Share

Bab 6

Author: Charleet
Virly ingin berlari, tetapi dicegat oleh si pria kurus.

"Kenapa buru-buru sekali? Foto-fotomu sudah tersebar di internet, masa masih takut dilihat orang?"

Pria gemuk itu memutari dari samping, lalu mengulurkan tangan hendak menyentuh wajahnya. "Biar aku lihat, apakah aslinya sama menggoda seperti di foto."

Virly mati-matian menekan kepanikan di dalam hatinya, lalu tanpa sadar menghubungi kontak daruratnya. Nomor itu adalah nomor Niel.

Saat mengatur kontak itu sebelumnya, Niel pernah berjanji dengan penuh keyakinan, "Virly, kalau kamu dalam bahaya, tekan nomor ini. Nggak peduli aku di mana, aku pasti akan datang secepatnya."

Setelah telepon tersambung, dia baru hendak berbicara, tetapi terdengar suara manja Erica dari seberang.

"Niel, jangan nakal lagi .... Ada telepon ...."

Niel menjawab dengan suara samar, "Biarkan saja."

Setelah itu, terdengar suara gesekan pakaian yang bercampur dengan rengekan manja Erica. Detik berikutnya, telepon itu diputus begitu saja.

Melihat kedua pria itu mendekat sambil menyeringai cabul, suara Virly menegang. Namun, dia berusaha keras tetap tenang. "Jangan mendekat atau aku akan telepon polisi!"

Keduanya saling memandang, lalu malah tertawa.

Pria kurus itu menatapnya dengan nakal. "Lapor polisi? Kamu tahu kami disuruh siapa? Kamu sudah bikin Bu Erica marah. Kalau bukan karena persetujuan Pak Niel, mana mungkin kami berani mengincarmu."

Darah Virly seolah membeku pada saat itu.

Si pria gemuk menambahkan dengan enteng, "Pak Niel menyuruh kami memberimu sedikit pelajaran biar kamu tahu diri."

Kalimat itu ibarat hantaman terakhir yang memutus urat saraf Virly yang sejak tadi menegang. Dia berdiri terpaku di tempat. Harapan terakhir di matanya benar-benar padam.

Melihat Virly tak lagi melawan, pria gemuk itu mengira dia sudah menyerah. Senyum menjijikkan muncul di wajahnya.

"Nah, begitu dong. Turuti saja, kami nggak akan memperlakukanmu dengan buruk ...."

Tepat saat tangannya menyentuh Virly, Virly sontak menunduk dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk menggigit keras pergelangan tangan si pria gemuk. Pria itu pun kesakitan dan langsung menarik tangannya.

Memanfaatkan momen ketika kedua pria itu masih terpaku, Virly memiringkan tubuh dan menerobos melalui celah di antara mereka, lalu berlari sekuat tenaga.

Sepatu hak tingginya terlepas, tetapi dia tidak sempat mengambilnya. Telapak kakinya yang telanjang pun lecet dan terluka, tetapi dia terus berlari sambil menahan rasa sakit. Baru setelah sampai di jalan besar yang ramai oleh pejalan kaki, dia berhenti.

Dia terengah-engah sambil menunduk melihat dirinya yang begitu berantakan. Seketika, dia merasa dirinya begitu konyol sekaligus menyedihkan.

Konyol karena dia ternyata masih berharap Niel datang menyelamatkannya. Menyedihkan karena pria yang selama ini berulang kali mengatakan akan melindunginya seumur hidup, ternyata justru orang yang mendorongnya ke jurang.

Setelah kembali ke vila, dia langsung menuju kamar, mandi, berganti piama, lalu mengoleskan obat pada luka-lukanya.

Seusai mengobati lukanya sambil menahan sakit, ponselnya berdering. Niel yang menelepon.

Virly menatap nama di layar cukup lama sebelum akhirnya mengangkatnya.

"Tadi kamu telepon aku?" Nada bicara Niel terdengar santai. "Ada apa?"

Suara Virly tenang. "Nggak sengaja tertekan."

"Oh." Niel tidak bertanya lebih lanjut. Dari seberang telepon terdengar suara Erica berbicara pelan. Dia menjawabnya sebentar, lalu kembali berkata kepada Virly, "Oh ya, besok aku mau mengajak Erica ke luar negeri untuk jalan-jalan. Sejak kejadian kamu merobek gaunnya waktu itu, suasana hatinya terus buruk."

"Beberapa hari ini kamu tetap di rumah dan renungkan kesalahanmu. Kalau ada apa-apa, cari kepala pelayan."

Virly berpikir, dia tidak akan tinggal di sini lagi. Karena besok dia akan pergi.

Setelah menutup telepon, dia mulai mengemasi barang-barangnya. Dia tidak membawa satu pun barang yang dibelikan Niel untuknya. Dia hanya memasukkan rancangan desain, bros milik ibu angkatnya, dan beberapa pakaian ganti.

