Share

2. Lupus

Author: mic.assekop
last update publish date: 2024-09-29 19:07:24

“Ibu Erika mengidap gangguan autoimun : Lupus.” Dokter itu bicara pada Raden. “Hal yang sangat kami sayangkan adalah kenapa baru sekarang beliau dibawa ke rumah sakit guna dilakukan pemeriksaan. Jika beliau sudah sejak dulu diperiksa dan diobati, mungkin dampaknya tidak akan begitu besar.”

Mendengar penjelasan tersebut, dada Raden bergoncang.

Lupus?

Penyakit mematikan seperti kanker?

Yang jadi pertanyaan adalah kenapa baru sekarang Raden mengetahuinya?

Andai saja dari dulu Raden tahu kalau Erika mengidap Lupus, dia tidak akan pernah mau menjadikan Erika sebagai istri.

Setahu dia, lupus akan mengakibatkan seorang wanita akan sulit hamil, meskipun peluang untuk hamil tetap ada tapi sangat kecil.

Beberapa tanda yang ada pada Erika dianggap biasa saja dan tidak pernah pula Raden mengkhawatirkannya. Seperti Erika lebih sering lesu. Raden pikir itu memang bawaan fisiknya dan juga pribadinya yang kalem. Atau seperti rambutnya yang gampang rontok. Hal tersebut bukanlah hal aneh bagi wanita. Atau seperti suka nyeri pada bagian tertentu. Penyakit biasa tersebut sudah umum terjadi pada seseorang.

Dari segenap tanda-tanda Lupus yang ada pada Erika, ada satu tanda yang begitu mencolok tapi selama ini Raden tidak menyadarinya, yakni ada ruam atau bercak merah di wajah. Dikira selama ini itu hal biasa seperti halnya bekas jerawat atau tanda lahir. Lagi pula dengan sedikit kemerahan di wajah Erika tampak lebih manis.

Raden sungguh menyalahkan dirinya sendiri. Kenapa dia begitu bodoh dan tidak menyadari bahwa selama ini dia menikahi wanita penderita Lupus.

Karena tidak bisa berlama-lama di rumah sakit dan lagian dia sudah mendapatkan informasi yang dibutuhkan, maka dia bergegas mengajak istrinya untuk segera pulang ke rumah.

Di atas sepeda motor selama dalam perjalanan pulang mereka tidak ada saling bicara satu sama lain. Suasana begitu canggung. Dadanya panas. Dia tidak sabar rasanya ingin segera sampai di rumah.

Raden sudah tidak peduli terhadap apa yang dia lihat di jalanan. Semua tampak tidak penting di matanya. Hal yang ada di dalam kepalanya hanyalah tentang apa yang mesti dilakukan terhadap Erika setelah ini.

Sementara Erika, wanita malang itu, tidak mengeluarkan keluhan apa pun. Hatinya memang cukup bersedih, tapi kesedihan itu berusaha ditutupi dengan wajah yang datar.

Ketika mereka telah sampai di rumah panggung khas Palembang peninggalan buyut Raden di Kampung Sekanak, Raden mematikan mesin motor dan segera turun. Saat ini di dalam rumah tidak ada siapa-siapa.

Mertua pria Erika sedang menjaga toko plat dan stempel milik keluarga di dekat Masjid Agung, dan ibu mertuanya sedang bekerja ikut orang di toko pempek di 26 Ilir, sementara ipar satu-satunya sedang kuliah di Unsri Inderalaya.

Erika menaiki tangga kayu. Terdengar hentakan keras pada pintu karena Rade sengaja membukanya cukup keras.

“Masuk!” bentak Raden marah.

Dia menyuruh Erika agar duduk di kursi di ruang tengah.

Tidak peduli dengan kondisi fisik dan hati istrinya, Raden melampiaskan apa yang begitu membuncah di dadanya. “Kau tidak jujur padaku selama ini, Erika! Kau pembohong!” umpatnya sambil menyeringai geram.

Erika menangis lagi. Dia berkata dengan sangat lirih dan penuh rasa bersalah. “Aku sendiri tidak tahu kalau aku menderita Lupus. Kak Raden, aku dan keluargaku di dusun sangat miskin. Kami tidak punya uang untuk pergi ke rumah sakit. Lagi pula aku tidak pernah menyangka kalau aku menderita penyakit itu.”

Memang secara sekilas Erika seperti tidak menderita Lupus. Dia lembut, kalem, dan agak lambat. Orang-orang pikir itu memang bawaan darinya, bukan karena penyakit. Ucapannya yang pelan dan gerakannya yang lelet sama sekali tidak memberi tanda bahwa dia menderita Lupus.

Tapi, Raden tetap merasa bodoh. Ini semua salahnya kenapa dari dulu aku tidak menyadarinya.

“Erika, kau positif terkena lupus. Jadi wajar selama tiga tahun kita sulit punya anak. Sekarang kita sudah tahu akar permasalahannya ada di mana.”

Erika menunduk sangat dalam. Sebagai wanita normal yang mau hidup sehat dan tentu ingin punya keturunan, dia begitu merasakan kepedihan di hati. Wanita sebaik dan setulus dia mesti menanggung kenyataan pahit. Ujian ini terlalu menyakitkan baginya. Tapi sebesar apa pun ujian yang diberikan padanya, dia tetap masih bisa bersabar, berserah diri, dan yakin bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik padanya.

Dia berkata dengan suara yang pelan dan halus, “Maaf karena sudah menjadi beban bagi mu. Karena aku. Karena aku, kau jadi merasa terpukul. Aku yang salah. Maafkan aku.”

Tidak tenang, suaminya berjalan mondar-mandir di sana. Pria itu blingsatan ke sana dan ke mari. Pikirannya sangat kacau.

Bagaimana Raden menyampaikan hal ini pada keluarganya tentang kondisi Erika yang sebenarnya? Lalu kira-kira apa tanggapan mereka setelah tahu kalau Erika penderita Lupus dan kemungkinan besar tidak akan bisa punya anak?

Berbagai macam pikiran kotor dan dan bisikan setan berkelebat di dalam kepala Raden. Tiba-tiba ada bisikan yang menyelinap masuk tentang apa mungkin dia harus menceraikan Erika. Bisikan-bisikan itu semakin membuatnya tidak tenang.

Kemudian dia pun duduk menghadap Erika seraya berkata dengan nada penuh kegusaran. “Penyakit yang kau derita sulit disembuhkan, Erika. Dan apa kau tahu kira-kira berapa biaya yang mesti aku tanggung untuk keperluan berobat mu?”

Erika cuma bisa menggeleng tanpa suara.

BRAK!

Raden menggebrak meja dengan sangat kesal. Lantas tangannya mengepal dan berkata dengan keras. “Rumah ini bisa terjual hanya untuk biaya berobat mu!”

Habis duit puluhan juta bahkan sampai ratusan juta sudah biasa dalam menghadapi penyakit seperti itu. Hanya saja, bagi keluarga kelas menengah ke bawah seperti keluarga suaminya sungguh hal tersebut sangat berat.

Raden dan keluarganya selama ini jarang pergi ke rumah sakit karena bukan cuma jarang sakit, tapi karena takut dengan biaya berobat yang mahal. Jujur saja keluarganya tidak akan pernah sanggup untuk mengeluarkan biaya berobat Erika nantinya.

Sementara dari keluarga Erika sendiri, sudah tahu seperti apa kondisi mereka, jauh lebih memprihatinkan dari pada Raden di sini. Artinya kabar tentang Erika tentu menjadi musibah besar bagi keluarga Raden dan yang tak kalah pentingnya adalah kabar bahwa Erika memang wanita mandul.

Raden memijat keningnya yang berkerut. “Ayahku cuma punya toko kecil yang masih sewa tempat dan ibuku cuma pekerja biasa. Kami tergolong miskin, Erika. Bahkan kalau ayahku kena stroke atau penyakit parah lainnya yang butuh biaya besar, kami belum tentu sanggup.

Tadi pas pergi ke rumah sakit saja Raden telah menguras habis uangnya yang ada di tabungan. Dia belum membawa Erika untuk tetap dirawat dan juga menebus obat karena sudah tidak punya uang lagi.

Selama ini dia mendapat pemasukan yang tak seberapa dari menjaga toko bersama ayahnya. Lalu apa dia harus minta uang pada orang tuanya untuk biaya pengobatan Erika?

