LOGINBeberapa preman mendekat, dipimpin cowok muda umur sekitar 24 tahun. Penampilannya sembrono, tapi di pinggangnya tergantung pistol. Dia megang besi beton di tangan kanan, sesekali pukul-pukul ke telapak tangan kirinya. Begitu deket, dia langsung sombong, “Berani juga kau ya? Lihat kita dateng aja nggak kabur. Aku kira harus ngejar dulu!”
“Bos, ngapain omong panjang sama dia.” “Oi, Kau! Senjata sama dompet taruh sini! Ceweknya tinggal! Cantik gini… pasti enak malaBudi perlahan kehilangan kesadaran saat rasa lelahnya mendadak berkurang, dan dia mulai merasakan tenaganya perlahan kembali pulih. Kekuatannya pun terasa meningkat. Dengan susah payah, dia berusaha mengangkat kelopak matanya yang terasa berat banget, lalu bangkit berdiri. Tapi yang bikin Budi waspada adalah rasa aneh di tubuhnya yang sama sekali nggak hilang. Malah makin lama makin terasa mengganggu. Dia bisa merasakan ada api yang seakan membakar dari dalam dirinya. Rasanya kayak kalau nggak segera berhenti, tubuhnya bakal terbakar sendiri. "Mungkin ini racun ya?" Sambil memperhatikan kadal raksasa di depannya yang lahap memakan bangkai Cacing Gua Berkaki-Seribu itu, dia sadar kalau dugaan itu salah. Kalau cacing itu memang beracun, sekuat apa pun kadal raksasa itu, pasti bakal ada reaksi negatif setelah menelan daging dan darah sebanyak itu. Dia menepis rasa takutnya, lalu memeriksa kondisinya sendiri dengan teliti. Pung
Ia kembali mencari kesempatan untuk menyerang. Namun, setelah merasakan sendiri betapa mengerikannya serangan lawan, kadal itu tak lagi berani menggigit tubuh cacing secara langsung. Sebagai gantinya, ia memutuskan menggunakan jurus andalannya, yaitu sabetan ekor. Bahkan binatang mutan tingkat biru tua pun tak mampu menahan kekuatan ekornya yang luar biasa. Kadal raksasa itu tak menunggu sampai cacing berbalik. Sepasang matanya yang menyerupai kristal langsung mengunci sasaran di atas. Cacing Crypt Seribu Tentakel merasakan ancaman besar mendekat. Namun, saat ia berusaha memutar tubuh untuk menghadapi serangan tersebut, semuanya sudah terlambat. Kilatan bilah pedang tiba-tiba muncul. SRAK! Cacing itu langsung meraung kesakitan. Rasa sakit yang luar biasa memicu naluri bertahan hidupnya. Tubuhnya bergerak liar, berusaha menendang dan menghantam apa pun yang berada di dekatnya. Namun, serangan membabi buta itu hanya menghantam udara dan menghasilkan suara keras. Bagi Budi, s
Misi E+: Bunuh Cacing Crypt Seribu Tentakel. Batas waktu: 3 hari! Terima atau tolak? Notifikasi misi yang ditunggu akhirnya muncul. Budi sempat ragu sejenak sebelum menekan tombol Terima. Sampai saat ini, tidak ada alasan baginya untuk takut atau melarikan diri. Dia perlahan mencabut Parangnya dari sarungnya, menarik napas dalam-dalam, lalu melompat dari lantai empat. Sesuatu yang sulit dipercaya terjadi. Tubuhnya melayang turun dengan ringan, seolah-olah hukum fisika tak lagi berlaku baginya. Begitu kakinya menyentuh tanah, Budi langsung menjejakkan kaki dan melesat ke depan. Dalam sekejap, tubuhnya sudah berpindah sekitar lima meter dari titik pendaratan. Dia sedikit membungkukkan tubuh, lalu kembali melesat dengan kecepatan tinggi. Sementara itu, Cacing Crypt Seribu Tentakel terus merayap menuju kadal raksasa tanpa sedikit pun menunjukkan rasa takut. Seolah-olah kadal mutan di
