Share

My Crazy Husband (Shireen)
My Crazy Husband (Shireen)
Author: Kancil Putih

Shireen

Author: Kancil Putih
last update publish date: 2021-09-06 20:19:04

Shireen merupakan anak pertama sekaligus anak satu-satunya dari ayahnya bernama Akagani dan ibu kandungnya bernama Naisyila . Ibu kandung Shireen sudah lama meninggal, setelah beberapa jam melahirkan Shireen. 

Karena alasan meninggalnya ibunya Shireen, menjadi penyebab ayahnya Shireen sangat membencinya dan selalu menyalahkannya atas kematian istri sekaligus ibunya Shireen.

Sejak kecil, Shireen selalu diperlakukan semena-mena oleh ayahnya dan juga ibu tirinya yang bernama Sarah. Ayah Shireen menikah untuk kedua kalinya, saat Shireen menginjak umur 12 tahun, Ia menikahi sekertarisnya sendiri yang usianya masih sangat muda saat itu.

Semenjak mempunyai ibu tiri, hidup Shireen semakin terpuruk, tidak ada kenahagiaan di dalam hidupnya yang ada hanya siksaan dan tangisan yang selalu ia tampakkan. 

Shireen kecil, hanya bisa menangis meratapi nasibnya yang sangat buruk, ketika ayahnya sedang bekerja atau pun keluar kota, Shireen sering diperlakukan bak seperti seorang pembantu oleh sang ibu tirinya.

Ibu tiri Shireen bernama Sarah, wanita itu sangat senang memperlakukan Shireen dengan semena-mena, ia bahkan tidak akan segan-segan memberikan hukuman jika Shireen membuat suatu kesalahan di rumah itu.

Pernah suatu hari, Shireen tidak sengaja memecahkan gelas yang ia cuci, Sarah sedang duduk di ruang televisi saat mendengar suara benda terjatuh di dapur, dengan segera ia menghampiri Shireen yang sedang mencuci piring di dapur.

Ia berjalan cepat menghampiri anak tirinya itu. Dengan amarah yang menggebu-gebu dirinya sudah sangat tidak sabar memberikan pelajaran kepada anak tirinya. 

"Shireen!!!" Bentak Sarah yang sudah berada di ruang dapur.

Shireen yang sedang membersihkan pecahan gelas, seketika terlonjak kaget dan tidak sengaja jarinya menyentuh pecahan kaca dari gelas yang terjatuh, sehingga membuat jarinya tergores dan mengeluarkan darah yang sangat banyak.

"Mama.. maafkan Shireen, aku tidak sengaja menjatuhkannya," seru Shireen ketakutan, ia menahan perih yang ia rasakan dijarinya yang berdarah.

Sarah berjalan cepat mendekati Shireen, ketika jarak mereka sudah sangat dekat, dengan kejamnya ia menjambak rambut Shireen dengan sangat kuat, membuat kepala Shireen terdongak keatas mengikuti rambutnya yang ditarik oleh ibu tirinya.

"Mah... Ampun Ma, Shireen benar-benar tidak sengaja!!" seru Shireen kesakitan, ia berusaha berontak dari jambakan ibu tirinya.

Sarah semakin kuat menarik rambut Shireen, sehingga membuat anak malang itu dengan terpaksa berdiri mengikuti arah rambutnya yang terjambak.

"Dasar anak sialan!! Berani-beraninya kamu memecahkan gelas-gelasku, hah!!" Bentak Sarah dengan marah.

Shireen meringis kesakitan.

"Ampun Mah, Shireen benar-benar tidak sengaja menjatuhkan gelasnya, Kepala Shireen sakit, Ma, tolong lepaskan," ujar Shireen memohon. 

Ia menarik tangan ibu tirinya agar melepaskan jambakan pada rambutnya.

Sarah tidak memperdulikan alasan yang di katakan oleh Shireen, ia tetap menjambak rambut Shireen semakin kuat.

"Banyak alasan!! Kamu itu memang sangat ceroboh, sudah berulang kali kamu memecahkan barang-barang kesaynganku! Kamu pantas diberi hukuman yang setimpal!!" serunya dengan geram. 

