共有

Ancaman Sarah

作者: Kancil Putih
last update 公開日: 2021-09-06 20:43:33

Shireen mengendarai mobilnya sembari menangis meratapi nasibnya yang begitu buruk.

"Mengapa Tuhan selalu mengujiku dengan ujian yang sangat membuatku menderita!!' teriak Shireen menangis tersedu-sedu.

Shireen menghapus air matanya dengan kasar, ia membawa mobilnya menuju kampus tempat ia bekerja.

Setelah sampai disana, Shireen menghapus sisa air matanya, ia tidak mau dilihat habis menangis oleh anak didiknya. Setelah wajahnya sudah tampak segar, Shireen bergegas turun dari mobilnya.

Shireen berjalan dengan tegas menuju kelas yang akan diajarnya. Beberapa saat kemudian, ia sampai di kelasnya. Semua anak didiknya sudah duduk rapi di kursinya masing-masing. Shireen duduk di kursi mengajarnya dan meletakkan tasnya di atas meja.

"Selamat pagi semua!" teriak Shireen menyapa anak didiknya dengan ceria seperti biasanya.

Ia berusaha menampilkan senyumnya dan sifatnya yang ceria, yang membuat ia sangat di sukai oleh anak didiknya.

"Selamat pagi, Bu Cantik!!" sapa anak didiknya dengan semangat.

Shireen tersenyum senang menatap mereka semua. Setidaknya masih ada yang bisa membuatnya tersenyum, pikirnya.

Hari itu, ia mengajarkan materi akutansi kepada anak didiknya.

Shireen merupakan lulusan terbaik dari salah satu Universitas ternama di Indonesia. Ia berhasil menyabet lulusan termuda di Universitasnya dan mendapatkan gelar S-2 di usia 22 tahun.

Banyak orang merasa kagum kepada Shireen, bukan hanya karena prestasinya, ia juga mempunyai wajah yang sangat cantik dan polos. Sikapnya yang sangat baik dan keibuan, membuat siapapun yang mengenalnya pasti merasa kagum kepadanya.

Tetapi entah mengapa, nasibnya di keluarganya sangat sial, dari kecil ia diperlakukan dengan sangat tidak manusiawi dan sekarang.... Ia mau di jual oleh sang Ayah, hanya karena takut menjadi miskin. Ironis bukan? Seorang Ayah dengan teganya akan menjadikan anaknya jaminan kepada relasinya.

Anak mana yang tidak merasa sakit hatinya, orang yang di anggap cinta pertama seorang putri, nyatanya menyakiti dan menghempaskan rasa percayanya kepada sang Ayah.

Shireen hanya bisa merenungkan nasibnya itu. Hingga sore hari, akhirnya Shireen memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Ia mengendarai mobilnya dengan sangat kencang, hingga hanya butuh beberapa menit saja akhirnya ia sampai di rumahnya yang megah.

Shireen turun dari mobilnya, ia melenggang masuk ke dalam rumahnya. Tetapi, belum juga sampai di dalam, Shireen melihat vas bunga yang tersusun di depan rumah semuanya acak-acakan seperti habis di hempaskan oleh seseorang. Shireen berlari dengan cepat masuk ke dalam rumahnya.

Ia berjalan menyusuri rumahnya yang terlihat sangat berantakan, beberapa barang berjatuhan dan ada juga yang terpecah belah. 

"Ada apa ini?" Pikir Shireen heran.

Ketika ia hendak melanjutkan jalannya, tiba-tiba sang adik berlari menghampirinya sembari menangis histeris.

"Kakak!!!!" teriak Randy berhambur memeluk Shireen yang masih belum sadar dengan kejadian yang terjadi di dalam rumahnya.

Shireen duduk berjongkok, mensejajarkan wajahnya dengan adiknya.

"Sayang, kenapa menangis? Apa yang sudah terjadi di rumah kita?" tanya Shireen lembut, menenangkan sang adik dari tangisannya.

"Kakak, tadi ada orang jahat yang datang ke rumah kita, di mengacak-acak rumah kita, membanting barang dan juga memukul Mama," jawab Randy yang masih menampakkan wajah ketakutan.

