LOGIN
"Haha, buang saja si buta itu dari klan kita. Bikin malu saja!" teriak salaah satu anggota klan bulan.
"Ampuni aku, Ketua. Kesalahan ini tidak akan saya ulangi lagi, aku mohon!" pinta seekor serigala perempuan yang buta. "Apa jaminan untuk sikapmu yang tidak akan terulang, sedangkan kau buta seumur hidupmu, Sisilia!" Hentak sang Alpha. "Biar aku jadi budakmu selamanya, Ketua." "Hahh, seseorang yang buta apa bisa memuaskan. Bahkan untuk merawat dirinya saja dia tidak mampu, apalagi harus merawat sang Alpha. Cuih!" hina anak perempuan sang Alpha. Sisilia menunduk, dia tidak bisa memilih akan terlahir dengan keadaan apapun. Andai ada pilihan, serigala muda itu pasti ingin terlahir sempurna. Namun, takdir berkata lain. Meskipun kata serigala baik Sisilia adalah seorang omega yang cantik dan lembut, tetapi keberadaannya selalu dikucilkan oleh yang lain. "Bisakah kau hangatkan ranjangku, Sisilia?" tanya Alpha tua pemimpin klan itu. "Ayah!" Hentak anak perempuan Alpha. "Kita jual saja si buta ini pada seorang Lycan kejam yang ada di pegunungan Alpen, Ayah. Seperti biasa sebagai umpan buat perjalanan kita nanti!" Sisilia menggeleng lemah, bibirnya tidak bisa berkata untuk menolak. Suaranya tercekat pada tenggorokannya. Lidahnya tiba-tiba menjadi kelu dan terlipat, sangat sulit untuk digerakkan. "Apa yang ingin kau katakan, Buta. Haha, kini bertambah deritamu menjadi bisu. Si buta menjadi bisu!" teriak anak Alpha yang seusia Sisilia. "Aku tidak bisu, Nona. Sungguh, ini suaraku!" desis Sisilia dengan bibirnya bergerak. "Suaraku, mana suaraku!" batin Sisiilia sambil memegangi lehernya. Tawa melengking sang pewaris klan bulan membuat hati Sisilia semakin gundah, wanita serigala muda itu pun di rundung oleh semua anggota kawanan. Baik muda maupun tua. Bahkan tubuhnya sudah menjadi konsumsi umum serigala pria. Dengan tanpa menggunakan sehelai kain pun, si buta di arak menggelilingi semua anggota kawanan. Tangan-tangan jahil mulai menyentuh tubuhnya yang mulus dan tanpa cacat. Namun, ada sepasang mata yang membulat kala dilihatnya ada setitik tanda yang selama ini dia cari. Bibir wanita tua itu melebar tipis, sangat tipis. "Sabarlah sebentar, Sisilia! Takdir akan membawamu kembali," batin wanita tua itu. Sisilia terus di pertontonkan di seluruh anggota klan tanpa kain penutup, tubuhnya terekspos begitu indah. Ada yang meremat dua bukit yang sedang tumbuh, ada pula yang meremat bagian lainnya. Sakit, hati serigala muda itu sakit dan perih. Hingga akhirnya dia dihempas pada setumpuk jerami kering. "Di sini tempatmu, Buta!" Sisilia segera mengendus tempat yang baru saja diberikan oleh pewaris Klan. Dia menganguk tanpa bersuara mendapat perlakuan yang kurang baik. "Ingat, sebentar malam akan ada tamu untukku. Kau ... Jangan keluar dari sini!" Setelah berucap yang begitu pedas, sang pewaris pun berjalan meninggalkan Sisilia sendiri yang sebelumnya melempar seleembar kain tipis. Merasa ada kain yang menyentuh kulitnya, Sisilia gegas meraihnya. Tangannya yang putih bersih meraba tekstur kain tersebut. "Ini ... Begitu tipis, kupakai pun bagai aku tak memakai. Iya sudah kupakai saja, masih untung ada!" batin Sisilia. Serigala muda itu berjalan tertatih sambil tangannya meraba udara kosong, hal ini dia lakukan agar tidak melakukan kesalahan. Samar terdengar gemericik air, langkahnya terhenti untuk memastikan apa yang dia dengar. "Air? Apakah di daerah ini subur? Aroma ini begitu nyata, harum dan wangi. Belum lagi suara derasnya air itu, heem!" kata Sisilia bermonolog. Serigala buta itu tidak mengerti jika kawanannya sudah berpindah tempat pada wilayah yang lebih subur dan hijau. Maka banyak sekali yang menginginkan wilayahnya dengan melamar putri ketua klan. Sisilia terlihat merendamkan kedua tapak kakinya di aliran sungai yang deras. Pikirannya melayang pada kejadian yang baru saja dia alami. Berbagai aroma serigala telah menyapa indera penciumannya, tetapi dahinya berkerut kala mengingat satu aroma