Home / Fantasi / My Blind Mate / 1, Menyedihkan

Share

My Blind Mate
My Blind Mate
Author: Shaveera

1, Menyedihkan

Author: Shaveera
last update publish date: 2026-04-15 14:10:17

"Haha, buang saja si buta itu dari klan kita. Bikin malu saja!" teriak salaah satu anggota klan bulan.

"Ampuni aku, Ketua. Kesalahan ini tidak akan saya ulangi lagi, aku mohon!" pinta seekor serigala perempuan yang buta.

"Apa jaminan untuk sikapmu yang tidak akan terulang, sedangkan kau buta seumur hidupmu, Sisilia!" Hentak sang Alpha.

"Biar aku jadi budakmu selamanya, Ketua."

"Hahh, seseorang yang buta apa bisa memuaskan. Bahkan untuk merawat dirinya saja dia tidak mampu, apalagi harus merawat sang Alpha. Cuih!" hina anak perempuan sang Alpha.

Sisilia menunduk, dia tidak bisa memilih akan terlahir dengan keadaan apapun. Andai ada pilihan, serigala muda itu pasti ingin terlahir sempurna. Namun, takdir berkata lain. Meskipun kata serigala baik Sisilia adalah seorang omega yang cantik dan lembut, tetapi keberadaannya selalu dikucilkan oleh yang lain.

"Bisakah kau hangatkan ranjangku, Sisilia?" tanya Alpha tua pemimpin klan itu.

"Ayah!" Hentak anak perempuan Alpha.

"Kita jual saja si buta ini pada seorang Lycan kejam yang ada di pegunungan Alpen, Ayah. Seperti biasa sebagai umpan buat perjalanan kita nanti!"

Sisilia menggeleng lemah, bibirnya tidak bisa berkata untuk menolak. Suaranya tercekat pada tenggorokannya. Lidahnya tiba-tiba menjadi kelu dan terlipat, sangat sulit untuk digerakkan.

"Apa yang ingin kau katakan, Buta. Haha, kini bertambah deritamu menjadi bisu. Si buta menjadi bisu!" teriak anak Alpha yang seusia Sisilia.

"Aku tidak bisu, Nona. Sungguh, ini suaraku!" desis Sisilia dengan bibirnya bergerak.

"Suaraku, mana suaraku!" batin Sisiilia sambil memegangi lehernya.

Tawa melengking sang pewaris klan bulan membuat hati Sisilia semakin gundah, wanita serigala muda itu pun di rundung oleh semua anggota kawanan. Baik muda maupun tua. Bahkan tubuhnya sudah menjadi konsumsi umum serigala pria.

Dengan tanpa menggunakan sehelai kain pun, si buta di arak menggelilingi semua anggota kawanan. Tangan-tangan jahil mulai menyentuh tubuhnya yang mulus dan tanpa cacat. Namun, ada sepasang mata yang membulat kala dilihatnya ada setitik tanda yang selama ini dia cari. Bibir wanita tua itu melebar tipis, sangat tipis.

"Sabarlah sebentar, Sisilia! Takdir akan membawamu kembali," batin wanita tua itu.

Sisilia terus di pertontonkan di seluruh anggota klan tanpa kain penutup, tubuhnya terekspos begitu indah. Ada yang meremat dua bukit yang sedang tumbuh, ada pula yang meremat bagian lainnya. Sakit, hati serigala muda itu sakit dan perih. Hingga akhirnya dia dihempas pada setumpuk jerami kering.

"Di sini tempatmu, Buta!"

Sisilia segera mengendus tempat yang baru saja diberikan oleh pewaris Klan. Dia menganguk tanpa bersuara mendapat perlakuan yang kurang baik.

"Ingat, sebentar malam akan ada tamu untukku. Kau ... Jangan keluar dari sini!"

Setelah berucap yang begitu pedas, sang pewaris pun berjalan meninggalkan Sisilia sendiri yang sebelumnya melempar seleembar kain tipis.

Merasa ada kain yang menyentuh kulitnya, Sisilia gegas meraihnya. Tangannya yang putih bersih meraba tekstur kain tersebut.

"Ini ... Begitu tipis, kupakai pun bagai aku tak memakai. Iya sudah kupakai saja, masih untung ada!" batin Sisilia.

Serigala muda itu berjalan tertatih sambil tangannya meraba udara kosong, hal ini dia lakukan agar tidak melakukan kesalahan. Samar terdengar gemericik air, langkahnya terhenti untuk memastikan apa yang dia dengar.

"Air? Apakah di daerah ini subur? Aroma ini begitu nyata, harum dan wangi. Belum lagi suara derasnya air itu, heem!" kata Sisilia bermonolog.

Serigala buta itu tidak mengerti jika kawanannya sudah berpindah tempat pada wilayah yang lebih subur dan hijau. Maka banyak sekali yang menginginkan wilayahnya dengan melamar putri ketua klan.

Sisilia terlihat merendamkan kedua tapak kakinya di aliran sungai yang deras. Pikirannya melayang pada kejadian yang baru saja dia alami. Berbagai aroma serigala telah menyapa indera penciumannya, tetapi dahinya berkerut kala mengingat satu aroma yang sama dengan dirinya

"Siapa pemilik aroma itu? Bisakah aku menemukan dia lagi dan bertanya mengenai asal usulku?" batin Sisilia.

Serigala muda itu semakin tenggelam dalam pikirnya hingga tidak menyadari kala ada dua tangan mendorongnya ke sungai. Sisilia menjerit kaget dan segera berteriak meminta tolong. Namun, tidak ada satu aroma yang mendekat padanya. Bahkan angin bertiup masih sama, tidak ada perubahan sedikitpun. Bibir Sisilia semakin merapat.

"Sungguh sial nasibku hari ini!"

Sisilia terus berusaha berenang menuju ke tepian, tetapi arus sungai begitu deras hingga dia susah untuk bernapas. Setelah terbawa begitu jauh, tubuh itu pun terhempas pada batuan besar dalam keadaan setengah perubahan serigalanya.

Sementara di tempat semula terlihat seorang gadis menyeringai penuh arti. Apa yang telah dia lakukan merasa telah berhasil. Dengan bersenandung lirih langkahnya berayun ringan menuju ke kawanan klannya yang sedang berjemur di pinggiran sungai yang lain.

"Hai, Rhena! Sini gabung dengan kita," ujar serigala wanita muda lainnya.

"Aku harus bersiap untuk acara nannti malam, maaf!"

"Ah iya hampir lupa, semoga sukses dan ada yang cocok dengan pilihanmu!"

Rhena pun berjalan menuju ke rumahnya, wanita muda itu masih bersenandung lirih. Dia langsung menuju kamar pribadinya dan bersiap diri.

"Kalian pasti akan terpana dengan apa yang aku miliki, gadis itu sudah kubuang tidak ada lagi saingan saat kau datang pangeranku. Aku masih teratas daripada gadis buta itu," ujar Rhena lirih.

Gadis itu terus bermonolog sambil mematut dirinya di cermin. Wajahnya yang cantik dengan bibir merah natural dan hidung tinggi membuat dia semakin terlihat sempurna.

"Lihatlah, cantik aku daripada gadis buta itu. Kau pasti akan terpikat!"

Sementara di luar wilayah terdengar derap langkah yang berbeda. Rhena masih asyik memoles wajahnya agar terlihat lebih menarik. Kawanan serigala dari klan lainnya sudah berkumpul di sebuah arena untuk mengikuti kompetisi yang diadakan oleh Bugary sang Alpha tua.

Tawa terdengar menggelegar kala Bulgary bertemu sosok Alpha timur. Keduanya saling berjabat tangan dan berpelukan, setelahnya Bugary memberi tempat pada tamunya. Di ruang gelap sudut kota terlihat seorang gadis tertatih berjalan dengan tongkatnya. Tangannya mengais tumpukan sampah.

Setelah mendapat sebungkus nasi dan minuman bekas, gadis itu pun berjalan mencari tempat untuk melanjutkan aktifitasnya. Bau nasi basi dan minuman menyengat hidung wanita muda itu, tetapi dia tidak memedulikan karena saat ini perutnya begitu ingin diisi makanan.

"Aku harus kuat, semua ini hanya sementara hingga purnama depan!" ujarnya lirih.

Wanita itu terus memaksakan makanan itu masuk ke perutnya tanpa mengunyah. Dia menahan aroma yang tidak sedap dan tidak memedulikan sekitarnya. Meskipun sensornya menangkap adanya dua sorot tajam yang selalu memerhatikan cara dia makan dari kejauhan.

"Jika kau datang untuk melenyapkan nyawaku, aku siap!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • My Blind Mate   120. dimanjakan

    Waktu terus berlalu, akhirnya mau tidak mau Luna Sniders harus rela mengikuti keputusan pasangannya. Kali ini dia ingin merasakan bagaimana rasanya dimanjakan dan dikasih sepenuh hati. Benar saja, sejak keikhlasan itu hadir Edward selalu memanjakan istrinya. "Dengan begini aku lebih leluasa merawatmu di kehamilan ini, Sisilia. Biarkan aku memanjakan istri sendiri, boleh?"Mendengar kalimat manis pasangan membuat Luna Sniders tersipu malu. "Apakah ini artinya kau menjadi pasangan alpha female kastil perak, Edward. Posisimu menjadi dibawahku.""Aku tidak peduli akan kedudukan, jiwaku lebih tenang saat bersamamu, Sisilia." Edward berkata dengan tatapan lembut, lengannya terulur menyentuh pipi Luna. Dengan manja tubuh Alpha Female Sniders merapat dan memeluk tubuh berotot Edward. Dengan lembut, pria itu membelai rambut Sisilia. Bibirnya selalu mengulas senyum manis membuat Sisilia makin merapatkan pelukannya. "Jangan lagi tampilkan senyummu itu pada serigala betina di luar sana, Edwa

  • My Blind Mate   119. Acara sakral

    Raja Lycan tidak memedulikan kalimat istrinya, dia masih terus membawa tubuh Luna masuk ke dalam kamar mandi. Sampai di dalam, tubuh itu di dudukkan pada wastafel. "Duduk sini dulu biar aku siapkan semua lebih dulu!"Usai berkata, Raja Lycan menyiakan air hangat dalam bak mandi. Tidak lupa dia juga menyalakan lilin berbentuk dan aroma khusus membuat hidung Luna kembang kemping. "Aroma ini begitu menenangkan, Edward. Aku suka," kata Luna sambil melompat ke lantai lalu berjalan menuju ke bak mandi. "Hai hati-hati dong!" Teriak Raja Lycan Edward Slovasky tergesa menangkap tubuh pasangannya yang hampir saja terjatuh. Senyum Luna terukir, wanita itu begitu pandai mempermainkan jiwa Raja Lycan hingga pria itu bergerak liat. "Tidak bisakah setiap bergerak memerhatikan tempat, Sayang!"Kembali senyum manis terukir di bibir luna, hal ini untuk melunakkan emosi pasangannya dan usahanya berhasil. "Baik-baik, lain kali tidak akan ada lagi!" Edward mendengus, "ayo mandi, biar kugosok punggu

  • My Blind Mate   118. rencana peralihan

    Setelah kepergian suaminya membuat pikiran Luna Sniders berkelana. Ada rasa curiga yang membuatnya tidak nyaman untuk memejamkan mata. Luna mendengus lirih, bibirnya bergerak menimbulkan suara, "apakah aku harus menguntitnya?"Cukup lama Luna Sniders berpikir ulang, akhirnya dia memutuskan untuk mengikuti langkah penguasa Kastil Hitam. Langkahnya mengendap-endap dan sedikit berjarak jauh dari langkah pasangannya. Meskipun begitu, aroma yang ditinggalkan masih bisa diciumnya. Langkah Luna Sniders terhenti manakala aroma raja lycan pun menghilang tepat di depan sebuah pintu yang sedikit terbuka. "Apakah semua ini harus dilakukan, Tuan? Pantaskah pria busuk itu menjadi seorang alpha?"Suara Beta Ramon begitu jelas di pendengaran sang Luna membuat wanita itu mengerutkan dahi, "pria busuk? Siapa pria ini hingga mampu mengubah pikiran pasanganku?"Meskipun sudah mendengar beberapa kalimat dan tujuan dari suaminya tidak membuat Luna Sniders pergi dari sana. Dia terus mencuri dengar selur

  • My Blind Mate   117. Mulai percaya

    "Jadi aku harus bagaimana, Edward?" tanya Luna Sniders sambil mengeser tubuhnya lebih merapat pada sang raja Lycan. Raja Lycan Edward Slovasky tersenyum, diraihnya tubuh mungil Luna Sniders lalu dipeluknya. Mendapatkan pelukan hangat, jantung Luna berdebar. Wajahnya memerah bak sebuah tomat yang merah. "Kau cantik sekali jika tersipu, Luna. Aku mencintaimu," bisik Raja Lycan. Kepala Luna Sniders terangkat, kedua pasang mata saling bertemu dan mengunci. Perlahan tubuh Luna terangkat dan diletakkan pada pangkuan sang raja. Secara naluri, kedua lengan Luna melingkar pada leher pasangannya. "Aku ingin seperti ini selamanya, Edward. Jangan pernah tinggalkan aku!""Tidak, hanya kau wanitaku, Luna. Bahkan jika dunia serigala punah pun, kau tetap yang terbaik.""Benarkah ini semua, Edward." Untuk sesaat bibir Luna Sniders terbuka, napasnya begitu lembut dan teratur, "aku juga mencintaimu."Mendengar ungkapan kalimat yang jujur lolos dari bibir pasangannya membuat raja Lycan melolong panj

  • My Blind Mate   116. berdua di bawah sinar bulan

    Raja Lycan Edward Slovasky masih melangkah meninggalkan arena pertempuran itu. Sedangkan Alpha Female Sniders mengikuti langkahnya dengan sedikit berlari. Suaranya yang terus memanggil nama pasangannya itu seakan hilang dibawa angin malam. Merasa jika suaranya tidak diterima oleh kekasihnya membuat emosi Alpha female Sniders memuncak. "Edward!" Panggilnya dengan nada tinggi bahkan disertai dengan angin kencang. Merasakan aliran udara yang berubah seketika langkah Raja Lycan Edward Slovasky pun berhenti, dia berbalik badan. Bibirnya tersenyum kaku. "Maaf!"Alpha famale Sniders berjalan dengan langkah panjang seakan dia berlari di udara. Begitu kakinya menginjak tanah, saat itu juga terlihat wajah cemberut. "Mengapa bisa kau tinggalkan aku dengan tubuhmu penuh luka?" Geram sang alpha female, "apakah aku tidak ada arti?"Raja Lycan Edward Slovasky hanya tersenyum simpul, lengannya bergerak meraih jemari pasangannya. Tanpa bersuara ditautkannya jemari itu dan mulai melangkah bersama.

  • My Blind Mate   115. bermanja

    Setelah kepergian Raja Lycan Edward Slovasky, Edwin berdiri tegak menatap tajam pada sosok Esther yang masih bungkam. Untuk beberapa detik mereka saling diam dalam pemikirannya masing-masing. Setelah suasana mulai membaik, suara Esmeralda keluar dengan volume sangat rendah. "Apakah tidak bisa kalian berbagi tempat dengan kami para penyihir, Madam Esther?"Merasa namanya disebut, Esther mengangkat kepala menatap pada sosok adik tiri Raja Lycan Edward Slovasky--Edwin. "Apakah kau masih inginkan Kastil ini, Tuan Edwin?"Edwin mengeram kasar, dia menatap tajam pada Esther, "hak apa kamu mempertanyakan hal itu padaku. Yang pasti akulah yang berhak atas Kastil ini selain Edward sialan itu.""Jika kau mendapatkan jatah wilayah, mana yang kau inginkan, Nona Esmeralda?" tanya Esther dengan nada dingin. Esmeralda terdiam, dahinya berkerut mencari sebuah kata yang tepat untuk menentukan wilayah yang cocok buat para penyihir. Kedua kelopak matanya mengerjakan ringan disertai senyum penuh arti

  • My Blind Mate   5. Hamil

    Beberapa hari yang lalu sebelum semua terjadi, Sisilia merasa bahwa tubuhnya sedang tidak baik. Maka dia pun meminta ijin pada Harlan untuk memanggil dokter untuknya. Dan semua terjadi. Saat itu seakan dunia dalam genggamannya, dia hamil anak Harlan. Meskipun semua berawal dari kekerasan dan ketid

  • My Blind Mate   4. Wanita Lain yang Ditandai

    Sudah satu bulan penuh Sisilia berada di mansion milik Harlan. Selama itu pula dia tidak bisa bebas berkeliaran bahkan untuk mengenakan pakaian layak pun tidak pernah. Apa yang dilemparkan Harlan hanya dua kain tipis dan mungil yang mampu untuk menutupi dua aset vitalnya. Akan tetapi meskipun dipe

  • My Blind Mate   3. Malam Panjang

    Harlan terpaku, dia tidak bisa membuka pembicaraan. Wajah Sisilia yang masih polos mampu menghipnotis jiwanya hingga hanya kedua bola matanya yang berputar. "Huft, sungguh auranya begitu memenjarakan jiwaku.""Tuan, apa yang kau inginkan?" tanya Sisilia. "Malam ini kau adalah milikku!"Sisilia men

  • My Blind Mate   2. Tempat Baru

    Sisilia terus berjalan dipekatnya malam. Wanita muda itu sesekali mendongak melihat cahaya rembulan. Meski matanya buta, dia masih bisa melihat setitik cahaya putih di langit malam."Rupanya malam ini masih panjang, sanggupkah terus melangkah hingga purnama tiba!" desis Sisilia.Wanita serigala mud

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status