Dia mengatakan bahwa pada awalnya dirinya mendekati Eila memang karena Keira.Kemudian, tanpa sadar, dia mulai menaruh hati, tetapi tidak berani mengakuinya.Arga takut di dalam hati Eila masih ada Raka, sehingga dia menyetujui keputusan untuk mengurung Eila di aula leluhur.Arga mengatakan dirinya tidak dapat menemukan Eila, sementara Raka tidak bersedia meramalkan keberadaan Eila untuknya. Dia pun mengutus orang untuk mengawasi Raka. Dari situlah dia mengetahui bahwa Eila telah pergi ke ibu kota, sehingga dirinya mengajukan permohonan ke istana untuk diperbolehkan kembali lebih awal.Menjelang akhir, suaranya mulai bergetar. "Aku tahu sekarang sudah terlambat untuk mengatakan semua ini.

  • Musim Semi Seindah Itu Tidak Akan Pernah Terulang Lagi   Bab 16

    Raka berdiri di tempatnya, memandangi wajah tenang Eila, dan merasa tenggorokannya tercekat.Dia membuka mulut, suaranya terdengar kering."Aku tidak pergi mengambil lenteramu hari itu." Raka menundukkan pandangannya, suaranya begitu pelan hingga hampir tidak terdengar. "Aku menyesal. Selama lebih dari setahun ini, setiap hari aku menyesal.""Aku tahu kamu baik-baik saja. Seharusnya aku tidak datang mengganggumu lagi. Tapi, makin lama waktu berlalu, makin kusadari bahwa aku tidak bisa melupakanmu. Aku tahu kamu datang ke ibu kota. Aku berpikir ... aku hanya ingin melihatmu sekali."Raka mengangkat pandangannya. Matanya memerah. "Eila, bisakah kamu memaafkanku?"Eila menatapnya sejenak."Raka, aku tidak pernah menyalahkanmu karena kamu jatuh cinta pada Keira dan tidak datang mengambil lenteraku.""Urusan perasaan tidak bisa dipaksakan. Aku mengerti."Secercah cahaya melintas di mata Raka."Tapi, kalau yang kamu maksud dengan memaafkan adalah ketika demi Keira, kamu memberiku cap sebagai

  • Musim Semi Seindah Itu Tidak Akan Pernah Terulang Lagi   Bab 15

    Eila membuka mulut, tetapi untuk sesaat tidak tahu harus berkata apa.Dia terdiam cukup lama sebelum berbalik dan menatap Dimas.Pria itu berdiri di sisi meja toko. Dia tidak mendesak, hanya menunggu dengan tenang.Matanya memancarkan senyum yang tulus dan terbuka, jernih tanpa sedikit pun kesan menggoda atau menyimpan maksud tersembunyi.Eila menundukkan pandangannya, lalu mengangkatnya kembali."Baik."Mereka berdua pergi ke utara bersama, dan Dimas juga menepati janjinya.Dia memperkenalkan Eila ke beberapa pengurus bagian pengadaan dari kediaman para bangsawan, lalu menjadi penghubung agar Eila bisa berbicara dengan kasim yang bertugas di Biro Urusan Dalam Istana.Toko rempah Eila yang awalnya hanya sebuah toko kecil, kini telah berkembang menjadi toko ternama yang dikenal di tiga kawasan.Salah satu campuran dupa yang dia kembangkan dipilih menjadi salah satu barang upeti untuk istana karena aromanya lembut dan tahan lama.Eila tidak lagi menjadi perempuan yang harus bergantung pa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status