MasukAdara terpaksa melepaskan keinginannya untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi yaitu magister manajemen karena kabangkrutan keluarganya dan bekerja di perusahaan Syahrend Group yang terkenal dengan sistem kerja yang mencekik.Pertemuannya dengan Regan Syahrendra, membuatnya mengetahui jati diri sang ceo misterius saat pria tersebut masuk ke dalam portal dan menemukan dunia baru yang berbeda. Untuk membuat Dara bungkam, Regan memaksanya untuk menyetujui sebuat kontrak sihir kepemilikan yang membuat Dara akan patuh kepadanya, termasuk juga menikah dengan Regan.Bagaimana kisah selanjutnya? Baca kelanjutannya!
Lihat lebih banyakLyra’s pov
“By the power vested in me, I hereby reject you as my mate from this moment onwards.” Xander snapped angrily.
The room was filled with a lot of people talking, whispering to themselves as they looked at me with disgust on their faces.— my twin sister,my parents, the whole pack and the elders.
My senses became clearer and I could feel the warmth of the blanket over my body. I was half naked- with just my underwear. I blinked rapidly in confusion while trying to recognize my surroundings.
Why am I in bed when I was supposed to be at my mating ceremony? I wondered as i looked around.
The weight of confusion hit me more as I felt a movement beside me. My heart raced, I looked over as fear gripped my soul like a cold wave. A stranger was next to me with his chest bare and caught under the sheets.
“What!…Who is this? And what am I doing in bed with this man?” I questioned with my voice below whispers,clutching the blanket tightly around my trembling body.
“Quit the pretense Lyra!” Nyla, my twin sister yelled,her voice dripping with disdain as she moved closer to me.
“I knew this was going to happen, I knew you will ruin this day, now you’ve brought shame not only to yourself, but the entire family.” She paused her eyes gleamed in satisfaction and a slight smirk was placed on her lips.
“I’ve always known you have a secret lover for a very long time now, but you still went through with the mating ceremony with Xander for your selfish reasons.”
My face felt hot as panic grew inside me, her words pierced through me. “What the hell are you saying Nyla! That’s not true! I don’t even know him—I don’t know how I got here!” My voice cracked under the weight of my panic.
“I have no boyfriend!” I cried, my voice trembling. “I—I don’t even know this man! Please, believe me!” I replied,my glazed fixed on Xander.
“Then who is he, Lyra?” Xander demanded, his voice cold and filled with fury. His piercing gaze shifted to the man beside me, who remained silent, looking between us with wide eyes.
“I don’t know him,” I whispered. “I can’t remember how I got here. I… I was at the ceremony, I had a drink, and then… I fell. That’s all I remember!”
“Really?” Nyla scoffed, her tone mocking. “What a convenient excuse. Get drunk, get in bed with your boyfriend, and blame it on the innocent cocktail. How predictable.”
“Stop Nyla, just stop!!” I retorted, looking at her furiously.
“Enough!” Xander shouted while making both of us quiet. “This isn't just a minor mistake and it’s an unforgivable one. I thought I knew you, Lyra. I didn’t know you were so unfaithful and a Liar!”
I felt my cheeks getting hot with shame filling me up. The man next to me quietly pulled the sheets up as he looked back and forth between us.
But before I could even start to explain xander’s anger filled the room. The friendly look I have Always seen on his face vanished. He walked toward us with his fists tight and I felt a wave of fear over me.
“Move away from her, You b*stard son of a b*tch.” Xander growled while grabbing the stranger by his arm and lifting him.
“What is going on, man?” the man said while struggling in Jaxon's stronghold, but his words hardly mattered as my life fell apart.
As Xander's fist hit the man's jaw the loud noise shook me. “Xander stop!” I begged with fear rising in my throat as I jumped out of bed as I put my clothes on. My bare feet touched the cold floor and everything in me wanted to step in. “Please, let's try to find the truth!”
But Xander was furious while throwing punches and shouting sharp words. “You think you can just walk into this house?” Another hard hit and the man slid down the wall. “And sleep with my mate?”
“Don tell me to stop Lyra! Trying to defend your boyfriend huh?” He turned to me as his breath deepened.
My heart dropped even more while feeling heavy from what was happening.
The room was suffocating, the whispers and murmurs around us growing louder. I glanced desperately toward my parents, hoping for some kind of support, but their expressions mirrored Xander’s disappointment.
“Mom, Dad,” I pleaded, my voice breaking. “You have to believe me.”
My mother shook her head slowly, her lips pressed into a thin line. My father stepped forward, his face flushed with anger.
“This is disgraceful, Lyra,” he said as he threw as slap on my face, his voice trembling. “You’ve brought shame to our family. Do you realize what this means for all of us? For the pack?”
“I didn’t do this,” I whispered, but my words felt hollow, even to myself.
Xander took a step back while letting the guards, who had quickly come in, hold the stranger. “Get him out and make sure he doesn't escape,” he ordered with his voice quiet but threatening while leaving me vulnerable after the chaos.
“That's enough!” the elder shouted like thunder breaking through the noise around us. “This shame can't be accepted. You have shamed yourself and the whole pack, Lyra. You are banned from our land starting now!.”
His words hit me hard like a punch. “No!” I shouted with my voice shaky as I stepped back while feeling empty inside where my life used to be. “You can't do this!”
“Once again, from this moment, I Xander Bennett hereby reject you Lyra Draven as my mate,” Xander’s voice echoed coldly, cutting through the tension in the room. His words were final, like a dagger driven straight into my heart.
“Take her out of my sight,” he ordered, turning his back to me. “I don’t want to see her face ever again.”
My knees wobbled as shame and confusion overtook me. “Xander, please, listen to me,” I begged, my voice cracking.
“I don’t know what’s going on. I swear, I didn’t do this!”
I cried, reaching out toward him, but two guards stepped forward, gripping my arms firmly.
Nyla’s smirk deepened as she watched the drama unfolding while I was being dragged away, she followed me out.
Kami sudah sampai di sebuah restauran yang cukup mewah dan tentunya hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk kemari. Tempatnya begitu elegan dan dengan ornamen-ornamen tak kalah mewah. Sejujurnya aku tidak bisa tinggal terlalu lama di tempat yang terlalu mahal ini. Aku takut nantinya, malah aku tidak sibuk mencicipi makanannya, tapi malah bingung dengan seberapa banyak uang yang dihabiskan. Sungguh, ini terlihat seperti pemborosan dilevel yang tak biasa menurutku. Dengan langkah per langkah yang semakin memberatkan kakiku untuk melangkah terlalu dalam. Hanya saja, lagi-lagi Regan mundur dan merangkulku kembali, membuatku harus terus mengikuti langkah kakinya. "Kalau kamu tidak mempercepat langkahmu, aku akan langsung menggendongmu," tuturnya dengan tenang dan tingkat kedataran yang menyebalkan.Aku malas untuk menjawab perkataannya dan memutuskan untuk diam, meskipun aku merasa jika ia sedang merencanakan sesuatu. Entah itu apa? Yang pasti, aku merasa jika ia akan menumbalkanku unt
Masih jam delapan pagi, saat mobil kami telah sampai di depan perusahaan. Sungguh, sebenarnya aku tidak ingin satu mobil dengannya dan menyebabkan kegaduhan. Tapi, ia mengatakan jika ini adalah sesuatu yang lumrah jika sekertaris datang ke kantor dengan bosnya karena mungkin saja mereka beranggapan jika kita memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan.Aku berjalan beriringan dengannya, lebih tepatnya aku berusaha untuk mengimbangi langkahnya yang lebar itu. Belum lagi aku harus membawa dokumen yang dibutuhkan untuk hari ini yang sudah dapat dipastikan akan menjadi hari yang berat. Kalau dipikirkan dengan baik, tidak ada jadwal yang tidak padat. Mungkin, jika dulu aku tidak mengetahui identitasnya yang bukan manusia, aku akan menjulukinya sebagai manusia yang kuat. Namun, sekarang aku tahu siapa dia, hal semacam ini tentunya bukan perkara yang sulit. Hanya saja yang membuatku dongkol bukan main adalah ia tidak sadar jika menjadikan kami manusia biasa sama seperti dirinya.
Aku tidak dengan hidup yang seperti temperature kadang dingin, kadang panas, kadang panas dingin beraduk menjadi satu. Aku juga tidak mengerti kenapa aku mengatakan hal semacam ini dan semua itu penyebabnya karena sehabis menikah aku berada di ruang kerja Regan dan harus mengetik beberapa laporan ditengah-tengah kelelahan mendera.“Kalau keybord itu rusak, kamu harus menggantinya,” katanya yang memandangku dengan datar. Menyebalkan! Masih untung aku sedikit menekannya dalam menggunakannya, bagaimana kalau aku lemparkan semuanya bersama laptop mahal ini.“Aku lelah, bisa tidak aku tidur? Masih ada besok kan untuk mengerjakannya?” mohonku dan ia yang juga mengetik menghentikan aktifitasnya.Lihatlah wajahnya yang masih segar itu, semua itu adalah kecurangan. Bagaimana dia bisa membandingkan diriku dengannya? Aku hanya manusia biasa yang membutuhkan istirahat dan yang seorang penyihir jelas bisa bertahan sampai kapan pun.“Tidur
Pernikahan telah berlalu beberapa saat yang lalu, saat ini aku hanya memakai gaun yang disiapkan oleh kak Diandra tadi. Meskipun tidak ada tamu, kami sekeluarga berbincang panjang lebar dan aku sedikit sedih Sandy dan Bagas tidak bisa hadir. Tadi pagi, ia menangis ditelepon karena tidak bisa pulang dan menyaksikan pernikahanku, tapi aku mengatakan itu bukan masalah besar. Mungkin, nanti masih ada perayaan yang bisa mengundang kerabat dan teman yang lebih banyak lagi.Cukup hebat aku bisa bersandiwara seperti itu, mengingat pernikahanku dengannya hanya pura-pura, tapi seolah sekarang aku menunjukkan pernikahan sungguhan dengan mengatakan hal seperti ini. Sungguh ironis dan mengesalkan dalam bersamaan.“Dara, sepertinya nak Regan lelah. Ajak istirahat di kamarmu sana!” ujir mama yang membuatku ingin sekali mengomeli mama, tapi itu tidak mungkin.Apa lagi saat tangan Regan menyenggolku beberapa kali dan bergumam, “kalau kau tak melakukannya, aku a
Semenjak aku pindah ke ruangan yang berbeda dari divisi pemasaran, aku merasa terisolasi seolah aku terjangkit virus covid atau seperti aku terjebak dalam ruang waktu, merasa kelelahan sendiri dan tidak ada teman untuk mengobrol membuatku semakin kesal saja pada Regan.Semua yang terjadi ke
Setelah hal yang menegangkan itu terjadi, kami kembali ke kantor. Beberapa tatapan tak biasa tentu menghujani kami dan sepertinya aku sudah mulai terbiasa dengan semuanya. Hanya saja, jika aku disuruh memilih, aku ingin menjadi karyawan biasa dengan ketenangan kemana pun aku pergi.Entah se
Restaurant berbintang yang hanya akan dimasuki orang berkantong tebal. Kantong tipis sepertiku, orang kaya yang suka berhemat seperti Sandy atau Bagas tidak akan mau datang kemari. Bayangkan saja, menu minuman dan dessert saja diatas seratus ribu, belum menu makanan yang lainnya.Aku sudah
Pada akhirnya aku harus menerima ajakannya untuk menantarkanku pulang, meskipun dengan segala kekesalan yang menumpuk karena sikapnya. Sepanjang perjalanan aku hanya bisa menghela napas untuk menetralkan segala kemarahan ini.“Bisa tidak kamu berhenti menghela napas?”Aku
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak