LOGINSisilia terus berjalan dipekatnya malam. Wanita muda itu sesekali mendongak melihat cahaya rembulan. Meski matanya buta, dia masih bisa melihat setitik cahaya putih di langit malam.
"Rupanya malam ini masih panjang, sanggupkah terus melangkah hingga purnama tiba!" desis Sisilia. Wanita serigala muda itu terus melangkah meninggalkan tempat pembuangan sampah. Dengan tongkatnya, Sisilia mencoba mencari tempat yang bisa buat dia bertahan dari dinginnya angin malam. Tanpa disadari, sepasang mata tajam selalu mengawasi setiap pergerakan serigala muda tersebut. Pemilik mata berulang kali mendengus kesal. "Apa kau gila, gadis buta itu adalah pasanganku, Azim?" geram lelaki serigala muda yang sedang berburu pasangannya. "Iya, Tuan. Saya adalah pelindungmu. Jadi wanita yang di sana itulah yang pas menjadi pasanganmu!" kaya Azim tegas dan datar. Pria serigala muda masih mengeram dalam wujud manusia serigala. Dia bersembunyi di balik pohon besar di kegelapan malam. Pandangannya masih melihat pada sosok Sisilia yang berjalan dengan tongkatnya. "Lalu apa yang harus aku perbuat?" "Terserah, yang paling penting dia cocok menjadi ratu dalam kawanan," balas Azim. Pria serigala muda yang bernama Harlan meraup kasar wajahnya yang masih bermuka manusia biasa. Hanya sebatas leher ke bawah yang berwujud serigala. Ingin dia muncul tetapi wujudnya masih setengah serigala, hal ini tentu akan membuat gadis yang sedang diintainya merasa takut. Otak Harlan berpikir keras mencari cara untuk memperoleh pasangan sebelum bulan purnama. "Apakah kamu tahu asal usul gadis itu, Azim?" "Desas desus dia diusir dari kawanannya, Lycan." "Apa dia seorang Lycan?" "Belum jelas, berita yang kudengar saat bayi dia ditemukan diantara jerami kering berbalut kain kuning tanpa tanda kepemilikan," ungkap Azim lagi. Harlan semakin penasaran akan asal usul wanita yang diramal adalah pasangam sejatinya. Sungguh sebuah informasi yang minim. Namun, Harlan mencoba mengulur waktu. Serigala muda berjalan mengendap mendekati pasangannya. Sisilia mulai mengelar kardus bekas untuk alas dia tidur. Entah terbuat dari apa tubuhnya, meskipun sudah meraup sampah aroma serigala masih melekat sehingga hidung Harlan cepat mengetahui persembunyiannya. "Seret saja wanita gila itu ke mansion kita, Azim!" "Dengan senang hati, Tuan!" Setelah memberi perintah, Harlan segera melesat meninggalkan Azim seorang diri. Pria paruh baya yang masih terlihat kekar dan tampan itu mengulum senyum. Sesaat kemudian asap putih tipis membungkus tubuhnya, lalu seiring asap itu hilang muncullah seekor kucing hitam. Kucing itu berjalan mendekati Sisilia dan mengeram lirih. Sisilia sendiri yang memiliki pendengaran yang tajam akhirnya membuka kelopak matanya. Mata biru safir itu membulat kala mendapati seekor kucing hitam. "Ada apa dengan tubuhmu?" tanya Sisilia, "Aku tahu siapa kamu, tidak perlu merubah diri!" dengusnya lirih. Kucing tersebut hanya mengeong tanpa memedulikan kalimat Sisilia yang seakan-akan tahu sosok di depannya. Kucing itu mulai mengendus tubuh Sisilia, dengan lembut jemari wanita serigala muda membalas mengusap bulu halusnya. "Katakan padaku apa maksudmu? Aku tahu kau ada yang punya," Ujar Sisilia. Kucing itu segera menggigit ujung jari Sisilia yang berakibat serigala muda itu pingsan. Setelah itu kucing hitam merubah dirinya seperti semula, asap membungkus tubuh Sisilia dan terbang ke barat. Tidak butuh waktu lama, asap tadi sudah memasuki sebuah kamar di sebuah rumah mewah di tengah hutan. Rumah yang bercat hitam pekat menandakan jika pemiliknya seorang yang berwatak keras. Sisilia dibaringkan pada ranjang yang besar dan lembut. "Tidurlah dengan nyenyak, Nona. Kau harus menyiapkan tenagamu untuk tuanku esok hari!" Setelah menyelimuti tubuh tipis, Piter pembantu setia itu pun pergi meninggalkan kamar yang luas. Dia segera berjalan menuju ke ruang kerja Harlan. Langkahnya terhenti kala melewati meja bar kecil, lalu langkahnya mendekat pada rak dimana terdapat beberapa botol minuman beralkohol. Piter segera menuangkan whisky yang sebelumnya sudah diberi es batu tiga biji. Kemudian dibawa ke ruang kerja Harlan. Tanpa mengetuk pintu, Piter langsung masuk dan meletakkan gelas berisi whisky tersebut. "Terima kasih!" "Kembali, oo iya untuk gadis itu sudah siap di kamar sesuai inginmu. Mungkin esok pagi baru terbangun, bersiaplah!" "Bukankah esok malam sudah bulan purnama?" "Benar, maka bersiaplah!" Segera setelah mengutarakan semua maksud kedatangannya, Piter pun membungkuk untuk pamit meninggalkan mansion tersebut. Dia merasa tugasnya sudah selesai. Untuk di akhir semua terserah pada usaha Harlan. Bagaimana dia memperlakukan hidupnya dan gadis tersebut. Namun, Piter begitu yakin jika suatu saat nanti gadis itu akan menjadi seorang serigala yang berkuasa. Untuk itu, pria paruh baya yang sudah bisa meraba masa depan menginginkan anak keturunannya mendapatkan darah penguasa. "Aku tidak bisa pastikan jika bisa lakukan semua ini tanpa bimbingan kamu, Piter!" "Kau harus punya keyakinan itu, engkau calon pemimpin besar. Hayati peranmu!" Setelah berkata, pria itu pun berbalik badan dan pergi meninggalkan Harlan yang masih menatapnya. Begitu bayangan Piter menghilang, dia kembali menatap layar laptop untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Cukup lama Harlan mengecek semua laporan dari karyawan terpercaya yang memegang kendali perusahaannya dibidang retail. Hingga larut malam semua pekerjaannya terselesaikan, kini waktu dia untuk mengistirahatkan otak dan tubuhnya untuk peristiwa esok hari. Jam terus berjalan hingga sore pun menjelang. Cukup lama Sisilia tidak sadarkan diri, hingga hari menjelang malam baru terlihat jemarinya bergerak. Seharian Harlan menunggui wanita itu tersadar, akhirnya penantiannya tidak sia-sia. Dilihatnya Sisilia mulai membuka kedua matanya. "Dimana aku?" Suara lembut Sisilia membangkitkan hasrat lelaki Harlan, dia bangkit dari duduknya tidak lupa menyambar paper bag yang sejak tadi ada di atas meja. "Bangun, bersihkan tubuhmu dan pakai pakaian ini!" "Siapa kamu dan dimana aku?" "Sudah jangan banyak tanya, waktu kita tinggal beberapa jam. Kau ikuti saja perintahku jika ingin nyawamu masih ada di badan!" "Dimana kamar mandinya?" "Dari sini lurus saja, lalu belok kiri. Di sanalah!" Sisilia bangkit dari ranjang tanpa bersuara, tangannya menggapai gapai untuk memastikan di depannya tidak ada orang atau barang yang bisa menjadi penghalang jalannya. Tidak butuh waktu lama bagi Sisilia untuk membersihkan diri. Dia pun keluar. Melihat Sisilia keluar dengan gaun malam yang indah, kedua mata Harlan membulat sempurna. Kulit putih dengan tulang selangka yang indah mampu membuat pria itu terpesona. Dengan lembut di tariknya tangan Sisilia. Waktu terus berjalan dan bulan sudah mulai menuju ke titik tengah. Harlan harus bergerak cepat sebelum sinar bulan itu hilang. Musik yang mengiringi dansa masih berputar dan Harlan sudah mulai merasakan hawa panas dalam tubuhnya. Maka tanpa permisi dipeluknya erat tubuh Sisilia dan melemparnya pada sofa lebar. "Tuan, apa yang terjadi?"Setelah kepergian suaminya membuat pikiran Luna Sniders berkelana. Ada rasa curiga yang membuatnya tidak nyaman untuk memejamkan mata. Luna mendengus lirih, bibirnya bergerak menimbulkan suara, "apakah aku harus menguntitnya?"Cukup lama Luna Sniders berpikir ulang, akhirnya dia memutuskan untuk mengikuti langkah penguasa Kastil Hitam. Langkahnya mengendap-endap dan sedikit berjarak jauh dari langkah pasangannya. Meskipun begitu, aroma yang ditinggalkan masih bisa diciumnya. Langkah Luna Sniders terhenti manakala aroma raja lycan pun menghilang tepat di depan sebuah pintu yang sedikit terbuka. "Apakah semua ini harus dilakukan, Tuan? Pantaskah pria busuk itu menjadi seorang alpha?"Suara Beta Ramon begitu jelas di pendengaran sang Luna membuat wanita itu mengerutkan dahi, "pria busuk? Siapa pria ini hingga mampu mengubah pikiran pasanganku?"Meskipun sudah mendengar beberapa kalimat dan tujuan dari suaminya tidak membuat Luna Sniders pergi dari sana. Dia terus mencuri dengar selur
"Jadi aku harus bagaimana, Edward?" tanya Luna Sniders sambil mengeser tubuhnya lebih merapat pada sang raja Lycan. Raja Lycan Edward Slovasky tersenyum, diraihnya tubuh mungil Luna Sniders lalu dipeluknya. Mendapatkan pelukan hangat, jantung Luna berdebar. Wajahnya memerah bak sebuah tomat yang merah. "Kau cantik sekali jika tersipu, Luna. Aku mencintaimu," bisik Raja Lycan. Kepala Luna Sniders terangkat, kedua pasang mata saling bertemu dan mengunci. Perlahan tubuh Luna terangkat dan diletakkan pada pangkuan sang raja. Secara naluri, kedua lengan Luna melingkar pada leher pasangannya. "Aku ingin seperti ini selamanya, Edward. Jangan pernah tinggalkan aku!""Tidak, hanya kau wanitaku, Luna. Bahkan jika dunia serigala punah pun, kau tetap yang terbaik.""Benarkah ini semua, Edward." Untuk sesaat bibir Luna Sniders terbuka, napasnya begitu lembut dan teratur, "aku juga mencintaimu."Mendengar ungkapan kalimat yang jujur lolos dari bibir pasangannya membuat raja Lycan melolong panj
Raja Lycan Edward Slovasky masih melangkah meninggalkan arena pertempuran itu. Sedangkan Alpha Female Sniders mengikuti langkahnya dengan sedikit berlari. Suaranya yang terus memanggil nama pasangannya itu seakan hilang dibawa angin malam. Merasa jika suaranya tidak diterima oleh kekasihnya membuat emosi Alpha female Sniders memuncak. "Edward!" Panggilnya dengan nada tinggi bahkan disertai dengan angin kencang. Merasakan aliran udara yang berubah seketika langkah Raja Lycan Edward Slovasky pun berhenti, dia berbalik badan. Bibirnya tersenyum kaku. "Maaf!"Alpha famale Sniders berjalan dengan langkah panjang seakan dia berlari di udara. Begitu kakinya menginjak tanah, saat itu juga terlihat wajah cemberut. "Mengapa bisa kau tinggalkan aku dengan tubuhmu penuh luka?" Geram sang alpha female, "apakah aku tidak ada arti?"Raja Lycan Edward Slovasky hanya tersenyum simpul, lengannya bergerak meraih jemari pasangannya. Tanpa bersuara ditautkannya jemari itu dan mulai melangkah bersama.
Setelah kepergian Raja Lycan Edward Slovasky, Edwin berdiri tegak menatap tajam pada sosok Esther yang masih bungkam. Untuk beberapa detik mereka saling diam dalam pemikirannya masing-masing. Setelah suasana mulai membaik, suara Esmeralda keluar dengan volume sangat rendah. "Apakah tidak bisa kalian berbagi tempat dengan kami para penyihir, Madam Esther?"Merasa namanya disebut, Esther mengangkat kepala menatap pada sosok adik tiri Raja Lycan Edward Slovasky--Edwin. "Apakah kau masih inginkan Kastil ini, Tuan Edwin?"Edwin mengeram kasar, dia menatap tajam pada Esther, "hak apa kamu mempertanyakan hal itu padaku. Yang pasti akulah yang berhak atas Kastil ini selain Edward sialan itu.""Jika kau mendapatkan jatah wilayah, mana yang kau inginkan, Nona Esmeralda?" tanya Esther dengan nada dingin. Esmeralda terdiam, dahinya berkerut mencari sebuah kata yang tepat untuk menentukan wilayah yang cocok buat para penyihir. Kedua kelopak matanya mengerjakan ringan disertai senyum penuh arti
Alpha female Sniders menatap sendu pasangannya, lalu berganti menatap Esther dan Esmeralda bergantian. Dia mendengus panjang. "Apakah saat ini Kastil Perak juga dalam penyerangan, Esther, Harlan?" tanya Alpha female Sniders, lalu pandangannya berganti pada penyihir wanita, "apakah ini sudah menjadi rencana kamu, Nona?"Esmeralda hanya diam dengan tatapan tidak bisa diartikan. Sementara Esther memberanikan diri menatap mata alpha. "Esther!" "Iya, Alpha female. Tetapi Alpha Harlan Stuward tidak ikut turun tangan meskipun dia hadir di sana.""Berikan kertas itu padaku, Edward!" Alpha female Sniders meminta dengan kata lembut dan mengulurkan telapak tangan. Untuk sesaat sang raja hanya diam menatap pasangannya itu. Otaknya masih berputar mencari sesuatu yang selama ini masih misteri. Berbagai pertanyaan muncul di otak kecil sang raja, tetapi dia belum ingin ungkap semua secara gamblang. Hanya kedua matanya menatap heran pada Esther. "Darimana kau dapatkan ini semua, Esther?" Suara R
Disaat yang begitu krusial, seberkas sinar Perak melesat memisahkan dua entitas kuat hingga ketiga tubuh terpental dan membentur dinding. "Edward!" Suara Sisilia berteriak keras saat melihat tubuh kekasihnya melayang ke udara dan jatuh membentur dinding Kastil. Di saat bersamaan tubuh Esther terbang di depan Alpha female Sniders dan dia langsung membungkuk memberi hormat. "Maafkan bawahan jika berbuat salah, Alpha." Esther berkata dengan nada rendah dan menunduk. Wanita paruh baya itu tidak berani mendongak melihat wajah atasannya. Aura Alpha female Sniders begitu terasa dingin, tanpa berkata wanita itu melesat menuju ke tubuh pasangannya yang terjatuh bercampur kubangan darah. Diraihnya kepala raja Lycan lalu dibawa ke pangkuannya. Jemari putih nan lentik membelai wajah raja Lycan penuh hangat. "Sayang, jangan tinggalkan aku!" bisik Alpha Female Sniders. Melihat sikap alpha yang tidak peduli dengan kedatangannya membuat hati Esther perih. Lalu dia memilih berjalan menuju ke lo
Mobil porche merah memasuki sebuah kastil tua yang terlihat begitu kokoh. Tanpa terhambat, mobil tersebut langsung masuk ke halaman kastil dan disambut dengan wajah sengit seorang pria paruh baya. "Ada perlu apa hingga seorang Harlan Stuward datang langsung ke gubug reyot?" tanya Baron-ayah Rhena
Beberapa hari yang lalu sebelum semua terjadi, Sisilia merasa bahwa tubuhnya sedang tidak baik. Maka dia pun meminta ijin pada Harlan untuk memanggil dokter untuknya. Dan semua terjadi. Saat itu seakan dunia dalam genggamannya, dia hamil anak Harlan. Meskipun semua berawal dari kekerasan dan ketid
Sudah satu bulan penuh Sisilia berada di mansion milik Harlan. Selama itu pula dia tidak bisa bebas berkeliaran bahkan untuk mengenakan pakaian layak pun tidak pernah. Apa yang dilemparkan Harlan hanya dua kain tipis dan mungil yang mampu untuk menutupi dua aset vitalnya. Akan tetapi meskipun dipe
Harlan terpaku, dia tidak bisa membuka pembicaraan. Wajah Sisilia yang masih polos mampu menghipnotis jiwanya hingga hanya kedua bola matanya yang berputar. "Huft, sungguh auranya begitu memenjarakan jiwaku.""Tuan, apa yang kau inginkan?" tanya Sisilia. "Malam ini kau adalah milikku!"Sisilia men







