แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Yena
Begitu pintu ruang privat kudorong, pita-pita cantik yang berkilauan beterbangan dan menutupi wajahku.

Di balik sela-sela pita warna-warni itu, aku melihat Haikal tengah larut dalam ciumannya dengan gadis itu.

Sekelompok teman yang kukenal sedang mengangkat ponsel dan mengabadikan momen mesra mereka.

Keindahan itu hancur seketika begitu aku muncul.

Begitu melihatku, semua orang yang berada di sana sontak menarik napas tajam.

Mereka panik mengalihkan pandangan. Tak seorang pun berani menatapku.

Gadis itu melirik Haikal, lalu bertanya dengan bingung,

“Sayang, apa dia juga temanmu? Kenapa semua orang kelihatan nggak senang begitu dia datang?”

“Vivian, dia ....”

Aku tidak memberinya kesempatan untuk bicara dan menatap tajam ke arah Vivian Tamara.

“Aku pacar Haikal.”

“Aku tahu kalian sudah bersama selama delapan tahun, tapi kami sudah bersama selama dua belas tahun.”

“Kalau nggak percaya, aku bisa tunjukkan video-video di galeriku.”

Begitu galeriku dibuka, potongan-potongan kenangan selama dua belas tahun itu pun terpampang di hadapan semua orang.

Dalam upacara penyemangat menjelang ujian masuk perguruan tinggi, Haikal, yang menjadi perwakilan siswa, menyatakan cintanya kepadaku di depan umum setelah berpidato,

“Sejujurnya, impianku bukan hanya Universitas Kencana, tetapi juga Layla Sadipta.”

Di lapangan rumput kampus, aku dan Haikal berjalan-jalan sambil bergandengan tangan. Tiba-tiba dia berlutut dengan satu kaki dan memasangkan cincin berlian satu karat ke jari manisku.

Harganya memang hanya 40 juta rupiah, tetapi itu adalah seluruh tabungan yang dikumpulkan seorang mahasiswa miskin sejak kecil.

“Nanti, akan kuganti dengan yang lebih besar.”

Di dalam rumah kontrakan yang sempit, Haikal yang sedang mabuk memelukku sambil menangis tersedu-sedu. Dia memaksaku menyalakan rekaman, lalu bersumpah di depan kamera.

“Dalam hidup ini, aku pasti akan membuat Layla hidup bahagia.”

“Seumur hidup, Haikal hanya akan mencintai Layla.”

Dalam pesta perayaan atas keberhasilan perusahaan memasuki pasar saham, semua teman-teman kami datang. Aku dan Haikal dikelilingi kerumunan, diiringi sorakan yang semakin lama semakin ramai.

“Dasar Haikal, bukankah sudah waktunya kamu memberikan sebuah rumah untuk Putri Layla kami?”

Haikal tidak menatap kamera. Di matanya, hanya ada aku.

“Ya, rumah untuk kami tinggali setelah menikah sudah direnovasi. Begitu ulang tahun ke-30 Layla tiba, kami akan mendaftarkan pernikahan.”

Tepat hari ini, aku berulang tahun yang ke-30.

Di hari ulang tahunku, di hari yang telah kami sepakati untuk menikah, dia menghilang sepanjang hari.

Pergi menemani gadis lain mendaftarkan pernikahan.

Video terakhir selesai diputar.

Di ruang privat yang begitu luas, suasananya begitu sunyi hingga suara napas pun terdengar begitu jelas.

Di antara orang-orang yang hadir, ada sahabat dan teman-temanku.

Mereka adalah saksi hubungan ini, tetapi tak satu pun dari mereka yang bukan pengkhianat.

Setelah melihat video-video itu, mata Vivian memerah.

Haikal maju seperti seorang pangeran dan berdiri di depan Vivian, melindunginya di belakang tubuhnya. Lalu, dia menatapku seolah siap menghadapi apa pun.