Sarah menarik rambut Shireen dan menggeretnya menuju kamar mandi. Dengan kasar ia menghempaskan tubuh Shireen keatas lantai kamar mandi yang sangat dingin.

Shireen jatuh terduduk dilantai yang basah, pakaiannya pun ikut basah terkena air yang ada di lantainya. Ia menangis dengan tersedu-sedu.

"Maafkan Shireen, Mah. Shireen janji tidak akan mengulanginya lagi, jangan hukum Shireen Ma!!" seru Shireen memohon sembari memeluk kedua kaki ibu tirinya.

"Lepaskan kaki saya!! Kamu pantas untuk dihukum!! Dasar anak sialan!" teriak Sarah, ia menendang tubuh Shireen hingga terpental kebelakang, membuat kepala Shireen terbentur tembok kamar mandi.

Dengan kuat ia membanting dan menutup pintu kamar mandi dengan kencang, dan segera menguncinya dari luar.

"Mampus lo anak pembawa sial!!" teriak Sarah puas. Ia membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan pintu kamar mandi tempat Shireen terkunci di dalamnya.

Shireen bangun dari duduknya, ia berlari mendekati pintu dan menggedornya dengan kuat. 

"Ma!! Tolong buka pintunya!! Maafkan Shireen, Ma!!" teriak Shireen memohon.

Ia menggedor pintu kamar mandi dengan kencang sembari memanggil ibu tirinya yang sudah kembali duduk di sofa depan tv dan kembali melanjutkan menonton drama serial luar negeri, tanpa menghiraukan jeritan Shireen yang memanggilnya dan memohon kepadanya agar di bukakan pintu.

"Ma!! Maafkan Shireen!! Buka pintunya Ma!! Shireen kedinginan!!" teriak Shireen dengan putus asa. Ia menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya yang sangat sial. Ingin rasanya Shireen mengakhiri saja hidupnya, dan menyusul ibu kandungnya yang sudah lebih dulu meninggalkannya.

"Bunda, kenapa hidup Shireen menjadi seperti ini? Mengapa tidak sekalian Bunda membawa Shireen bersama ke surga??" tanya Shireen yang masih saja menangis meratapi nasibnya yang malang.

Berjam-jam Shireen terkurung di dalam kamar mandi, ia terduduk sembari menyender ke dinding kamar mandi. Tubuhnya menggigil kedinginan, bibirnya sudab berubah menjadi berwarna pucat.

Shireen terus-terusan memanggil Bundanya dan minta untuk dijemput dan dibawa bersamanya.

"Bunda!! Bawa Shireen bersamamu, Shireen sudah tidak tahan lagi Bunda!!" seru Shireen. 

Tubuhnya bergetar hebat dan sudah sangat lemah. Karena sudah tidak tahan, akhirnya ia ambruk dan tergeletak di ubin kamar mandi.

Sarah yang baru saja selesai menonton drama favoritnya, akhirnya berdiri dan hendak kembali menghampiri Shireen yang berada di kamar mandi. Ia berjalan dengan cepat mendekati kamar mandi tersebut.

Setelah dalam jarak yang sangat dekat, ia menggedor pintu kamar mandi dengan sangat kuat.

Dorr... Dor.... Dor....

Suara pintu yang digedor dari luar.

"Shireen!!!!" Panggil Sarah.

Ia heran mengapa tidak ada sahutan dari dalam. Sekali lagi ia menggedor pintunya untuk memastikan. Tetapi tetap saja tidak ada sahutan dari dalam kamar mandi. Karena panik, Sarah langsung membuka kunci kamar mandi dan lekas membuka pintunya.

Ia sangat terkejut saat pintu kamar mandi terbuka lebar, matanya melotot saat melihat ke dalam kamar mandi tersebut, tubuhnya terasa kaku dan seketika rasa panik menghinghapinya.

"SHIREEN!!!" Teriak Sarah panik.

Sarah berlari cepat, ia menghampiri tubuh Shireen yang tergeletak tidak berdaya di atas lantai. Ia menggoyangkan tubuh Shireen dengan kuat guna membangunkannya.

Dirinya sangat panik saat anak itu tidak menunjukkan respon apapun. Saras kembali meneriaki namanya.

"Shireen!! Bangun kamu!! Jangan buat saya panik!!" teriak Sarah membangunkan Shireen. Ia menyentuh tubuh Shireen yang sangat dingin, dan seketika ia tersentak kaget karena tubuhnya benar-benar dingin sudah seperti orang yang meninggal. 

Sarah semakin panik. 

"Astaga!! Tubuhnya kenapa terasa sangat dingin sekali!!" seru Sarah terkejut. Dengan buru-buru ia mengangkat tubuh Shireen hendak membawanya keluar dari kamar mandi itu. Ia mengambil handuk ynag tersampir di dinding, dan membalutnya ke tubuh Shireen yang dingin. 

Sarah menggendongnya dan membawanya keluar, menuju ke kamar Shireen. Setelah berada di dalam kamar Shireen, Sarah langsung melepas semua pakaian Shireen yang basah, ia mengelap tubuhnya dengan handuk kering, setelah semuanya sudah kering dan kembi hangat, Sarah langsung memakaikan pakaian yang hangat untuk Shireen.

"Ya ampun, ini anak nyusahin sekali sih," gerutu Sarah kesal. Kedua tangannya menggosok tangan Shireen untuk memberikan kehangatan padanya.

"Shireen, cepatlah bangun!!" seru Sarah, ia kembali memanggil nama anak itu sembari menepuk-nepuk pipi Shireen dengan kuat, sehingga membuatnya sedikit memerah.

"Mampus gue!! Kalau nih anak sampai mati, bisa-bisa gue masuk penjara, dan Mas Gandhi pasti akan meninggalkan gue!!" seru Sarah ketakutan.

Karena panik, ia buru-buru menelepon ambulance dan menyuruhnya datang untuk menjemput Shireen dan membawanya dengan cepat ke rumah sakit terdekat.

Sarah berjalan mondar mandir di dalam kamar Shireen, ia selalu memperhatikan pergerakan dari anak itu, tetapi sama sekali belum ada pergerakan dari Shireen, ia masih tertidur dengan lelap.

"Aduh kenapa lama sekali sih, ambulancenya, bisa-bisa keburu mati ini anak!!" seru Sarah kesal. Ia kembali menelepon pihak petugas ambulance dan bertanya sudah sampai dimana mereka. Ia menyuruhnyabagar lebih cepat datang ke rumahnya. 

Sarah mendekati tubuh Shireen yang masih saja belum sadar dari pingsannya, ia menempelkan punggung tangannya ke atas kening Shireen.

"Ya Tuhan, panas sekali dahinya!!" seru Sarah terkejut. Ia melotot tidak percaya karena sebelumnya tubuh Shireen masih terasa dingin, tetapi sekarang sudah berubah menjadi panas.

"Sialan!! Kenapa lama sekali sih itu ambulance, memangnya rumah ini di ujung kulon apa, sampai butuh waktu berapa jam hingga sampai disini!!" seru Sarah kesal, ia bertambah panik.

Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya ambulance sampai di rumah mereka.

Saras buru-buru membukakan pintu rumahnya dan mempersilahkan kepada para perawat dan petugas masuk ke dalam untuk membawa tubuh Shireen yang lemah.

"Permisi Nyonya, dimana pasien yang akan kami bawa?" tanya salah satu perawat yang baru saja datang.

"Ah Iya, silahkan suster, anak saya sedang terbaring di kamarnya," jawab Sarah, ia menunjukkan arah kamar Shireen dan mengantarkan mereka.

Setelah tubuh Shireen di pindahkan keatas ranjang rumah sakit, Para petugas kesehatan segera memasukkannya ke dalam mobil ambulance.

"Maaf Nyonya, apakah anda ibu dari pasien ini?" tanya sang perawat.

"I.. Iya Suster, benar saya ibunya," jawab Sarah tergagap.

"Baiklah kalau begitu, silahkan ikut kami ke rumah sakit sekarang untuk menemani pasien," ajak sang perawat.

"Iya, suster. Kalau begitu tunggu sebentar, saya akan mengunci rumah saya terlebih dahulu," jawab Sarah yang langsung berlari, bergegas mengunci pintu rumahnya.

Setelah semua ia pastikan aman, Sarah langsung berlari menuju mobil ambulance, dan masuk ke dalam mobil tersebut menemani Shireen yang terbaring di atas ranjang dengan kedua mata terpejam.

Salah satu perawat memasangkan selang oksigen di hidung Shireen, sedangkan yang satunya lagi, sibuk memasang selang infus di tangan Shireen.

"Ya ampun, Kenapa tubuhnya sangat dingin sekali, Nyonya? sebenarnya apa yang sudah terjadi?" tanya sang perawat penasaran.

Sarah tersentak, dia bingung mau menjawab apa. Tidak mungkin ia mengatakan yang sejujurnya, bisa-bisa ia akan di laporkan ke pihak berwajib.

"Saya tidak tahu, Suster. Dia tadi sedang mandi, karena lama tidak keluar dari kamar mandi, akhirnya saya menggedor-gedor pintunya dan ketika pintu kamar mandi terbuka, saya melihat anak saya sudah tergeletak lemas di lantai kamar mandi," ujar Sarah menjelaskan dengan berbohong.

"Astaga!! Pasti anak ini sudah terlalu lama kedinginan di kamar mandi, sehingga tubuhnya sekarang sangat dingin," tebak sang Suster.

"Iya, kemungkinan begitu Suster. Sa.. saya sangat menyesal sekali, karena terlalu sibuk mengurus rumah sampai tidak memperhatikan anak saya," ujar Sarah sembari pura-pura bersedih agar menggaet simpati dari sang Suster.

"Ibu yang sabar ya, Anak ibu pasti sembuh, kami akan memberikan pertolongan yang terbaik," kata Suster tersebut, yang menenangkan Sarah.

"Terima kasih, Suster. Tolong sembuhkan anak saya, Sus, saya tidak bisa hidup tanpanya," seru sarah yang pura-pura menangis.

"Baiklah, Bu. Kami akan berusaha sebaik mungkin," jawab sang Suster.

Setelah sekian lama melalu perjalanan yang lumayan panjang, akhirnya mobil ambulance tersebut sampai di rumah sakit yang mereka tuju.

Setelah sampai di loby UGD, sang petugas langsung turun dan membuka pintu belakang mobil.

Beberapa petugas yang sudah menunggu kedatangan mereka, langsung buru-buru membantu mengeluarkan ranjang yang Shireen tempati, dan segera membawanya ke ruangan UGD.

Sarah hendak masuk ke dalam ruangan tersebut, tetapi di cegah oleh seorang perawat.

"Maaf, ibu. Anda tidak diperbolehkan masuk ke dalam ruangan, silahkan tunggu disini saja dan segere ke bagian administrasi untuk mengurus biaya sang pasien," ujar sang Suster mengingatka.

"Baiklah, Suster. Saya akan mengurus bagian administrasinya, tapi toling selamatkan anak saya, Sus!!" seru Sarah memonon.

"Baiklah, Bu. Kami akan menolongnya dengan sekuat tenaga," jawab Suster tersebut memberikan janji kepadanya.

Setelah yakin bahwa Shireen akan ditangani dengan baik, Sarah akhirnya melenggang pergi, ia berjalan menuju bagian administrasi, untuk mengurus berkas keuangan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • My Crazy Husband (Shireen)   Bab 44

    Masa magang Dika berjalan sangat baik. Ia tidak hanya mengerjakan tugas yang diberikan, tapi juga berinisiatif mempelajari hal-hal lain di luar jabatannya. Jika ada mesin yang bermasalah, ia tidak hanya memperbaikinya, tapi juga mencatat penyebab kerusakan dan cara pencegahannya agar tidak terulang lagi.Ketika masa magang berakhir, pihak perusahaan memutuskan untuk menerima Dika menjadi karyawan tetap. Berita ini membuat keluarga sangat gembira — terutama Randi, yang melihat adiknya sudah bisa berdiri di atas kakinya sendiri dengan cara yang benar.“Selamat, Dik. Ini baru permulaan. Sekarang kamu punya tanggung jawab lebih besar: menjaga kepercayaan yang sudah diberikan,” pesan Randi saat merayakan kabar baik itu bersama keluarga.“Terima kasih, Kak. Aku tidak akan menyia-nyiakannya. Apa pun yang terjadi, aku akan tetap bekerja dengan jujur dan bertanggung jawab,” jawab Dika dengan penuh keyakinan.Namun, seperti biasa, kesuksesan selalu membawa tantangan baru. Di tempat kerjanya, Di

