LOGINRandy membawanya menuju tempat tidur dan menurunkannya perlahan.
Tidak ada gerakan terburu-buru apalagi paksaan. Sangat berbanding terbalik dengan James.
Setiap kali Randy menyentuhnya, Fe bisa merasakan kehati-hatian itu.
Itulah yang membuatnya semakin menginginkan lebih.
K
Sinar lampu dari luar kamar sedikit masuk ke karena gorden yang tidak tertutup sepenuhnya. Menyinari hingga ke tempat tidur. Karena itu, walaupun lampu di kamar mati semua, tapi James tetap bisa melihat sosok istrinya yang tidur sambil memunggunginya. Bunyi dentang jam klasik di lantai pertama sampai ke kamar ini, meskipun tidak terlalu nyaring. Tapi dari dentang yang berbunyi, siapapun yang mendengarnya bisa tahu kalau ini masih Subuh. “Fe, kamu masih marah padaku?” tanya James pelan. Dia sudah terbangun sejak tadi. Mimpi melihat istrinya yang pergi meninggalkannya dalam kegelapan, membangunkannya secara tiba-tiba. Tidak ada jawaban dari istrinya, padahal James kira Fe ikut terbangun bersamanya tadi. Dia merasakan nafas Fe tidak teratur seperti saat tidur. Yah, meskipun kini nafas itu kembali terdengar tenang dan teratur. Merasa tidak akan bisa tidur lagi, James pun berangkat bangkit. Dia menuju kamar mandi. Mata Fe terbuka saat mendengar suara air di kamar mandi. Tapi, ditutu
Ayu meringis begitu bangun dari tidurnya. Rasa pusing menguasai seluruh bagian kepalanya. Perlahan, setelah kepalanya mulai sedikit enakan, Ayu membuka matanya. Dia memperhatikan sekelilingnya. “Kapan aku pulang?” gumamnya, bertanya, entah pada siapa karena hanya dirinya yang berada di kamar ini. Sekelebat kejadian semalam terlintas. Dia hanya mengingat wajah ketiga pemuda, yang bersamanya semalam. Dia menemani mereka minum, tapi ternyata malah disuruh mencicipi juga. Sebenarnya Ayu sudah berusaha menolak, tapi ketiganya terus memaksa. Apalagi, mereka adalah pelanggan pertamanya setelah selama ini bekerja di club. Ayu beringsut ke tepi tempat tidur. Dia meringis kembali. Rasa pusing kembali menyerang kepalanya. Dia mencoba menahannya sekuat tenaga sebelum bangkit. Baru beberapa langkah, Ayu langsung berpegangan di dinding. Dia memejamkan mata sebentar. Perasaan pusing dan sedikit mual ini baru dirasakannya pertama kali. Sungguh, menyiksa. Setelah kembali sedikit mereda, Ayu m
Mobil hitam sudah menunggu di depan club sedari tadi. Kaisar tidak melepaskan sedikitpun pandangannya dari pintu club. Perhatiannya tertuju pada setiap orang yang keluar dari sana.Setelah meninggalkan rumah James, Kaisar langsung menghubungi salah satu anak buah kepercayaannya. “Cari anak ini sampai ketemu.”Hanya dalam hitungan jam Kaisar mendapatkan informasi kalau Ayu berada di club malam milik Brian.Meskipun berjam-jam menunggu, tetapi dia tetap sabar menunggu.Punggungnya menjauh dari kursi saat melihat sosok yang dikenalnya. Kedua tangannya memegang erat setir.Sosok Ayu tidak seperti yang pernah dilihatnya selama ini. Pakaian Ayu lebih berani daripada biasanya. Bagian atasnya hanya seperti kemben, dan bagian bawahnya hanya span sebatas setengah paha, malah sepertinya lebih pendek lagi. Seolah kursi tempatnya duduk tidak nyaman, Kaisar terlihat gelisah. Bola matanya membesar saat melihat beberapa pria menyusul Ayu. Setelah diperhatikan lagi, cara berjalan Ayu sempoyongan.