“Layla, cukup.”

“Semua kesalahan, apa pun itu, semuanya salahku. Aku nggak bisa melepaskan perasaanku padamu, tapi di saat yang sama, aku juga sudah telanjur jatuh cinta pada Vivian. Kamu nggak bersalah, apalagi Vivian.”

“Kalau kamu marah atau membenciku, lampiaskan saja semuanya padaku. Jangan lampiaskan amarahmu kepada gadis ini.”

Vivian menampakkan sebagian tubuhnya dari belakang Haikal.

Dia mengumpulkan keberanian untuk menatapku, memasang sikap layaknya istri sah.

“Kalau berada di posisimu, siapa pun pasti akan hancur. Aku mengerti perasaanmu, Kak.”

“Tapi bagaimanapun juga, sekarang aku dan Haikal sudah resmi menikah. Dia suamiku dan aku istrinya. Apa pun yang terjadi, kami harus menghadapinya bersama.”

“Haikal itu pria yang baik dan bertanggung jawab. Kalau kamu punya tuntutan, bilang saja. Kami akan berusaha mengganti kerugianmu secara materi.”

Ganti rugi secara materi?

Setelah dua belas tahun menjalani hubungan ini, apakah yang kuinginkan hanya sebuah ganti rugi secara materi yang begitu mudahnya diucapkan?

Aku baru saja hendak meluapkan amarah, tetapi sahabatku tiba-tiba berdeham dua kali dan mendahuluiku bicara.

“Layla, sudahlah. Sebenarnya, Vivian dan Haikal sama-sama nggak salah. Cinta memang nggak mengenal logika. Memangnya, siapa yang masih peduli siapa yang datang lebih dulu dan siapa yang belakangan?”

“Aku menasihatimu begini karena aku sahabat baikmu. Kalau sekarang kamu mundur, semuanya masih bisa diselesaikan dengan baik-baik, dan kamu juga bisa mendapatkan uang sebagai ganti putus. Tapi kalau masalah ini sampai jadi terlalu buruk, nanti siapa yang berani menikahimu?”

Aku menatap sahabat terbaikku dengan terkejut. Tenggorokanku terasa berat, seolah dituangi timah, sampai-sampai sepatah kata pun tak sanggup keluar.

Setelah itu, kakak perempuan Haikal dan teman-teman kami yang lain.

“Layla, kamu memang gadis yang baik, tapi Vivian pun tak kalah baiknya. Seandainya kita hidup di zaman dulu, Kakak tentu berharap kalian berdua sama-sama jadi adik iparku. Tapi sekarang zaman sudah modern, Haikal tetap harus mengecewakan salah satu dari kalian ....”

“Kak Layla, aku bisa melihat kalau Kak Haikal benar-benar cinta mati dengan Vivian. Kalau nggak, dia nggak mungkin memilih menikahinya dan bukan denganmu. Sekarang semuanya sudah sampai sejauh ini, sebaiknya Kakak lepaskan saja.”

Haikal dan Vivian berdempetan erat. Orang-orang lainnya berdiri di belakang mereka, membentuk dinding rapat tanpa celah dan bersatu menghadapi pihak luar.

Akulah pihak ‘luar’ itu.

Aku seperti spons yang telah diperas hingga kering. Tiba-tiba, tidak lagi punya tenaga untuk membuat keributan.

Aku melepas cincin berlian yang telah kehilangan kilaunya dari jari manisku, lalu perlahan meletakkannya di atas meja.

Cincin itu kukembalikan, sekaligus dengan dua belas tahun masa muda, cinta, dan persahabatan yang telah kulewati.

“Baiklah.”