"Apa??" teriak Shireen tidak percaya. "Terus, dimana Mama?" tanya Shireen lagi.

"Mama, ada di ruang tv, sedang menangis bersama Ayah disana," jawab Randi, yang sekarang sudah mulai tenang karena sudah melihat sang Kakak pulang.

Shireen mengelus wajah adiknya dengan lembut, ia menghapus sisa air mata yang jatuh di pipi adiknya.

"Sayang, Kakak boleh minta tolong? Kamu adik Kakak yang pintar bukan?" tanya Shireen lembut.

Randi menganggukkan kepalanya.

"Iya , Kakak! Randi anak pintar," jawab Randi.

"Oke, kalau begitu kamu tunggu di dalam kamar dan jangan keluar kalau Kakak panggil ya, Dik. Nanti kalau Kakak sudah selesai urusannya, Kakak akan menyusul Randi di kamar. Oke?" seru Shireen.

"Baiklah, Kakak. Randi mengerti," jawab Randi mantap.

"Ya sudah, kalau begitu ayo masuk ke kamar sekarang," seru Shireen menyuruh adiknya.

Randi menganggukkan kepalanya yang patuh, ia langsung berlari memasuki kamarnya.

Setelah adiknya telah masuk ke dalam kamarnya, Shireen bergegas menemui Ayah dan Ibu tirinya yang berada di ruang tv.

"Ayah, ada apa ini?" tanya Shireen setelah sampai di ruang tv.

Gandhi menoleh menatap wajah sang anak, yang masih menampakkan kebingungan.

"Shireen, kemari Nak," perintah Gandhi kepadanya.

Shireen mengikuti perintah sang Ayah. Ia duduk di sofa samping Ayahnya.

"Ayah kenapa bisa begini? Siapa yang melakukannya?" tanya Shireen lagi.

Gandhi terdiam sejenak.

"Ini semua karena rentenir sialan itu!!" teriak Sarah sembari menangis tersedu-sedu.

"A.. apa? Rentenir?" tanya Shireen tidak mengerti.

"Iya!! Rentenir suruhan boss tempat Ayah kamu meminjam uang!!" serunya lagi dengan berapi-api.

"Ayah meminjam uang? Untuk apa?" tanya Shireen heran.

Gandhi berdeham, ia hendak menjelaskan semuanya kepada sang anak.

"Shireen, Ayah meminjam uang kepada rentenir untuk menutupi pengeluaran di perusahaan, semua pekerja Ayah menagih kompensasi atas pemecatan karyawan," ujar sang Ayah menjelaskan.

"Kenapa harus meminjam ke rentenir Ayah?" tanya Shireen kesal.

"Lalu harus meminjma sama siapa lagi, Hah!! Sedangkan kamu saja tidak perduli sama Ayahmu!! Andai saja kamu menerima tawaran Ayahmu untuk menikahi relasinya, pasti semua ini tidak akan terjadi!!" bentak Sarah yang emosi.

Shireen terdiam untuk sesaat.

"Sarah, sudahlah! Tidak perlu marah-marah seperti itu," ujar Gandhi, menegur istrinya.

"Terserah kamu Mas! Aku tidak mau tahu, kamu harus menyelesaikan masalah ini, atau aku akan membawa Randi pergi dari sini dan pulang ke rumah orang tuaku!! Jangan harap kalian bisa melihat Randi lagi!!" teriak Sarah mengancam. Ia berdiri dan pergi meninggalkan Gandhi dan Shireen.

Shireen terhenyak mendengar perkataan Sarah, bagaimana bisa ia kehilangan adik satu-satunya yang paling ia sayangi.

Gandhi hanya bisa terdiam dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

Setelah batinnya berperang di dalam hatinya, Shireen akhirnya memberikan keputusannya kepada sang Ayah.

"Baiklah, aku menyetujuinya, Ayah!" jawab Shireen mantap. Tidak ada keraguan di dalam dirinya, ia siap melakukan apa pun demi Ayah dan juga adiknya.