Baru saja dia menarik ritsleting koper, pintu kamar diketuk pelan oleh seorang pelayan. "Nyonya, ada paket untuk Nyonya."

Virly menerima paket itu. Ketika dibuka, di dalamnya ada dua akta cerai mereka.

Dia tiba-tiba teringat hari ketika mereka mengambil akta nikah. Setelah keluar dari kantor catatan sipil, Niel langsung mengangkat akta nikah mereka untuk difoto. Dia bahkan tidak sabar ingin mengunggahnya ke medsos untuk mengumumkan pernikahan mereka kepada semua orang.

Virly menganggapnya kekanak-kanakan dan tertawa sambil mengulurkan tangan hendak merebut akta itu.

Namun, Niel justru memanfaatkan kesempatan itu untuk menggenggam tangannya, menyelipkan jari-jari mereka, lalu berbisik di telinganya dengan sungguh-sungguh, "Nyonya Thajeb, mohon bimbingannya untuk sisa hidup kita."

Kini, mereka telah sah bercerai. Dari akta nikah menjadi akta cerai.

Keesokan harinya, Virly bangun sangat pagi. Ketika dia turun ke lantai bawah, para pelayan bahkan belum bangun.

Dia meletakkan akta cerai milik Niel tepat di tengah meja teh ruang tamu, lalu memblokir dan menghapus seluruh kontak Niel.

Setelah semuanya selesai, dia mengangkat koper dan untuk terakhir kalinya melihat ke sekeliling rumah yang telah ditinggalinya selama tujuh tahun.

Tujuh tahun lalu, Niel menggenggam tangannya dan membuka pintu ini sambil berkata, "Virly, mulai sekarang, ini adalah rumah kita."

Namun, tujuh tahun kemudian, hari ini dia berdiri seorang diri di sini dan akhirnya bersedia mengakui bahwa tempat ini tidak pernah menjadi rumahnya.

Selama beberapa detik, dia memandangi perabotan yang begitu dikenalnya. Tidak ada lagi keengganan untuk berpisah di matanya, hanya ketenangan setelah akhirnya melepaskan semuanya.

Kemudian, dia membuka pintu dan berjalan ke luar. Kali ini, dia tidak pernah menoleh lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Musim Semi Setelah Pernikahan yang Menyakitkan   Bab 20

    Pada hari Virly menyerahkan draf final untuk seri terbaru desainnya yang berjudul "Kelahiran Kembali", salju pertama sejak awal musim dingin turun di Paris.Malam itu, Louie memesan sebuah restoran Prancis. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Virly bisa bersantai dan minum cukup banyak anggur.Saat keluar dari restoran, langkahnya sedikit limbung, tubuhnya terhuyung. Louie pun mengulurkan tangan untuk merangkul pinggangnya. Nadanya terdengar pasrah sekaligus penuh perhatian. "Pelan-pelan, jangan sampai jatuh."Virly menatap Louie dengan tatapan kosong, lalu tiba-tiba bertanya, "Louie, kenapa kamu begitu baik padaku?"Louie tidak langsung menjawab. Dia melepas mantel yang dikenakannya, menyampirkannya ke bahu Virly, lalu membantu merapikan kerahnya."Pertama kali aku melihat portofoliomu, aku langsung berpikir, orang ini pasti menyimpan banyak hal yang nggak bisa diungkapkan.""Lalu ketika melihatmu di kantor, meski kamu tersenyum dan menyapaku, matamu justru dipenuhi jarak. Seja

  • Musim Semi Setelah Pernikahan yang Menyakitkan   Bab 19

    Pada minggu pertama setelah Niel kembali ke tanah air, dia mengurung diri di kantor dan menyelesaikan tumpukan dokumen yang telah tertunda selama hampir sebulan.Pada minggu kedua, dia mulai mengalami insomnia. Setiap malam dia berbaring di ranjang besar di kamar utama. Sisi di sebelahnya kosong. Dia terus membolak-balikkan badan karena tidak bisa tidur.Belakangan, dia bahkan tidak tidur sama sekali. Dia pergi ke ruang kerja, menyalakan komputer, lalu menelusuri berbagai proyek tanggung jawab sosial perusahaan.Dulu, dia menganggap semua itu hanya pencitraan. Cukup mengambil foto, masuk berita, lalu selesai. Namun sekarang, dia membacanya halaman demi halaman.Dia membaca laporan permohonan bantuan dari sekolah-sekolah di daerah pegunungan terpencil, membaca surat ucapan terima kasih yang ditulis para siswa dari keluarga miskin, serta melihat foto anak-anak yang mengenakan jaket katun lusuh sambil memegang papan bertuliskan "Terima kasih, Paman dan Bibi".Dia teringat ucapan Virly bah