“Aku mundur.”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Musim Silih Berganti, Tak Lagi Mencari Bintang   Bab 10

    Polisi memperlihatkan berbagai bukti beserta surat perintah penangkapan kepada Haikal.Haikal menatap Vivian yang kini tampak berantakan dengan penuh amarah. Tubuhnya bahkan gemetar karena begitu terkejut.Dia telah ditipu.Bukan Layla yang berbohong, melainkan Vivian.Ibu Layla benar-benar telah meninggal. Vivian dan Rara yang bekerja sama hingga membuatnya meninggal.Mereka bahkan mencuri jasad ibu Layla, lalu berpura-pura menjadi korban dan menuduh Layla sebagai pelakunya.Selama ini, Layla pasti sudah begitu putus asa karena terus disalahpahami!Haikal benar-benar merasa dirinya bajingan. Dia sudah menyakiti Layla!Vivian dan Rara akhirnya dibawa pergi oleh polisi.Saat melewatiku, Rara, yang paling menjaga penampilannya, menangis hingga riasannya pun luntur.“Layla, maaf.”“Kamu benar-benar menganggapku sebagai teman, tapi karena gengsiku, aku malah terus bersaing denganmu diam-diam. Aku malah membantu orang lain menyakitimu dan menyebabkan Tante Sadipta yang selalu menyayangiku m

  • Musim Silih Berganti, Tak Lagi Mencari Bintang   Bab 9

    Itu adalah rekaman saat Vivian sedang mengobrol dan berkumpul bersama beberapa teman perempuannya.Dia duduk meringkuk di sofa sambil menenggak bir dan berkali-kali memutar matanya dengan kesal.“Si bodoh Rara itu sampai minta hadiah ulang tahun dariku. Memang dia pikir dia itu siapa?”“Aku berteman sama dia cuma buat cari tahu rahasia Layla. Lagipula, mukanya jelek, badannya pun jelek. Dia ada di sampingku malah buat aku kelihatan makin cantik. Dia kira dirinya pantas jadi temanku?”“Teman dekat Haikal itu miskin dan kampungan. Memang sudah ditakdirkan jadi pengikut orang lain seumur hidup.”“Kakaknya Haikal itu benar-benar nggak tahu malu. Umurnya sudah hampir tiga puluh lima, tapi masih belum menikah. Tinggal di rumah orang tua dan cuma mengandalkan adiknya. Benar-benar seperti lintah yang cuma bisa mengisap darah! Uang Haikal itu uangku juga. Memangnya dia berhak menghambur-hamburkannya? Begitu kami menikah, aku akan langsung mengusirnya!”....Tak ada satu pun yang luput dari gunj

  • Musim Silih Berganti, Tak Lagi Mencari Bintang   Bab 8

    Setelah hari itu, Haikal tidak pernah sekalipun datang menjengukku lagi.Bahkan biaya pengobatan yang ditransfernya untukku pun ditahan oleh Vivian.Karena kehabisan uang, aku harus pindah dari kamar VIP ke kamar biasa, lalu dari sana akhirnya ke kamar biasa yang digunakan bersama orang lain.Kondisinya jauh lebih buruk, sementara obat-obatan yang kudapatkan pun hanya obat-obatan dasar. Tubuhku pun pulih dengan sangat lambat.Sebulan kemudian, uang terakhirku akhirnya habis. Aku terpaksa keluar dari rumah sakit.Sambil menyentuh bekas luka merah gelap yang berkelok dan mengerikan di dadaku, rasa benci yang begitu besar hampir menelanku.Hal pertama yang kulakukan setelah keluar dari rumah sakit adalah pergi ke kantor polisi untuk membuat laporan.“Saya ingin melapor. Seseorang telah mencuri jasad ibu saya.”Polisi bergerak cepat. Kurang dari sehari kemudian, mereka sudah berhasil melacak ke mana jasad Ibu dibawa melalui rekaman CCTV rumah sakit.Kebenaran yang sebenarnya bisa terungkap