Melihat orang kepercayaan nomor satunya berada di depan rumah, membuat James lupa akan segalanya.“Kau bantu istriku ke kamar,” perintahnya buru-buru, bahkan hanya melihat Santi dan Randy ala kadarnya. Tatapannya lebih berfokus kepada sosok Kaisar. Menengok ke arah istrinya saja tidak. Santi pun bergegas menuju Fe, yang baru mengeluarkan kakinya.Randy tengah membukakan pintu mobil untuk Fe. Sedetik pun tidak dilepaskannya tatapan dari sosok Kaisar. Fe menyadari itu. “Kenapa? Kamu heran dengan kehadirannya?”Pemuda itu tersadar dari lamunannya. “Aku hanya terkejut melihatnya, Nyonya.” Sadar kalau di samping Fe ada Santi, Randy buru-buru menambahkan panggilan formalitas itu. “Sejujurnya, aku nggak pernah suka dengan Kaisar. Entahlah, mungkin karena James terlalu bergantung sama dia. Aku takut suatu saat dia akan mengkhianati James.”Meskipun kekasih hati Fe adalah dirinya, tapi Randy tetap mengerti jika wanita itu suatu hari akan lebih membela suaminya daripada pengawal pribadinya i
Mobil melaju di jalan raya. Kelap-kelip lampu gedung tinggi terlihat manis menghiasi malam itu. James menoleh ke arah istrinya, yang duduk di sampingnya. Perlahan, jemarinya menyentuh punggung tangan Fe. Namun, ketika hendak digenggamnya, Fe menarik tangannya lantas meletakkan di atas pahanya. Fe membuang pandangannya ke arah jendela. Menikmati pemandangan di luar sana, tanpa ekspresi. James pun memaklumi itu. Memang, dia sadar kalau sudah membuat istrinya itu sakit hati. Dia pun juga menoleh ke arah jendela mobil. Menatap pemandangan di luar sana tanpa komentar. Dia tahu, kalau saat ini Fe hanya perlu dia untuk diam saja. Rambe mengendarai mobil dengan laju yang tenang tapi cepat. Dia tahu kalau di kursi belakang suasananya sangat dingin sekali. Tapi, dia juga tahu kalau itu bukan urusannya. Dia menatap spion di luar. Terlihat mobil serupa yang mengikuti di belakang. Mobil itu dikendarai oleh Randy. Tadi, saat di rumah sakit, hanya ada Randy dan Fe di dalam kamar. Dengan telate
“James? Siapa James?” tanya Nugros balik. Wajahnya yang terlihat santai malah membuat polisi itu menggeram kesal.“Kau pasti tahu siapa. Karena pasien kau yang terluka itu anak buah James.”Nugros melambaikan tangannya. “Saya nggak mengerti dengan maksud pertanyaan Anda.”Abdi pun mengerti kalau Nugros tidak akan pernah mau menjawab pertanyaannya itu. Dia melihat ke arah luar, pada rekannya yang baru muncul lagi. Mungkin tadi habis keliling di area itu.“Jadi, kau tinggal di sini? Klinik di lantai bawah, tempat tingalmu di atas.”Mata Nugros menyipit lagi. “Maksud pertanyaan Anda? Apa hubungannya Saya tinggal di sini dengan kamera pengawas?”Abdi menghela napas berat. Dia memperhatikan Nugros. Dari gayanya memang dokter satu itu terlihat santai, tapi sepertinya dia adalah sosok bagai benteng yang sulit ditembus. Della dan Anin memperhatikan dari balik meja resepsionis. Bagaimanapun, apapun yang terjadi, mereka akan selalu mendukung Nugros. “Setidaknya aku jadi tahu seperti apa Dokt
“Bu, biar Saya yang nyetir.” Rambe, begitu rekan-rekan kerjanya yang sesama sekuriti, pengawal, atau pelayan di rumah ini memanggilnya. Badannya cukup besar, wajahnya tampak keras, tapi sorot matanya cukup lembut. Makanya, dia tidak cocok beradu debat dengan Felicia seperti ini, sudah kelihatan has
“Agh!” Begitu membuka mata, Fe langsung mengerang pelan. Tubuhnya terasa sakit dari ujung kepala hingga kaki.Matanya menyipit saat cahaya matahari yang sudah meninggi menerobos masuk, membuat kamar itu terang benderang dan menyilaukan.‘Jam berapa ini? Kenapa sudah terang sekali?’Fe berusaha beri
James berdiri di atas panggung marmer yang menyilaukan itu. Dia mengenakan setelan kemeja serba putih. Tampan seperti biasanya. Hanya saja bibirnya lebih sering tersenyum hari ini. Dia menunggu dengan tidak sabar ke arah pintu masuk yang masih tertutup. Matanya sempat melirik ke kursi bagian depan
“Serius kalau kalian tidak butuh bantuan kami untuk mempersiapkan pesta pernikahan ini?” tanya Desy sambil menelisik reaksi James dan Felicia, yang duduk berdampingan. Felicia menoleh ke sisinya, tempat sang calon suami berada. Jemari James menyentuh punggung tangan Felicia. “Iya, Ma. Saya sudah







