FAZER LOGINPada hari Virly menyerahkan draf final untuk seri terbaru desainnya yang berjudul "Kelahiran Kembali", salju pertama sejak awal musim dingin turun di Paris.Malam itu, Louie memesan sebuah restoran Prancis. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Virly bisa bersantai dan minum cukup banyak anggur.Saat keluar dari restoran, langkahnya sedikit limbung, tubuhnya terhuyung. Louie pun mengulurkan tangan untuk merangkul pinggangnya. Nadanya terdengar pasrah sekaligus penuh perhatian. "Pelan-pelan, jangan sampai jatuh."Virly menatap Louie dengan tatapan kosong, lalu tiba-tiba bertanya, "Louie, kenapa kamu begitu baik padaku?"Louie tidak langsung menjawab. Dia melepas mantel yang dikenakannya, menyampirkannya ke bahu Virly, lalu membantu merapikan kerahnya."Pertama kali aku melihat portofoliomu, aku langsung berpikir, orang ini pasti menyimpan banyak hal yang nggak bisa diungkapkan.""Lalu ketika melihatmu di kantor, meski kamu tersenyum dan menyapaku, matamu justru dipenuhi jarak. Seja
Pada minggu pertama setelah Niel kembali ke tanah air, dia mengurung diri di kantor dan menyelesaikan tumpukan dokumen yang telah tertunda selama hampir sebulan.Pada minggu kedua, dia mulai mengalami insomnia. Setiap malam dia berbaring di ranjang besar di kamar utama. Sisi di sebelahnya kosong. Dia terus membolak-balikkan badan karena tidak bisa tidur.Belakangan, dia bahkan tidak tidur sama sekali. Dia pergi ke ruang kerja, menyalakan komputer, lalu menelusuri berbagai proyek tanggung jawab sosial perusahaan.Dulu, dia menganggap semua itu hanya pencitraan. Cukup mengambil foto, masuk berita, lalu selesai. Namun sekarang, dia membacanya halaman demi halaman.Dia membaca laporan permohonan bantuan dari sekolah-sekolah di daerah pegunungan terpencil, membaca surat ucapan terima kasih yang ditulis para siswa dari keluarga miskin, serta melihat foto anak-anak yang mengenakan jaket katun lusuh sambil memegang papan bertuliskan "Terima kasih, Paman dan Bibi".Dia teringat ucapan Virly bah
Saat menerima telepon dari rumah sakit, Virly sedang merapikan lembar-lembar desain di atas meja.Suara perawat di seberang telepon terdengar agak tak berdaya. "Bu Virly, Pak Niel sudah sadar. Beliau bersikeras ingin bertemu dengan Anda dan menolak menerima perawatan. Kalau terus begini, kondisinya bisa memburuk."Mungkin melihat keraguannya, Louie meletakkan dokumen di tangannya dan berkata dengan lembut, "Aku temani kamu ke sana. Anggap saja sebagai penutup semuanya."Meski enggan, Virly tetap tidak sanggup melihat Niel menolak perawatan. Dia pun pergi bersama Louie menuju rumah sakit.Dalam perjalanan ke rumah sakit, Virly bersandar di jendela mobil dan teringat bahwa saat mereka masih berpacaran, Niel juga pernah menggunakan cara seperti ini.Saat itu mereka bertengkar. Niel demam dan tidak mau minum obat, bahkan bersikeras bahwa dia baru mau menjalani pengobatan jika Virly datang menemuinya.Setelah Virly datang, dia menggenggam tangan Virly dan berkata, "Aku tahu kamu peduli pada
Dalam perjalanan pulang, suara Virly dipenuhi rasa bersalah. "Terima kasih, Louie. Aku malah merepotkanmu lagi."Louie tersenyum lembut. "Kamu sadar nggak, kamu terus-terusan berterima kasih padaku?"Pipi Virly sedikit memerah, tatapannya menghindar. "Aku hanya merasa nggak enak terus merepotkanmu. Lagi pula, kita juga nggak bisa dibilang ....""Nggak bisa dibilang apa? Akrab?" Louie melanjutkan ucapannya dengan nada sedikit tak berdaya. "Aku nggak pernah merasa kalau kamu merepotkanku kok."Nada bicaranya serius. "Aku melakukan semuanya dengan sukarela."Dia terdiam sejenak sebelum menambahkan, "Virly, aku nggak ingin kamu bersikap sungkan seperti ini padaku. Aku juga nggak ingin hanya menjadi orang yang selalu kamu beri ucapan terima kasih."Mata Virly sedikit memerah. "Aku nggak sengaja bersikap seperti ini. Hanya saja, sebelumnya nggak pernah ada orang yang memperlakukanku seperti ini."Dia teringat saat berada di Keluarga Thajeb, ketika dia selalu berusaha menyenangkan semua orang
Hari-hari berikutnya, Louie semakin perhatian kepada Virly.Saat Virly menemui hambatan dalam desain dan merasa kebingungan, Louie membimbingnya dengan sabar.Saat mereka pulang kerja bersama, Louie selalu berjalan di sisi yang menghadap jalan, terus melindungi keselamatannya.Ketika Virly sesekali menyebut toko mana yang menjual kue kastanye yang enak, keesokan harinya selalu ada sebuah kotak kecil di atas mejanya.Kehangatan ini datang perlahan tanpa tergesa-gesa, sedikit demi sedikit menghangatkan hati Virly yang telah lama membeku.Suatu hari, Gwen tiba-tiba menelepon. Awalnya dia menanyakan kabar Virly di Paris dengan penuh perhatian dan mengingatkannya agar menjaga diri baik-baik.Tak lama kemudian, topiknya berubah."Virly, kamu sudah lihat beritanya?""Foto-foto pribadi Erica terekspos, semua perbuatannya juga terbongkar. Kudengar Niel bahkan mengirimnya ke rumah sakit jiwa."Gwen terdiam sejenak, lalu menambahkan, "Niel juga ... akhir-akhir ini dia benar-benar seperti orang gi
Setelah selesai membaca surat dari Niel, pandangan Virly tertuju pada bros yang sudah diperbaiki di samping tangannya, lalu pikirannya melayang.Kenangan-kenangan yang selama ini telah memudar tiba-tiba kembali membanjiri pikirannya. Dia teringat sosok ibu angkatnya yang menggenggam tangannya menjelang ajal dan berpesan agar dia menjaga dirinya baik-baik.Teringat dirinya saat baru menikah dan masuk ke Keluarga Thajeb. Saat itu, dia penuh harapan. Dia mengurus rumah tangga dengan baik, selalu mengalah dan memaklumi.Juga malam-malam yang tak terhitung jumlahnya ketika dia menunggu Niel pulang, sementara makanan di meja berkali-kali dipanaskan. Hari-harinya sunyi dan sepi."Kalau memang masih belum bisa melepaskannya, kamu nggak perlu memaksakan diri." Louie meletakkan segelas air hangat di samping tangannya dengan lembut. "Kalau kamu masih ingin menjelaskan semuanya ke dia, aku bisa menemanimu."Virly tersadar dan menggeleng pelan. "Bukan belum bisa melepaskannya. Cuma waktu lihat bros