  • My Crazy Husband (Shireen)   Bab 43

    Dika adalah adik kandung Randi, beda usianya hampir lima tahun. Sejak kecil, ia dikenal sebagai anak yang lincah, pemberani, dan punya rasa ingin tahu yang besar. Kalau Randi bersifat tenang, teliti, dan suka berpikir panjang, Dika justru lebih ceria, sedikit terburu-buru, dan suka mencoba hal-hal baru tanpa banyak ragu.Saat Randi dan Laras sudah sibuk bekerja serta mempersiapkan pernikahan, Dika baru saja memasuki tahun terakhir di sekolah menengah atas. Ia bercita-cita ingin melanjutkan kuliah di jurusan teknik mesin, karena sejak kecil ia sudah senang membongkar dan merakit barang-barang rusak hingga bisa berfungsi kembali.“Kak Randi, lihat deh! Aku sudah bisa memperbaiki sepeda motor ayah sendiri, tidak perlu bengkel lagi,” seru Dika suatu sore sambil membersihkan tangannya yang penuh minyak.Randi tersenyum bangga. “Bagus sekali. Tapi ingat, keahlian saja tidak cukup. Harus dibarengi dengan kesabaran dan kejujuran, supaya apa yang kau kerjakan nanti bermanfaat untuk orang lain.

  • My Crazy Husband (Shireen)   Bab 42

    Berita tentang kasus Brian segera menyebar ke seluruh lingkungan kampus. Orang-orang yang sempat ragu dan percaya cerita Brian kini akhirnya mengerti kebenaran yang sesungguhnya. Bisikan-bisikan buruk yang sempat menghiasi nama Laras perlahan menghilang, diganti dengan rasa hormat karena gadis itu bertahan teguh meski mendapat tekanan yang sangat berat.Suatu hari, Laras dan Randi duduk kembali di taman kampus, tempat yang dulu sering menjadi saksi pertemuan mereka maupun gangguan yang datang. Angin sore berhembus sejuk, rasanya sangat berbeda dibandingkan hari-hari penuh ketegangan sebelumnya.“Rasanya seperti mimpi, ya? Selama berbulan-bulan kita harus terus waspada, memikirkan jalan keluar, dan bertahan menghadapi segala cara yang dia lakukan,” kata Laras sambil tersenyum lega.Randi memegang tangannya lembut. “Kita berhasil bukan karena punya kekuasaan lebih besar, tapi karena kita tidak memilih jalan yang salah meski diberi banyak godaan dan tekanan. Kebenaran memang butuh waktu,

  • My Crazy Husband (Shireen)   Bab 41

    Karena tidak ada tanda-tanda Laras akan menyerah, kesabaran Brian benar-benar habis. Ia tidak lagi memikirkan cara halus, melainkan bertindak sewenang-wenang seolah tidak ada yang bisa menghentikannya.Suatu pagi, saat Laras tiba di kampus, ia mendapati namanya tercantum di papan pengumuman dengan tulisan tebal: “Dinyatakan tidak memenuhi syarat kelulusan karena ketidakk lengkapan dokumen administrasi”.Bagi mahasiswa semester akhir, itu adalah kabar yang sangat buruk — artinya ia harus mengulang seluruh proses, menunda rencana masa depan, dan memulainya lagi dari titik yang terasa sangat jauh.Laras berdiri terpaku di depan papan itu, tangan gemetar menahan air mata. Beberapa orang melihatnya, ada yang menghela napas kasihan, ada yang berbisik-bisik, dan ada yang hanya menatap tanpa berani berkata apa-apa.Tidak lama kemudian, Brian datang melangkah santai dan berdiri di sampingnya, seolah hanya kebetulan lewat.“Sudah baca pengumumannya? Ini baru hasil keputusan resmi. Semua yang ka

