เข้าสู่ระบบPolisi memperlihatkan berbagai bukti beserta surat perintah penangkapan kepada Haikal.Haikal menatap Vivian yang kini tampak berantakan dengan penuh amarah. Tubuhnya bahkan gemetar karena begitu terkejut.Dia telah ditipu.Bukan Layla yang berbohong, melainkan Vivian.Ibu Layla benar-benar telah meninggal. Vivian dan Rara yang bekerja sama hingga membuatnya meninggal.Mereka bahkan mencuri jasad ibu Layla, lalu berpura-pura menjadi korban dan menuduh Layla sebagai pelakunya.Selama ini, Layla pasti sudah begitu putus asa karena terus disalahpahami!Haikal benar-benar merasa dirinya bajingan. Dia sudah menyakiti Layla!Vivian dan Rara akhirnya dibawa pergi oleh polisi.Saat melewatiku, Rara, yang paling menjaga penampilannya, menangis hingga riasannya pun luntur.“Layla, maaf.”“Kamu benar-benar menganggapku sebagai teman, tapi karena gengsiku, aku malah terus bersaing denganmu diam-diam. Aku malah membantu orang lain menyakitimu dan menyebabkan Tante Sadipta yang selalu menyayangiku m
Itu adalah rekaman saat Vivian sedang mengobrol dan berkumpul bersama beberapa teman perempuannya.Dia duduk meringkuk di sofa sambil menenggak bir dan berkali-kali memutar matanya dengan kesal.“Si bodoh Rara itu sampai minta hadiah ulang tahun dariku. Memang dia pikir dia itu siapa?”“Aku berteman sama dia cuma buat cari tahu rahasia Layla. Lagipula, mukanya jelek, badannya pun jelek. Dia ada di sampingku malah buat aku kelihatan makin cantik. Dia kira dirinya pantas jadi temanku?”“Teman dekat Haikal itu miskin dan kampungan. Memang sudah ditakdirkan jadi pengikut orang lain seumur hidup.”“Kakaknya Haikal itu benar-benar nggak tahu malu. Umurnya sudah hampir tiga puluh lima, tapi masih belum menikah. Tinggal di rumah orang tua dan cuma mengandalkan adiknya. Benar-benar seperti lintah yang cuma bisa mengisap darah! Uang Haikal itu uangku juga. Memangnya dia berhak menghambur-hamburkannya? Begitu kami menikah, aku akan langsung mengusirnya!”....Tak ada satu pun yang luput dari gunj
Setelah hari itu, Haikal tidak pernah sekalipun datang menjengukku lagi.Bahkan biaya pengobatan yang ditransfernya untukku pun ditahan oleh Vivian.Karena kehabisan uang, aku harus pindah dari kamar VIP ke kamar biasa, lalu dari sana akhirnya ke kamar biasa yang digunakan bersama orang lain.Kondisinya jauh lebih buruk, sementara obat-obatan yang kudapatkan pun hanya obat-obatan dasar. Tubuhku pun pulih dengan sangat lambat.Sebulan kemudian, uang terakhirku akhirnya habis. Aku terpaksa keluar dari rumah sakit.Sambil menyentuh bekas luka merah gelap yang berkelok dan mengerikan di dadaku, rasa benci yang begitu besar hampir menelanku.Hal pertama yang kulakukan setelah keluar dari rumah sakit adalah pergi ke kantor polisi untuk membuat laporan.“Saya ingin melapor. Seseorang telah mencuri jasad ibu saya.”Polisi bergerak cepat. Kurang dari sehari kemudian, mereka sudah berhasil melacak ke mana jasad Ibu dibawa melalui rekaman CCTV rumah sakit.Kebenaran yang sebenarnya bisa terungkap
Setelah meminta maaf kepada kepala rumah sakit, Haikal mengakhiri panggilan itu dengan wajah muram.Dia langsung memeluk Vivian yang masih terisak dalam pelukannya, lalu menatapku dengan kekecewaan yang begitu dalam.“Layla, aku benar-benar nggak menyangka kamu bisa berubah jadi orang seperti ini.”“Bagaimana kamu bisa berubah jadi sekejam ini? Kamu bahkan sampai menyuruh ibumu berpura-pura mati demi menjebak Vivian. Bisa-bisanya kamu sampai kepikiran cara selicik itu!”“Kamu nggak takut kena karma karena sandiwara pura-pura mati seperti ini? Kalau sampai ibumu benar-benar mati gara-gara semua ini, bagaimana?!”Vivian melirikku dari sudut matanya. Senyum kemenangan perlahan terukir di sudut bibirnya.Sahabatku, Rara, juga menyilangkan kedua tangan di depan dada dengan wajah penuh kemenangan.Saat itu, menang atau kalah dari Vivian sudah tidak penting lagi bagiku. Begitu juga dengan membuat Haikal percaya kepadaku.Aku hanya ingin tahu satu hal. Sebenarnya, di bawa ke mana jasad Ibu?Do
Terdengar ketukan di pintu. Haikal bangkit dan membukanya. Di hadapannya, tiba-tiba muncul wajah Vivian yang tampak begitu sedih. Mata Vivian memerah, dipenuhi air mata yang berkilauan, seperti kelinci kecil yang terluka.Hati Haikal seketika melunak, dan tanpa sadar, nada suaranya pun menjadi lebih lembut.“Vivian, kenapa kamu datang?”Vivian langsung memeluk Haikal.“Kalau aku nggak datang, entah apa lagi yang akan Kak Layla tuduhkan kepadaku!”“Apa Kak Layla sudah menuduhku membunuh Tante Sadipta? Huhuhu, aku nggak melakukannya!”“Aku dengar kondisi kesehatan Tante Sadipta nggak baik, jadi aku minta Rara mengantarku untuk menjenguknya.”“Begitu sampai di depan ruang perawatan, aku nggak sengaja dengar percakapan Kak Layla dengan Tante Sadipta. Mereka berencana membuat Tante Sadipta berpura-pura mati, lalu menuduhku sebagai pelakunya. Dengan begitu, kamu akan benar-benar membenciku, dan ibu dan anak itu, bisa terus menguasai uangmu ....”“Haikal, kamu sudah begitu baik kepada mereka
Saat sadar, dadaku terasa sangat sakit, seakan sedikit saja bergerak, luka itu akan kembali robek.Aku berusaha menahan rasa sakit untuk bangkit. Haikal, yang berjaga di sisi ranjang, segera menopangku.“Layla, kalau kamu mau melakukan sesuatu, suruh aku saja. Lukamu belum kering. Kalau bergerak sembarangan, nanti akan sakit.”Dia dengan penuh perhatian mengatur posisi ranjang rumah sakit agar lebih nyaman. Sambil membantuku berbaring dengan nyaman, dia menelepon pihak perusahaan.“Layla terluka. Aku tetap nggak tenang kalau hanya menyerahkan perawatannya kepada perawat, jadi aku harus menjaganya sendiri.”“Gilang, beberapa hari ini aku tidak akan ke kantor. Tolong kamu dan beberapa manajer lainnya yang urus perusahaan untuk sementara.”Aku sama sekali tidak ingin mendengar apa yang dikatakan Haikal.Aku hanya ingin tahu bagaimana keadaan Ibu sebenarnya.Apakah Ibu berhasil diselamatkan?Sambil menahan rasa sakit yang hebat di dadaku, aku berusaha bangkit lagi. Saat itu, Dokter Andi, d







