Se connecterMelina was born as a slave, the Cresent pack was attacked and had a new alpha( alpha Rick), Melina's father was the beta to the former Alpha, and her mother was a healer, they refused to swear allegiance to the Alpha Rick and he made them slaves. Melina's parents died and she's the only one left still working as the alpha's slave, Alpha Rick realises that Melina is his mate and he rejects her making her suffer more than he has been doing. Tired of the suffering Melina escapes and finds herself in the Dark moon pack, and what's more shocking is that she has a new mate, and it's the Alpha of the dark moon pack. Alpha Dwane thinks he is mate-less, what will be his reaction when he sees Melina? Will Alpha Dwane accept Melina as his mate?Will Melina get rejected again?.
Voir plusDahlia tidur dengan menantunya sendiri.
Itu adalah kesadaran pertama yang dia dapatkan sesaat setelah membuka mata dari tidur yang terasa begitu lama dan melelahkan. Tubuhnya menggeliat dari pelukan erat seorang pria, Kai Ronan, suami anak tirinya sendiri. Dan apa yang lebih parah dari itu adalah kesadaran lain bahwa tubuhnya tidak menyesali apa yang dia dan Kai lakukan semalam.
Titik-titik sensitif di tubuhnya masih mengingat jejak sentuhan pria itu. Bahkan alkohol yang semalam membuatnya mabuk tidak cukup membuatnya lupa.
Pikiran Dahlia jelas sedang tidak waras sekarang.
Semalam, pernikahan anak tirinya, Brianna Harrison, baru saja disahkan. Dan bukannya merayakan malam pertama dengan istrinya, sang pengantin pria justru melakukan hal itu dengan ibu mertuanya sendiri.
Bagaimana ini? batin Dahlia panik. Pendingin di dalam kamar itu menyala dan berfungsi dengan baik, tapi peluh menetes dari dahinya. Tubuhnya juga sekaku manekin saat lengan kekar yang melingkari pinggangnya menariknya semakin erat.
Tidak banyak yang bisa dilakukan, pikir Dahlia. Semalam dia mabuk berat.
Menyaksikan sebuah pernikahan yang dirayakan secara meriah itu membuatnya melankolis.
Dia ingat merasa sedih dan sedikit iri pada pernikahan putri tirinya, karena pernikahan Dahlia sendiri dilansungkan dengan cara yang paling dingin. Dalam sekejap mata, dia telah sah menjadi istri seorang pria kaya raya yang tengah terbaring lemah di tempat tidur karena penyakit berat yang menggerogoti tubuh tuanya.
Dahlia juga ingat saat dia pertama kali menyesap sampanye itu, meminumnya berulang kali untuk meredakan perasaan sedihnya. Dan sekarang lihatlah di mana dia berakhir!
Di dalam pelukan menantunya sendiri.
Dahlia ingin menangis karena kekacauan yang dia yakin tengah dia ciptakan. Namun sebelum itu, dia harus melepaskan dirinya dari kungkungan pria ini. Yang mana hal itu tidak mudah untuk dilakukan.
Dengan sangat pelan, Dahlia beringsut menjauh. Saat akhirnya dia berhasil melepaskan diri, segumpal napas yang tercekat di tenggorokannya dia embuskan dengan penuh lega. Ditatapnya langit-langit kamar yang temaram. Ruangan ini berwarna putih, dan seprainya, selain kusut juga bersih. Itu artinya dia tidak sedang berada di kamar pengantin.
Walau Dahlia tidak tahu kenapa hal itu bisa membuat keadaannya menjadi lebih baik, karena jelas tidak.
Dia beringsut lagi, kali ini berniat untuk bangun. Saat kakinya menyentuh lantai yang dingin, dia kembali menghela napas lega. Selama melakukan itu, tidak sekali pun dia menoleh ke belakang, atau mencoba melirik pria itu.
Namanya Kai Ronan, Dahlia tidak lupa. Namun saat ini, dia menolak menyebut nama itu di kepalanya. Dia akan keluar dari kamar ini secara diam-diam, lalu bertindak seolah tidak ada yang pernah terjadi.
Kalau perlu, dia siap menjadi pengecut dengan pergi sejauh mungkin dari kekacauan yang telah dia perbuat ini. Dahlia tidak akan bisa menghadapinya. Terutama menghadapi Brianna, putrinya, saat tahu apa yang telah dia lakukan semalam.
Saat baru saja Dahlia hendak berdiri, tiba-tiba saja tubuhnya ditarik ke belakang dan sebelum dia mampu memproses apa yang terjadi, tubuhnya kembali terbaring di atas ranjang dengan wajah tampan seorang pria di atasnya.
Pria itu menatap Dahlia dengan godaan dan tantangan yang berkelibat di mata kelamnya; godaan dan tantangan yang tidak akan Dahlia ambil. Karena hal terakhir yang Dahlia inginkan pagi ini adalah pria itu bangun dan menyadari siapa yang berada di ranjang ini bersamanya.