Tiba-tiba, Budi teringat pada cacing tanah mutasi yang pernah ditemuinya sebelumnya. Ingatan tentang makhluk itu saja sudah cukup membuat jantungnya berdebar kencang. "Jangan-jangan ada di bawah tanah!" Begitu menyadari kemungkinan tersebut, Budi langsung melompat turun dari punggung kadal raksasanya. Begitu kedua kakinya menyentuh tanah, dia langsung merasakan getaran samar. Namun, getaran itu semakin lama semakin kuat. Dalam sekejap, tanah berguncang hebat, seolah-olah sedang dilanda gempa berkekuatan 7 hingga 8 skala Richter. Jalanan mulai retak satu demi satu, membentuk puluhan retakan besar yang menjalar ke berbagai arah. Jantung Budi berdegup kencang. Napasnya terasa sesak, sementara tubuhnya terpaku di tempat karena ketakutan. Bahkan setelah berusaha mundur sejauh empat atau lima meter, tubuhnya masih gemetar hebat. Tiba-tiba, suara dentuman k
Budi naik ke punggung kadal raksasanya. Setelah melirik sekilas kerumunan orang di bawah, dia langsung membalikkan badan tanpa menunjukkan ketertarikan sedikit pun. Dia menepuk punggung hewan peliharaannya yang perkasa itu, lalu pergi meninggalkan distrik tersebut. Kadal raksasa itu bergerak sangat lincah, bahkan kecepatannya hampir seperti kilat. Meski tubuhnya besar, langkahnya tetap gesit dan ringan. Kurang dari satu menit, mereka sudah berhasil keluar dari distrik. Hanya dalam beberapa hari, semua luka di tubuh kadal raksasa itu sudah sembuh. Sisik-sisiknya yang sempat terkelupas juga mulai tumbuh kembali, berwarna hijau cerah dengan kilau yang mencolok. Penampilannya kini jauh berbeda dari saat pertama kali Budi bertemu dengannya. Tidak ada lagi bekas luka yang terlihat di tubuhnya. Namun, dibandingkan dengan ukuran awalnya, tubuh kadal raksasa itu justru tampak sedikit menyusut. Sekilas, dia bahkan terlihat lebih kurus dan lemah. Meski begitu, hanya Budi yang tahu betapa meng
Saat fajar mulai menyingsing, Doni terbangun dan mendapati Budi duduk di luar rumah ketika membuka pintu utama. Budi terlihat sangat tenang dengan mata terpejam. Pakaiannya lembap karena semalaman duduk di luar. Pedang yang ditancapkan ke tanah tampak gagah diterpa cahaya matahari pagi. “Ada apa?” tanya Sandi, teman sekamar Doni yang juga bangun pagi. “Budi sedang berlatih di luar. Sebaiknya jangan ganggu dia,” jawab Doni, meski dia sendiri merasa ada sesuatu yang tidak beres. Selama beberapa hari terakhir, binatang-binatang mutasi bertingkah seperti kehilangan kendali. Mereka terus mengaum dan membuat keributan sepanjang hari. Sepertinya, ada perubahan besar yang sedang terjadi pada binatang mutasi. Cara Budi bersikap belakangan ini seolah membenarkan dugaan tersebut. Awalnya, Sandi ingin keluar untuk menghirup udara segar. Namun, begitu tahu Budi sedang berada di luar, dia langsung mengurungkan niatnya. Dia takut kepada Budi dan sebisa mungkin memilih untuk tidak berurusan denga
Jalur menuju puncak bukit nggak terlalu curam, tapi tanaman berduri dan rotan bikin susah banget dilupain. Semakin masuk ke dalam hutan, rumput liar mulai digantikan pohon-pohon besar. Batangnya tebal, cabang-cabangnya rapat menutupi jalur. Kalau nggak dibabat, mereka nggak bakal bisa maju selangka
Kebersihan warung makan di desa ini lumayan ala kadarnya, tapi menunya unik dan “liar”. Hampir semuanya hidangan eksotis: sup kelinci, sup ular campur rebung suwir, ayam iris tumis jamur hutan, dan katak rebus bumbu kuning. Semua bahan ditangkap warga desa sendiri. Dulu jarang banget, tapi belakang
Sebagai bagian dari wilayah Palangkaraya, Muara Teweh adalah kota kecil yang mandiri dengan akses transportasi lumayan lancar dan ekonomi yang mulai berkembang. Tapi sumber daya kehutanan di daerah ini memang terbatas. Dengan pendapatan daerah yang pas-pasan, kantor pos kehutanan terlihat jauh lebi
Kalimantan 2040“Tscht!”Pintu bus terbuka dengan suara berderit, Budi Santoso turun mengikuti arus penumpang yang berdesak-desakan. Kemeja putih kantornya sudah basah kuyup oleh keringat, ditambah noda debu membentuk pola acak di kainnya. Naik bus setiap hari dari kantor ke rumah kontrakan adalah