Gandhi mengangkat wajahnya menatap sang anak dengan bertanya-tanya.

"Apakah yang kau katakan itu benar, Nak?" tanya sang Ayah memastikan.

Shireen menghembuskan nafasnya lelah 

"Iya Ayah, Shireen akan menuruti kehendak Ayah, jika memang itu membuat Ayah dan Randy menjadi bahagia," ujar Shireen penuh kepahitan.

Kedua mata Gandhi berkaca-kaca, ia tidak menyangka bahwa putrinya itu rela mengorbankan dirinya dan perasaannya demi dirinya dan anak laki-lakinya itu.

"Shireen, apakah kau benar-benar sudah yakin, Nak? Ayah tidak ingin memaksakan kehendakmu, dan membuatmu menyesal nantinya," ujar sang Ayah berulang kali memastikan.

"Iya ayah, Shireen sudah meyakinkan diri ini bahwa benar-benar akan melakukannya," jawab Shireen mantap.

Ia sudah tidak memperdulikan perasaannya lagi, yang ia pikirkan hanya kebahagiaan adik kecil kesayangannya saja.

Gandhi berdiri dan berhambur memeluk putri satu-satunya itu, ia menangis bersama sang putri melampiaskan sesak mereka.

"Sudah Ayah, jangan menangis! Setelah ini, berjanjilah bahwa Ayah akan membuat Randi menjadi anak yang baik dan mendidiknya menjadi laki-laki yang bisa diandalkan," ujar Shireen meminta kepada sang Ayah untuk mengabulkan permintaannya.

Gandhi menghapus air matanya yang jatuh. Ia tersenyum menatap anaknya yang sudah bersikap sangat dewasa.

"Iya, Sayang. Ayah berjanji akan melakukannya. Maafkan Ayah karena tidak bisa menjadi Ayah yang baik buatmu," ujar Gandhi meminta maaf kepada Shireen.

"Shireen sudah memaafkan segala kesalah Ayah, dan sekarang Shireen sudah mulai berdamai dengan masa lalu dan jangan pernah mengungkitnya lagi Ayah," seru Shireen tegas 

"Baiklah, Nak." jawab Gandhi bersungguh-sungguh. Sekali lagi ia memeluk putrinya dengan sangat erat.

Shireen menghapus air matanya yang jatuh di pipinya, mulai saat ini ia berjanji tidak akan mengeluarkan air matanya lagi demi Ayah dan adiknya.

Setelah mengurus semua surat perjanjian dan juga mahar yang sudah ditentukan oleh pihak keluarga Shireen, akhirnya pernikahan segera dilangsungkan.

Acara pernikahan di gelar di salah satu hotel mewah di Kota itu, mereka mengundang para relasi penting dan juga pejabat negara. Tidak sedikitnorang yang mengucapkan selamat kepada mereka.

Shireen yang berdiri berdampingan di sebelah Alkan, merasa sangat tidak nyaman karena aura Alkan yang begitu menakutkan menurutnya.

Wajah tampan dan tegas milik Alkan terlihat menyimpan banyak misteri. Sedikitpun tidak ada senyuman di wajahnya, bahkan ia tidak menyapa wanita di sebelahnya yang sudah sah menjadi istrinya.

Setelah acara mereka telah selesai dan semua para tamu undangan sudah pulang, Alkan dan Shireen berpamitan kepada orang tua mereka masing-masing untuk berangkat ke apartemen mewah yang sudah disediakan oleh Alkan khusus untuk istrinya itu.

"Ayah, tolong jaga Randi ya, Shireen menyayangi Ayah dan Randi," ujar Shireen yang langsung memeluk Ayahnya sembari berurai air mata.

Gandhi membalas pelukan putrinya dengan tidak kalah erat.

"Ayah berjanji akan menjaganya dengan baik, kamu tidak perlu khawatir, Nak. Ayah harap kamu akan mendapatkan kebahagiaan bersama suami mu dan keluarga baru kamu," ujar sang Ayah, ia pun menitikkan air matanya terharu.

