LOGINRejected by her fated mate for a political alliance, Layla sleeps with his uncle, Alpha Samuel. When her ex begs for reconciliation, Layla coolly replies, "Sorry, I’ve lost interest in you." Though Alpha Samuel claims their one-night stand was a mistake, his actions suggest otherwise. Their chemistry continues to ignite, and the tension between them is far from over...
View MoreDi puncak Gunung Taiyi, sebuah gunung suci di Benua Tengah, dunia Tian Yuan, Qin Yun, seorang kultivator ranah dewa yang perkasa, berdiri terhuyung-huyung. Wajahnya yang tadinya tampan dan penuh semangat kini pucat pasih seperti bulan terlupakan di tengah malam gelap.
Darah segar mengalir dari sudut bibirnya yang kini berwarna biru, membasahi jubah putihnya yang tadinya bersih dan suci. Di dadanya, sebuah pedang perak terlihat menembus jantungnya, memantulkan cahaya dingin yang menusuk tulang. Pedang itu terlihat seperti ular perak yang menggigit mangsanya, meninggalkan luka yang dalam dan tak terobati. "Kenapa?" tanya Qin Yun dengan suara lemah dan terengah-engah, matanya menatap nanar wanita cantik yang berdiri di hadapannya. Matanya yang tadinya berkilauan kini terlihat kusam dan sunyi, menatap Ling Xi dengan campuran keheranan dan kesakitan. Ling Xi, wanita yang pernah dicintainya, kini memegang gagang pedang perak yang menembus jantungnya, dengan tangan yang stabil dan tanpa getaran. Ekspresi wajahnya tidak menunjukkan sedikit pun penyesalan atau kesadaran akan kejahatan yang telah dilakukannya. Sudut bibir Ling Xi ditarik membentuk senyum dingin yang menusuk hati, matanya berkilauan dengan kekejaman yang tak tersembunyi. Dengan nada acuh tak acuh dan suara yang datar, dia berkata: "Kamu harus mati, Qin Yun. Ini adalah satu-satunya pilihan untukmu!" Setelah mengucapkan kata-kata kejam tersebut, Ling Xi menarik pedang perak dari tubuh Qin Yun dengan gerakan kasar, membuat darah segar menyemprot ke udara seperti pancuran merah yang menghujam langit. Darah itu membasahi tanah di sekitarnya, menciptakan lukisan kematian yang mengerikan di puncak gunung yang sunyi. Tubuh Qin Yun terguncang, napasnya semakin lemah, dan matanya mulai kehilangan cahaya. Sampai napas terakhirnya, Qin Yun tetap tercenung dalam kebingungan yang mendalam. Mengapa Ling Xi, cinta sejatinya, melakukan pengkhianatan yang kejam ini? Apa yang mendorongnya untuk menusuk hati yang pernah mencintainya dengan begitu tulus? Dia telah menyerahkan segalanya: hati, jiwa, dan kekuasaannya. Semua untuk Ling Xi. Namun, saat dia berdiri di ambang pintu keabadian sebagai Dewa Imortal Legendaris, Ling Xi memilih untuk menusuknya dari belakang. Air mata darah menetes dari mata Qin Yun, mencerminkan kesedihan dan kekecewaan yang tak terhingga. "Ling Xi... mengapa?" katanya dengan suara yang terengah-engah, napas terakhirnya berubah menjadi pertanyaan yang tak terjawab. .. Qin Yun terjebak dalam kegelapan abadi yang pekat dan sunyi, bagai jurang tak berdasar yang menelan cahaya dan harapan. Kesadaran akan kematiannya menyergapnya seperti badai yang menghantam jiwa. Dalam keheningan yang mencekam dan menggetarkan, dia menemukan keinginan yang membara dalam hatinya, seperti api yang menyala di tengah kegelapan, membangkitkan semangat balas dendam yang tak terpadamkan. "Jika aku diberi satu permintaan," katanya pada diri sendiri. Suaranya bergema dalam kekosongan. "Aku ingin kembali ke dunia orang hidup, bahkan jika hanya untuk sesaat!" Mata Qin Yun berkilauan dengan semangat balas dendam. "Aku ingin merenggut nyawa Ling Xi dengan tanganku sendiri, menghancurkannya menjadi ribuan keping, membuatnya merasakan sakit yang tak terhingga seperti yang aku rasakan!" Suara hatinya berteriak, meminta keadilan dan balas dendam. Pada saat itu, tiba-tiba, Qin Yun merasakan tubuhnya ditarik oleh energi misterius yang kuat dan tak terbayangkan. Energi itu memancar seperti ombak besar, menggetarkan seluruh wujudnya. Ruang gelap yang mengurungnya tiba-tiba terbelah, seperti tirai yang robek, dan cahaya putih terang menyinari sekitarnya. Cahaya itu begitu intens, membuat mata Qin Yun terasa terbakar. Dengan tubuh yang terangkat dari tanah, Qin Yun merasakan dirinya ditarik masuk ke dalam cahaya tersebut. Kesadarannya mulai memudar, dan dia merasakan dirinya terlempar ke dalam kekosongan yang tak terhingga. Semua yang terlihat hanya cahaya putih yang menyilaukan, dan kemudian... kegelapan. Qin Yun kehilangan kesadaran, meninggalkan kebingungan dan pertanyaan besar tentang nasibnya. .. Dua abad kemudian. Di sebuah kota terpencil yang tersembunyi di balik pegunungan hijau, Wilayah Kekaisaran Tang. Seorang pemuda tampan berwajah pucat tersentak bangun dari tidurnya. Dia duduk di atas kasur sederhana, menatap sekeliling dengan ekspresi heran dan bingung. Mata pemuda itu terbuka lebar, mencari jawaban atas kebingungan yang