LOGINZealana Adista seorang gadis cantik dari keluarga terpandang, ia memiliki sebuah angapan yang ia pegang teguh sampai saat ini. Ia percaya bahwa laki-laki tampan semuanya sama, playboy juga penjahat wanita. Dan saat ini ia tengah terjebak perjodohan dengan Bima Setiawan, temanya di masa lalu. Zea tidak menyukai Bima karena pemuda itu pernah membuatnya sakit hati dan ia juga pemuda yang sangat tampan. Bahkan di hari pertama ia masuk sekolah para gadis-gadis SMA Bakti Nusa riuh karena kehadirannya. Hal itu semakin membuat Zea yakin bahwa ia dan Bima tidak akan pernah cocok. Zea masih menyukai mantan pacarnya, pemuda itu biasa saja dengan kulit sawo matang juga gigi gingsulnya. Disaat yang sama pemuda itu justru meminta kesempatan kedua kepadanya. Zea memegang kepalanya gusar, tunangan, Bima dan menikah. Tiga hal yang sangat jauh dari niat Zea, belum genap seminggu Zea putus dengan Rey tapi sekarang ia malah terjebak perjodohan dengan Bima. Ia harus bagaimana?! Apa yang akan terjadi pada Zea, apakah ia akan tetap bertunangan dengan Bima. Atau ia akan memilih balikan dengan Ray pacarnya? Dan apa sebenarnya alasan Rey putus dengan Zea? Read next more chapter! \(°-°)/
View MorePart 17 (Latihan Futsal) Sore ini Bima akan latihan futsal dengan timnya. Ia sudah siap-siap dengan jersey yang melekat dibadan tegapnya. Guru olahraga yang merangkap menjadi pelatih mereka mengatakan bahwa beberapa bulan lagi akan ada turnamen antar SMA-se Bandung. Semua merasa sangat excidet menyambut datangnya hari itu. Bima menatap pantulan dirinya dalam cermin, setelah dirasa siap ia keluar dari kamar dan menarik knop pintu. Zea saat ini sedang asyik selonjoran disofa ruang tamu. Ia sibuk mengunyah keripik. Bima ikut duduk disamping cewek itu dan mencomot satu potong keripik dan langsung dihadiahi pelototan tajam Zea. Bima mendengus. “Pelit banget sih, sama laki sendiri.” “Suka-suka gue, sana lo pergi. Hus, hus,” jawab Zea sembari mengibaskan tanggan. “Dasar, udah cebol, istri gue, lagi,” Bima keki ia berdiri dan mengacak rambut Zea. “ Gue pergi dulu, jangan ke mana-mana. Gue pulangnya
Zea membanting pelan tasnya di atas meja, Amel yang melihat kehadiran sahabatnya langsung menepuk-nepuk pundak Zea di depannya."Ze, lesu banget, kayaknya?""Au, aku lagi males.""Eh, kamu tau nggak?""Apa?""Si Bima sama Conan, ikut main di tem Futsal. Katanya sih sementara, kan kita bentar lagi lulus," ujar Amel."Oh." Zea berpikir sejenak, kalau Bima ikut tim futsal. Ia bisa punya banyak waktu bersama Rey."Serius 'kan?" tanya Zea menahan senyum kemenangannya."Iya, emang... Bima nggak ngasih tau?""Enggak," jawab Zea sambil menggeleng pelan.Suasana kelas kembali riu setelah bel masuk berbunyi. Bima berjalan di koridor dengan kedua adik kelas di kanan dan kirinya."Duluan," ucap Bima."Siap, bang. Kita tunggu di lapangan!" uc
Sepulang sekolah. Bima dan Zea sepakat untuk pindahan hari ini, semua baju-baju dan barang-barang yang Zea butuhkan sudah dikemas rapih dalam koper. Apartemen Bima cukup luas, dapur dan segala isinya lengkap. Zea langsung duduk di kursi pantri saat dirinya baru saja menjelajahi hunian barunnya itu. "Suka nggak?" tanya Bima yang ikut duduk di samping Zea. "Suka... oh iya, kamar aku yang mana? Aku mau masukin baju-baju." "Tuh..." Tunjuk Bima pada pintu bercat putih gading di bagian kiri mereka. Zea mengerutkan kening, seperi ada sesuatu yang janggal. "Kalo kamar kamu yang mana? Aku tadi, nggak liat ada kamar lagi selain ruangan kosong?" tanya Zea binggung. "Iya, itu... kamar aku dan kamu. Emangnya, aku mau kamu suruh tidur dimana?" "M-maksudnya... kamu sama aku tidur sekamar?" "Iya." "Nggak bisa! Pokoknya aku nggak mau tidur berdua lagi sama kamu!" Bima menaikan sebelah alisnya binggung, ia tersenyum c
Keduanya mengangguk walau tidak mengerti dengan tingkah Rey yang tiba-tiba terlihat aneh. Rey buru-buru berljalan menjauh, tidak menoleh sama sekali. "Mana teme lo berdua?" tanya Conan, ia duduk di samping Xion yang menunduk gugup. "Maksud lo, si Rey?" tanya Geva, ia menatap Conan dengan kening berkerut. "Iya, Bima mau ngomong sama dia." "Kita berdua nggak tau, dia emang nggak masuk satu minggu ini," kata Geva berbohong. "Kalian nggak bohong, kan?" tanya Bima yang ikut duduk di samping Geva. "Haha, bro. Emang muka gue, kayak muka penipu gitu?" Geva tertawa melengking, mencoba menetralisir kegugupannya. Bima mengangguk paham dan menarik Conan untuk pergi bersamanya. " Okey, thanks infonya," ucap Bima sembari memberikan senyum ramah. Mereka berjalan menjauhi bangku kedua pemuda itu. "Huf... untung dia percaya, ya, nggak Gev. Keliatanya si Rey ada problem nih sama si murid baru itu?" Geva
Sejak jam pertama sampai jam terakhir ini Amel dan Zea saling diam, mereka saling mengabaikan. Tidak ada yang mau mengalah. Zea sejujurnya merasa bersalah, tapi ia menganggap dirinya benar dan ia sama sekali enggan untuk minta maaf duluan. Teettt,teettt Bel pulang b
Pagi-pagi sekali Bima sudah sampai di depan rumah Zea. Ia membawa sebuket bunga yang mamanya beli pagi tadi, Ia menekan tombol bel, lalu seseorang membukannya. Bi Inah- tersenyum ramah, ia mempersilahkan Bima masuk ke dalam. Bima mendudukan diri di sofa, pandanganya mengedar k
Malam ini pukul tujuh tepat. Devan--Ayah Zea pulang dari pekerjaannya di Malaysia, ia langsung menemui putri tercintanya. Ia tersenyum lebar saat melihat Zea tengah membaca majalah di ruang tamu. "Malam, Sayangnya Papa, lagi ngapain sih, sampai tidak tahu papa ada di sini?" Devan mencium
"Kamu tidak sarapan dulu, Zea sayang? Mama sudah membuatkan nasi goreng spesial!" seru Mona--mama Zea, gadis yang sedang terburu-buru menuju rak sepatu. "Makasih, Ma, tapi Zea udah terlambat. Zea Pasti makan pas pulang nanti." Gadis itu berkata


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore