แชร์

Diboyong Suami

ผู้เขียน: Kancil Putih
last update วันที่เผยแพร่: 2021-09-07 10:28:44

Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, mobil mereka akhirnya sampai di salah satu Apartemen tertinggi di kota itu.

Alkan keluar dari mobilnya di susul Shireen di belakangnya.

Shireen berjalan dengan tertatih-tatih karena gaunnya yang sangat panjang, membuatnya menjadi susah berjalan cepat.

Alkan yang sudah berada dengan jarak yang jauh, segera menghentikkan langkahnya dan berbalik melihat kearah Shireen yang masih berjalan dengan lambat sembari memegang gaunnya.

"Apakah kau tidak bisa berjalan lebih cepat!!" seru Alkan dingin.

Shireen tersentak, ia berhenti berjalan dan menatap sepenuhnya kearah Alkan.

Ia memicingkan matanya dengan tajam.

"Kau tidak bisa melihat, gaunku yang panjang ini sangat menyusahkanku berjalan!" celetuk Shireen tajam.

"Kalau begitu lepaskan saja gaunmu!!" teriak Alkan tidak peduli, ia kembali berjalan meninggalkan Shireen di belakangnya.

Shireen menghembuskan nafasnya dengan kasar.

"Dasar laki-laki berhati es!! Tidak punya perasaan!!" teriak Shireen kesal. Ia menarik gaunnya yang terseret di lantai dan menggulungnya dengan sembarangan, ia tidak peduli lagi bahwa gaun itu akan menjadi rusak karenanya.

"Bodo amat!! Lagian gaun ini juga laki-laki itu yang membayarnya!" seru Shireen tidak perduli, ia berlari dengan cepat menyusul Alkan yang sudah berada didepannya menunggunya di dalam lift khusus.

Dengan cepat ia masuk ke dalam lift itu dengan menampakkan wajah yang sangat kesal.

Alkan menekan tombol lift tersebut, dan mulai membawa mereka ke lantai tertinggi di Apartement itu, tempat dimana kediaman Alkan berada. 

Setelah beberapa menit kemudian, lift terbuka menampakkan lorong panjang yang sangat megah menuju suatu pintu besar otomatis yang terdapat di ujung lorong tersebut.

Shireen ternganga melihat lorong yang ada dihadapannya.

"Apakah ini benar-benar kediaman Alkan?" Pikirnya. "Seberapa kaya, laki-laki yang saat ini sudah menjadi suaminya itu."

Alkan melangkahkan kakinya keluar dari lift tersebut. Disusul Shireen di belakangnya.

Mereka berdua berjalan menuju pintu besar yang sudah berhadapan dengan mereka. Setelah sampai di depan pintu, Alkan menempelkan jarinya di finger yang terdapat di pintu tersebut.

Pintu otomatis terbuka lebar menampakkan isi depan dari ruangan yang sangat luas itu.

Alkan berjalan menyusuri ruangan yang terdapat sofa-sofa besar dilengkapi meja berwarna emas, yang tampaknya menjadi tempat menerima tamu pentingnya disana.

Shireen ternganga melihatnya, ruangan depannya saja sudah sangat semegah itu, bagaimana isi di dalamnya? Pikir Shireen.

Alkan terus berjalan, kali ini mereka melewati ruangan tv yang terdapat theater tv dan juga sekaligus sebagai karaoke room, karena disana terdapat beberapa speaker yang sangat besar.

Alkan menaiki tangga mewah berlantai marmer yang sangat mahal. Mereka berdua menuju lantai dua dari ruang Apartement milik Alkan.

Tidak henti-hentinya, Shireen ternganga melihat kemegahan dari Apartemen milik pria yang ada dihadapannya yang sekarang sudah menjadi status suaminya.

Di lantai dua, Shireen sudah di sambut dengan ruangan keluarga, yang terdapat sofa besar dan juga tv dengan layar yang sangat lebar, di sisi sebelah kirinya, terdapat dinding kaca yang sangat tebal dan transparan, yang menampakkan penampakan rooftop berwarna hijau dengan luas yang panjang sejauh mata memandang.

Lagi-lagi Shireen di buat ternganga olehnya.

Alkan membelokkan langkahnya memasuki lorong kamarnya, setelah berada di depan pintu kamarnya, ia langsung membukanya dengan lebar.

"Ini kamar kita, silahkan pakai sepuas hatimu, tetapi ingat!! Kau tidak boleh menyentuh barang-barang pribadiku!" ucap Alkan dengan penuh penekanan dan ancaman.

Shireen mengangguk mengerti.

"Dan disana!!" tunjuk Alkan ke salah satu pintu yang berada di ujung lorong tersebut. "Itu adalah ruang kerjaku, jangan pernah masuk kesana tanpa seizinku!!" ujar Alkan kembali mengingatkannya.

"Baiklah, saya mengerti," jawab Shireen.

"Bagus!! Kalau begitu masuklah dan ganti pakaianmu, semua perlengkapanmu sudah tersedia di ruang ganti itu!" ujar Alkan sembari menunjuk salah satu pintu yang ada di dalam kamar mereka.

Shireen mengangguk mengerti.

"Baiklah, terima kasih," jawab Shireen.

Alkan berjalan meninggalkan Shireen, ia melangkah menuju ruang kerjanya.

"Ah iya, kau tidak perlu repot-repot memasak, karena di bawah sudah ada koki khusus yang akan memasak untuk kita!" seru Alkan yang sejenak berhenti dan berbalik menatap Shireen. Setelah mengatakannya, ia kembali melanjutkan langkah kakinya menuju ruang kerjanya.

Alkan membuka pintu itu dan langsung masuk ke dalamnya.

Shireen tidak ambil pusing, ia pun juga langsung masuk ke dalam kamar yang di tunjuk oleh Alkan sebagai kamarnya juga.

Shireen berjalan masuk ke dalam ruang ganti, ia hendak mengambil pakaian di dalam lemari besar yang ada disana.

Ia membuka salah satu pintu lemari yang sangat besar dan otomatis menampakkan deretan pakaian wanita yang sangat mewah dari berbagai merk desainer terkenal.

Lagi-lagi Shireen ternganga melihatnya.

Semua lemari sudah tertulis khusus nama-nama pakaian, celana, blazer maupun pakaian dalam yang akan digunakan oleh Shireen, sehingga mempermudah dirinya mencari apa pun yang ia inginkan.

Shireen mengambil salah satu dress selutut berwarna gold, ia melepaskan gaun pengantinya dan memakai dres yang ia ambil tersebut. 

Setelah semuanya telah rapi, Shireen bergegas keluar dari ruang ganti pakaian, sekarang ia menuju kamar mandi untuk membersihkan wajahnya dari balutan makeup yang sangat tebal.

Ia membuka pintu kamar mandi dan masuk kedalamnya. Shireen sangat bingung, produk apa yang akan ia pakai untuk membersihkan wajahnya, karena semua produk dari brand yang sangat terkenal, semua sudah tersusun rapi di meja khusus yang ada di kamar mandi tersebut.

Tanpa pikir panjang, ia mengambil salah satu produk yang ia kenal dan langsung menggunakannya untuk membersihkan wajahnya.

Setelah selesai, Shireen keluar dari kamar mandi. Ia berjalan kearah kasur berukuran king size dan menghempaskan tubuhnya yang lelah di atas kasur tersebut.

Karena kelelahan, tanpa sadar Shireen tertidur pulas di atas kasur tersebut.

Hari sudah beranjak sore, Alkan memasuki kamarnya berniat ingin membersihkan tubuhnya dengan air hangat. Tetapi langkahnya sejenak terhenti, ketika melihat tubuh Shireen yang tertidur di atas kasurnya dengan sangat nyenyak sekali.

Alkan melangkahkan kakinya mendekati kasur yang di tempati oleh Shireen. Setelah dalam jarak yang sudah dekat, Alkan menelisik wajah polos Shireen. 

Wajahnya terlihat datar saat melihatnya, entah apa yang ia pikirkan, hanya dia saja yang tahu.

Alkan mengambil selimut yang berada di bawah kaki mulus Shireen. Ia menyelimuti tubuh Shireen dengan selimut tebal itu.

Matahari sore, menyilaukan pandangan mata Alkan, ia beranjak berdiri dan menutupi gorden yang berada di belakang kasurnya. Setelah semua tertutup, Alkan menghidupkan seluruh lampu kamarnya dengan menggunakan remot yang tersampir di dinding kamarnya. Otomatis semua lampu hidup bersamaan.

Alkan kembali bergegas berjalan menuju kamar mandinya, untuk membersihkan dirinya.

Alkan menanggalkan satu persatu pakaian yang ia gunakan, setelah tubuhnya polos, ia langsung masuk ke dalam Bathup yang berisi air hangat dan merendamkan tubuhnya yang terasa pegal dan meregangkan otot-ototnya yang kaku.