yang sama dengan dirinya "Siapa pemilik aroma itu? Bisakah aku menemukan dia lagi dan bertanya mengenai asal usulku?" batin Sisilia. Serigala muda itu semakin tenggelam dalam pikirnya hingga tidak menyadari kala ada dua tangan mendorongnya ke sungai. Sisilia menjerit kaget dan segera berteriak meminta tolong. Namun, tidak ada satu aroma yang mendekat padanya. Bahkan angin bertiup masih sama, tidak ada perubahan sedikitpun. Bibir Sisilia semakin merapat. "Sungguh sial nasibku hari ini!" Sisilia terus berusaha berenang menuju ke tepian, tetapi arus sungai begitu deras hingga dia susah untuk bernapas. Setelah terbawa begitu jauh, tubuh itu pun terhempas pada batuan besar dalam keadaan setengah perubahan serigalanya. Sementara di tempat semula terlihat seorang gadis menyeringai penuh arti. Apa yang telah dia lakukan merasa telah berhasil. Dengan bersenandung lirih langkahnya berayun ringan menuju ke kawanan klannya yang sedang berjemur di pinggiran sungai yang lain. "Hai, Rhena! Sini gabung dengan kita," ujar serigala wanita muda lainnya. "Aku harus bersiap untuk acara nannti malam, maaf!" "Ah iya hampir lupa, semoga sukses dan ada yang cocok dengan pilihanmu!" Rhena pun berjalan menuju ke rumahnya, wanita muda itu masih bersenandung lirih. Dia langsung menuju kamar pribadinya dan bersiap diri. "Kalian pasti akan terpana dengan apa yang aku miliki, gadis itu sudah kubuang tidak ada lagi saingan saat kau datang pangeranku. Aku masih teratas daripada gadis buta itu," ujar Rhena lirih. Gadis itu terus bermonolog sambil mematut dirinya di cermin. Wajahnya yang cantik dengan bibir merah natural dan hidung tinggi membuat dia semakin terlihat sempurna. "Lihatlah, cantik aku daripada gadis buta itu. Kau pasti akan terpikat!" Sementara di luar wilayah terdengar derap langkah yang berbeda. Rhena masih asyik memoles wajahnya agar terlihat lebih menarik. Kawanan serigala dari klan lainnya sudah berkumpul di sebuah arena untuk mengikuti kompetisi yang diadakan oleh Bugary sang Alpha tua. Tawa terdengar menggelegar kala Bulgary bertemu sosok Alpha timur. Keduanya saling berjabat tangan dan berpelukan, setelahnya Bugary memberi tempat pada tamunya. Di ruang gelap sudut kota terlihat seorang gadis tertatih berjalan dengan tongkatnya. Tangannya mengais tumpukan sampah. Setelah mendapat sebungkus nasi dan minuman bekas, gadis itu pun berjalan mencari tempat untuk melanjutkan aktifitasnya. Bau nasi basi dan minuman menyengat hidung wanita muda itu, tetapi dia tidak memedulikan karena saat ini perutnya begitu ingin diisi makanan. "Aku harus kuat, semua ini hanya sementara hingga purnama depan!" ujarnya lirih. Wanita itu terus memaksakan makanan itu masuk ke perutnya tanpa mengunyah. Dia menahan aroma yang tidak sedap dan tidak memedulikan sekitarnya. Meskipun sensornya menangkap adanya dua sorot tajam yang selalu memerhatikan cara dia makan dari kejauhan. "Jika kau datang untuk melenyapkan nyawaku, aku siap!"Beberapa hari yang lalu sebelum semua terjadi, Sisilia merasa bahwa tubuhnya sedang tidak baik. Maka dia pun meminta ijin pada Harlan untuk memanggil dokter untuknya. Dan semua terjadi. Saat itu seakan dunia dalam genggamannya, dia hamil anak Harlan. Meskipun semua berawal dari kekerasan dan ketidakadilan yang menyiksa lahir batin, tetapi janin yang saat ini tumbuh dalam perutnya tidak bersalah. Maka, dengan tekat kuat semua akan diungkap oleh Sisilia di saat yang tepat. Sudah cukup lama Sisilia menyembunyikan rahasia ini, maka saat ada kesempatan dia bertekad untuk ungkap. Saat ini adalah saat yang tepat untuk semua itu. Apalagi Harlan belum menandai satu pun pasangan, dalam pikiran Sisilia dia lah yang akan menjadi pasangan Harlan hingga calon janin itu bisa bernapas. "Jawab tanyaku, Harlan!" Bukannya sebuah jawaban yang didengar oleh Sisilia tetapi justru suara tawa mengejek dari Rhena, wanita yang membuat Sisilia hancur. Sesaat setelah tawa wanita itu mereda, terdengar langkah