  • My Crazy Husband (Shireen)   Bab 40

    Karena merasa kesempatan terakhir sudah lewat dan Laras tetap tidak mau menuruti keinginannya, Brian mulai kehilangan kesabaran. Permainannya tidak lagi hanya berupa gangguan halus, tapi mulai terang-terangan menunjukkan kekuasaannya.Keesokan paginya, Laras dipanggil lagi ke ruang administrasi. Kali ini, surat yang diterimanya lebih tegas: status pendaftaran ujian akhirnya ditangguhkan sementara dengan alasan “ketidaksesuaian data yang belum jelas”.“Artinya apa ini? Apakah aku tidak bisa ikut ujian sama sekali?” tanya Laras dengan suara tertekan.“Belum bisa dipastikan. Menunggu keputusan lebih lanjut dari bagian pimpinan,” jawab petugas dengan nada dingin, seolah tidak peduli.Saat keluar dari ruangan, Brian sudah menunggu di koridor dengan senyum yang tidak lagi menyembunyikan maksudnya.“Sudah terima kabarnya? Semua ini baru permulaan. Kalau kau tetap bersikeras, nanti bisa sampai dikeluarkan dari daftar mahasiswa aktif. Ingat, di sini namaku dan ayahku yang berkuasa,” ujarnya de

  • My Crazy Husband (Shireen)   Bab 39

    Batas waktu untuk melengkapi berkas kelulusan semakin dekat, tapi tidak ada tanda-tanda dokumen itu bisa ditemukan secara resmi. Laras merasa waktu berjalan sangat cepat, sementara setiap usahanya selalu terhalang hal yang tidak wajar.Suatu sore, saat ia duduk sendirian di taman kampus sambil memikirkan jalan keluar, Brian datang dan duduk di bangku yang sama tanpa diminta. Kali ini sikapnya tidak lagi sekadar bermain-main, tapi terlihat lebih tegas dan mendesak.“Sudah berpikir matang-matang? Besok adalah hari terakhir. Kalau sampai sore ini kamu belum memberi jawaban, berkas itu akan masuk ke arsip yang dianggap hilang permanen. Artinya, kamu harus mengurus ulang semuanya dari awal — dan itu butuh waktu berbulan-bulan,” ujar Brian dengan nada datar tapi mengandung ancaman nyata.Laras menatap lurus ke depan, suaranya pelan tapi mantap. “Kamu memang pandai mempersempit jalan, tapi jangan kira itu membuatku berubah pikiran. Apa yang kau lakukan ini bukan perhatian, tapi pemerasan.”“

  • My Crazy Husband (Shireen)   Diboyong Suami

    Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, mobil mereka akhirnya sampai di salah satu Apartemen tertinggi di kota itu.Alkan keluar dari mobilnya di susul Shireen di belakangnya.Shireen berjalan dengan tertatih-tatih karena gaunnya yang sangat panjang, membuatnya menjadi susah berjalan

  • My Crazy Husband (Shireen)   Ancaman Sarah

    Shireen mengendarai mobilnya sembari menangis meratapi nasibnya yang begitu buruk."Mengapa Tuhan selalu mengujiku dengan ujian yang sangat membuatku menderita!!' teriak Shireen menangis tersedu-sedu.Shireen menghapus air matanya dengan kasar, ia membawa mobilnya menuju kampus te

  • My Crazy Husband (Shireen)   Pernikahan

    "Mama, ada apa?" tanya Shireen heran.Sarah menatapnya dengan tajam sembari tersenyum sinis melihatnya."Wah, enaknya!! Jam segini baru pulang kamu, dari mana saja,hah!!" cetus Sarah sembari menatap tajam Shireen.Shireen menghembuskan nafasnya lelah, ia mencoba untuk bersabar meng

  • My Crazy Husband (Shireen)   Menyayat Hati

    Setelah selesai mengurus administrasi, Sarah langsung kembali ke ruangan Shireen berada. Ia menelepon suaminya dan memberitahukan bahwa anaknya sedang terbaring di rumah sakit.Ayah dari Shireen, bergegas kembali ke Kota mereka dengan menggunakan penerbangan kelas 1. Hanya butuh beberapa jam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status