หน้าหลัก / Mafia / Musuhku Canduku / Bab 8 - Lari Dari Perjodohan

แชร์

Bab 8 - Lari Dari Perjodohan

ผู้เขียน: Nona Xiao
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-20 16:00:04

Sarah berdiri, mencoba menjauh dari meja.

“Aku… aku akan ke kamar mandi sebentar,” katanya ringan, berharap memberi diri waktu untuk menenangkan diri.

Sarah menarik napas panjang, menahan semua kemarahan yang mendidih dalam dirinya.

“Cukup,” gumamnya pelan sambil menepuk wajahnya dengan air dingin dari wastafel. Rasanya air itu sedikit menenangkan, meski tidak bisa meredakan sakit di hatinya.

Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Mata sembab,
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Musuhku Canduku    Bab 56 - Bangun Pagi

    Zayn melepaskan pelukan sesaat, cukup untuk menatap mata Sarah dengan serius. Ada kesan lembut di sana, sesuatu yang tidak sempat muncul semalam karena gelombang hasrat yang terlalu liar.“Sarah,” suaranya rendah, namun bukan lagi hanya bisikan menggoda. “Aku… ingin kau tahu sesuatu.”Sarah menatapnya, lelah tapi penasaran. “Apa?”Zayn menghela napas, memiringkan kepala, membiarkan cahaya pagi menyorot wajahnya yang tegas, tapi kini lebih terbuka, lebih manusiawi. “Aku tidak hanya ingin malam seperti ini. Aku… ingin pagi, siang, bahkan hari-hari biasa bersamamu. Bukan hanya saat kita… terseret badai.”Detik itu, hati Sarah berdebar berbeda. Gelombang yang meninju tubuhnya semalam terasa masih segar, tapi kata-kata Zayn menyentuh sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang tidak bisa dicapai oleh sentuhan atau ciuman.“Apa kau serius?” tanyanya, suaranya sedikit serak.Zayn mengangguk, tanpa tersenyum kali ini. Matanya tetap menatap, menembus hingga ke tempat Sarah biasanya menyembunyikan k

  • Musuhku Canduku    Bab 55 - Kelelahan

    Malam itu tidak lagi mengenal jam.Hanya napas.Hanya kulit yang menemukan kulit.Hanya dua detak yang saling mengejar sampai tak jelas mana yang lebih dulu berlari.Zayn mencium Sarah seolah waktu adalah sesuatu yang bisa ia tekuk sesuka hati. Tidak terburu, tidak ragu. Setiap sentuhan adalah kalimat panjang yang ia tulis perlahan di tubuh perempuan itu di bahunya, di punggungnya, di lekuk-lekuk yang dulu ia hafal dan kini ia temukan kembali seperti rahasia lama yang dibuka ulang.Sarah tidak lagi menahan.Ia menjawab.Dengan tangan yang mencengkeram seprai.Dengan napas yang pecah.Dengan suara lirih yang hilang di antara desah dan bisikan nama Zayn yang berulang-ulang, seperti doa yang tak sempat selesai.Lampu kamar hanya menyisakan cahaya temaram. Bayangan mereka bergerak di dinding kadang menyatu, kadang terpisah, lalu menyatu lagi. Ritmenya naik turun seperti gelombang yang tak pernah benar-benar surut.Zayn tidak tergesa.Ia menikmati setiap reaksi kecil Sarah gemetar halus di

  • Musuhku Canduku    Bab 54 - Gairah Asmara

    Zayn tidak memberi jarak. Bukan dengan kasar. Bukan dengan kemarahan. Tapi dengan keteguhan yang membuat Sarah sulit bernapas. “Lihat aku,” bisiknya. Sarah menggeleng pelan, tapi jari-jari Zayn sudah lebih dulu menyusuri pergelangan tangannya mengangkatnya perlahan, menahannya di udara sejenak seolah menunggu penolakan yang tidak pernah benar-benar datang. “Kau masih mau menjauh?” tanyanya rendah. Sarah hendak berkata iya. Namun napasnya sudah tak teratur. Zayn mendekat lagi. Tangannya turun ke pinggang Sarah, menariknya perlahan hingga tubuh mereka kembali tanpa jarak. Sentuhannya datang bertubi-tubi di punggungnya, di lengannya, di rahangnya yang diangkat pelan agar tatapan mereka bertemu. Bukan kasar. Tapi tanpa memberi ruang bagi Sarah untuk bersembunyi dari perasaannya sendiri. “Zayn…” suaranya melemah, bukan karena takut melainkan karena terlalu sadar. Sadar bahwa setiap sentuhan itu membangunkan sesuatu yang sudah lama ia kubur. Zayn menelusuri garis lehernya deng