Shireen melepaskan pelukannya, ia menghapus air matanya ynag membanjiri wajahnya.

"Kakak," panggil Randi yang berada di balik tubuh Ayahnya.

Shireen merentangkan tangannya hendak memeluk adiknya itu.

"Randi kemarilah, peluk Kakak!" seru Shireen tersenyum lembut.

Randi berhambur memeluk Kakaknya sembari menangis.

"Kakak!! Apakah Kakak akan ikut sama laki-laki itu?" tanya Randi sembari menunjuk kearah suami Shireen.

Shireen melepaskan pelukannya dan beralih menatap wajah Alkan yang sangat kaku tanpa senyuman di wajahnya. Ia kembali menatap wajah adiknya dan menganggukkan kepalanya.

"Iya, Sayang. Dia suami Kakak, dan Kakak harus mengikutinya kemana pun ia pergi," jawab Shireen lembut.

"Berarti, Kakak akan meninggalkan Randi?" tanya Randi sedih, ia bersiap akan menangis lagi.

Dengan cepat Shireen memeluknya lagi, tanpa sadar air matanya terjatuh membasahi kedua pipinya yang mulus.

"Kakak tidak akan meninggalkan Randi, Kakak berjanji akan sesering mungkin mengunjungi Randi, ya," seru Shireen menahan tangisannya agar tidak percah dan membuat adiknya ikut bersedih.

Dengan sekuat tenaga ia menghapus air matanya dan menampakkan senyumannya.

"Randi, Kakak pergi dulu ya, berjanjilah kepada Kakak bahwa kamu akan menjaga Ayah dan Mama, jadilah anak yang baik dan turuti perkataan Ayah dan Mama," ujar Shireen memberikan nasihat kepada adiknya.

"Baiklah, Kak, Randi berjanji," jawab Randi kecil dengan mantap.

"Bagus!! Adik Kakak memang sangat pintar!" seru Shireen senang, ia mengelus kepala adiknya dengan sayang.

Setelah itu ia berdiri dan kembali berpamitan kepada orang tuanya.

"Ayah, Mama. Shireen pergi dulu, jaga diri kalian masing-masing," ujar Shireen berpamitan.

Sang ayah membalas pamitannya sedangkan Sarah, hanya memutar kedua bola matanya dengan malas menjawabnya.

"Baiklah Sayang, berbahagialah," ujar sang Ayah. "Alkan! Saya titip Shireen, tolong buat ia bahagia bersamamu," ucap Gandhi menyerahkan tanggung jawabnya kepada Alkan, suami sah dari putrinya.

"Baiklah," jawab Alkan singkat.

Akhirnya Shireen dan Alkan sudah berada di dalam mobil yang di kendarai oleh supir pribadi Alkan.

Di dalam mobil, Shireen kembali menangis meratapi nasibnya, ia hanya berdoa semoga masa depannya cerah dan bahagia bersama suaminya.

Alkan hanya meliriknya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • My Crazy Husband (Shireen)   Bab 44

    Masa magang Dika berjalan sangat baik. Ia tidak hanya mengerjakan tugas yang diberikan, tapi juga berinisiatif mempelajari hal-hal lain di luar jabatannya. Jika ada mesin yang bermasalah, ia tidak hanya memperbaikinya, tapi juga mencatat penyebab kerusakan dan cara pencegahannya agar tidak terulang lagi.Ketika masa magang berakhir, pihak perusahaan memutuskan untuk menerima Dika menjadi karyawan tetap. Berita ini membuat keluarga sangat gembira — terutama Randi, yang melihat adiknya sudah bisa berdiri di atas kakinya sendiri dengan cara yang benar.“Selamat, Dik. Ini baru permulaan. Sekarang kamu punya tanggung jawab lebih besar: menjaga kepercayaan yang sudah diberikan,” pesan Randi saat merayakan kabar baik itu bersama keluarga.“Terima kasih, Kak. Aku tidak akan menyia-nyiakannya. Apa pun yang terjadi, aku akan tetap bekerja dengan jujur dan bertanggung jawab,” jawab Dika dengan penuh keyakinan.Namun, seperti biasa, kesuksesan selalu membawa tantangan baru. Di tempat kerjanya, Di

  • My Crazy Husband (Shireen)   Bab 43

    Dika adalah adik kandung Randi, beda usianya hampir lima tahun. Sejak kecil, ia dikenal sebagai anak yang lincah, pemberani, dan punya rasa ingin tahu yang besar. Kalau Randi bersifat tenang, teliti, dan suka berpikir panjang, Dika justru lebih ceria, sedikit terburu-buru, dan suka mencoba hal-hal baru tanpa banyak ragu.Saat Randi dan Laras sudah sibuk bekerja serta mempersiapkan pernikahan, Dika baru saja memasuki tahun terakhir di sekolah menengah atas. Ia bercita-cita ingin melanjutkan kuliah di jurusan teknik mesin, karena sejak kecil ia sudah senang membongkar dan merakit barang-barang rusak hingga bisa berfungsi kembali.“Kak Randi, lihat deh! Aku sudah bisa memperbaiki sepeda motor ayah sendiri, tidak perlu bengkel lagi,” seru Dika suatu sore sambil membersihkan tangannya yang penuh minyak.Randi tersenyum bangga. “Bagus sekali. Tapi ingat, keahlian saja tidak cukup. Harus dibarengi dengan kesabaran dan kejujuran, supaya apa yang kau kerjakan nanti bermanfaat untuk orang lain.

  • My Crazy Husband (Shireen)   Bab 42

    Berita tentang kasus Brian segera menyebar ke seluruh lingkungan kampus. Orang-orang yang sempat ragu dan percaya cerita Brian kini akhirnya mengerti kebenaran yang sesungguhnya. Bisikan-bisikan buruk yang sempat menghiasi nama Laras perlahan menghilang, diganti dengan rasa hormat karena gadis itu bertahan teguh meski mendapat tekanan yang sangat berat.Suatu hari, Laras dan Randi duduk kembali di taman kampus, tempat yang dulu sering menjadi saksi pertemuan mereka maupun gangguan yang datang. Angin sore berhembus sejuk, rasanya sangat berbeda dibandingkan hari-hari penuh ketegangan sebelumnya.“Rasanya seperti mimpi, ya? Selama berbulan-bulan kita harus terus waspada, memikirkan jalan keluar, dan bertahan menghadapi segala cara yang dia lakukan,” kata Laras sambil tersenyum lega.Randi memegang tangannya lembut. “Kita berhasil bukan karena punya kekuasaan lebih besar, tapi karena kita tidak memilih jalan yang salah meski diberi banyak godaan dan tekanan. Kebenaran memang butuh waktu,

  • My Crazy Husband (Shireen)   Bab 41

    Karena tidak ada tanda-tanda Laras akan menyerah, kesabaran Brian benar-benar habis. Ia tidak lagi memikirkan cara halus, melainkan bertindak sewenang-wenang seolah tidak ada yang bisa menghentikannya.Suatu pagi, saat Laras tiba di kampus, ia mendapati namanya tercantum di papan pengumuman dengan tulisan tebal: “Dinyatakan tidak memenuhi syarat kelulusan karena ketidakk lengkapan dokumen administrasi”.Bagi mahasiswa semester akhir, itu adalah kabar yang sangat buruk — artinya ia harus mengulang seluruh proses, menunda rencana masa depan, dan memulainya lagi dari titik yang terasa sangat jauh.Laras berdiri terpaku di depan papan itu, tangan gemetar menahan air mata. Beberapa orang melihatnya, ada yang menghela napas kasihan, ada yang berbisik-bisik, dan ada yang hanya menatap tanpa berani berkata apa-apa.Tidak lama kemudian, Brian datang melangkah santai dan berdiri di sampingnya, seolah hanya kebetulan lewat.“Sudah baca pengumumannya? Ini baru hasil keputusan resmi. Semua yang ka

