LOGINCintya terpaku di tempatnya, tubuhnya gemetar hebat seolah baru saja ditampar. Kata-kata terakhir Abiyya itu bukan sekadar peringatan, itu adalah ancaman yang disampaikan begitu tenang dan halus, hingga justru membuat bulu kuduk meremang. Ia menatap punggung pria itu yang berjalan menjauh tanpa menoleh sedikit pun, seolah-olah keberadaannya tak lebih dari debu yang tak layak dipedulikan.Namun karma itu tak berhenti di sana. Sore harinya, saat acara berakhir, kabar buruk itu datang beruntun seperti ombak yang menghantam karang. Pertama, ia mendapat notifikasi resmi dari kantor bahwa ia telah dipindahkan ke cabang terjauh di luar pulau, sebuah posisi yang jelas-jelas merupakan pengasingan tersembunyi karena dianggap merusak nama baik perusahaan. Dan Abiyya-lah sosok di balik mutasi Cintya, dengan mengancam akan memviralkan rekaman itu jika Cintya tidak diberikan punishment yang berat. Belum sempat Cintya memproses kabar tentang rencana mutasinya, rekan bisnis yang selama ini ia a
Abiyya masih berdiri di tempatnya.Tatapannya mengikuti wanita itu yang kini telah kembali ke meja bersama beberapa rekannya.Namun hanya beberapa detik. Setelahnya, ekspresi pria tersebut berubah seperti tidak terjadi apa-apa.Ia menarik napas pelan, kemudian berbalik.“Kirby.”Kirby yang sedang mengumpulkan pecahan kaca segera menoleh. “Iya, Pak?”“Pastikan tidak ada pecahan yang tertinggal. Dan segera ganti minuman yang tumpah tadi.”Kirby mengangguk. “Baik, Pak.”Abiyya kemudian menepuk ringan bahu salah satu staf yang sedang membantu.“Jangan tegang. Lanjutkan saja pekerjaannya.” Nada suaranya kembali hangat sama seperti sebelumnya.“Acara ini masih panjang. Jangan sampai satu kejadian kecil mengacaukan semuanya.”“Baik, Pak.”Beberapa staf mengangguk dan kembali bekerja.Abiyya pun berjalan menuju salah satu pimpinan perusahaan yang sejak tadi memperhatikannya.“Maaf membuat acara sedikit terganggu," ucap Abiyya sambil tersenyum.Pria itu langsung menggeleng. “Tidak masalah, Pak
Rania menggeleng pelan, masih sedikit terkejut. "Tidak... tidak, Pak. Saya tidak apa-apa."Abiyya mengangguk, namun tatapannya tak beralih sedikit pun dari wanita angkuh yang berada di hadapannya. Suasana di sekitar mereka seketika terasa lebih berat, seolah udara pun ikut menegang. Beberapa tamu yang tadinya sibuk berbicara kini mulai melirik ke arah mereka, menyadari ada sesuatu yang tak beres."Kalau begitu," suara Abiyya terdengar rendah namun sangat jelas untuk didengar oleh siapa pun yang berdiri di dekatnya, "Bisa Ibu jelaskan apa yang sebenarnya terjadi tadi?"Wanita itu yang sedari tadi memasang wajah kesal, seketika terdiam. Ia mempertahankan senyum sinisnya, namun ada getaran tidak yakin di matanya. "Apa yang harus dijelaskan? Gadis itu sendiri yang menabrakku. Aku sudah bilang, kan?""Begitu?" Abiyya memiringkan kepalanya sedikit, tatapannya tetap tenang namun tajam. "Padahal dari tempat saya berdiri tadi, saya bisa melihat dengan jelas jika Ibu yang bergerak mundur se
Siang harinya, suasana di The Journal Cafe berubah jauh lebih sibuk dari biasanya.Salah satu perusahaan besar menyewa seluruh area restoran untuk mengadakan acara internal. Meja-meja telah ditata ulang, dekorasi dipasang di beberapa sudut ruangan, sementara para waiter dan waitress hilir-mudik membawa makanan serta minuman untuk para tamu.Rania bahkan hampir tidak sempat menarik napas."Meja tujuh minta tambahan air mineral!""Yang di dekat panggung minta tiga kopi!""Rania, tolong antarkan ini ke meja dua belas!" Suara Kirby terdengar dari kejauhan."Siap!" Rania segera mengambil nampan berisi beberapa gelas minuman dan berjalan menuju meja yang ditunjuk.Di sisi lain ruangan, Abiyya juga sedang sibuk.Sebagai manajer pimpinan, ia harus memastikan acara itu berjalan dengan lancar. Sesekali ia berbincang dengan pimpinan perusahaan yang menyewa The Journal, tersenyum ramah, bahkan sesekali tertawa kecil bersama mereka.Tak ada seorang pun yang akan menyangka bahwa pria yang tampak
“Kenapa melihatku seperti itu, Rania?” Pertanyaan Abiyya terdengar sederhana, namun entah mengapa, bagi Rania, kalimat itu justru terasa seperti jebakan. Rania menelan ludah, lalu segera mengalihkan pandangan. "...A-aku tidak melihat Bapak..." Abiyya menaikkan satu alisnya. “Bukankah sejak tadi kamu menatapku?” “Itu... tidak sengaja.” “Begitu?” Rania mengangguk cepat. “Iya.” Rasanya sekarang darah Rania serasa membeku di saat itu juga, ketika mengingat kembali kalimat Abiyya sebelumnya. ((Cecunguk seperti mereka masih beruntung dibiarkan hidup)) Saat Rania menatap wajah pria itu yang tampak begitu tenang, begitu sempurna, namun ada sesuatu yang ganjil di bola mata gelap Abiyya... ... seperti ada kilatan dingin yang sama seperti saat ia memegang gergaji mesin semalam. Dan tiba-tiba saja imajinasi Rania melesat liar ke arah yang paling buruk. Tiga orang itu dipukuli sampai patah tulang, jari dan telinga dipotong... Apa... Apa Pak Abiyya yang... Ya Tuhan.
Rania buru-buru menyambar paper bag itu dan menyembunyikannya di balik punggungnya dengan wajah yang sudah merah padam. "Hei, bukan! Kata siapa ini hadiah dari seorang pria? Jangan asal tuduh!" serunya, berusaha terdengar santai padahal jantungnya kini tengah berpacu liar. "Aku... aku beli sendiri! Kebetulan lihat dan bagus, jadi ambil saja." Kirby pun semakin membelalakkan matanya, menunjuk ke arah paper bag hitam yang sebagian masih terlihat. "Beli sendiri? Ran, itu logo butik ternama di pusat kota, lho! Yang satu produknya saja harganya bisa sampai jutaan rupiah! Beneran kamu yang beli?" Rania tertawa kering, sementara tangannya meremas pinggiran tas di punggungnya. "Jutaan? Mana mungkin aku seboros itu? Ini... ini cuma barang tiruan, kok! Harganya lebih murah." Kirby menggaruk rambutnya yang dikepang, masih terlihat bingung. "Tapi... tadi aku lihat sekilas jenis kainnya, Ran. Kelihatannya sangat halus, rapi, tidak seperti barang murah. Entahlah..." Melihat keraguan