  • Musuhku Canduku    Bab 53 - Mengklaim Dirimu Kembali

    Zayn tidak membiarkan Sarah menarik diri. Dengan setiap langkah mendekat, rasa cemas Sarah semakin membesar, meskipun ia tahu bahwa ia tidak bisa lari. Ada daya tarik yang sangat kuat keinginan yang tak bisa ia lawan meski mulutnya masih berusaha untuk berkata tidak.“Kamu masih berpikir bisa menahan diri, bukan?” suara Zayn rendah, menggetarkan. Ia tidak mengangkat suaranya, namun kata-katanya datang begitu dalam, seolah memaksa Sarah untuk mendengarnya.Sarah menunduk, berusaha menghindari tatapan Zayn yang penuh makna. "Aku tidak ingin ini," jawabnya, suaranya bergetar, namun ia tahu bahwa setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa lemah. Apakah ia benar-benar tidak menginginkan ini? Atau apakah ia hanya takut menghadapinya?Zayn melangkah lebih dekat, mengangkat dagu Sarah perlahan agar wajah mereka bertemu. “Tapi kamu sudah di sini, Sarah. Kita sudah di titik ini. Kau dan aku tidak bisa melarikan diri lagi, bahkan jika itu yang kau inginkan.” Tatapannya penuh dengan keyakinan,

  • Musuhku Canduku    Bab 52 - Hukuman Nikmat

    Mobil hitam itu meluncur membelah malam tanpa suara.Kevin tertidur di kursi belakang, kepalanya bersandar di bahu Sarah. Tangannya masih menggenggam ujung lengan ibunya, seolah takut terlepas.Di kursi depan, Zayn menatap lurus ke jalan.Wajahnya tenang.Terlalu tenang.Sarah menatap siluetnya dari kaca spion. Lima tahun tidak menghapus apa pun. Garis rahangnya masih tegas. Tatapannya masih sulit ditebak.Dan ia masih sama berbahayanya.“Ke mana kita pergi?” tanya Sarah akhirnya, suaranya hampir tenggelam oleh suara mesin.“Pulang,” jawab Zayn singkat.“Kita sudah tidak punya rumah bersama.”“Aku tidak pernah menjualnya.”Jawaban itu membuat jantung Sarah mencelos.Rumah itu.Rumah yang ia tinggalkan dengan air mata dan rahasia.Rumah yang menjadi awal sekaligus akhir segalanya.Gerbang besi tinggi terbuka perlahan ketika mobil mendekat.Mansion Velasco ResidenceLampu-lampu taman menyala otomatis, menerangi bangunan megah yang berdiri angkuh di tengah lahan luas.Sarah menahan napas

  • Musuhku Canduku    Bab 51 - Kau Milikku

    Pintu ruang kerja Zayn tertutup rapat ketika Bass masuk. Langkahnya terukur. Wajahnya tidak setenang biasanya. “Bos… semua data sudah saya kumpulkan.” Zayn tetap duduk, jarinya berhenti di atas dokumen yang sedang ia baca. “Tentang Rose?” “Iya.” Bass meletakkan map tebal di atas meja. Isinya bukan dokumen pernikahan atau catatan rumah sakit. Tidak ada itu. Semua bersih. Justru itu yang mencurigakan. “Aku mulai dari sistem internal,” jelas Bass. “Identitas Rose baru muncul lima tahun lalu. Tidak ada riwayat pekerjaan sebelumnya. Tidak ada referensi lama. Tidak ada keluarga yang bisa dihubungi.” Zayn mengangkat wajah perlahan. “Lanjut.” “Aku tarik data imigrasi lama. Lima tahun lalu, pada malam yang sama ketika… Nyonya menghilang…” Hening. “Seorang perempuan bernama Sarah Valente meninggalkan Indonesia. Tujuannya: luar negeri. Setelah itu, jejaknya kabur. Tidak ada aktivitas finansial di sini. Tidak ada transaksi. Seolah dia benar-benar memutus semua ikatan.”

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status