  • Musim Semi Setelah Pernikahan yang Menyakitkan   Bab 18

    Saat menerima telepon dari rumah sakit, Virly sedang merapikan lembar-lembar desain di atas meja.Suara perawat di seberang telepon terdengar agak tak berdaya. "Bu Virly, Pak Niel sudah sadar. Beliau bersikeras ingin bertemu dengan Anda dan menolak menerima perawatan. Kalau terus begini, kondisinya bisa memburuk."Mungkin melihat keraguannya, Louie meletakkan dokumen di tangannya dan berkata dengan lembut, "Aku temani kamu ke sana. Anggap saja sebagai penutup semuanya."Meski enggan, Virly tetap tidak sanggup melihat Niel menolak perawatan. Dia pun pergi bersama Louie menuju rumah sakit.Dalam perjalanan ke rumah sakit, Virly bersandar di jendela mobil dan teringat bahwa saat mereka masih berpacaran, Niel juga pernah menggunakan cara seperti ini.Saat itu mereka bertengkar. Niel demam dan tidak mau minum obat, bahkan bersikeras bahwa dia baru mau menjalani pengobatan jika Virly datang menemuinya.Setelah Virly datang, dia menggenggam tangan Virly dan berkata, "Aku tahu kamu peduli pada

  • Musim Semi Setelah Pernikahan yang Menyakitkan   Bab 17

    Dalam perjalanan pulang, suara Virly dipenuhi rasa bersalah. "Terima kasih, Louie. Aku malah merepotkanmu lagi."Louie tersenyum lembut. "Kamu sadar nggak, kamu terus-terusan berterima kasih padaku?"Pipi Virly sedikit memerah, tatapannya menghindar. "Aku hanya merasa nggak enak terus merepotkanmu. Lagi pula, kita juga nggak bisa dibilang ....""Nggak bisa dibilang apa? Akrab?" Louie melanjutkan ucapannya dengan nada sedikit tak berdaya. "Aku nggak pernah merasa kalau kamu merepotkanku kok."Nada bicaranya serius. "Aku melakukan semuanya dengan sukarela."Dia terdiam sejenak sebelum menambahkan, "Virly, aku nggak ingin kamu bersikap sungkan seperti ini padaku. Aku juga nggak ingin hanya menjadi orang yang selalu kamu beri ucapan terima kasih."Mata Virly sedikit memerah. "Aku nggak sengaja bersikap seperti ini. Hanya saja, sebelumnya nggak pernah ada orang yang memperlakukanku seperti ini."Dia teringat saat berada di Keluarga Thajeb, ketika dia selalu berusaha menyenangkan semua orang

  • Musim Semi Setelah Pernikahan yang Menyakitkan   Bab 16

    Hari-hari berikutnya, Louie semakin perhatian kepada Virly.Saat Virly menemui hambatan dalam desain dan merasa kebingungan, Louie membimbingnya dengan sabar.Saat mereka pulang kerja bersama, Louie selalu berjalan di sisi yang menghadap jalan, terus melindungi keselamatannya.Ketika Virly sesekali menyebut toko mana yang menjual kue kastanye yang enak, keesokan harinya selalu ada sebuah kotak kecil di atas mejanya.Kehangatan ini datang perlahan tanpa tergesa-gesa, sedikit demi sedikit menghangatkan hati Virly yang telah lama membeku.Suatu hari, Gwen tiba-tiba menelepon. Awalnya dia menanyakan kabar Virly di Paris dengan penuh perhatian dan mengingatkannya agar menjaga diri baik-baik.Tak lama kemudian, topiknya berubah."Virly, kamu sudah lihat beritanya?""Foto-foto pribadi Erica terekspos, semua perbuatannya juga terbongkar. Kudengar Niel bahkan mengirimnya ke rumah sakit jiwa."Gwen terdiam sejenak, lalu menambahkan, "Niel juga ... akhir-akhir ini dia benar-benar seperti orang gi

  • Musim Semi Setelah Pernikahan yang Menyakitkan   Bab 15

    Setelah selesai membaca surat dari Niel, pandangan Virly tertuju pada bros yang sudah diperbaiki di samping tangannya, lalu pikirannya melayang.Kenangan-kenangan yang selama ini telah memudar tiba-tiba kembali membanjiri pikirannya. Dia teringat sosok ibu angkatnya yang menggenggam tangannya menjelang ajal dan berpesan agar dia menjaga dirinya baik-baik.Teringat dirinya saat baru menikah dan masuk ke Keluarga Thajeb. Saat itu, dia penuh harapan. Dia mengurus rumah tangga dengan baik, selalu mengalah dan memaklumi.Juga malam-malam yang tak terhitung jumlahnya ketika dia menunggu Niel pulang, sementara makanan di meja berkali-kali dipanaskan. Hari-harinya sunyi dan sepi."Kalau memang masih belum bisa melepaskannya, kamu nggak perlu memaksakan diri." Louie meletakkan segelas air hangat di samping tangannya dengan lembut. "Kalau kamu masih ingin menjelaskan semuanya ke dia, aku bisa menemanimu."Virly tersadar dan menggeleng pelan. "Bukan belum bisa melepaskannya. Cuma waktu lihat bros

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status