Alih-alih bersikap canggung, pria itu justru tersenyum miring pada Dahlia. “Mencoba kabur, Ibu Mertua?” bisiknya dengan suara serak yang berat.
Dahlia mendapati dirinya nyaris tercekat oleh napasnya sendiri. Sekelibat bayangan tentang apa yang mereka lakukan semalam muncul dalam benak Dahlia, tentang bagaimana suara berat itu mengerang di atasnya saat mencapai puncak dan membisikkan namanya dengan lembut di telinga.
Oh, bagaimana dia bisa mengingat semua itu dengan sangat detail?!
“Dahlia.” Pria itu menyebut namanya.
Dan Dahlia pun menyadari satu hal.
“Kau tahu aku siapa?” suara Dahlia terdengar sedikit bergetar, karena sebuah ketakutan lain yang mendadak muncul.
Kai Ronan mengangkat sebelah alisnya. Dan lagi-lagi, senyum menggoda itu terbit di bibirnya. “Tentu saja, Ibu Mertua.”
Barulah Dahlia sadar akan bagaimana Kai menyebutnya Ibu Mertua terdengar seperti sebuah hinaan.
Dengan sekuat tenaga Dahlia mendorong pria itu dari atasnya, menarik selimut untuk menutupi dirinya sendiri dan menatap pria itu nyalang.
“Apa apaan kau ini? Kau tahu aku siapa tapi kau tetap bersikap seolah apa yang kita lakukan semalam bukanlah apa-apa?!” Tadinya Dahlia pikir dia akan dilanda rasa malu yang amat besar saat pria ini bangun, tapi kini Dahlia justru merasakan amarah membumbung tinggi di dadanya.
“Memangnya harus bagaimana?” pria itu bertanya balik dengan nada geli.
Dia menikmatinya, pikir Dahlia tercengang.
Dahlia bangkit dari tempat tidur dan menatap pria itu dengan marah.
Lagi-lagi, pria itu menatapnya seolah dia makhluk kecil yang rendah. “Hm? Dahlia, menurutmu aku harus bagaimana?”
Apakah nada manis dan wajah malaikat itu yang menjerumuskan Dahlia untuk tidur dengannya semalam? Dahlia tidak habis pikir, tapi dalam sekejap dia tahu pria semacam apa yang baru saja menikah dengan putrinya.
Pria yang berbahaya. Yang tidak seharusnya berurusan atau bersinggungan sedikit pun dengan dunia Dahlia.
Dengan ekspresi dingin yang mengeras di wajahnya, Dahlia berkata, “Ini sebuah kesalahan.”
“Hm,” balas pria itu. Dia bangkit dari ranjang, mengambil celana pendeknya di lantai dan mengenakannya. Susah payah Dahlia berusaha untuk tidak melirik ke arah tubuh pria itu.
“Lalu?” lanjutnya saat berbalik kepada Dahlia lagi dan melangkah mendekat.
Dahlia mundur, tapi pria itu kemudian hanya duduk di pinggir ranjang, mendongak pada Dahlia yang berdiri di hadapannya.
“Aku tidak akan memberi tahu Brianna. Atau orang lain,” ucapnya.
Dahlia menatapnya lama, mencari sebuah kebohongan, dan kejujuran lah yang dia dapatkan.
“Bagus,” sahut Dahlia kemudian. “Kalau begitu, kita bisa menganggap semua ini tidak pernah terjadi.”
Pria itu tersenyum lagi, seolah merasa geli mendengar ucapan Dahlia.
“Kenapa? Kau ingin aku bertanggung jawab?”
Senyum pria itu berubah menjadi tawa dan Dahlia menatapnya waspada. “Aku yang akan bertanggung jawab,” ucapnya.
Tubuh Dahlia menegang. “Semalam kau … mengenakan pengaman, kan?” cicitnya dengan keraguan dan harapan yang menjadi satu.
Pria itu justru menggeleng dengan ringan.
Untuk sesaat Dahlia merasa dunianya runtuh. Tidak cukup dengan tidur dengan menantunya sendiri, apakah dia juga akan mengandung anak dari pria itu?
Dahlia menghapus bencana itu dari kepalanya lalu berbalik dan bergerak dengan cepat mengambil pakaiannya dan membawanya ke kamar mandi.
Saat Dahlia keluar, dia sudah berpakaian lengkap, dengan gaun berwarna abu-abu muda yang kemarin dia kenakan di pesta.
Sebelum pergi, Dahlia berbalik ke arah pria yang masih duduk di ranjang.
“Kau bajingan!” rutuknya dengan penuh penekanan.