Lilin aroma terapi, menyebarkan wanginya hingga ke sekeliling kamar mandi, membuatnya merasa nyaman hingga tanpa sadar ia memejamkan kedua matanya dan benar- benar menikmatinya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • My Crazy Husband (Shireen)   Bab 44

    Masa magang Dika berjalan sangat baik. Ia tidak hanya mengerjakan tugas yang diberikan, tapi juga berinisiatif mempelajari hal-hal lain di luar jabatannya. Jika ada mesin yang bermasalah, ia tidak hanya memperbaikinya, tapi juga mencatat penyebab kerusakan dan cara pencegahannya agar tidak terulang lagi.Ketika masa magang berakhir, pihak perusahaan memutuskan untuk menerima Dika menjadi karyawan tetap. Berita ini membuat keluarga sangat gembira — terutama Randi, yang melihat adiknya sudah bisa berdiri di atas kakinya sendiri dengan cara yang benar.“Selamat, Dik. Ini baru permulaan. Sekarang kamu punya tanggung jawab lebih besar: menjaga kepercayaan yang sudah diberikan,” pesan Randi saat merayakan kabar baik itu bersama keluarga.“Terima kasih, Kak. Aku tidak akan menyia-nyiakannya. Apa pun yang terjadi, aku akan tetap bekerja dengan jujur dan bertanggung jawab,” jawab Dika dengan penuh keyakinan.Namun, seperti biasa, kesuksesan selalu membawa tantangan baru. Di tempat kerjanya, Di

  • My Crazy Husband (Shireen)   Bab 43

    Dika adalah adik kandung Randi, beda usianya hampir lima tahun. Sejak kecil, ia dikenal sebagai anak yang lincah, pemberani, dan punya rasa ingin tahu yang besar. Kalau Randi bersifat tenang, teliti, dan suka berpikir panjang, Dika justru lebih ceria, sedikit terburu-buru, dan suka mencoba hal-hal baru tanpa banyak ragu.Saat Randi dan Laras sudah sibuk bekerja serta mempersiapkan pernikahan, Dika baru saja memasuki tahun terakhir di sekolah menengah atas. Ia bercita-cita ingin melanjutkan kuliah di jurusan teknik mesin, karena sejak kecil ia sudah senang membongkar dan merakit barang-barang rusak hingga bisa berfungsi kembali.“Kak Randi, lihat deh! Aku sudah bisa memperbaiki sepeda motor ayah sendiri, tidak perlu bengkel lagi,” seru Dika suatu sore sambil membersihkan tangannya yang penuh minyak.Randi tersenyum bangga. “Bagus sekali. Tapi ingat, keahlian saja tidak cukup. Harus dibarengi dengan kesabaran dan kejujuran, supaya apa yang kau kerjakan nanti bermanfaat untuk orang lain.

  • My Crazy Husband (Shireen)   Bab 42

    Berita tentang kasus Brian segera menyebar ke seluruh lingkungan kampus. Orang-orang yang sempat ragu dan percaya cerita Brian kini akhirnya mengerti kebenaran yang sesungguhnya. Bisikan-bisikan buruk yang sempat menghiasi nama Laras perlahan menghilang, diganti dengan rasa hormat karena gadis itu bertahan teguh meski mendapat tekanan yang sangat berat.Suatu hari, Laras dan Randi duduk kembali di taman kampus, tempat yang dulu sering menjadi saksi pertemuan mereka maupun gangguan yang datang. Angin sore berhembus sejuk, rasanya sangat berbeda dibandingkan hari-hari penuh ketegangan sebelumnya.“Rasanya seperti mimpi, ya? Selama berbulan-bulan kita harus terus waspada, memikirkan jalan keluar, dan bertahan menghadapi segala cara yang dia lakukan,” kata Laras sambil tersenyum lega.Randi memegang tangannya lembut. “Kita berhasil bukan karena punya kekuasaan lebih besar, tapi karena kita tidak memilih jalan yang salah meski diberi banyak godaan dan tekanan. Kebenaran memang butuh waktu,

  • My Crazy Husband (Shireen)   Bab 41

    Karena tidak ada tanda-tanda Laras akan menyerah, kesabaran Brian benar-benar habis. Ia tidak lagi memikirkan cara halus, melainkan bertindak sewenang-wenang seolah tidak ada yang bisa menghentikannya.Suatu pagi, saat Laras tiba di kampus, ia mendapati namanya tercantum di papan pengumuman dengan tulisan tebal: “Dinyatakan tidak memenuhi syarat kelulusan karena ketidakk lengkapan dokumen administrasi”.Bagi mahasiswa semester akhir, itu adalah kabar yang sangat buruk — artinya ia harus mengulang seluruh proses, menunda rencana masa depan, dan memulainya lagi dari titik yang terasa sangat jauh.Laras berdiri terpaku di depan papan itu, tangan gemetar menahan air mata. Beberapa orang melihatnya, ada yang menghela napas kasihan, ada yang berbisik-bisik, dan ada yang hanya menatap tanpa berani berkata apa-apa.Tidak lama kemudian, Brian datang melangkah santai dan berdiri di sampingnya, seolah hanya kebetulan lewat.“Sudah baca pengumumannya? Ini baru hasil keputusan resmi. Semua yang ka

