แชร์

2. Tempat Baru

ผู้เขียน: Shaveera
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-15 14:10:47

Sisilia terus berjalan dipekatnya malam. Wanita muda itu sesekali mendongak melihat cahaya rembulan. Meski matanya buta, dia masih bisa melihat setitik cahaya putih di langit malam.

"Rupanya malam ini masih panjang, sanggupkah terus melangkah hingga purnama tiba!" desis Sisilia.

Wanita serigala muda itu terus melangkah meninggalkan tempat pembuangan sampah. Dengan tongkatnya, Sisilia mencoba mencari tempat yang bisa buat dia bertahan dari dinginnya angin malam.

Tanpa disadari, sepasang mata tajam selalu mengawasi setiap pergerakan serigala muda tersebut. Pemilik mata berulang kali mendengus kesal.

"Apa kau gila, gadis buta itu adalah pasanganku, Azim?" geram lelaki serigala muda yang sedang berburu pasangannya.

"Iya, Tuan. Saya adalah pelindungmu. Jadi wanita yang di sana itulah yang pas menjadi pasanganmu!" kaya Azim tegas dan datar.

Pria serigala muda masih mengeram dalam wujud manusia serigala. Dia bersembunyi di balik pohon besar di kegelapan malam. Pandangannya masih melihat pada sosok Sisilia yang berjalan dengan tongkatnya.

"Lalu apa yang harus aku perbuat?"

"Terserah, yang paling penting dia cocok menjadi ratu dalam kawanan," balas Azim.

Pria serigala muda yang bernama Harlan meraup kasar wajahnya yang masih bermuka manusia biasa. Hanya sebatas leher ke bawah yang berwujud serigala. Ingin dia muncul tetapi wujudnya masih setengah serigala, hal ini tentu akan membuat gadis yang sedang diintainya merasa takut.

Otak Harlan berpikir keras mencari cara untuk memperoleh pasangan sebelum bulan purnama.

"Apakah kamu tahu asal usul gadis itu, Azim?"

"Desas desus dia diusir dari kawanannya, Lycan."

"Apa dia seorang Lycan?"

"Belum jelas, berita yang kudengar saat bayi dia ditemukan diantara jerami kering berbalut kain kuning tanpa tanda kepemilikan," ungkap Azim lagi.

Harlan semakin penasaran akan asal usul wanita yang diramal adalah pasangam sejatinya. Sungguh sebuah informasi yang minim. Namun, Harlan mencoba mengulur waktu.

Serigala muda berjalan mengendap mendekati pasangannya. Sisilia mulai mengelar kardus bekas untuk alas dia tidur. Entah terbuat dari apa tubuhnya, meskipun sudah meraup sampah aroma serigala masih melekat sehingga hidung Harlan cepat mengetahui persembunyiannya.

"Seret saja wanita gila itu ke mansion kita, Azim!"

"Dengan senang hati, Tuan!"

Setelah memberi perintah, Harlan segera melesat meninggalkan Azim seorang diri. Pria paruh baya yang masih terlihat kekar dan tampan itu mengulum senyum. Sesaat kemudian asap putih tipis membungkus tubuhnya, lalu seiring asap itu hilang muncullah seekor kucing hitam.

Kucing itu berjalan mendekati Sisilia dan mengeram lirih. Sisilia sendiri yang memiliki pendengaran yang tajam akhirnya membuka kelopak matanya. Mata biru safir itu membulat kala mendapati seekor kucing hitam.

"Ada apa dengan tubuhmu?" tanya Sisilia, "Aku tahu siapa kamu, tidak perlu merubah diri!" dengusnya lirih.

Kucing tersebut hanya mengeong tanpa memedulikan kalimat Sisilia yang seakan-akan tahu sosok di depannya.

Kucing itu mulai mengendus tubuh Sisilia, dengan lembut jemari wanita serigala muda membalas mengusap bulu halusnya.

"Katakan padaku apa maksudmu? Aku tahu kau ada yang punya," Ujar Sisilia.

Kucing itu segera menggigit ujung jari Sisilia yang berakibat serigala muda itu pingsan. Setelah itu kucing hitam merubah dirinya seperti semula, asap membungkus tubuh Sisilia dan terbang ke barat.

Tidak butuh waktu lama, asap tadi sudah memasuki sebuah kamar di sebuah rumah mewah di tengah hutan. Rumah yang bercat hitam pekat menandakan jika pemiliknya seorang yang berwatak keras. Sisilia dibaringkan pada ranjang yang besar dan lembut.

"Tidurlah dengan nyenyak, Nona. Kau harus menyiapkan tenagamu untuk tuanku esok hari!"

Setelah menyelimuti tubuh tipis, Piter pembantu setia itu pun pergi meninggalkan kamar yang luas. Dia segera berjalan menuju ke ruang kerja Harlan. Langkahnya terhenti kala melewati meja bar kecil, lalu langkahnya mendekat pada rak dimana terdapat beberapa botol minuman beralkohol.

Piter segera menuangkan whisky yang sebelumnya sudah diberi es batu tiga biji. Kemudian dibawa ke ruang kerja Harlan. Tanpa mengetuk pintu, Piter langsung masuk dan meletakkan gelas berisi whisky tersebut.

"Terima kasih!"

"Kembali, oo iya untuk gadis itu sudah siap di kamar sesuai inginmu. Mungkin esok pagi baru terbangun, bersiaplah!"

"Bukankah esok malam sudah bulan purnama?"

"Benar, maka bersiaplah!"

Segera setelah mengutarakan semua maksud kedatangannya, Piter pun membungkuk untuk pamit meninggalkan mansion tersebut. Dia merasa tugasnya sudah selesai. Untuk di akhir semua terserah pada usaha Harlan. Bagaimana dia memperlakukan hidupnya dan gadis tersebut.

Namun, Piter begitu yakin jika suatu saat nanti gadis itu akan menjadi seorang serigala yang berkuasa. Untuk itu, pria paruh baya yang sudah bisa meraba masa depan menginginkan anak keturunannya mendapatkan darah penguasa.

"Aku tidak bisa pastikan jika bisa lakukan semua ini tanpa bimbingan kamu, Piter!"

"Kau harus punya keyakinan itu, engkau calon pemimpin besar. Hayati peranmu!"

Setelah berkata, pria itu pun berbalik badan dan pergi meninggalkan Harlan yang masih menatapnya. Begitu bayangan Piter menghilang, dia kembali menatap layar laptop untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.

Cukup lama Harlan mengecek semua laporan dari karyawan terpercaya yang memegang kendali perusahaannya dibidang retail. Hingga larut malam semua pekerjaannya terselesaikan, kini waktu dia untuk mengistirahatkan otak dan tubuhnya untuk peristiwa esok hari.

Jam terus berjalan hingga sore pun menjelang. Cukup lama Sisilia tidak sadarkan diri, hingga hari menjelang malam baru terlihat jemarinya bergerak. Seharian Harlan menunggui wanita itu tersadar, akhirnya penantiannya tidak sia-sia. Dilihatnya Sisilia mulai membuka kedua matanya.

"Dimana aku?"

Suara lembut Sisilia membangkitkan hasrat lelaki Harlan, dia bangkit dari duduknya tidak lupa menyambar paper bag yang sejak tadi ada di atas meja. "Bangun, bersihkan tubuhmu dan pakai pakaian ini!"

"Siapa kamu dan dimana aku?"

"Sudah jangan banyak tanya, waktu kita tinggal beberapa jam. Kau ikuti saja perintahku jika ingin nyawamu masih ada di badan!"

"Dimana kamar mandinya?"

"Dari sini lurus saja, lalu belok kiri. Di sanalah!"

Sisilia bangkit dari ranjang tanpa bersuara, tangannya menggapai gapai untuk memastikan di depannya tidak ada orang atau barang yang bisa menjadi penghalang jalannya. Tidak butuh waktu lama bagi Sisilia untuk membersihkan diri. Dia pun keluar.

Melihat Sisilia keluar dengan gaun malam yang indah, kedua mata Harlan membulat sempurna. Kulit putih dengan tulang selangka yang indah mampu membuat pria itu terpesona. Dengan lembut di tariknya tangan Sisilia.

Waktu terus berjalan dan bulan sudah mulai menuju ke titik tengah. Harlan harus bergerak cepat sebelum sinar bulan itu hilang. Musik yang mengiringi dansa masih berputar dan Harlan sudah mulai merasakan hawa panas dalam tubuhnya. Maka tanpa permisi dipeluknya erat tubuh Sisilia dan melemparnya pada sofa lebar.

"Tuan, apa yang terjadi?"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • My Blind Mate   5. Hamil

    Beberapa hari yang lalu sebelum semua terjadi, Sisilia merasa bahwa tubuhnya sedang tidak baik. Maka dia pun meminta ijin pada Harlan untuk memanggil dokter untuknya. Dan semua terjadi. Saat itu seakan dunia dalam genggamannya, dia hamil anak Harlan. Meskipun semua berawal dari kekerasan dan ketidakadilan yang menyiksa lahir batin, tetapi janin yang saat ini tumbuh dalam perutnya tidak bersalah. Maka, dengan tekat kuat semua akan diungkap oleh Sisilia di saat yang tepat. Sudah cukup lama Sisilia menyembunyikan rahasia ini, maka saat ada kesempatan dia bertekad untuk ungkap. Saat ini adalah saat yang tepat untuk semua itu. Apalagi Harlan belum menandai satu pun pasangan, dalam pikiran Sisilia dia lah yang akan menjadi pasangan Harlan hingga calon janin itu bisa bernapas. "Jawab tanyaku, Harlan!" Bukannya sebuah jawaban yang didengar oleh Sisilia tetapi justru suara tawa mengejek dari Rhena, wanita yang membuat Sisilia hancur. Sesaat setelah tawa wanita itu mereda, terdengar langkah

  • My Blind Mate   4. Wanita Lain yang Ditandai

    Sudah satu bulan penuh Sisilia berada di mansion milik Harlan. Selama itu pula dia tidak bisa bebas berkeliaran bahkan untuk mengenakan pakaian layak pun tidak pernah. Apa yang dilemparkan Harlan hanya dua kain tipis dan mungil yang mampu untuk menutupi dua aset vitalnya. Akan tetapi meskipun diperlakukan bagai budak, wanita muda itu sama sekali tidak mengeluh. Dia hanya memendamnya dan berniat suatu saat nanti akan membalas semua perbuatan Harlan padanya. Seperti pagi ini saat Sisilia berada di dapur, sebuah tangan mencengkeram lehernya dan menarik lalu dihempas pada sofa. "Apa yang kau lakukan dengan pakaianku ini, Hah!" hentak Harlan sambil melempar kemeja satin terbarunya. Sisilia segera meraih benda yang jatuh menimpa wajahnya dan kini sudah berada di tangan. Dengan pelan jari jemarinya meraba benda tersebut, lembut menyapa kulit jarinya yang terdapat beberapa kancing. Dia pun mengerti benda apa yang sedang dipegangnya. Seketika wanita cantik dan buta itu menelan salivanya sa

  • My Blind Mate   3. Malam Panjang

    Harlan terpaku, dia tidak bisa membuka pembicaraan. Wajah Sisilia yang masih polos mampu menghipnotis jiwanya hingga hanya kedua bola matanya yang berputar. "Huft, sungguh auranya begitu memenjarakan jiwaku.""Tuan, apa yang kau inginkan?" tanya Sisilia. "Malam ini kau adalah milikku!"Sisilia menggapai-gapai tangannya mencari sosok Harlan, tangannya melambai tetapi Harlan masih bungkam. Hanya langkah kaki yang didengar oleh indera wanita muda itu. Tubuh Sisilia mulai gemetaran, jarinya makin merapat meraba mencari pegangan. Sisilia sangat paham dengan kalimat yang diucapkan oleh pria di depannya. Untuk itu perlahan dia bangkit dari posisinya lalu berusaha duduk. Namun, tangan kekar mencengkeram kedua bahu dan menekannya agar duduk. "Tuan, aku mohon katakan padaku apa maksud semua ini?""Aku inginkan kamu, malam ini!"Harlan pun segera menempelkan bibirnya pada bibir ranum dan mulai menyesapnya. Sisilia terdiam, dia masih terkejut dengan sentuhan mendadak yang dilakukan oleh Harlan

  • My Blind Mate   2. Tempat Baru

    Sisilia terus berjalan dipekatnya malam. Wanita muda itu sesekali mendongak melihat cahaya rembulan. Meski matanya buta, dia masih bisa melihat setitik cahaya putih di langit malam."Rupanya malam ini masih panjang, sanggupkah terus melangkah hingga purnama tiba!" desis Sisilia.Wanita serigala muda itu terus melangkah meninggalkan tempat pembuangan sampah. Dengan tongkatnya, Sisilia mencoba mencari tempat yang bisa buat dia bertahan dari dinginnya angin malam.Tanpa disadari, sepasang mata tajam selalu mengawasi setiap pergerakan serigala muda tersebut. Pemilik mata berulang kali mendengus kesal."Apa kau gila, gadis buta itu adalah pasanganku, Azim?" geram lelaki serigala muda yang sedang berburu pasangannya."Iya, Tuan. Saya adalah pelindungmu. Jadi wanita yang di sana itulah yang pas menjadi pasanganmu!" kaya Azim tegas dan datar.Pria serigala muda masih mengeram dalam wujud manusia serigala. Dia bersembunyi di balik pohon besar di kegelapan malam. Pandangannya masih melihat pada

  • My Blind Mate   1, Menyedihkan

    "Haha, buang saja si buta itu dari klan kita. Bikin malu saja!" teriak salaah satu anggota klan bulan."Ampuni aku, Ketua. Kesalahan ini tidak akan saya ulangi lagi, aku mohon!" pinta seekor serigala perempuan yang buta."Apa jaminan untuk sikapmu yang tidak akan terulang, sedangkan kau buta seumur hidupmu, Sisilia!" Hentak sang Alpha."Biar aku jadi budakmu selamanya, Ketua.""Hahh, seseorang yang buta apa bisa memuaskan. Bahkan untuk merawat dirinya saja dia tidak mampu, apalagi harus merawat sang Alpha. Cuih!" hina anak perempuan sang Alpha.Sisilia menunduk, dia tidak bisa memilih akan terlahir dengan keadaan apapun. Andai ada pilihan, serigala muda itu pasti ingin terlahir sempurna. Namun, takdir berkata lain. Meskipun kata serigala baik Sisilia adalah seorang omega yang cantik dan lembut, tetapi keberadaannya selalu dikucilkan oleh yang lain."Bisakah kau hangatkan ranjangku, Sisilia?" tanya Alpha tua pemimpin klan itu."Ayah!" Hentak anak perempuan Alpha."Kita jual saja si but

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status