memenuhi pikirannya. "Apa yang terjadi? Dimana aku? Bagaimana aku sampai di sini?" katanya dengan suara pelan dan penuh keheranan. Wajahnya yang pucat dan kulitnya yang pucat membuatnya terlihat seperti orang yang baru saja bangun dari tidur panjang. Rambutnya yang hitam dan panjang tergerai di bahu, menambahkan kesan misterius pada penampilannya. Pemuda itu menoleh ke sekeliling kamar, mencari petunjuk tentang identitas dan masa lalunya. Kamar itu sederhana, dengan dinding yang putih dan lantai yang terbuat dari kayu. Satu-satunya benda yang menarik perhatian adalah jendela kecil yang menghadap ke luar, membiaskan cahaya matahari pagi. Bersambung.... Jika kalian suka dengan cerita ini, tolong tinggalkan komentar dan ulasan kalian untuk membantu penulis. Terimakasih.Layla’s POVThree months later, I stood in the nursery of our new home, one hand resting on my rounded belly as I watched Annie arrange toys in the crib.“The baby’s going to love this bear,” Annie said seriously, positioning a stuffed animal just so. “It’s the softest one in the whole store.”I smiled at her concentration. The months after our wedding had gone very fast. We’d moved into the Chairman’s residence, and I was adjusting to my new status as Princess and Luna, but watching Annie embrace her future as a big sister had been one of the greatest joys of it all.“I think you’re right,” I agreed, settling into the rocking chair by the window. “The baby is very lucky to have such a thoughtful big sister.”Annie beamed at the praise. She’d grown taller over the summer, and the trauma of losing Charlotte had given her a maturity beyond her years, but her smile was still bright, still genuine.“When will the baby come?” she asked, moving her wheelchair beside my chair.“Another six mo
Layla’s POVThe Alpha Council hall was packed beyond capacity. Pack leaders from every territory had traveled here for Samuel’s inauguration ceremony, filling the tiered seating that rose toward the vaulted ceiling. The formal dress requirements meant everyone looked their absolute best.Some wore traditional ceremonial robes in their pack colors—deep forest greens, rich burgundies, and royal blues. Others had chosen military dress uniforms with polished brass buttons and medals earned in border conflicts.The older Alphas sat in the front rows, their faces serious as they waited for the proceedings to begin. Younger pack leaders occupied the middle sections, some fidgeting with nervousness while others maintained the stoic composure expected of their rank.I sat in the front row, wearing the blue silk gown my father had insisted on—something befitting my newly recognized royal status. Samuel stood at the podium, looking powerful in his dark ceremonial robes. The golden Chairman’s pin
Layla’s POVAbigail burst through the cemetery gates, her hospital gown flowing behind her like a white banner. Her face was twisted with rage and desperation, her blonde hair wild and uncombed. She clutched something in her right hand—something that flashed silver.“You lying bitch!” she screamed, charging toward us across the grass. “You’re trying to steal my life!”I saw the knife then, a long surgical blade she must have taken from the hospital. Her grip was wrong, awkward, but the desperation in her eyes made her dangerous.“Abigail, stop!” Nathaniel shouted, stepping forward. “Put the knife down!”“She’s not your daughter!” Abigail shrieked, raising the blade high above her head. “I am! I’m the one you raised! I’m the one who loves you!”She ran straight at me, the knife aimed at my chest. Time slowed as I saw my death approaching, saw the gleaming metal arcing toward my heart.Claire moved faster than I thought possible. She threw herself between us, her arms spreading wide to s
Layla’s POVThe cemetery stood before us in neat rows of white marble and granite. Ancient oak trees provided shade over the winding paths, their branches heavy with summer leaves. Nathaniel walked beside me, his steps slower than usual, as if the weight of memory made each movement difficult.“This way,” he said quietly, leading me toward a section of newer graves near the back of the cemetery.“Samuel told me to face everything,” I said, breaking the silence between us. “He said hiding from the truth only makes it hurt more.”Nathaniel glanced at me, something unreadable in his expression. “Samuel is a wise man. Perhaps wiser than I’ve been.”We stopped before a beautiful marble headstone carved with roses and inscribed with elegant script. Luna Elizabeth, Beloved Wife and Mother. She brought joy to all who knew her.“My wife,” Nathaniel said simply. “Your mother. She died ten years ago today.”I stared at the grave, trying to process the strange coincidence. Here I was, standing wit












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.