  • Musim Silih Berganti, Tak Lagi Mencari Bintang   Bab 7

    Setelah meminta maaf kepada kepala rumah sakit, Haikal mengakhiri panggilan itu dengan wajah muram.Dia langsung memeluk Vivian yang masih terisak dalam pelukannya, lalu menatapku dengan kekecewaan yang begitu dalam.“Layla, aku benar-benar nggak menyangka kamu bisa berubah jadi orang seperti ini.”“Bagaimana kamu bisa berubah jadi sekejam ini? Kamu bahkan sampai menyuruh ibumu berpura-pura mati demi menjebak Vivian. Bisa-bisanya kamu sampai kepikiran cara selicik itu!”“Kamu nggak takut kena karma karena sandiwara pura-pura mati seperti ini? Kalau sampai ibumu benar-benar mati gara-gara semua ini, bagaimana?!”Vivian melirikku dari sudut matanya. Senyum kemenangan perlahan terukir di sudut bibirnya.Sahabatku, Rara, juga menyilangkan kedua tangan di depan dada dengan wajah penuh kemenangan.Saat itu, menang atau kalah dari Vivian sudah tidak penting lagi bagiku. Begitu juga dengan membuat Haikal percaya kepadaku.Aku hanya ingin tahu satu hal. Sebenarnya, di bawa ke mana jasad Ibu?Do

  • Musim Silih Berganti, Tak Lagi Mencari Bintang   Bab 6

    Terdengar ketukan di pintu. Haikal bangkit dan membukanya. Di hadapannya, tiba-tiba muncul wajah Vivian yang tampak begitu sedih. Mata Vivian memerah, dipenuhi air mata yang berkilauan, seperti kelinci kecil yang terluka.Hati Haikal seketika melunak, dan tanpa sadar, nada suaranya pun menjadi lebih lembut.“Vivian, kenapa kamu datang?”Vivian langsung memeluk Haikal.“Kalau aku nggak datang, entah apa lagi yang akan Kak Layla tuduhkan kepadaku!”“Apa Kak Layla sudah menuduhku membunuh Tante Sadipta? Huhuhu, aku nggak melakukannya!”“Aku dengar kondisi kesehatan Tante Sadipta nggak baik, jadi aku minta Rara mengantarku untuk menjenguknya.”“Begitu sampai di depan ruang perawatan, aku nggak sengaja dengar percakapan Kak Layla dengan Tante Sadipta. Mereka berencana membuat Tante Sadipta berpura-pura mati, lalu menuduhku sebagai pelakunya. Dengan begitu, kamu akan benar-benar membenciku, dan ibu dan anak itu, bisa terus menguasai uangmu ....”“Haikal, kamu sudah begitu baik kepada mereka

  • Musim Silih Berganti, Tak Lagi Mencari Bintang   Bab 5

    Saat sadar, dadaku terasa sangat sakit, seakan sedikit saja bergerak, luka itu akan kembali robek.Aku berusaha menahan rasa sakit untuk bangkit. Haikal, yang berjaga di sisi ranjang, segera menopangku.“Layla, kalau kamu mau melakukan sesuatu, suruh aku saja. Lukamu belum kering. Kalau bergerak sembarangan, nanti akan sakit.”Dia dengan penuh perhatian mengatur posisi ranjang rumah sakit agar lebih nyaman. Sambil membantuku berbaring dengan nyaman, dia menelepon pihak perusahaan.“Layla terluka. Aku tetap nggak tenang kalau hanya menyerahkan perawatannya kepada perawat, jadi aku harus menjaganya sendiri.”“Gilang, beberapa hari ini aku tidak akan ke kantor. Tolong kamu dan beberapa manajer lainnya yang urus perusahaan untuk sementara.”Aku sama sekali tidak ingin mendengar apa yang dikatakan Haikal.Aku hanya ingin tahu bagaimana keadaan Ibu sebenarnya.Apakah Ibu berhasil diselamatkan?Sambil menahan rasa sakit yang hebat di dadaku, aku berusaha bangkit lagi. Saat itu, Dokter Andi, d

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status