Tidak bakalan cukup juga.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mutiara Hati Yang Terabaikan   70. Mutiara hati yang tak lagi terabaikan

    Hari-hari setelah kepulangan Raden tidak berjalan seperti kisah yang selesai hanya karena tokoh utama akhirnya kembali ke rumah. Rumah tangga mereka belum langsung dipenuhi tawa. Erika masih mudah terdiam ketika mendengar suara telepon Raden. Dia masih teringat malam ketika suaminya pergi tanpa kabar, juga hari ketika dirinya diusir setelah dituduh berselingkuh.Raden memahami semua itu.Dia tidak lagi menuntut Erika agar segera tersenyum, segera percaya, atau segera melupakan. Setiap pagi, dia membantu membersihkan kontrakan. Dia mencuci pakaian sendiri, memasak makanan sederhana, dan mencatat seluruh pemasukan serta pengeluaran. Hal-hal kecil yang dahulu dianggap bukan urusan lelaki kini dia lakukan tanpa banyak bicara.Raden juga memenuhi panggilan pemeriksaan. Dia menyerahkan informasi yang dibutuhkan dan tidak lagi berusaha menyembunyikan perbuatannya. Beberapa harta yang masih tersisa dikembalikan. Mobil yang dahulu dia akui sebagai hasil kerja keras dijual untuk membayar sebagi

  • Mutiara Hati Yang Terabaikan   69. Harga sebuah kejujuran

    Raden tidak tidur malam itu. Setelah Dennis pulang dan keadaan di sekitar kontrakan mulai tenang, dia duduk di lantai dekat ranjang sambil menatap kedua tangannya. Tangan itulah yang dahulu dipakai untuk menggenggam tangan Erika ketika mereka menikah. Tangan yang sama pula telah digunakan untuk mengambil uang istrinya, mengetik taruhan judi, dan membuka pintu menuju pekerjaan haram.Erika duduk di ujung ranjang. Dia tidak mengusir Raden, tetapi juga tidak mendekat seperti dahulu. Jarak di antara mereka hanya beberapa langkah, namun terasa seperti bertahun-tahun.“Kakak belum tidur?”“Belum.”“Besok harus menghadap siapa?”“Polisi. Dan mungkin orang-orang yang selama ini dirugikan.”Erika mengangguk. “Kalau memang itu yang harus dilakukan, lakukanlah.”Raden menatap wajahnya. “Kau akan menungguku?”Erika tidak segera menjawab.“Ana akan mendoakan keselamatan kakak. Tetapi jangan jadikan doa ana sebagai alasan untuk menghindari hukuman.”Jawaban itu membuat Raden menundukkan wajah. Dia

  • Mutiara Hati Yang Terabaikan   68. Kepulangan Raden

    Pagi menjelang ketika bus yang ditumpangi Raden tiba di Palembang. Dia turun dengan tubuh lelah, wajah pucat, dan mata yang merah karena hampir tidak tidur semalaman. Sepanjang perjalanan, dia beberapa kali melihat mobil hitam yang diduga mengikuti bus. Entah benar kendaraan itu milik orang Ricko atau hanya kebetulan, Raden tidak berani menganggap remeh.Dia tidak langsung menuju rumah orang tuanya. Raden berjalan ke sebuah masjid yang pernah dia kunjungi bersama Erika pada masa awal pernikahan. Dulu, mereka sering datang ke sana untuk menghadiri kajian. Erika biasanya duduk di barisan perempuan sambil membawa buku catatan. Sementara Raden sibuk mencari tempat di bagian depan.Kenangan itu terasa menyakitkan sekarang.Raden meminjam telepon pengurus masjid dan menghubungi Dennis. Dia memilih Dennis karena tidak punya banyak pilihan lain. Orang tuanya mungkin masih mengira dirinya sedang bekerja di luar kota, sedangkan Erika belum tentu mau menerima kedatangannya.“Assalamu’alaikum, De

  • Mutiara Hati Yang Terabaikan   67. Ancaman di balik kepulangan

    Pesan yang dikirim Raden kepada Erika terbaca beberapa menit kemudian. Erika sedang duduk di tepi ranjang kontrakan sambil menyelesaikan catatan bahan ajar. Begitu melihat nama suaminya muncul di layar, tangannya langsung berhenti bergerak.Erika, maafkan aku. Aku akan pulang. Apa pun yang terjadi, kali ini aku tidak akan lari lagi.Tidak ada penjelasan lain. Tidak ada kabar tentang lokasi, keadaan, atau kapan tepatnya Raden tiba. Namun, bagi Erika, satu pesan singkat itu sudah cukup membuat dadanya bergetar. Selama berbulan-bulan dia tidak tahu apakah suaminya masih hidup, masih mengingatnya, atau justru telah memilih perempuan lain.Dia membaca pesan itu berkali-kali.“Kak Raden masih hidup,” bisiknya.Air matanya menetes. Ada lega, bahagia, takut, dan marah yang bercampur menjadi satu. Dia ingin segera menelepon, tetapi panggilan yang dia lakukan tidak tersambung. Ponsel Raden kembali tidak aktif.Erika meletakkan ponsel di pangkuan. Dia berusaha menenangkan diri. Jangan sampai sat

  • Mutiara Hati Yang Terabaikan   66. Lamaran yang mengejutkan

    Dennis masih memandangi Erika dengan penuh tanda tanya. Percakapan mereka sejak tadi terasa terlalu serius untuk sekadar membahas calon istri. Erika biasanya berbicara tentang bahan ajar, jadwal mengajar, atau keadaan murid-murid. Hari ini, dia justru bertanya panjang tentang hukum pernikahan, kesiapan seorang pria, dan sifat-sifat seorang istri yang baik.“Siapa wanita yang ingin antum perkenalkan kepada ana?” tanya Dennis.Erika menarik napas. Dia tahu, pertanyaan itu akhirnya akan muncul. Namun, menyebut nama Laura tetap membuat dadanya berdebar. Laura bukan sekadar kenalan. Laura adalah sahabat yang selama ini menjadi tempatnya berbagi buku, menghadiri kajian, dan saling menguatkan ketika kehidupan terasa terlalu berat.“Namanya Laura,” jawab Erika akhirnya.Dennis terdiam.Nama itu memang tidak asing. Dia pernah melihat Laura beberapa kali di kegiatan kajian dan sekali di sekolah ketika perempuan bercadar itu datang hendak menemui Erika. Namun, dia tidak pernah menyangka bahwa Er

  • Mutiara Hati Yang Terabaikan   65. Siapa wanita dimaksud?

    Mayoritas atau bahkan semua pria ingin punya istri cantik dan fisiknya bagus. Dan Dennis tidak mungkin bisa membohongi dirinya bahwa dia mau punya istri yang enak dipandang. “Istri yang cantik bisa buat pria betah di rumah. Dan kalau pria sudah merasa puas, ketika berada di luar rumah, dia tidak akan berani macam-macam, dia tidak akan melirik wanita lain.” Canda Dennis dan tidak mau terlalu serius ketika menjawab pertanyaan Erika. “Memang tidak ada jaminan bahwa pria akan pasti selamat ketika berada di luar. Tapi setidaknya begitu dia mendapatkan istri yang cantik dan bikin betah di rumah, peluang untuk berzina di luar akan jauh lebih berkurang.” Jawaban dari Dennis lebih diplomatis dan memang dari dirinya sendiri. Dan tentu saja jawaban tersebut sebenarnya mewakili dari sekian banyak pria di dunia ini. Mendengar jawaban tersebut, Erika cuma bisa menahan senyum kemudian menanggapi. “Tapi cantik itu

  • Mutiara Hati Yang Terabaikan   64. Ide Erika

    Raden bisa membaur dengan baik bersama warga sekitar. Lebih dari itu, pencapaian bagi dirinya sendiri tentu saja dia telah berhasil mengubah hidupnya kembali pada jalan yang benar. Meski dia masih menjadi buronan dari bos besar narkoba, namun setidaknya dia berhasil keluar dari ku

  • Mutiara Hati Yang Terabaikan   61. Ditawari menjadi penceramah

    Keberadaan Raden di sana telah membuat suasana baru dalam beribadah dan itulah yang semestinya terjadi. Tidak ada maksud apa pun sebelumnya dari Raden untuk mencari perhatian atau pun dengan sengaja ingin menata ulang sesuatu yang telah lama terjadi. Pastinya ini adalah kehendak dari Yang Maha Ku

  • Mutiara Hati Yang Terabaikan   3. Sulit menerima takdir

    Erika membaca lagi laporan hasil pemeriksaan yang ada di tangannya sambil menangis. Fisik dan raut wajahnya tampak melemah. Tapi dia punya jiwa yang kuat meskipun ujian yang amat berat semakin membuatnya tertekan. Dia tetap seperti biasanya menjadi seorang istri yang lemah lembut dan bersabar. Eri

  • Mutiara Hati Yang Terabaikan   1. Istriku mandul

    “Erika, kita sudah tiga tahun menikah. Tapi sampai saat ini kita masih belum juga mempunyai anak. Aku sudah habis duit banyak untuk promil dan semacamnya supaya kau bisa mengandung. Ah, semua tidak ada hasilnya. Kita tidak akan pernah punya keturunan.” Erika terpekur saat mendengar kata-kata yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status