LOGINBeberapa preman mendekat, dipimpin cowok muda umur sekitar 24 tahun. Penampilannya sembrono, tapi di pinggangnya tergantung pistol. Dia megang besi beton di tangan kanan, sesekali pukul-pukul ke telapak tangan kirinya. Begitu deket, dia langsung sombong, “Berani juga kau ya? Lihat kita dateng aja nggak kabur. Aku kira harus ngejar dulu!”
“Bos, ngapain omong panjang sama dia.” “Oi, Kau! Senjata sama dompet taruh sini! Ceweknya tinggal! Cantik gini… pasti enak mala“Kami nggak berhenti. Tapi aku lebih khawatir ada yang coba manfaatin kita. Lagipula, kita bukan satu-satunya di sini!” jawab Bos Janip sambil menyeringai, mengelus pistolnya sambil melirik orang-orang di sekitar. Budi tidak terlalu mempedulikan soal pembagian hasil. Tujuannya jelas: membunuh raja tikus untuk menyelesaikan misi level E- itu. Berapa banyak orang yang ikut membagi, itu urusan belakangan. Tentu saja dia akan senang kalau dapat porsi lebih besar, tapi kalau lebih kecil juga tidak masalah. Toh dia sudah bertekad pergi ke daerah lain untuk berburu organisme level biru. Tidak perlu ribut soal “kacang kecil” seperti ini. Lagipula, kalau lebih banyak orang, risiko bisa dibagi dan peluang menyelesaikan misi justru meningkat. Tapi tentu saja dia tidak akan bilang begitu di depan semua orang. Setelah berpikir sejenak, Budi berkata, “Mungkin kita bisa bicara dulu dengan mereka dan buat aturan bersama. Saya rasa tidak banyak yang berani maju sampai akhir.”
“Bagus sekali punya umpan meriam seperti ini,” kata salah satu dari lima orang yang dibawa Budi sambil menebas kepala tikus mutan yang mencoba kabur dengan kukri-nya. Pria itu bernama Pak Harun, dulu pemimpin tim keamanan di salah satu perusahaan tambang di daerah pedalaman. Beberapa hari setelah perusahaan tutup karena krisis mutasi, dia mengumpulkan beberapa anak buahnya dan mulai bertahan hidup di TPA. Kalau bukan karena Budi yang pernah menyelamatkan mereka dari serangan gerombolan tikus besar sebelumnya, mungkin sekarang mereka sudah jadi tulang belulang. Makanya, sejak berangkat tadi, Pak Harun dan timnya selalu mengikuti Budi dengan setia. “Kerumunan ini bakal kabur begitu ada bahaya sungguhan,” kata Budi sambil melirik ke belakang. Di kejauhan masih samar-samar terlihat cahaya obor dan senter hp. Meski banyak yang sudah mundur, masih ada lebih dari seribu orang tersebar di area TPA yang luas ini. Gerombolan tikus mutan kali ini memang sangat bes
"Aku belum butuh makanan atau uang. Yang aku perlukan sekarang hanya bensin. Apakah ada sumbernya? tanya Budi. Jumlah orang di TPA ini semakin bertambah setiap hari. Berburu jadi semakin sulit. Setiap hari harus menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mencari mangsa. Itulah salah satu alasan kenapa bensin begitu penting baginya. Budi tahu daging hewan mutan punya efek khusus bisa menambah kekuatan atau membuat tubuh lebih tahan. Makanya dia sengaja hanya membidik yang level biru (mutasi tingkat menengah). Sayangnya, pertahanan Kota Banjar sangat kuat. Tentara dan TNI langsung menghabisi organisme level biru begitu mereka muncul dari hutan atau pinggiran sungai. Untuk mendapatkan sebagian buat diri sendiri, harus pergi ke tempat yang lebih jauh, di luar jangkauan pos militer. Sudah punya motor trail hasil curian, tapi bensin? Sulit sekali didapat. “Mas, bensin sekarang barang yang dikontrol ketat. Jalur laut dari luar pula
Budi dan Rina jalan pelan di pinggir jalan tanpa ngomong sepatah kata pun. Suasana awkward banget setelah kejadian di pabrik tadi. Setelah beberapa menit, Rina nggak tahan lagi. Dia berhenti, lirik Budi, “Kamu nggak punya apa-apa yang mau dibilang ke aku?” Budi mikir sebentar, lalu jawab santai, “Ya, jaga diri baik-baik aja.” Rina langsung kesel. Cowok ini emang selalu bisa bikin orang naik darah. Rina pengen banget jitak dia, tapi sayangnya nggak kuat. “Terus?” Rina desak lagi, gigit bibir bawahnya. Kelihatan dia lagi pengen balas dendam. Budi mulai kesal. Dia lirik Rina aneh, “Emangnya kamu pengen aku bilang apa?” Rina menghela napas dalam hati. “Iya juga sih… mau bilang apa? Hubungan kita cuma temen serumah, atau paling cuma one night stand. Lagian bentar lagi berpisah, mungkin nggak bakal ketemu lagi. Ngapain diperpanjang?” Mereka lanjut jalan diam-diam. Nggak ada yang buka s
Rina fisiknya lemah, jadi sepanjang jalan mereka harus berhenti beberapa kali buat istirahat. Untungnya, nggak ada bahaya lebih parah yang muncul lagi. Akhirnya mereka sampai di Desa Rina. Rina langsung kelihatan lega. “Ini sekolah lama aku. Dulu banyak anak cowok main renang di sungai sebelah sekolah, tapi sekarang udah lama ditinggalin,” Rina cerita sambil menghela napas panjang. Seorang ibu-ibu lewat dari arah berlawanan, langsung nyapa, “Eh, Rina! Pulang ya?” Lalu dia lihat Budi, senyum-senyum, “Ini pacarmu ya?” Rina langsung awkward. “Eh, nggak, Bu. Cuma temen yang nemenin aku pulang.” Ibu itu kelihatan nggak percaya. “Kenapa nggak? Cowoknya ganteng, kamu juga nurut dari kecil. Tapi Ibu nggak bisa ngobrol lama-lama. Pasti orang tuamu lagi nunggu di rumah. Cepet pulang ya! Besok mampir ke rumah Ibu, makan bareng temenmu ini!” “Oh, dia hari ini juga pulang kok,” Rina buru-buru tolak. “Ya amp
Beberapa preman mendekat, dipimpin cowok muda umur sekitar 24 tahun. Penampilannya sembrono, tapi di pinggangnya tergantung pistol. Dia megang besi beton di tangan kanan, sesekali pukul-pukul ke telapak tangan kirinya. Begitu deket, dia langsung sombong, “Berani juga kau ya? Lihat kita dateng aja nggak kabur. Aku kira harus ngejar dulu!” “Bos, ngapain omong panjang sama dia.” “Oi, Kau! Senjata sama dompet taruh sini! Ceweknya tinggal! Cantik gini… pasti enak malam ini!” preman lain bilang sambil ngeliatin Rina, air liurnya hampir netes. Muka Rina langsung pucat. Dia lirik Budi, bisik, “Harus panggil polisi nggak?” “Polisi? Kau bercanda?” “Ini akhir zaman, bro! Siapa peduli? Kalau nggak percaya, coba telepon aja.” Beberapa preman ketawa ngakak. “Polisi udah nggak kerja lagi ya?” Meski Budi nggak paham dialek mereka sepenuhnya, dia bisa nebak maksudnya. “Aku ngakak bro! Tiap hari o