  • My Crazy Husband (Shireen)   Bab 40

    Karena merasa kesempatan terakhir sudah lewat dan Laras tetap tidak mau menuruti keinginannya, Brian mulai kehilangan kesabaran. Permainannya tidak lagi hanya berupa gangguan halus, tapi mulai terang-terangan menunjukkan kekuasaannya.Keesokan paginya, Laras dipanggil lagi ke ruang administrasi. Kali ini, surat yang diterimanya lebih tegas: status pendaftaran ujian akhirnya ditangguhkan sementara dengan alasan “ketidaksesuaian data yang belum jelas”.“Artinya apa ini? Apakah aku tidak bisa ikut ujian sama sekali?” tanya Laras dengan suara tertekan.“Belum bisa dipastikan. Menunggu keputusan lebih lanjut dari bagian pimpinan,” jawab petugas dengan nada dingin, seolah tidak peduli.Saat keluar dari ruangan, Brian sudah menunggu di koridor dengan senyum yang tidak lagi menyembunyikan maksudnya.“Sudah terima kabarnya? Semua ini baru permulaan. Kalau kau tetap bersikeras, nanti bisa sampai dikeluarkan dari daftar mahasiswa aktif. Ingat, di sini namaku dan ayahku yang berkuasa,” ujarnya de

  • My Crazy Husband (Shireen)   Bab 39

    Batas waktu untuk melengkapi berkas kelulusan semakin dekat, tapi tidak ada tanda-tanda dokumen itu bisa ditemukan secara resmi. Laras merasa waktu berjalan sangat cepat, sementara setiap usahanya selalu terhalang hal yang tidak wajar.Suatu sore, saat ia duduk sendirian di taman kampus sambil memikirkan jalan keluar, Brian datang dan duduk di bangku yang sama tanpa diminta. Kali ini sikapnya tidak lagi sekadar bermain-main, tapi terlihat lebih tegas dan mendesak.“Sudah berpikir matang-matang? Besok adalah hari terakhir. Kalau sampai sore ini kamu belum memberi jawaban, berkas itu akan masuk ke arsip yang dianggap hilang permanen. Artinya, kamu harus mengurus ulang semuanya dari awal — dan itu butuh waktu berbulan-bulan,” ujar Brian dengan nada datar tapi mengandung ancaman nyata.Laras menatap lurus ke depan, suaranya pelan tapi mantap. “Kamu memang pandai mempersempit jalan, tapi jangan kira itu membuatku berubah pikiran. Apa yang kau lakukan ini bukan perhatian, tapi pemerasan.”“

  • My Crazy Husband (Shireen)   Ancaman Sarah

    Shireen mengendarai mobilnya sembari menangis meratapi nasibnya yang begitu buruk."Mengapa Tuhan selalu mengujiku dengan ujian yang sangat membuatku menderita!!' teriak Shireen menangis tersedu-sedu.Shireen menghapus air matanya dengan kasar, ia membawa mobilnya menuju kampus te

  • My Crazy Husband (Shireen)   Pernikahan

    "Mama, ada apa?" tanya Shireen heran.Sarah menatapnya dengan tajam sembari tersenyum sinis melihatnya."Wah, enaknya!! Jam segini baru pulang kamu, dari mana saja,hah!!" cetus Sarah sembari menatap tajam Shireen.Shireen menghembuskan nafasnya lelah, ia mencoba untuk bersabar meng

  • My Crazy Husband (Shireen)   Menyayat Hati

    Setelah selesai mengurus administrasi, Sarah langsung kembali ke ruangan Shireen berada. Ia menelepon suaminya dan memberitahukan bahwa anaknya sedang terbaring di rumah sakit.Ayah dari Shireen, bergegas kembali ke Kota mereka dengan menggunakan penerbangan kelas 1. Hanya butuh beberapa jam

  • My Crazy Husband (Shireen)   Shireen

    Shireen merupakan anak pertama sekaligus anak satu-satunya dari ayahnya bernama Akagani dan ibu kandungnya bernama Naisyila . Ibu kandung Shireen sudah lama meninggal, setelah beberapa jam melahirkan Shireen.Karena alasan meninggalnya ibunya Shireen, menjadi penyebab ayahnya Shireen

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status