Mendengar pintu yang dibanting tertutup, Kai sedikit pun tidak berkedip. Tapi tatapannya yang tertuju ke arah kepergian wanita itu menyimpan banyak sekali makna tersembunyi.
“Aku tidak akan bisa lupa,” gumamnya. “Dan aku tidak akan melepaskanmu begitu saja, Dahlia.”
***
[to be continued]
Hai, selamat datang di cerita baru Asia July! Cerita ini akan cukup menguras emosi kalian, jadi siap-siap yaaa.
Oh iya, untuk tahu info mengenai update dan cerita yang lain, follow IG Asia July @deltaxia. Terima kasih sudah mampir dan selamat membaca~
As Emma was escorted away in custody, her threats echoed back at Dwayne and Melina as stood together.Emma screamed in defiance "You'll pay for this! Both of you!"The officer that was escorting her away replied her sternly "Save your threats for the wolf court council"Melina, holding the baby close "She won't harm us anymore"As Emma was escorted away a sense of relief washed over them, knowing that a major part of their problem had been solved. The authorities assured them that justice would be served.As Melina and Dwayne apprached the mansion Anna came running towards them closely followed by ArenAnna with deep concern all over her face " Melina, you can't just disappear like that. We were all worried about you and the baby."" I'm sorry, Anna. It all happened so fast, and the safety of my child was at stake"Aren chipped "They're back home now Anna, and everyone is safe.i think that's what's important"She took the baby from Anna and with a very inquisitive tone asked "who was
Emma's bitterness spilled forth as she recounted the path that had led her to that vengeful moment."I was meant to be the Luna, destined to stand by Dwayne's side. I devised a plan to frame you for betraying him, but even then, he forgave you. It was infuriating. My rightful place was snatched away by your mere presence.""All this time, you've been plotting against me for something as trivial as being with Dwayne?"Emma's eyes glinted with resentment. "Trivial? It was everything to me! I couldn't let a blind girl be preferred over me, the rightful Luna. I thought blinding you would make you insignificant, but you still found a way to worm your way into his heart."Melina's mind raced, "And now you're using my son to get back at me? What do you gain from all this cruelty?"Emma leaned forward, a venomous smile on her lips. "I gain satisfaction, revenge, and the position I rightfully deserve""Dwayne married me, and nothing you do will change that. You can't erase the bond we share, n
After the banquet Melina and Dwayne bade some of the guests goodnight and soon they were on their way home.Dwayne took a look at her and found her fully staring at him with those sexy eyes " You know if you keep staring at me that way I doubt if I would be able to concentrate on driving" he said with sincerity" Alright then " muttered Melina before leaning her head backwards to the headrest.They got home and Pulling up in front of the house they noticed it looked a bit too quiet Dwayne turned almost whispering to Melina "did you tell the servants to leave a window open or something?Melina replied anxiously "No, everything was locked up when we left. What could have happened?""Let's check on the baby first."She nodded softly "Something's not right."He slowly opened the door, revealing a room that should have been filled with the warmth of their child. Instead, they were met with a scene that shattered their peace – the nanny lifeless on the floor, and the baby's crib empty.Me
Dwayne held open the car door for Melina as she entered the car before going to the other side of the car and getting in himself , the driver turned on the ignition and soon they were their way to the banquet hall.Dwayne held out his arm to Melina as they stepped out of the car in front of the banquet hall, Melina leisurely placed her arm in his giving him a look that screamed the words " I trust you " and with that both of them walked towards the gigantic doors of the hall , by the door were a couple of guards who bowed to them as they walked through the doors.Melina turned to Dwayne almost whispering "I still feel uneasy about the idea of being bowed to"Dwayne replied her in the same manner "You'd better start getting used to it as you'll be getting a lot of bows from now"Both of them couldn't help giggling at their childishness but the lovely moment was soon interrupted by a masculine voice that erupted behind them."Who else if not the latest couple in town " said Aren with a
It was almost time for the banquet so Melina took a dip in the tub which was full of herbs that helped rejuvenate the skin , after taking her bath she could feel her skin was smoother and a lot softer , she went to her dressing table and applied some essential oils and scented oils all over her body
Dwayne and Melina got married almost immediately after the official announcement. it was a simple wedding ceremony with just a few representative of each clan in attendance . The sacred ceremony was held at the temple of the moon goddess and officiated by the shaman.The duo knelt before the statute
As they all walked out of the hospital after Melina got discharged Dwayne said gently "Melina, I insist you stay at my place for a while. I've a nurse to take care of you and the baby. It's important to me that you both have the best care possible"Melina smiled broadly "Dwayne, you've already done s
Anna got to the vending machine and saw a boy of about ten years kneeling on his hands and knees franctically trying to reach something under the bench that was right beside the machine, he heard her footsteps and he gave me a rather big smile as she approached the machine." Good day miss " he said












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.