LOGINHari-hari setelah kepulangan Raden tidak berjalan seperti kisah yang selesai hanya karena tokoh utama akhirnya kembali ke rumah. Rumah tangga mereka belum langsung dipenuhi tawa. Erika masih mudah terdiam ketika mendengar suara telepon Raden. Dia masih teringat malam ketika suaminya pergi tanpa kabar, juga hari ketika dirinya diusir setelah dituduh berselingkuh.Raden memahami semua itu.Dia tidak lagi menuntut Erika agar segera tersenyum, segera percaya, atau segera melupakan. Setiap pagi, dia membantu membersihkan kontrakan. Dia mencuci pakaian sendiri, memasak makanan sederhana, dan mencatat seluruh pemasukan serta pengeluaran. Hal-hal kecil yang dahulu dianggap bukan urusan lelaki kini dia lakukan tanpa banyak bicara.Raden juga memenuhi panggilan pemeriksaan. Dia menyerahkan informasi yang dibutuhkan dan tidak lagi berusaha menyembunyikan perbuatannya. Beberapa harta yang masih tersisa dikembalikan. Mobil yang dahulu dia akui sebagai hasil kerja keras dijual untuk membayar sebagi
Raden tidak tidur malam itu. Setelah Dennis pulang dan keadaan di sekitar kontrakan mulai tenang, dia duduk di lantai dekat ranjang sambil menatap kedua tangannya. Tangan itulah yang dahulu dipakai untuk menggenggam tangan Erika ketika mereka menikah. Tangan yang sama pula telah digunakan untuk mengambil uang istrinya, mengetik taruhan judi, dan membuka pintu menuju pekerjaan haram.Erika duduk di ujung ranjang. Dia tidak mengusir Raden, tetapi juga tidak mendekat seperti dahulu. Jarak di antara mereka hanya beberapa langkah, namun terasa seperti bertahun-tahun.“Kakak belum tidur?”“Belum.”“Besok harus menghadap siapa?”“Polisi. Dan mungkin orang-orang yang selama ini dirugikan.”Erika mengangguk. “Kalau memang itu yang harus dilakukan, lakukanlah.”Raden menatap wajahnya. “Kau akan menungguku?”Erika tidak segera menjawab.“Ana akan mendoakan keselamatan kakak. Tetapi jangan jadikan doa ana sebagai alasan untuk menghindari hukuman.”Jawaban itu membuat Raden menundukkan wajah. Dia
Pagi menjelang ketika bus yang ditumpangi Raden tiba di Palembang. Dia turun dengan tubuh lelah, wajah pucat, dan mata yang merah karena hampir tidak tidur semalaman. Sepanjang perjalanan, dia beberapa kali melihat mobil hitam yang diduga mengikuti bus. Entah benar kendaraan itu milik orang Ricko atau hanya kebetulan, Raden tidak berani menganggap remeh.Dia tidak langsung menuju rumah orang tuanya. Raden berjalan ke sebuah masjid yang pernah dia kunjungi bersama Erika pada masa awal pernikahan. Dulu, mereka sering datang ke sana untuk menghadiri kajian. Erika biasanya duduk di barisan perempuan sambil membawa buku catatan. Sementara Raden sibuk mencari tempat di bagian depan.Kenangan itu terasa menyakitkan sekarang.Raden meminjam telepon pengurus masjid dan menghubungi Dennis. Dia memilih Dennis karena tidak punya banyak pilihan lain. Orang tuanya mungkin masih mengira dirinya sedang bekerja di luar kota, sedangkan Erika belum tentu mau menerima kedatangannya.“Assalamu’alaikum, De
Pesan yang dikirim Raden kepada Erika terbaca beberapa menit kemudian. Erika sedang duduk di tepi ranjang kontrakan sambil menyelesaikan catatan bahan ajar. Begitu melihat nama suaminya muncul di layar, tangannya langsung berhenti bergerak.Erika, maafkan aku. Aku akan pulang. Apa pun yang terjadi, kali ini aku tidak akan lari lagi.Tidak ada penjelasan lain. Tidak ada kabar tentang lokasi, keadaan, atau kapan tepatnya Raden tiba. Namun, bagi Erika, satu pesan singkat itu sudah cukup membuat dadanya bergetar. Selama berbulan-bulan dia tidak tahu apakah suaminya masih hidup, masih mengingatnya, atau justru telah memilih perempuan lain.Dia membaca pesan itu berkali-kali.“Kak Raden masih hidup,” bisiknya.Air matanya menetes. Ada lega, bahagia, takut, dan marah yang bercampur menjadi satu. Dia ingin segera menelepon, tetapi panggilan yang dia lakukan tidak tersambung. Ponsel Raden kembali tidak aktif.Erika meletakkan ponsel di pangkuan. Dia berusaha menenangkan diri. Jangan sampai sat
Dennis masih memandangi Erika dengan penuh tanda tanya. Percakapan mereka sejak tadi terasa terlalu serius untuk sekadar membahas calon istri. Erika biasanya berbicara tentang bahan ajar, jadwal mengajar, atau keadaan murid-murid. Hari ini, dia justru bertanya panjang tentang hukum pernikahan, kesiapan seorang pria, dan sifat-sifat seorang istri yang baik.“Siapa wanita yang ingin antum perkenalkan kepada ana?” tanya Dennis.Erika menarik napas. Dia tahu, pertanyaan itu akhirnya akan muncul. Namun, menyebut nama Laura tetap membuat dadanya berdebar. Laura bukan sekadar kenalan. Laura adalah sahabat yang selama ini menjadi tempatnya berbagi buku, menghadiri kajian, dan saling menguatkan ketika kehidupan terasa terlalu berat.“Namanya Laura,” jawab Erika akhirnya.Dennis terdiam.Nama itu memang tidak asing. Dia pernah melihat Laura beberapa kali di kegiatan kajian dan sekali di sekolah ketika perempuan bercadar itu datang hendak menemui Erika. Namun, dia tidak pernah menyangka bahwa Er
Mayoritas atau bahkan semua pria ingin punya istri cantik dan fisiknya bagus. Dan Dennis tidak mungkin bisa membohongi dirinya bahwa dia mau punya istri yang enak dipandang. “Istri yang cantik bisa buat pria betah di rumah. Dan kalau pria sudah merasa puas, ketika berada di luar rumah, dia tidak akan berani macam-macam, dia tidak akan melirik wanita lain.” Canda Dennis dan tidak mau terlalu serius ketika menjawab pertanyaan Erika. “Memang tidak ada jaminan bahwa pria akan pasti selamat ketika berada di luar. Tapi setidaknya begitu dia mendapatkan istri yang cantik dan bikin betah di rumah, peluang untuk berzina di luar akan jauh lebih berkurang.” Jawaban dari Dennis lebih diplomatis dan memang dari dirinya sendiri. Dan tentu saja jawaban tersebut sebenarnya mewakili dari sekian banyak pria di dunia ini. Mendengar jawaban tersebut, Erika cuma bisa menahan senyum kemudian menanggapi. “Tapi cantik itu
Pagi hari ini Erika sebetulnya hendak keluar rumah beraktivitas seperti biasa, yakni mengajar tahsin di mushala dekat sini. Dia jadi guru mengaji bagi anak-anak kecil dari usia empat sampai dua belas tahun. Tidak terlalu mengharapkan upah yang tak seberapa, dia cuma ingin dapat menyalurkan ilmu yan
Kebetulan sekarang Erika tidak sedang berada di rumah. Dia mengikuti kajian rutin mulai dari selepas ashar sampai selesai maghrib. Begitu mertua dan iparnya tahu bahwa dia rupanya menderita Lupus dan kemungkinan besar tidak akan bisa hamil, mereka benar-benar kaget dengan ekspresi beragam. Mertu
Erika membaca lagi laporan hasil pemeriksaan yang ada di tangannya sambil menangis. Fisik dan raut wajahnya tampak melemah. Tapi dia punya jiwa yang kuat meskipun ujian yang amat berat semakin membuatnya tertekan. Dia tetap seperti biasanya menjadi seorang istri yang lemah lembut dan bersabar. Eri
“Ibu Erika mengidap gangguan autoimun : Lupus.” Dokter itu bicara pada Raden. “Hal yang sangat kami sayangkan adalah kenapa baru sekarang beliau dibawa ke rumah sakit guna dilakukan pemeriksaan. Jika beliau sudah sejak dulu diperiksa dan diobati, mungkin dampaknya tidak akan begitu besar.” Mendeng