  • My Crazy Husband (Shireen)   Bab 40

    Karena merasa kesempatan terakhir sudah lewat dan Laras tetap tidak mau menuruti keinginannya, Brian mulai kehilangan kesabaran. Permainannya tidak lagi hanya berupa gangguan halus, tapi mulai terang-terangan menunjukkan kekuasaannya.Keesokan paginya, Laras dipanggil lagi ke ruang administrasi. Kali ini, surat yang diterimanya lebih tegas: status pendaftaran ujian akhirnya ditangguhkan sementara dengan alasan “ketidaksesuaian data yang belum jelas”.“Artinya apa ini? Apakah aku tidak bisa ikut ujian sama sekali?” tanya Laras dengan suara tertekan.“Belum bisa dipastikan. Menunggu keputusan lebih lanjut dari bagian pimpinan,” jawab petugas dengan nada dingin, seolah tidak peduli.Saat keluar dari ruangan, Brian sudah menunggu di koridor dengan senyum yang tidak lagi menyembunyikan maksudnya.“Sudah terima kabarnya? Semua ini baru permulaan. Kalau kau tetap bersikeras, nanti bisa sampai dikeluarkan dari daftar mahasiswa aktif. Ingat, di sini namaku dan ayahku yang berkuasa,” ujarnya de

  • My Crazy Husband (Shireen)   Bab 39

    Batas waktu untuk melengkapi berkas kelulusan semakin dekat, tapi tidak ada tanda-tanda dokumen itu bisa ditemukan secara resmi. Laras merasa waktu berjalan sangat cepat, sementara setiap usahanya selalu terhalang hal yang tidak wajar.Suatu sore, saat ia duduk sendirian di taman kampus sambil memikirkan jalan keluar, Brian datang dan duduk di bangku yang sama tanpa diminta. Kali ini sikapnya tidak lagi sekadar bermain-main, tapi terlihat lebih tegas dan mendesak.“Sudah berpikir matang-matang? Besok adalah hari terakhir. Kalau sampai sore ini kamu belum memberi jawaban, berkas itu akan masuk ke arsip yang dianggap hilang permanen. Artinya, kamu harus mengurus ulang semuanya dari awal — dan itu butuh waktu berbulan-bulan,” ujar Brian dengan nada datar tapi mengandung ancaman nyata.Laras menatap lurus ke depan, suaranya pelan tapi mantap. “Kamu memang pandai mempersempit jalan, tapi jangan kira itu membuatku berubah pikiran. Apa yang kau lakukan ini bukan perhatian, tapi pemerasan.”“

  • My Crazy Husband (Shireen)   Diboyong Suami

    Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, mobil mereka akhirnya sampai di salah satu Apartemen tertinggi di kota itu.Alkan keluar dari mobilnya di susul Shireen di belakangnya.Shireen berjalan dengan tertatih-tatih karena gaunnya yang sangat panjang, membuatnya menjadi susah berjalan

  • My Crazy Husband (Shireen)   Pernikahan

    "Mama, ada apa?" tanya Shireen heran.Sarah menatapnya dengan tajam sembari tersenyum sinis melihatnya."Wah, enaknya!! Jam segini baru pulang kamu, dari mana saja,hah!!" cetus Sarah sembari menatap tajam Shireen.Shireen menghembuskan nafasnya lelah, ia mencoba untuk bersabar meng

  • My Crazy Husband (Shireen)   Menyayat Hati

    Setelah selesai mengurus administrasi, Sarah langsung kembali ke ruangan Shireen berada. Ia menelepon suaminya dan memberitahukan bahwa anaknya sedang terbaring di rumah sakit.Ayah dari Shireen, bergegas kembali ke Kota mereka dengan menggunakan penerbangan kelas 1. Hanya butuh beberapa jam

  • My Crazy Husband (Shireen)   Shireen

    Shireen merupakan anak pertama sekaligus anak satu-satunya dari ayahnya bernama Akagani dan ibu kandungnya bernama Naisyila . Ibu kandung Shireen sudah lama meninggal, setelah beberapa jam melahirkan Shireen.Karena alasan meninggalnya ibunya Shireen, menjadi penyebab ayahnya Shireen

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status