Sudah satu bulan penuh Sisilia berada di mansion milik Harlan. Selama itu pula dia tidak bisa bebas berkeliaran bahkan untuk mengenakan pakaian layak pun tidak pernah. Apa yang dilemparkan Harlan hanya dua kain tipis dan mungil yang mampu untuk menutupi dua aset vitalnya. Akan tetapi meskipun diperlakukan bagai budak, wanita muda itu sama sekali tidak mengeluh. Dia hanya memendamnya dan berniat suatu saat nanti akan membalas semua perbuatan Harlan padanya. Seperti pagi ini saat Sisilia berada di dapur, sebuah tangan mencengkeram lehernya dan menarik lalu dihempas pada sofa. "Apa yang kau lakukan dengan pakaianku ini, Hah!" hentak Harlan sambil melempar kemeja satin terbarunya. Sisilia segera meraih benda yang jatuh menimpa wajahnya dan kini sudah berada di tangan. Dengan pelan jari jemarinya meraba benda tersebut, lembut menyapa kulit jarinya yang terdapat beberapa kancing. Dia pun mengerti benda apa yang sedang dipegangnya. Seketika wanita cantik dan buta itu menelan salivanya sa
Harlan terpaku, dia tidak bisa membuka pembicaraan. Wajah Sisilia yang masih polos mampu menghipnotis jiwanya hingga hanya kedua bola matanya yang berputar. "Huft, sungguh auranya begitu memenjarakan jiwaku.""Tuan, apa yang kau inginkan?" tanya Sisilia. "Malam ini kau adalah milikku!"Sisilia menggapai-gapai tangannya mencari sosok Harlan, tangannya melambai tetapi Harlan masih bungkam. Hanya langkah kaki yang didengar oleh indera wanita muda itu. Tubuh Sisilia mulai gemetaran, jarinya makin merapat meraba mencari pegangan. Sisilia sangat paham dengan kalimat yang diucapkan oleh pria di depannya. Untuk itu perlahan dia bangkit dari posisinya lalu berusaha duduk. Namun, tangan kekar mencengkeram kedua bahu dan menekannya agar duduk. "Tuan, aku mohon katakan padaku apa maksud semua ini?""Aku inginkan kamu, malam ini!"Harlan pun segera menempelkan bibirnya pada bibir ranum dan mulai menyesapnya. Sisilia terdiam, dia masih terkejut dengan sentuhan mendadak yang dilakukan oleh Harlan
Sisilia terus berjalan dipekatnya malam. Wanita muda itu sesekali mendongak melihat cahaya rembulan. Meski matanya buta, dia masih bisa melihat setitik cahaya putih di langit malam."Rupanya malam ini masih panjang, sanggupkah terus melangkah hingga purnama tiba!" desis Sisilia.Wanita serigala muda itu terus melangkah meninggalkan tempat pembuangan sampah. Dengan tongkatnya, Sisilia mencoba mencari tempat yang bisa buat dia bertahan dari dinginnya angin malam.Tanpa disadari, sepasang mata tajam selalu mengawasi setiap pergerakan serigala muda tersebut. Pemilik mata berulang kali mendengus kesal."Apa kau gila, gadis buta itu adalah pasanganku, Azim?" geram lelaki serigala muda yang sedang berburu pasangannya."Iya, Tuan. Saya adalah pelindungmu. Jadi wanita yang di sana itulah yang pas menjadi pasanganmu!" kaya Azim tegas dan datar.Pria serigala muda masih mengeram dalam wujud manusia serigala. Dia bersembunyi di balik pohon besar di kegelapan malam. Pandangannya masih melihat pada
"Haha, buang saja si buta itu dari klan kita. Bikin malu saja!" teriak salaah satu anggota klan bulan."Ampuni aku, Ketua. Kesalahan ini tidak akan saya ulangi lagi, aku mohon!" pinta seekor serigala perempuan yang buta."Apa jaminan untuk sikapmu yang tidak akan terulang, sedangkan kau buta seumur hidupmu, Sisilia!" Hentak sang Alpha."Biar aku jadi budakmu selamanya, Ketua.""Hahh, seseorang yang buta apa bisa memuaskan. Bahkan untuk merawat dirinya saja dia tidak mampu, apalagi harus merawat sang Alpha. Cuih!" hina anak perempuan sang Alpha.Sisilia menunduk, dia tidak bisa memilih akan terlahir dengan keadaan apapun. Andai ada pilihan, serigala muda itu pasti ingin terlahir sempurna. Namun, takdir berkata lain. Meskipun kata serigala baik Sisilia adalah seorang omega yang cantik dan lembut, tetapi keberadaannya selalu dikucilkan oleh yang lain."Bisakah kau hangatkan ranjangku, Sisilia?" tanya Alpha tua pemimpin klan itu."Ayah!" Hentak anak perempuan Alpha."Kita jual saja si but







